Mariana

Mariana
Bab 7


__ADS_3

***


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Dan aku menghabiskan seharian waktu liburku hanya untuk tidur. Tak peduli meski Arya dan Bima terus menghubungi ponselku, mengajak untuk hangout. Belum lagi teror dari Melka yang memaksa untuk datang ke rumahku. Menyesal rasanya sudah terlibat dengan gadis itu. Terlalu banyak maunya.


Aku berjalan menuruni tangga menuju dapur. Nikmat rasanya menikmati secangkir cokelat panas saat gerimis seperti ini. Kulihat Bik Armiati sedang sibuk mempersiapkan makan malam. Sedikit terkejut melihat kedatanganku.


Karna tak biasanya aku pergi ke dapur. Jika butuh apa-apa tinggal minta sama pembantu. Basa-basi aku menanyakan keberadaan Ana yang sejak sarapan pagi tadi tak ku lihat keberadaannya. Bik Armiati ini adalah ibunya Ana. Keduanya tidak begitu dekat. Mungkin karena sikap Ana yang dingin. Namun begitu Ana selalu membantu apapun yang menjadi tugas Bik Armiati. Kedua ibuk dan anak itu mempunyai sifat yang hampir sama. Dingin.


Dari penuturan Bik Armiati, aku tahu jika Ana menghabiskan waktu liburnya untuk belajar diperpustakaan. Sepertinya Ana sangat menginginkan beasiswa itu. Karna itu dia berusaha sangat keras agar bisa lolos. Bisa ku bayangkan betapa membosankannya hidupnya yang dihabiskan dengan belajar dan terus belajar.


Tak sengaja aku mendengar suara tawa dari dalam kamar Amera saat hendak kembali ke kamarku. Rasa penasaran membuatku mendekat untuk menguping. Aku takut jika Amera nekad menyelundupkan artis tidak terkenal itu masuk ke dalam kamarnya. Namun setelah kupastikan suara tawa itu bukan tawa seorang pria. Berlahan aku membuka pintu kamar Amera dan betapa terkejutnya saat melihat siapa yang ada didalam kamar Amera.


" Ibu ?" pekikku serasa tak percaya saat melihat wanita yang sudah hampir 3 tahun ini tak ku temui tiba-tiba saja hadir dihadapanku. Ibu dan Amera sedikit terkejut saat melihatku.


" Kapan kau akan belajar mengetuk pintu ?" tanya Amera sedikit kesal.


Ibu tersenyum, berhambur memelukku. Berulang kali dia mengatakan rindu kepadaku. Sementara aku masih diam mematung. Tak ku sangka jika apa yang dikatakan ayah tadi pagi tentang kembalinya ibu ke rumah ini bukanlah sekedar bualan.


Kami bertiga duduk-duduk cantik dibalkon sambil menikmati secangkir cokelat panas. Sembari memandang gerimis rintik-rintik yang membawa aroma harum tanah basah.


" Apa ayah sudah tau jika ibu ada disini ?" tanyaku memecah keheningan.


" Bukankah saat sarapan tadi ayah sudah mengatakannya ?" Amera memotong pembicaraan.


" Dan kau, apa sudah tahu sebelumnya tentang rencana kepulangan ibu kembali ke rumah ini ?" tanyaku penuh selidik pada Amera yang hanya tersenyum menyeruput cokelat panasnya.


" Apa kau tidak senang ibu kembali lagi ke rumah ini ?" Ibu mengusap lembut punggung tanganku.


" Bukan begitu hanya saja ini terlalu mendadak. Selama tiga tahun ini kami telah terbiasa hidup tanpa sosok seorang ibu. Terlebih alasan ibu pergi adalah demi pria lain. Akan terasa aneh jika tiba-tiba ibu kembali lagi " aku menatap lurus ke depan. Masih teringat dengan jelas saat ibu tak menghiraukan saat aku menangis memintanya untuk tidak pergi. Akh cengeng sekali aku saat itu.


" Sudahlah lupakan tentang masa lalu. Yang terpenting saat ini adalah ibu sudah kembali bersama kita. Lagipula bukan sepenuhnya salah ibu jika dulu pergi. Siapapun tidak akan tahan hidup bersama pria seperti ayah " Amera tak berhenti membela ibu. Pasti dia sudah mendapat banyak hadiah hingga melupakan rasa sakitnya dicampakkan.


" Aku tak percaya jika ayah akan menerima ibu kembali ke rumah ini " entah mengapa aku jadi merasa kasihan dengan si tua itu.


" Kenapa tidak ? Ibu adalah pemilik 50% saham perusahaan. Bahkan ibu juga berhak atas kepemilikan rumah ini. Ayah tidak punya hak melarang ibu kembali kesini " bela Amera. Ingin sekali rasanya kusumpal mulutnya agar tidak banyak bicara.

__ADS_1


" Aku tahu mungkin kau masih merasa kesal dengan ibu atas apa yang dulu terjadi. Tapi percayalah ibu akan menebus semua yang telah terjadi dimasa lalu. Dan satu lagi, ibu kembali untuk anak-anak ibu bukan untuk ayah kalian. Jadi, tolong beri ibu satu kesempatan lagi !!" Ibu menggenggam erat tanganku dan Amera. Wanita yang masih terlihat cantik seperti dulu meski usianya tidak muda lagi. Namun mengingat perselingkuhannya dengan lelaki muda itu, membuatku kesal kembali. Walau bagaimanapun ayah menjadi sepuluh kali lebih keras sejak kepergian ibu. Dan itu membuatku sangat tertekan.


