Mariana

Mariana
Bab 3


__ADS_3

***


Suasana dimeja makan pagi ini sedikit hening. Sepertinya si tua Bangka itu tau jika semalam aku sedikit mabuk. Aku bahkan tak berani melihat ke arahnya.


" Bagaimana sekolahmu akhir-akhir ini ?" suara ayah terdengar jelas memecah keheningan.


" Baik " jawabku singkat.


" Jangan pernah merepotkan Ana lagi !!" ucapnya mempertegas.


" Iya aku tau " jawabku setengah kesal melirik ke arah Ana yang berdiri ditepi meja makan. Ingatanku membawa kembali pada apa yang terjadi semalam diantara kami. Membuat ku tersedak.


" Berhati-hatilah !!" ejek Amera melihatku tersedak.


" Persiapkan dirimu agar bisa masuk diuniversitas yang sama dengan kakakmu !! Kau tau kan, ayah tidak menyukai sebuah kegagalan dan kecerobohan " si tua itu melihatku penuh intimidasi.


" Aku bisa masuk diuniversitas manapun " jawabku santai. Siapa sangka jawabanku itu justru membuat si tua itu murka. Dilemparkannya sisa roti yang dimakannya ke arahku.


" Dasar bocah tengil, berhentilah bermain-main. Hanya karena ditinggal satu wanita sudah membuatmu hancur, bagaimana jika kau kehilangan segala yang kau miliki ? Jika sikapmu masih kekanak-kanakan seperti ini, kau tidak akan mendapatkan apapun. Akan kuberikan semuanya pada kakakmu !!" ayah pergi meninggalkan meja makan dengan wajahnya yang terlihat kesal.


" Kenapa kau suka sekali membuat ayah marah ? " Amera kembali mengejekku.


" Tutup mulutmu !!" aku melotot kepadanya.


" Apa kau sudah merasa lebih baik ? Kulihat kau makan banyak sekali pagi ini " sindirnya lagi.


" Hey, diamlah !! Apa kau mau ku adukan pada ayah jika semalam kau pergi dengan artis itu ? Hah.."


" Awas saja jika kau berani !!" Amera membanting sendoknya, meninggalkanku sendiri dimeja makan. Terserahlah jika semua orang pergi, aku melanjutkan menikmati sarapanku pagi ini.


" Maaf tuan Muda, tapi di rambut tuan muda ada selai nanasnya "


Kulihat beberapa asisten rumah tanggaku menahan tawa saat melihatku. Yang benar saja, si tua itu melemparkan rotinya hingga membuat selai nanas itu tertinggal dirambutku. Aku mendengus kesal, tak lagi nafsu makan.


***


Pagi ini sedikit berkabut. Terasa dingin menusuk tulang. Dari dalam mobil yang melaju pelan, bisa kulihat Ana berdiri menunggu bus sekolah datang. Sebenarnya bisa saja aku memberinya tumpangan, tapi Amera pasti tidak akan suka. Kulirik kembaranku itu sedang asyik memainkan ponselnya. Tertawa haha hihi sendiri.


" Apa kau masih berhubungan dengan artis itu meski tau jika ayah tidak akan menyukainya ?" tanyaku secuek mungkin.


" Ayah tidak akan tau jika kau tidak mengatakan " ucap Amera penuh penekanan.


" Sadarlah, artis itu hanya ingin memanfaatkan mu. Yang dia inginkan hanya uangmu. Lagipula dia bukan artis besar, hanya seorang figuran. Entah apa yang kau lihat darinya " aku berusaha meyakinkan Amera namun justru dia menjambak rambutku hingga berantakan.


" Apa yang kau lakukan ?" teriakku marah.


" Berhentilah mengatakan sesuatu yang buruk tentang Bian. Memangnya kenapa kalo dia hanya memanfaatkan uangku saja. Uangku banyak jadi tidak masalah jika aku membagi sedikit untuknya. Lagipula sebentar lagi bian akan jadi artis papan atas, banyak film dan iklan yang sedang dibintanginya. Jadi berhentilah meremehkannya !!" Amera terlihat kesal sekali saat aku menjelekkan bintang idolanya.


