Mariana

Mariana
Bab 8


__ADS_3

***


Alunan musik klasik menemani kesendirian Bian malam ini. Diteguknya segelas teh hangat untuk menghangatkan tenggorokannya yang kering. Gerimis belum juga reda. Hawa dingin menerobos masuk melalui celah cendela yang sengaja dibukanya sedikit. Bian sibuk melihat hasil pemotretannya tempo hari. Sesekali senyum tersungging diwajahnya, melihat popularitasnya yang semakin bertambah setiap hari. Tidak sabar menunggu launching film barunya bulan depan. Berharap akan mendapatkan hasil yang maksimal mengingat sudah banyak biaya yang dikeluarkannya untuk pembuatan film itu. Bian sengaja memproduksi sendiri filmya karna hubungannya dengan produser beberapa rumah produksi tidak begitu baik. Mereka tidak pernah memberikan peran utama untuk Bian. Hanya peran pembantu, Bian segan untuk mengambilnya.


Kedatangan Johan membuat senyum diwajah Bian sirna. Asisten sekaligus teman baiknya itu datang dengan membawa setumpuk buku.


" Kau meninggalkan buku-buku ini dimobil, aku membawanya karna mungkin nanti kau mencarinya " Johan menyerahkan buku-buku itu kepada Bian.


" Terima kasih " jawab Bian datar.


" Tapi kenapa kau meminjam banyak sekali buku tentang bisnis dan hukum ? Apa ada tawaran film baru untukmu yang aku tak tahu ?" selidik Johan penasaran.


" Tidak, aku hanya sedang ingin membacanya saja. Bagaimana dengan persiapan launching film kita bulan depan ?" Bian mengalihkan pembicaraan.


" Sejauh ini semuanya berjalan lancar. Hanya saja mungkin kita butuh dana sedikit lebih besar untuk membuatnya spektakuler " Johan mengambil minuman dikulkas lalu meneguknya. Dia sudah menganggap rumah Bian seperti rumahnya sendiri. Mereka berdua memulai semuanya dari nol bersama-sama.


" Jangan khawatir kan tentang masalah uang. Pastikan semuanya berjalan baik. Aku ingin menjadikan launching film besok sebagai jembatan untuk mencapai tujuanku yang sebenarnya !!" Bian menatap tajam kepada Bian yang seakan sudah mengerti apa maksudnya.


" Tentu saja. Selama tuan putri itu masih bersamamu, kita tidak perlu khawatir tentang masalah uang, bukan ?" keduanya tersenyum penuh arti.


Bian berjalan menatap hujan diujung jendela. Terkadang berpikir betapa jahatnya dirinya memanfaatkan Amera selama ini hanya demi mendapatkan apa yang diinginkannya.


" Aku pasti akan mengembalikan semua yang pernah aku pinjam darimu suatu saat nanti " ucap Bian lirih.


***


Dimeja makan suasana sedikit canggung karena kehadiran ibu setelah sekian tahun. Kulihat ayah tak banyak bicara, wajahnya datar menyantap makan malam yang tersaji. Aku dan Amera hanya saling pandang. Tak berani banyak berkomentar. Salah bicara sedikit saja, ayah pasti akan menggantungku ditiang bendera.


" Kudengar minggu depan Marva akan kembali ke Indonesia untuk liburan ?" ucap ibu mencairkan suasana. Sementara Ayah hanya berdehem memberi jawaban.


" Benarkah Bu, kak Marva akan pulang ?" tanya Amera antusias.


" Kenapa mendadak sekali ? Tidak biasanya kak Marva pulang saat liburan, biasanya dia lebih suka menghabiskan waktu liburnya untuk belajar dan terus belajar. Hahaha.." ucapku berseloroh. Ibu, Amera dan Ayah kompak memandang kesal ke arahku.