***


Gerimis belum juga reda. Ana berdiri dihalte menunggu bus datang. Ditengadahkannya tangannya bermain air hujan. Tak peduli dengan percikan air yang mengenai wajahnya. Rambut pendeknya dibiarkannya terurai tertiup angin. Ana tersenyum mengingat kenangannya bersama pria yang disukainya saat gerimis seperti saat ini. Rindu, itulah yang dikatakan hatinya. Dan lagi-lagi Ana menyuruh hatinya untuk bersabar.


Dari kejauhan, Bian memandangi apa yang dilakukan Ana dari dalam mobilnya.


" Bukankah itu gadis yang menghajar mu disekolahan Amera kemarin ?" tanya Johan membuyarkan lamunannya.


" Gadis itu sangat unik " jawab Bian singkat.


" Jangan bilang kalo kau menyukainya ? Gadis itu bahkan tidak terlihat seperti tipemu !!"


Bian hanya tertawa mendengar perkataan Johan.


" Aku hanya bilang jika gadis itu unik. Bukan berarti aku tertarik dengannya "


" Baiklah, aku mengerti. Lalu apa kau akan memberi tumpangan pada gadis itu ?"


" Dia bukanlah gadis yang akan merasa senang saat ada yang memberinya tumpangan. Dia bahkan tidak mengenali keartisan ku "


" Sepertinya kau masih dendam karena hal itu " Johan tertawa meledek. Dan itu membuat Bian kesal. Bian menatap tajam ke arah Ana yang sedang bermain air hujan.


***


Ana berlari kecil, masuk ke halaman gerbang. Kepalanya menengadah saat seseorang memanggilnya. Ada sedikit raut khawatir diwajahnya. Sementara ibu, tersenyum melihat kedatangan Ana.


" Bagaimana kabarmu Ana ?" tanya ibu penuh senyuman saat Ana bergabung bersama kami dibalkon.


" Baik Nyonya !!" jawab Ana singkat tanpa berani menoleh ke arah ibu.


" Kau sekarang sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Namun kecantikan saja tidak akan cukup untuk memikat lelaki kaya "


Entah apa maksud ibu mengatakan hal itu namun bisa kulihat Ana merasa tidak nyaman mendengarnya.

__ADS_1


" Cantik apanya ? Dia bahkan selalu terlihat berantakan tak pernah merawat dirinya dengan baik " Amera terlihat tidak suka saat ibu memuji Ana. Bukan, bagiku saat ibu mengatakan Ana cantik bukanlah sebuah pujian, lebih terdengar seperti sindiran. Ibu tertawa keras mendengar Amera merajuk.


" Tentu saja putri ibulah yang paling cantik " rayu ibu mengelus pipi Amera.


" Setidaknya Ana lebih pintar darimu bukan ? Bahkan dia berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa ke Jerman ? " Aku berusaha membela Ana.


Namun gadis itu justru melotot tidak suka kepadaku. Dan ibu, senyumnya tiba-tiba menghilang.


" Jerman ?" tanyanya penuh selidik.


" Kau bermimpi terlalu tinggi, bangunlah !!" ejek Amera meremehkan.


" Diamlah !!" perintahku pada Amera.


" Kenapa memang ? Kau saja yang diam !!" Amera justru melotot kepadaku.


" Bolehkah aku kembali ke dapur sekarang ? Aku harus membantu ibu menyiapkan makan malam ?" raut wajah Ana terlihat sedikit pucat. Entah karena merasa tidak nyaman dengan perkataan ibu dan Amera atau karna kedinginan.


" Pergilah ke tempat dimana seharusnya dirimu berada !! Tapi sebelum pergi habiskan dulu cokelat panasmu agar badanmu sedikit lebih hangat !!" ibu mengulurkan segelas coklat panas yang langsung dihabiskan oleh Ana. Dia bahkan tidak meniupnya terlebih dahulu. Setelah itu Ana pergi meninggalkan kami bertiga.


" Berhentilah mengganggu Ana !!" perintahku pada Amera.


" Kenapa ? Kau sendiri selalu menggangunya bukan ?" bantah Amera.


" Sejak kapan putraku menjadi begitu peduli pada anak pembantu kita ? Apa kau tertarik padanya ?" tanya ibu penuh selidik.


" Mana mungkin ibu, Amero hanya tertarik pada satu wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri orang " Amera menjulurkan lidah mengejekku.


" Benarkah ? Beritahu ibu siapa wanita yang berani mencampakkan putra kesayanganku ?" ibu tersenyum penuh harap.


" Sudahlah, aku malas dengan pembahasan ini " aku bergegas pergi meninggalkan Amera dan ibu yang berusaha menahanku. Samar-samar aku masih bisa mendengar saat ibu menyuruh Amera untuk giat belajar agar bisa menjadi nomor satu mengungguli Ana. Entahlah kenapa kedua orang itu sangat membenci Ana. Padahal yang Ana lakukan selama ini hanya diam. Benar, aku juga membenci Ana karna sikap dinginnya itu.


***


Ana memandang wajahnya di cermin. Ada sedikit ketakutan yang terpancar disana. Kehadiran kembali sang nyonya besar cukup membuatnya merasa tidak nyaman. Seperti akan ada hal buruk yang akan menimpanya. Ana berusaha menguatkan dirinya sendiri jika semuanya akan baik-baik saja. Ingin lebih fokus belajar agar impiannya tercapai. Cukup bertahan beberapa bulan lagi dirumah ini. Ana ingin menjalaninya tanpa masalah. Semoga saja.

__ADS_1


__ADS_2