" Terserahlah..jatah warisan mu akan berkurang jika terus-menerus kau berikan pada benalu itu "


Amera melotot ke arahku bersiap untuk mencakar ku lagi. Akh, dasar bucin.


***


Disebuah taman yang penuh dengan bunga, terdengar seorang wanita berteriak meminta tolong. Wanita itu terlibat tarik menarik dengan beberapa pria berpakaian serba hitam. Banyak orang disana namun hanya sebagai penonton, tak ada yang berani membantu wanita itu.


" Lepaskan wanita itu !!"


Hingga datang seorang pria pemberani yang datang sebagai pahlawan.


Terjadi perkelahian sengit antara pria pahlawan itu dan para pria berbaju hitam. Pukulan demi pukulan menghujani sang pria pahlawan. Darah berceceran dimana-mana. Wanita itu menangis histeris menyaksikan pahlawan yang dicintainya berada diujung nyawa.


" Kumohon hentikan !! Tolong lepaskan kami !!" iba wanita itu menangis dikaki para preman bayaran.


" Berikan dokumen itu dan kami akan melepaskan kalian !!" salah seorang pria berpakaian hitam itu berteriak lantang. Membuat wanita itu bergetar ketakutan. Dilemparkannya tas hitam yang sejak tadi berada erat ditangannya.


" Wanita pintar !! " para preman bayaran itu tertawa lepas karna telah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sebuah dokumen penting. Sang majikan pasti akan senang.

__ADS_1


Sementara wanita itu hanya menangis meratapi pria pahlawan yang adalah lelaki kecintaannya sekarat berlumur darah. Memegang erat tangan pria itu.


" Kumohon bertahanlah, sebentar lagi bantuan akan datang !!" ucap wanita itu lirih.


" Sayang sekali kalian berdua harus mati !! Tidak boleh ada saksi mata yang hidup !!" salah seorang preman menghujani wanita dan pria itu dengan tembakan. Semua orang yang melihat berlari berhamburan. Darah ada dimana-mana. Setelah puas, para preman itu pergi dengan tawa bahagia meninggalkan dua manusia itu sekarat dipinggir jalan.


" Maafkan aku !!" ucap pria pahlawan itu lirih, mencoba meraih tangan wanita yang dicintainya. Namun takdir berkata lain, nafas mereka terlanjur terhenti sebelum sempat tangan mereka berjabat.


Bunga-bunga ditanam berguguran. Seolah ikut merasakan kesedihan yang mendalam. Angin berhembus semilir, membawa bau anyir darah. Dari kejauhan terdengar suara sirine mobil ambulance yang berlahan mendekat.


" Cuuuuutt !!!!!"


Teriak seorang pria bertopi memberi aba-aba. Semua orang bertepuk tangan.


" Bagus sekali aktingmu kali ini. Sutradara pasti akan menyukainya " pria bernama Johan itu mengelap darah palsu yang hampir menutupi wajah tampan Bian. Pria pahlawan yang berakting mati tertembak oleh para preman bayaran.


" Tentu saja sutradara akan memujiku, film ini diproduksi atas kucuran dana dariku " Jawab Bian santai, meneguk sebotol air mineral yang diberikan padanya.


" Sepertinya tuan putri memberikanmu lebih banyak uang kali ini. Kulihat semalam dipesta kalian berdua begitu lengket. Apa kau mulai benar-benar menyukainya ?" tanya Johan penuh selidik. Sementara Bian hanya tertawa penuh misteri. Beranjak mendekati sang aktris yang menjadi lawan mainnya. Mengabaikan Johan yang penasaran.


" Aktingmu sangat bagus sekali hari ini " puji Bian pada Mia, sang pemeran utama dalam filmnya.


