Mariana

Mariana
Kencan


__ADS_3

Malam mimpi buruk makin hadir di kehidupan Sonia.


Mimpi buruk seolah menjadi bagian dari hidup Sonia yang kelam.


Gelap, sangat gelap untuk berjalan di mimpi itu ia tak bisa, untuk melawan rasa takut juga tak bisa. Obat, hanya obat penenanglah yang membuat ia jauh lebih baik, walaupun itu hanya sementara.


Sonia segera meminum obat itu, obat yang menemaninya selama bertahun-tahun.


Depresi yang berlarut-larut membuat psikis Sonia terguncang. Tapi ia masih bisa mengendalikan itu semua, entah sampai kapan.


"Sonia, apa kamu minum obatmu secara teratur?."


Sonia hanya diam, mata pandanya menunjukkan bahwa ia tidak bisa tidur.


Dia menunjukkan ekspresi yang datar.


"Sonia, kamu harus segera dirawat, sebentar lagi kamu juga akan menikah kan? Segera beritahu keluargamu dengan kondisimu yang seperti ini?"


Sonia memandang wajah dokter yang berada didepannya, " Tidak, tolong jangan beritahu ke siapapun dokter, aku tidak ingin dimasukkan di Rumah sakit jiwa seperti kakakku."


"Dirawat di rumah sakit jiwa bukan berarti kamu gila, kondisimu semakin parah, dan kamu juga jarang kontrol kesini."


Sonia mengehela nafas, ia segera meminta dokter untuk membuatkan resep. Dia tidak ingin berdebat dengan dokter, setelah mendapat resep dari dokter ia segera menebus obat itu. Lega, perasaan cukup lega dirasakan oleh Sonia, ia sudah mendapatkan obat yang diinginkan setelah beberapa hari yang lalu ia kehabisan obat.


Dia segera menemui kak Nia, beberapa jam sebelumnya ia diminta kak Nia bertemu di cafe, ada seseorang yang ingin menemui Sonia.


Setengah jam kemudian.


Sonia sampai di cafe itu, ia melihat kak Nia duduk bersama pria setengah baya. Mereka sedang asyik mengobrol, Sonia bergegas menemui mereka.


"Maaf saya terlambat."


Pria itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, kak Nia menyuruh Sonia duduk.


"Sonia, perkenalkan ini Pak Wijaya ia seorang produser terkenal." Ucap kak Nia.


Pak Wijaya lalu menjulurkan tangannya, Sonia menerima jabat tangan itu.


"Saya Sonia, senang bertemu dengan anda"


"Ya saya tau, kamu sangat populer, senang bertemu dengan anda juga." Jawab Pak Wijaya.


"Begini, saya ingin menawari anda bermain film, saya sedang menggarap projek film, saya rasa film itu akan sukses jika dibintangi oleh anda."


Sonia terkejut, ia merasa senang, ini adalah kesempatan emas baginya untuk menggapai cita-citanya. Tetapi ia sedih karena ia akan segera menikah.


"Bukannya saya gak mau, tetapi sebentar lagi saya akan menikah, saya sebentar lagi bukan seorang wanita lajang lagi." jelas Sonia.


"Saya tau, dan itu bukan masalah besar, tidak masalah kamu sudah menikah atau belum. Kamu tetap seorang model populer." Ucap Pak Wijaya.


Sonia diam dan memandang kak Nia,


kak Nia memberi kode untuk segera menerimanya.

__ADS_1


"Ya, saya akan coba pak, saya mau menerimanya."


"Wah.. Benarkah? Kamu bisa menandatangi kontrak ini, oh ya selamat dengan pernikahanmu, syuting bisa dilakukan setelah kamu menikah nanti. Selamat bergabung Sonia."


Sonia menandatangani kontraknya, ia merasa senang dengan projek kali ini. Dia tidak sabar untuk segera syuting, dia menerima tawaran ini karena dia ingin melupakan sebentar semua masalahnya.


Mereka berjabat tangan pertanda persetujuan


sudah sah.


Klingg...


Bunyi pesan dari handphone Sonia, dia segera membukanya.


Aku ingin bertemu denganmu di taman dekat pusat kota, aku tunggu sekarang. Reno


Sonia mengernyitkan dahi dia heran kenapa Reno bisa mempunyai nomor handphonenya.


