
***
Terdengar suara tawa renyah dari bibir si tua Bangka itu, ya..ayahku. Dia terlihat begitu terhibur mendengar cerita tentang pertengkaran Ana dan beberapa teman perempuan nya ditengah hujan tadi siang. Sementara kulihat Ana hanya berdiri mematung ditepi meja makan. Sambil sesekali menyiapkan apa yg diperlukan oleh ayahku ataupun anggota keluarga ini. Ya, Ana adalah pembantu dirumahku. Lebih tepatnya dia adalah anak pembantu dirumahku yang menjadikannya otomatis pembantu juga. Ayahnya adalah sopir pribadi ayahku, sementara ibunya adalah tukang masak dikeluarga kami. Ana bisa bersekolah disekolah yang sama denganku dan juga Amera tentu saja karena ikut campur ayahku. Karna jika hanya mengandalkan otaknya yang pintar tidak akan cukup. Ayah sangat menyayangi Ana karna dia pintar. Selalu membandingkannya denganku maupun Amera. Itu sebabnya kami berdua sangat muak dengan Ana.
Jam ditangan menunjukkan pukul tujuh malam. Aku berdiri diteras lantai dua menikmati sisa gerimis yang membawa harum aroma tanah basah. Kulihat Ana membersihkan kolam ikan, Wajahnya terlihat pucat. Mungkin dia sedikit demam karna pulang sekolah tadi kehujanan. Rambut pendeknya sesekali berkibas tertiup angin. Gadis itu, aku tidak menyukai ekspresi nya yang selalu datar seperti itu. Bahkan saat ayah memujinya, dia hanya diam, diam dan diam. Menyebalkan sekali.
" Apa kau benar-benar tidak akan datang ke pesta Michaela ?" pertanyaan Amera mengagetkanku.
" Untuk apa ?" jawabku acuh.
" Apa kau sudah tidak menyukainya ? Kau tidak ingin menemuinya ? " Pertanyaan bertubi Amera membuatku sedikit terganggu.
" Kenapa kau ini cerewet sekali ? Sejak kapan kau suka mencampuri urusanku ?" Aku berjalan masuk ke dalam kamar meninggalkan Amera yang mendesis kesal.
" Jika kau tidak pergi, ayah juga tidak akan mengijinkan ku pergi. Karna itu ayo kita pergi bersama-sama !!"
Sebenarnya aku tahu apa yang membuat Amera begitu ingin pergi ke pesta malam ini. Apalagi jika bukan untuk bertemu dengan aktor pendatang baru itu. Dia bahkan tidak sadar jika hanya dimanfaatkan.
" Sepertinya aku mengantuk, keluarlah dari kamarku !!" aku pura-pura menguap untuk mengusir Amera.
" Katakan apa yang kau inginkan agar kau mau pergi !"
Aku tersenyum memandang kembaranku itu penuh kemenangan.
***
Suara alunan biola terdengar begitu syahdu. Sangat pas dengan suasana pesta malam ini. Mataku sibuk memandang sekeliling namun tak juga kutemukan yang aku cari.
" Apa kau bersedia berdansa denganku, tuan muda Almero ?" suara lembut itu aku sudah sangat mengenalnya. Seorang gadis terlihat sangat anggun dengan dress maroon yang melekat ditubuh indahnya. Mengulurkan tangan padaku. Senyumnya seketika merekah. Sejenak menyihir ku.
" Apa kabarmu, Michaela ?" tanyaku kaku, berusaha menyembunyikan rasa gugupku.
" Sangat baik, lebih dari yang terlihat saat ini. Aku senang kau mau datang ke pestaku ". ucapnya tak lepas dari senyuman.
" Kau terlihat sangat cantik seperti biasanya "
" Apa itu artinya kau mau berdansa denganku ?" Michaela kembali mengulurkan tangannya. Dengan senang hati aku menerimanya. Kami berdansa mengikuti irama. Aku bisa merasakan begitu dekatnya nafas Michaela diwajahku. Membuat jantungku ikut menari tak karuan.
__ADS_1
Michaela, gadis yang aku sukai sejak lama, bisa dibilang dia adalah cinta pertamaku bahkan hingga saat ini. Perbedaan usia diantara kami yang membuatnya tak mau terikat denganku. Meski aku memiliki segalanya.
" Kapan kau kembali ke Indonesia ? Kenapa tidak mengabari ku ?" tanyaku memecah keheningan diantara kami.