" Bukankah aku belajar banyak darimu ?" Mia tersenyum menggoda. Seolah tau kemana arah pembicaraan mereka akan berakhir.


" Jika begitu alangkah baiknya jika malam ini kita makan malam berdua, di Apartemen ku " Bian menuliskan sesuatu untuk diberikan kepada Mia. Keduanya tersenyum saling mengerti.


***


Johan melajukan mobil sport keluaran terbaru milik Bian yang diberikan Meira sebagai kado untuknya. Terasa sangat menyenangkan sekali, tidak seperti mobil rongsok yang biasa mereka naiki.


" Ku akui kali ini kalo tidak salah memilih mangsa !!" puji Johan pada Bian yang asyik membaca majalah sambil menikmati perjalanan menuju apartemen.


" Kali ini aku akan berhenti, jika filmku sukses, aku akan berhenti berpindah dari satu wanita ke wanita lain " Bian terlihat santai menghirup minumannya.


" Maksudmu, kau telah memutuskan untuk bersama tuan putri itu ? Kupikir ayahnya tidak akan menyukaimu. Itu sebabnya dia tidak pernah membawamu pada keluarganya " perkataan Johan membuat senyum diwajah Bian menghilang.


" Aku tidak pernah bilang akan bersama wanita manapun. Aku menyukai hidupku yang bebas. Lagipula Maera masih SMA. Dia masih terlalu muda untukku "


***


Suasana dikelas terlihat sedikit tegang. Guru mengadakan ulangan dadakan. Kepalaku rasanya pusing sekali. Sekeras apapun aku berusaha, aku tidak kan pernah bisa secerdas Ana. Kulirik gadis itu yang terlihat santai mengerjakan soal ulangan. Tidak seperti anak-anak lain, yang wajahnya terlihat tertekan. Tak sengaja mata kami saling bertemu. Aku memberinya isyarat untuk memberiku contekan. Dia hanya mendesis, meremehkan. Ingin sekali rasanya ku toyor kepalanya itu, jika saja dia bukan wanita.


" Kriiiing..."


Terdengar bunyi bel menggema dipenjuru sekolah. Para siswa berhamburan keluar ruangan. Ryan dan Bima menghampiriku yang hampir memejamkan mata.


" Hey, apa kepalamu masih pusing dan perutmu masih mual ?" tanya Bima terlihat khawatir.


" Jangan bilang kalian menghawatirkanku setelah semalam meninggalkanmu begitu saja dipintu gerbang !!" kuperlihatkan ekspresi kesal.


" Aku yakin Ana sudah mengurusmu semalam. Lagipula kami takut jika sampai ketahuan ayahmu " Ryan menimpali.


" Teman macam apa kalian ini. Kalian yang sudah membuatku mabuk, lalu mengabaikan ku begitu saja. Bagaimana jika semalam bukan Ana yang membukakan pintu gerbang ?"


" Sepertinya semalam Ana tertidur dipinggir kolam ikan yang berada didepan rumahmu. Kami melihat dia ada disana saat hendak memencet bel. Wajahnya terlihat pucat sekali. Sepertinya dia flu karena hujan-hujanan kemarin "


Jadi Ana tertidur setelah membersihkan kolam kemarin. Entah mengapa aku tiba-tiba khawatir. Terlebih tak kutemukan keberadaan Ana dikelas. Biasanya anak itu tak pernah meninggalkan kelas sekalipun jam istirahat. Lalu kemana perginya gadis itu.


***


Ana menyandarkan tubuhnya dipojok perpustakaan. Tak cukup banyak siswa yang gemar membaca, karna itu perpustakaan menjadi tempat yang aman untuk sejenak melepas lelah. Dibukanya sebuah halaman buku dimana selembar amplop merah muda berisi surat terselip didalamnya. Ana tersenyum membaca isi surat itu.


" Tunggu aku.." gumamnya pelan.


Tanpa sadar, darah menetes dari hidungnya, mengenai surat miliknya. Ana yang panik berusaha membersihkan suratnya yang terkena darah.


