
Hari ini adalah hari dimana Bima mendapatkan eksekusi tembak mati karena kesalahannya yang sangat fatal.
Dia nampak begitu sedih di umurnya yang terbilang masih muda harus menjalani hukuman mati. Tapi mau bagaimana lagi nasi telah menjadi bubur, ia harus menghadapi situasi yang sulit dipercaya oleh dirinya.
"Bima, ada yang ingin bertemu denganmu," ucap salah satu anggota polisi.
Bima heran siapa yang mau menemuinya saat ini, bahkan ia tidak mempunyai anggota keluarga. Dengan langkah penuh penasaran ia menemui orang tersebut, matanya terbelalak ketika yang menemuinya adalah Sonia.
Mereka lalu duduk berhadapan tak lupa salah satu anggota polisi berada tidak jauh bersama mereka. Bima yang telah mengenakan baju tahanan nampak malu untuk menatap Sonia.
Sonia tersenyum lalu mengambil kotak makanan dan membukanya, kali ini ia membawa mie goreng instan bersama udang kualitas bagus yang dibelinya di pasar sendirian.
"Ayo temani aku makan! Aku buat sendiri makanan ini ternyata sangat mudah ya," ucap Sonia sambil tersenyum riang.
"Apa maksudmu? Harusnya kau membenciku, memakiku, kenapa kau tunjukan senyuman itu? Kau sedang mengejekku Sonia karena sebentar lagi aku akan mati, kau puas melihat orang yang menyakitimu mendapatkan hukuman setimpal?" ucap Bima kebingungan.
Sonia menatap lembut wajah Bima yang tampak pucat, ia tau Bima kini sangat tertekan dengan hukumannya.
"Aku dan Selena telah mencabut tuntutanmu, aku memaafkanmu tapi aku percaya dibalik kasus itu pasti ada yang menyuruhmu, tapi untuk kasus narkobamu itu diluar kasusku dan aku tidak bisa mencegah hukuman itu, aku hanya ingin siapa yang menyuruhmu untuk melakukan itu kepadaku?" jelas Sonia.
Bima terdiam tidak mau menjawab pertanyaan dari Sonia, Sonia hanya tersenyum. Dia dengan cepat menyuruh Bima untuk makan mie bersama untuk terakhir kalinya, Bima nampak menikmatinya dan mulai menitikan air matanya.
"Aku sangat malu denganmu Sonia, orang lain mencelaku dan hanya kamu lah yang baik denganku selama ini"
"Hey kamu tidak ingat saat aku terpuruk kamu yang selama ini menemani dan menyemangatiku, kamu temanku Bima," ucap Sonia mulai menangis terisak.
Bima dengan cepat memeluk Sonia untuk terakhir kalinya, mungkin saja bukan kasus narkoba ia hanya akan di penjara saja.
Sonia membalas pelukan Bima dengan hangat.
"Semoga kita bertemu di dunia yang berbeda Sonia, aku menunggumu dan terima kasih kamu sudah menjadi temanku," ucap Bima.
Bima melepaskan pelukannya, ia kini harus segera masuk ke selnya sebelum mendapatkan eksekusi tembak mati dalam 2 jam lagi. Sonia mengelap air matanya, ia melirik kotak makannya yang masih penuh karena Bima hanya memakan 2 sendok saja.
Dia tersenyum Bima masih mau mencicipi makanan buatannya itu walau hanya sekadar mie instan dengan udang.
___________________________________
Seminggu telah berlalu.
Hampir setiap hari ia mengunjungi makam Bima, ia begitu rindu dengan temannya itu.
Dia kali ini meminta izin untuk pergi ke luar negeri untuk sementara waktu.
Dia ingin melupakan semua kenangan buruk di kota kelahirannya itu.
Tiba-tiba Sonia terkejut saat Selena menepuk pundaknya.
"Cepatlah nanti kamu ketinggalan pesawat," ucap Selena.
Sonia tersenyum, ia segera meninggalkan makam Bima yang terlihat masih baru.
Dia melangkah penuh harap semoga masa depannya cerah walaupun kini ia sudah jatuh miskin dan tidak mempunyai apa-apa.
Hanya tabungannya yang dimilikinya tetapi entah sampai kapan tabungan itu mencukupi semua kebutuhan biaya kuliah di luar negeri.
Sonia memutuskan untuk kuliah. Dia sudah berhenti di dunia akting sepenuhnya, ia sudah cukup trauma menjadi orang terkenal.
Setelah sampai di bandara, Selena hanya bisa mengantarnya sampai pintu gerbang saja karena ia masih ada keperluan lain.
Sonia tersenyum lalu memeluk sang kakak, ia juga menitipkan kak Satya kepada Selena yang masih berada di rumah sakit jiwa.
"Aku akan menjaganya," ucap Selena.
__ADS_1
Sonia tersenyum, ia segera melangkah keluar mobil membawa kopernya dan berjalan masuk ke bandara yang nampak orang berlalu lalang.
Selena segera melajukan mobilnya menuju tempat penting.
Setengah jam kemudian.
Braaaak...
Suara pintu ruangan Reno terbuka, ia menatap perempuan yang sedang berjalan kearahnya.
"Sebenarnya aku membencimu tapi aku ingin kau tau jika Sonia berangkat ke luar negeri hari ini sekarang ia sudah berada di bandara dan akan berangkat dalam 1 jam lagi, cepat temui dia untuk salam perpisahan," ucap Selena.