" Maaf, ada sesuatu yang harus aku persiapkan. Mungkin aku akan lama berada di Indonesia " Michaela tersenyum lembut.
" Baguslah. Apa itu artinya kita akan sering bertemu seperti dulu ? Jujur, aku merindukanmu "
Belum sempat Michaela menjawab pertanyaanku, suara dari MC pesta memecah suasana. Pria berpakaian klimis itu mengumumkan inti dari kenapa pesta ini diadakan. Sebuah pertunangan seorang milyarder muda dengan model papan atas Michaela Suwandi. Ya, awalnya aku kira salah dengar namun itulah kenyataannya. Nama Michael lah yang disebut sebagai calon mempelai wanita dalam pertunangan malam hari ini. Dan seketika duniaku terasa runtuh. Lagi-lagi Michaela berhasil mempermainkan ku. Aku berusaha mencerna apa yang terjadi. Tersenyum kecut. Menyaksikan gadis yang ku sukai berjalan ke atas panggung menemui sang prianya. Meninggalkanku tanpa penjelasan. Aku merasa ini sangat lucu. Tanpa beban Michaela tersenyum bahagia saat pria yang akan dinikahinya itu menyematkan cincin dijari manisnya. Diiringi tepuk tangan pengunjung pesta.
" Apa kau baik-baik saja ?"
Aku hanya tersenyum getir pada pertanyaan Almera yang terlihat menghawatirkanku.
" Maaf, aku benar-benar tidak tahu jika ini adalah pesta pertunangan Michaela. Jika tidak aku pasti tidak akan memaksamu kesini "
Aku berjalan berlahan meninggalkan pesta, tanpa mempedulikan Almera.
***
Gelap. Itulah yang kurasakan. Tak habis pikir dengan apa yang terjadi. Memang benar diantara aku dan Michaela tidak ada ikatan namun hubungan diantara kami berdua lebih dari sekedar dekat. Malam ini dia bertunangan dengan pria lain dan sengaja ingin aku melihatnya. Tidakkah itu sangat kejam. Baginya mungkin aku hanyalah seorang bocah SMA ingusan yang tak layak untuk diperjuangkan. Sedangkan dia, usianya sudah cukup matang untuk berumah tangga saat ini.
Aku berlari mengelilingi lapangan. Tak peduli dengan malam yang semakin larut. Arya dan Bima memperhatikan ku dengan pandangan iba.
" Berikan aku minum !!" kurebahkan tubuh lelahku diatas rumput basah, mengatur naik turun nafas. Arya melemparkan sebotol minuman padaku.
" Kenapa kau memberikanku minuman keras ?" tanyaku memukul kepala Arya.
" Sudah minum saja. Itu akan baik untuk keadaanmu saat ini. Kau perlu melupakan segala kesedihanmu dan membiarkan pikiranmu melayang " ucap Bima membela Arya. Tapi kurasa benar apa yang dikatakan mereka. Entahlah, aku menghabiskan semua minuman keras itu hingga tak bersisa. Dan setelahnya aku benar-benar melayang. Kepalaku terasa berat dan pandanganku mulai kabur. Gelap.
***
Aku seperti sedang naik unta. Naik turun, mual. Rasanya ingin muntah. Bau shampoo. Dan rambut basah siapa yang menempel di hidungku.
" Ana ? "Apa yang sedang kau lakukan ?" tanyaku heran pada Ana saat menyadari jika tubuhku berada dalam gendongannya. Gadis ini selain memiliki otak yg encer juga tenaga bagai kuda. Harga diriku serasa jatuh digendong oleh seorang wanita.
" Turunkan aku..!! Hey..apa kau pikir aku tidak bisa berjalan sendiri ?" ucapku sedikit parau, efek minuman keras itu belum hilang. Dan Arya dan Bima meninggalkanku begitu saja. Harusnya mereka mengantarku setidaknya hingga ke kamar.
__ADS_1
" Cepat turunkan aku !!" pintaku lagi dan Ana masih saja mengabaikan perkataanku. Terus menggendongku menuju kamar.
" Akh, kepalaku rasanya pusing sekali !!"
Ana melemparkanku dengan kasar diatas tempat tidur.
" Aku akan membuatkanmu susu hangat !!" ucapnya datar, pergi meninggalkan kamarku.