Dia berpamitan dengan kak Nia dan Pak Wijaya, dia dengan cepat menuju ke taman, Dia menaiki mobil secepat kilat.


Sesampainya di taman ia melihat Reno sudah terduduk di bawah pohon yang rindang.


Matanya memperhatikan mobil yang berlalu lalang, raut wajahnya seakan capek.


Sonia menghampirinya ia duduk disebelah Reno.


"Oh kamu sudah datang?"


"Senyummu menakutkan." Ejek Reno.


Sonia menatap sinis, "Apa yang kamu mau? Tiba-tiba mengajakku bertemu, dan darimana kamu mendapat nomor teleponku?"


Reno tidak menjawab, ia malah tidur di pangkuan Sonia.


"Hei tunggu, apa yang kamu lakukan? banyak orang melihat kearah kita." Ucap Sonia panik.


"Sebentar saja, aku sangat lelah."


Dibawah hembusan angin Reno terlelap dialam mimpi, rambut Sonia menari-nari terlibas oleh angin yang damai.


Sonia memperhatikan wajah Reno yang sudah tertidur pulas,


Tampan, dia benar-benar tampan.


Ya Tuhan... Bibirnya begitu seksi, aku ingin menciumnya. Tidak.... Apa yang aku pikirkan?.


Kau bodoh Sonia.


Tubuh Sonia mulai bergetar ketika memandang wajah Reno yang begitu tampan.


Dia menengok ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang yang lewat.


Sepi, taman ini sepi sekali tidak seperti biasanya. Hanya mereka berdua yang ada disana.

__ADS_1


Satu jam sebelumnya..


Reno menelpon seseorang, ada hal yang ingin ia bicarakan.


"Tolong kosongkan sebuah taman yang ada di pusat kota, hari ini aku ingin berkencan dengan calon istriku, pastikan tidak ada orang yang lewat dan memasuki taman itu, aku akan membayar berapapun." Ucap Reno.


Sonia masih menatap pria yang berada di pangkuannya itu, ia sangat terkesima dengan Reno, hasratnya ingin sekali mencium pria yang ada dipangkuannya.


Dia menengok ke kanan dan ke kiri, tidak ada orang.


Dia segera mendekatkan wajahnya ke wajah Reno, rambutnya di pegangi tangannya supaya tidak terjatuh di wajah Reno.


Cuuppp....


Sebuah ciuman hangat melayang ke bibir Reno. Sonia merasa begitu puas, tiba-tiba


mata Reno terbuka, ia tersenyum seolah tau Sonia mencium bibirnya.


Sonia dengan reflek mendorong tubuh Reno, seketika Reno terjatuh di tanah.


"Aduh... Kenapa kamu mendorongku?"


Sonia segera membantunya berdiri, "Maaf aku terkejut."


Reno tersenyum ia menatap wajah Sonia yang malu sudah ketahuan menciumnya.


"Aku tidak menciummu, aku.. aku.." Ucap Sonia terbata-bata.


Reno mendekatkan wajahnya, ia segera mencium bibir Sonia. Sebuah ciuman yang membuat gairah terasa naik, Sonia tak menolaknya. Dia benar-benar terjerat dalam ciuman yang begitu istimewa,


lidah nya seolah sudah pandai memainkan ciuman itu, ia sudah tak peduli lagi dengan


orang-orang yang berada disitu.


Tiba-tiba ia teringat masa lalu, kenangan demi kenangan tergambar di ingatannya, lantas ia menghentikan ciuman itu.


Reno menatap mata Sonia seperti bingung, ia bisa mendengar jantung Sonia yang berdegup kencang.


Reno membisik di telinga Sonia, "Mari kita lanjut setelah menikah nanti."


Denyut jantung Sonia berdegup semakin kencang ketika mendengar kalimat itu.


Reno tersenyum lalu ia mencium kening Sonia, "Mari kuantar pulang."


Sonia masih terpaku, dia merasa sangat bahagia sekali.


Baru pertama kalinya ia mendapat perlakuan khusus dari seorang laki-laki.


Apakah aku sudah jatuh cinta?


Apa ini yang namanya kenyamanan?


Entahlah... Waktu yang akan menjawabnya.

__ADS_1


__ADS_2