Reno terkejut dengan cepat ia mengambil jaketnya dan segera menuju ke mobilnya, mungkin kini ia sudah bukan menjadi suami Sonia tetapi ia ingin mengobrol bersama Sonia walau sebentar saja.
Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia sudah menjadi lelaki yang buruk bagi mantan istrinya itu dan ia harus segera meminta maaf.
Setelah sampai di bandara, ia segera berlari mencari keberadaan Sonia, ia berlari kesana kemari tetapi tidak menemukan batang hidung Sonia. Ramainya orang membuatnya kesusahan mencari keberadaan sang mantan istri sampai terlihat nafasnya sudah terengah-engah. Dia sudah hampir putus asa dan tak mungkin bertemu dengannya lagi.
Sial! Apakah ini karmaku?
Maafkan aku Sonia yang tidak mempercayaimu. Sungguh maafkanlah aku!
Reno berjongkok dan memegangi kepalanya, rasa putus asa memenuhi otaknya. Dia merasa pria terbodoh di dunia, sampai ia melihat sebuah kaki dan koper di depannya saat sedang menunduk.
"Kak Reno?"
Reno mendongakan kepala, matanya membulat ketika menatap gadis itu yang ternyata adalah Sonia.
Reno dengan refleks memeluknya tetapi seolah Sonia tidak mau dipeluk.
"Maaf," ucap Sonia melepaskan pelukan itu.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku jika kamu akan pergi?" tanya Reno sedih.
"Maafkan aku yang sudah tidak mempercayaimu"
"Itu hal yang wajar kak, aku akan melakukannya jika pasanganku melakukan itu di belakangku dan jangan menyalahkan dirimu! Oh ya aku titip anak kita, aku tau kamu bisa membahagiakannya" ucap Sonia.
"Dulu aku meninggalkanmu dan sekarang ini kamu meninggalkanku, aku sungguh kecewa dengan takdir kita yang tidak pernah bahagia"
Sonia menghela nafas, ia menunjukan senyuman dan menepuk bahu Reno.
"Kita sudah bahagia dengan pilihan kita masing-masing kak Reno. Aku harap kakak bisa menemukan istri dan ibu yang baik buat kalian berdua. Kakak sangat tampan dan baik pasti diluar sana ada wanita yang tepat untuk kakak nantinya," jelas Sonia menunjukan ekspresi gembira.
Reno menatap lekat wajah Sonia, ia sangat menyesal telah mengambil keputusan yang salah tetapi ia sedikit lega karena wajah Sonia terlihat bahagia.
"Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya?" tanya Reno.
Sonia tersenyum lebar dan menganggukan kepala, Reno dengan cepat memeluknya dengan erat. Rasa kesedihannya pecah seketika, ia harus benar-benar kehilangan wanita yang dinikahinya.
Umur pernikahannya memang masih sangat muda yaitu hanya 6 bulan.
Selama 6 bulan itu mereka saling mencintai dan berbagi kasih, mereka saling berpegang erat pada cintanya tetapi semua telah sirna dan hanya meninggalkan sebuah luka.
Luka yang mungkin belum tentu sembuh bertahun-tahun, luka yang selalu membekas di ingatan mereka.
Setelah beberapa menit berpelukan, Sonia segera berpamitan.
Dia tak lupa menunjukan ekspresi bahagia supaya Reno bisa melepas kepergiannya dengan ikhlas.
"Nomor handphoneku tidak akan pernah ku ganti, aku akan menunggu telepon darimu," ucap Reno.
Sonia hanya tersenyum kecut lalu mulai melangkah meninggalkan Reno yang masih berdiri dengan tegar menatapnya.
__ADS_1
Nampak air mata Sonia menetes, ia tidak bisa berbohong jika ia masih mencintai Reno.
Tapi keputusannya sudah bulat, ia sudah tidak ingin memiliki hubungan dengan mantan suaminya itu.
Reno hanya bisa menatap kepergian Sonia, ia masih bisa melihat Sonia dengan rambut panjangnya sampai tubuh Sonia tertutup oleh orang-orang yang berlalu lalang di bandara ini.
*Maaf ku telah menyakitimu.
Ku telah kecewakanmu
Bahkan ku sia-siakan hidupmu
Dan ku bawa kau seperti diriku
Walau hati ini terus menangis
Menahan kesakitan ini
Tapi ku lakukan semua demi cinta
Akhirnya juga harus ku relakan
Kehilangan cinta sejatiku
Segalanya telah kuberikan
Juga semua kekuranganku
Jika memang ini yang terbaik
Untuk diriku dan dirinya
Kan kuterima semua demi cinta
Jujur aku tak kuasa
Saat terakhirku genggam tanganmu
Namun yang pasti terjadi
Kita mungkin tak bersama lagi
Bila nanti esok hari
Kutemukan dirimu bahagia
Izinkan aku titipkan
Kisah cinta kita selamanya*
____________________________________
Hallo saya author.
Terima kasih telah mengikuti cerita ini sampai akhir.
Banyak pelajaran yang bisa di petik dari cerita ini.
Huaaaa... Author juga sedih harus menulis cerita sad ending ini.
Tapi memang kehidupan ini tidak selalu berjalan mulus kadang juga bisa sedih seperti cerita ini.
Author punya cerita baru yang berjudul "MENDADAK MENIKAH"
__ADS_1
Itu novel bergenre romantis komedi yang bisa membuat kalian ngakak dengan tingkah suami istri bernama Sean dan Mauren.