" Harusnya kau lebih peduli pada hidungmu yang mimisan " kedatanganku cukup mengagetkan Ana.

__ADS_1


" Tetaplah menengadahkan kepalaku !!" perintahku menempelkan tisu pada hidung Ana. Sekilas aku melirik pada surat yang digenggam erat oleh gadis itu. Tulisannya sangat rapi meski begitu aku tetap saja tidak bisa membaca dari siapa surat itu berasal.


" Aku baik-baik saja " Ana merampas tisu yang ku pegang dengan kasar.


" Jika memang sakit kenapa tetap memaksakan diri untuk tetap masuk sekolah ?" tanyaku sedikit emosi.


" Karna dengan rajin belajar aku akan bisa merubah nasibku " jawabnya sinis.


" Kenapa, apa kau sudah tidak betah bekerja pada keluargaku ? Padahal ayahku sangat menyukaimu "


Ana hanya tersenyum sinis mendengar pertanyaanku. Wajah dinginnya itu, benar-benar membuatku kesal kadang-kadang.


" Atau jangan-jangan kau sudah punya pacar ? Surat itu.. pasti surat itu berasal dari pria yang kau sukai. Coba perlihatkan padaku !!"


Ana cepat-cepat meremas suratnya saat aku mencoba untuk merampasnya.


" Kenapa kau pelit sekali ? Aku hanya ingin melihat suratmu sebentar saja " tak mau menyerah, aku berusaha merebut surat Ana. Tapi gadis aneh itu justru melakukan kegilaan yang membuatku tak habis pikir. Ana memasukkan surat itu ke dalam mulutnya, mengunyahnya seperti sedang memakan roti.


" Kau benar-benar gila !!" aku beranjak kesal pergi meninggalkan Ana. Entah siapa sebenarnya pemilik surat itu hingga Ana begitu ketakutan jika aku membacanya. Mungkinkah seseorang yang aku kenal ?


***


Hari ini cuaca sedikit cerah. Akan sangat bagus jika aku tidak langsung pulang ke rumah. Amera ada les sore ini, sekalian aku bisa pergi ke cafe. Daripada dirumah mendengar omelan ayah. Sengaja ku ajak Ryan dan Bima. Tentu saja tidak lupa para gadis tercantik dikelas kami. Melka, sudah menjadi rahasia umum jika gadis itu selama ini selalu mengejar-ngejar ku. Bukannya tidak cantik, aku hanya tidak begitu suka dengan gadis yang ribet, cerewet, bawel. Tapi untuk sekedar menemani ngopi, kurasa tidak masalah jika mengajaknya.


Sore ini kami bersenang-senang. Menikmati alunan musik kafe yang sengaja khusus ku pesan untuk teman-teman ku. Dikelilingi para gadis cantik. Sambil menunggu Amera pulang. Sejak dulu ayah membuat peraturan konyol untukku dan juga Amera. Kami hanya diperbolehkan pergi keluar jika bersama-sama. Katanya karna kami masih SMA. Uang jajan pun dibatasi. Padahal orang tua kami sangat kaya raya. Karna itulah aku bertekad untuk mendapatkan warisan yang jauh lebih banyak dari kakak lelakiku. Tapi ya sudahlah, itu dipikir nanti saja saat sudah lulus sekolah. Sekarang menikmati waktu untuk bersenang-senang.


***


Dilorong yang sepi, terdengar suara sepatu hak tinggi . Amera berjalan dengan anggun memasuki lift sebuah apartemen. Sengaja sore ini dirinya berdandan yang cantik. Mengenakan gaun dengan rambut terurai panjang, Amera ingin memberi kejutan pada Bian. Kebetulan dirinya juga memegang kunci cadangan apartemen Bian. Karna apartemen yang Bian tempati saat ini adalah pemberiannya. Meski harus membohongi ayahnya untuk mendapatkan sejumlah uang, namun bukan sesuatu yang sulit bagi Amera.


