
Sonia melihat kearah Reno yang berada di sampingnya, ia terlihat lelah.
Dia menatap langit-langit kamar rumah sakit ini, ia hanya ingin pulang. Sudah 2 hari ia dirawat di rumah sakit.
"Dokter bilang kamu besok boleh pulang Sonia." Ucap Reno membuat Sonia menoleh kearahnya.
Sonia tersenyum dalam hatinya merasa senang tetapi ia juga tidak enak dengan kru film dan pemain lainnya.
Aku sudah mengacaukan semuanya, pasti mereka telah menyesal memilihku sebagai pemeran utama.
Reno menatap Sonia seolah tau apa yang dipikirkan Sonia, ia menggenggam tangan Sonia erat. Dia memberikan kode seolah baik-baik saja dan tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu.
Ruangan yang begitu dingin membuat tangan Reno seakan membeku, ia segera memasukkan tangannya ke saku jaket yang ia kenakan. Dia terkejut mendapati sebuah kertas yang berisikan alamat.
Aku lupa mencari alamat ini, setelah Sonia sembuh aku akan segera mencarinya.
Dia mengeluarkan handphonenya, ia memotret kertas itu. Dia harus berjaga-jaga jika kertas itu hilang maka ia sudah menyimpan alamat itu di handphonenya.
"Bima" Ucap Sonia.
Reno mendengarnya terkejut, ia begitu kecewa setelah 2 hari Sonia tidak berbicara sekalinya berbicara malah mengucapkan nama Bima.
"Kamu menyukainya?" Tanya Reno.
Sonia menganggukan kepala ia berbohong kepada Reno supaya Reno tidak terlalu jauh untuk mencintainya. Dengan mata yang nanar Reno melihat Sonia, perasaan tercabik-cabik dirasakan olehnya saat ini.
"Aku sudah berusaha menyukaimu dan mencintaimu, inikah balasanmu terhadapku?"
"Bolehkah aku berpacaran dengan Bima?"
Reno kini sudah naik darah, denyut jantungnya semakin kencang. Hanya tatapan tajam yang diarahkan ke Sonia, ia ingin sekali memukul mulut istrinya itu. Tetapi ia tidak sampai hati dan sadar jika itu anak orang.
"Lakukanlah sesuka hatimu jika kamu merasa bahagia, dan betapa bodohnya aku yang berusaha mencintaimu tetapi kamu malah membuatku terluka." Ucap Reno.
Sonia hanya tersenyum mendengar ucapan itu, padahal pilihannya ini akan menjebak dirinya dalam situasi yang buruk.
Lihatlah dirimu yang marah itu sungguh menggemaskan.
Sedikit mengerjainya mungkin bisa membuatku terhibur.
Sonia tersenyum ke arah Reno, Reno malah membuang muka. Rasa sakit yang dirasakan oleh Reno kini kian meningkat.
Reno kini merebahkan kepalanya di bibir ranjang dalam masih posisi terduduk ia hanya ingin menyandarkan kepalanya.
Rasa lelah karena mengurus 3 bisnis dan mengurus istrinya yang sakit membuat pikirannya semakin terpuruk.
Sepertinya Reno menanggapi serius tentang hal tadi. Apa aku keterlaluan?
Sonia membelai rambut Reno yang berada di samping tangannya, ia juga mengusap kepala Reno.
"Hentikan!"
__ADS_1
Sonia tersentak, ia kaget Reno membentaknya.
"Kamu marah denganku, maafkan aku."
Reno diam tak bergeming.
"Reno jika aku hamil apa kamu akan memperhatikanku? Apa aku mendapat hadiah spesial darimu?" Tanya Sonia.
"Mintalah kepada Bima jangan kepadaku."
Sebuah kalimat yang membuat Sonia tak bisa melanjutkan perkataannya.
Cih! Jadi maksudmu aku wanita murahan yang akan melakukan itu dengan Bima?
Sonia kini menatap langit-langit kamar rumah sakit dan berharap bisa secepatnya keluar dari sini. Dia melirik Reno yang sepertinya sudah tertidur.
**
Di rumah Sonia.
"Ku dengar Sonia tenggelam dia baik-baik saja?" Tanya David.
Mamanya hanya menganggukan kepala seolah tak peduli dengan keadaan Sonia.
Dia mengambil segelas kopi di depannya, sebelum menyeruput ia meniupnya terlebih dahulu.