" Harusnya kau tidak sekejam itu padaku. Harusnya kau tidak bertunangan dengan pria itu dan mencampakkan ku. Harusnya kau menunggu sedikit lagi hingga aku benar-benar menjadi pria dewasa seperti keinginanmu. "
Efek minuman keras itu sepertinya tak bertahan lama. Buktinya, rasa sakit itu masih saja tetap terasa.
***
Aku bisa merasakan sebuah sentuhan hangat menghusap lembut keningku. Samar aku membuka mata. Lampu kamar yang dibiarkan remang, masih bisa aku melihat keberadaan Ana. Seperti biasa, pandangan nya datar. Dengan segelas susu hangat ditangannya.
" Minumlah susu hangat ini, itu akan mengurangi rasa mualmu !!" diulurkannya susu itu padaku. Aku hanya berkedip, rasanya berat sekali meski sekedar untuk bangun. Ana mendekat, berusaha membantuku bangun. Telapak tangannya terasa hangat saat menyentuk tengkuk leherku. Refleks aku mengusap keningnya. Benar dugaan ku, dia demam. Bisa kurasakan wajahnya sedikit berkeringat. Bibirnya pucat.
" Dasar bodoh. Seharusnya kau tidak berkelahi seperti seorang preman. Jika hujan seharusnya berteduh, bukan malah menikmatinya. Susu itu lebih cocok untukmu, minumlah !!" kataku memberi isyarat mata agar Ana meminum sendiri susu yang telah dibuatnya.
" Sepertinya kau sudah baik-baik saja. Tidurlah, aku akan meninggalkanmu !!" Ana tak menghiraukan perintahku. Berani sekali dia mengabaikan ucapanku. Dan entah setan apa yang merasuki, saat aku menarik tangan Ana dan mendaratkan sebuah kecupan hangat dibibirnya. Ana hanya diam tak bereaksi apapun. Aku pikir dia menikmatinya. Itu yang membuatku lebih berani untuk menciumnya lebih intens. ******* bibirnya berlahan. Sampai sebuah jitakan keras mendarat di kepalaku. Aku mengaduh kesakitan mengusap-usap kepalaku. Jitakan Ana terasa begitu keras. Entah apa yang dimakannya hingga tenaganya bisa sekuat itu.
" Kenapa kau memukul kepalaku ?" protesku pada Ana yang mendesis kepadaku.
" Tidurlah !!" Hanya itu yang dikatakannya sebelum berlalu pergi keluar meninggalkan kamarku. Ditutupnya pintu dengan keras, membuatku sedikit kaget. Harusnya dia tidak menahan amarahnya saat ada yang melecehkannya seperti tadi.
Aku berlari mengejar Ana. Kulemparkan sebuah selimut hingga menutupi kepalanya.
" Pakailah selimut itu, kau tidak boleh sakit. Karna itu akan sangat merepotkan !!" Aku berlari menutup pintu kamar sebelum Ana mengembalikan selimut yang kuberikan. Bisa kubayangkan jika gadis itu pasti sangat kesal denga ekspresinya yang dingin. Dasar gadis yang aneh.
Aku mengatur nafas yang ngos-ngosan dibalik pintu. Saat kulihat ponselku berdering. Ini sudah tengah malam, entah siapa yang menghubungiku. Dilayar ponsel terlihat nama dan foto Michaela. Aku tersenyum miris. Entah mengapa Michaela menghubungi ku setelah semua yang dilakukannya malam ini. Aku tak berniat mengangkatnya. Setelah beberapa waktu, sebuah pesan singkat masuk ke ponselku. Mungkin Michaela tau jika aku tidak akan pernah mengangkat telpon darinya.
" Apa kau sudah tidak ingin bicara lagi denganku ? Hubungi aku jika hatimu sudah sedikit membaik !! Kita bisa minum kopi bersama ditempat biasanya "
Itulah pesan singkat yang dikirim Michaela untukku. Dia bahkan tidak meminta maaf. Aku membanting ponselku hingga jatuh berkeping-keping.
Dibawah guyuran air shower, aku membiarkan seluruh tubuhku basah. Setelah malam ini, semuanya akan kembali baik-baik saja. Aku bisa mendapatkan wanita manapun yang aku mau. Aku bisa pastikan itu.
__ADS_1
" Praaakkkk !!!!" suara retakan kaca berhambur bercampur tetesan darah yang mengalir dari sela-sela jari tanganku.