Ditangannya, Amera juga membawakan makan malam untuk Bian. Amera begitu antusias. Membayangkan keterkejutan Bian akan kedatangannya.


Didalam kamar apartemen, Bian sedang menikmati makan malam yang romantis bersama Mia. Dia sengaja ingin menyenangkan gadis itu agar Mia tidak meminta bayaran dalam film yang dibintanginya. Setidaknya itu akan menghemat budget untuk film yang sedang diproduksinya. Bian telah memperhitungkan semuanya dengan matang. Dia tahu jika Mia sangat tergila-gila padanya.


" Apa kau menyukai makan malam yang telah ku atur untukmu ini ? Aku sengaja melakukan semua ini spesial untukmu, wanita spesial " tanya Bian lembut, tersenyum memperlihatkan deretan gigi indahnya. Sementara Mia hanya tersenyum dengan pipi kemerahan. Mengangguk mengiyakan pertanyaan Bian.


Semuanya berjalan sesuai keinginan Bian, Mia cukup terpukau dengan makan malam yang telah Bian siapkan untuknya. Mia bahkan menolak saat Bian memberikan amplop berisi uang honornya bermain film.


Semua berjalan baik, sampai tiba-tiba pintu apartemen Bian terbuka disaat yang tidak tepat. Dari balik pintu Amera berdiri mematung dengan apa yang sedang dilihatnya. Saat Mia ******* bibir Bian penuh nafsu.


" Apa yang sedang kalian berdua lakukan ? " tanya Amera datar mengagetkan keduanya. Bian tampak salah tingkah. Dia nampak terkejut dengan kehadiran Amera yang tak disangkanya.


" Siapa dia ?" Mia bertanya polos pada Bian yang hanya mematung.


" Siapa aku ? Jadi kau ingin tau siapa aku ?" Amera berjalan mendekat ke arah mereka. Dan dengan kasar disiramnya segelas air ke wajah Mia yang berteriak kaget.


" Hey, apa yang kau lakukan gadis gila ?" Mia terlihat frustasi mendapati baju dan wajahnya basah.


" Itu adalah hukumannya karna kau telah berani menggoda lelakiku ? Dasar ******* murahan !!" Amera berteriak lantang.


" Lelakimu ? Akh ya Ampun yang benar saja. Apa benar apa yang dikatakan gadis gila ini ?" tanya Mia sinis pada Bian yang masih belum mengatakan sepatah katapun.


Mia seolah tau apa arti diamnya Bian. Menahan kesal, Mia merampas amplop yang tadi ditolaknya. Lalu beranjak pergi meninggalkan apartemen Bian.


Amera hanya diam menatap Bian yang salah tingkah.


"Aku bisa jelaskan semua " akhirnya Bian buka suara.


" Tidak perlu. Aku tahu kau hanya ingin bersenang-senang dengan ******* itu bukan ?" Amera tersenyum tipis.


" Gadis itu hanya salah seorang pemain di filmku. Aku hanya ingin bersikap baik kepada semua anak buahku saja "


" Dengan berciuman dengannya ? " tatap Amera tajam.


" Itu bukan sesuatu yang disengaja. Gadis itu yang awalnya menggodaku " jawab Bian membela diri.


" Aku tahu, pasti seperti itu. Kau tidak akan mungkin mengkhianati ku bukan ?"

__ADS_1


" Tentu saja "


" Baiklah, kalo begitu lupakan saja. Pecat wanita itu dari filmu. Aku akan memberimu uang untuk mencari penggantinya. Sekarang aku ingin kita makan malam. Aku sudah membawakan makanan untuk kita !!" Ekspresi Amera berubah seolah tidak terjadi apa-apa. Dia mengeluarkan semua makanan yang dibawanya dan menyajikannya dimeja makan. Tersenyum lembut pada Bian yang terlihat heran dengan perubahan sikapnya.


__ADS_2