"Kakakmu akan segera kembali, Papa menunjuknya sebagai direktur."
"Apa kakak masih gila seperti dulu?"
Mamanya marah dan memukul badan David,
"jaga ucapanmu David!"
______________
3 hari sudah Sonia dirawat di rumah sakit, ia senang bisa menghirup udara segar sekarang. Dia melirik Reno yang mengendarai mobil sedari tadi ia masih terdiam.
Sonia berpikir jika Reno masih marah dengan ucapannya kemarin.
Laki-laki ini susah di tebak terkadang bersikap lembut dan manja tetapi jika marah membuatku takut menatapnya.
Sonia mengeluarkan handphonenya, beberapa kru dan rekan pemain film memberikan ucapan selamat atas keluarnya dari rumah sakit, Sonia tersenyum sendiri sambil memainkan rambutnya.
"Tidak bisakah kamu mundur dari film ini, kemarin kakimu sampai bengkak dan kamu juga sampai tenggelam" Ucap Reno.
"Tidak" Jawab Sonia ia tengah asyik memainkan handphonenya..
Reno berubah ekspresi menjadi masam, ia mempercepat laju mobilnya dengan kecepatan tinggi, Sonia terlihat sangat panik.
Tin.. tin.. tin.. tin..
__ADS_1
"Kau gila Reno, emang ini jalan punyamu!"
Reno segera mengerem mendadak, untungnya jalan ini masih sepi dari kendaraan. Sonia menghela nafas, dia berpikir jika Reno memang sudah gila.
"Tidak bisakah kamu meletakkan handphonemu ketika aku mengajakmu berbicara?" Ucap Reno dengan meninggikan suaranya.
Setelah mendengar itu Sonia segera meletakkan handphonenya di dalam tas.
Dia memandang Reno dengan tatapan sinis.
"Kau tidak ingat kamu membentak siapa? Aku bisa mengadukan kepada Papaku." Ucap Sonia.
"Kamu adalah istriku aku juga berhak memarahimu."
"Kamu pikir aku baik padamu? Peduli denganmu karena kamu suamiku? Kamu pikir aku menyukaimu? Aku pikir jika Papaku tidak membantu keluargamu pasti keluargamu jadi gembel sekarang."
Sebenarnya aku menyukaimu tetapi aku tidak mau mengakuinya Reno.
Reno tercekat mendengar ucapan Sonia yang menghina keluarganya, bagai tersambar petir di siang bolong ia mendapati sebuah perkataan yang membuatnya sangat terluka.
"Apalagi dengan ibumu itu seolah-olah dia orang kaya yang memperlakukanku seenaknya" Sambung Sonia.
Plak....
Sebuah tamparan keras mengenai pipi Sonia, ia terperanjat tak percaya jika suaminya menampar pipinya. Dengan jelas tergambar masa lalunya yang dipukuli oleh seseorang.
Tubuhnya bergetar bahkan ia tidak berani menatap wajah Reno yang sedang marah.
"Kamu boleh menghinaku, tetapi jangan menghina ibuku, asal kamu tau aku bekerja keras dari pagi hingga malam juga untuk ibuku"
Sonia meraih tasnya, ia segera keluar dari mobil. Reno tak memperdulikan Sonia, ia segera melajukan mobilnya.
Sonia berjalan mengikuti jalan, banyak mobil yang ingin memberikan tumpangan tetapi ia menolak dan lebih memilih berjalan kaki.
Sepatunya yang berhak tinggi membuat kakinya lecet, ia menahan rasa sakit itu.
Apakah aku harus mati sekarang?
Tidak ada yang memperlakukanku dengan baik.
Dia sudah berjalan selama satu jam, kakinya sudah tidak kuat untuk melangkah lagi.
Dia terduduk di pinggir jalan, orang-orang memandanginya.
Kenapa aku tidak naik taksi saja sedari tadi.
Bodohnya aku menunggu Reno datang menjemputku lagi. Dia sungguh kesal denganku, kupikir orang lemah lembut seperti dia tidak bisa marah.
Sonia segera mencari taksi, ia segera menuju ke rumah Papanya. Dia ingin mendinginkan otaknya setelah pertengkaran itu.
Kupikir setelah menikah membuatku menjadi lebih tenang dan aman, tetapi malah membuat hidupku semakin runyam.
__ADS_1