Marva adalah kakakku dan Amera. Selama ini kak Marva berkuliah di Jerman. Dialah yang selama ini digadang-gadang akan meneruskan kerajaan bisnis keluargaku. Apa boleh buat, aku kalah dalam banyak hal dibanding kak Marva. Pintar, tampan, penurut, banyak kelebihan yang bisa dibanggakan dari diri seorang kak Marva. Namun kurasa kehidupannya pasti sangat membosankan. 95% waktunya dihabiskan untuk belajar dan sisanya untuk menyenangkan ayah. Aku perlu banyak belajar bagaimana untuk menjadi anak penurut kepadanya.


" Apa Kak Marva akan lama di Indonesia, Bu ?" Amera sepertinya sangat senang kakak kesayangannya itu akan pulang.


" Ibu juga tidak tahu. Semua itu tergantung kakakmu dan juga.." ibu melirik ke arah ayah. Aku dan Amera seolah mengerti. Tak berani banyak bertanya lagi.

__ADS_1


" Aku sudah selesai.." ayah meletakkan sendoknya dan beranjak pergi meninggalkan meja makan. Sebenarnya aku masih penasaran apa yang membuat ayah mengijinkan ibu kembali lagi ke rumah ini. Pasti ada perjanjian diantara keduanya yang aku dan Amera tak tahu.


" Sungguh aku senang sekali Bu, kak Marva akan pulang. Sangat lama sekali rasanya tidak melihatnya. Hanya berkirim kabar lewat email dan video call rasanya tidak begitu puas. Aku yakin sekarang kak Marva bertambah tampan dan tinggi. Sudah tidak sabar menunggu Minggu depan " Amera tak berhenti menunjukkan kegembiraannya. Dari dulu memang dia sangat dekat dekat dengan kak Marva. Berbeda sekali jika saat denganku, seperti anjing dan kucing.


" Tentu saja, bukan hanya kau seorang yang senang dengan kepulangan Marva.." ibu menatap tajam kepada Ana yang sejak tadi berdiri disamping meja makan, seperti biasanya. Hanya diam dan menunduk, seolah tidak ada.


***


Aku berjalan menuju taman saat salah satu pembantuku mengatakan jika ada seseorang yang ingin bertemu denganku. Aku merasa tidak ada janji dengan siapapun hari ini. Kulihat seorang gadis mengenakan rok pendek tersenyum melihat kedatanganku. Melka, apa yang dilakukannya dirumahku.


" Bagaimana kau tahu alamat rumahku ?" tanyaku penasaran. Gadis itu dengan manja meraih lenganku.


" Apa susahnya mencari tahu alamat rumah orang terkaya didaerah sini " jawabnya manja.


" Lepaskan tanganku, tidak enak jika ada yang melihat !!" aku merasa tidak nyaman dengan perlakuan Melka yang sok akrab.


" Kenapa harus malu ? Bukankah kita ini adalah pasangan kekasih ?" jawabnya penuh percaya diri.


" Kenapa bisa begitu ? Memang sejak kapan kita pacaran ?" aku berusaha menyanggah pernyataan Melka.


" Bukankah kita sudah pernah berciuman sebelumnya ? Apa kau lupa ?"


" Jadi kalian berdua sudah pernah berciuman ? Ya ampun..aku tidak menyangka " suara Amera menghentikan sejenak perdebatan ku dan Melka. Bisa kulihat ibu dan juga Ana seperti ingin menertawakan ku. Mereka bertiga pasti berpikir jika aku adalah lelaki mesum yang sedang kena karma.


" Berhentilah bicara !! Kalian mau kemana ?" bentak ku pada Amera yang tertawa cengengesan.


" Kau tidak perlu tahu. Urus saja pacar barumu itu !! jawab Amera mengejek. Entah kemana Ibu akan pergi bersama Amera. Kenapa mesti mengajak Ana juga bersama mereka. Ingin rasanya ikut ibu pergi namun Melka tak melepaskanku begitu saja. Gadis itu tetap kekeuh ingin aku menganggapnya sebagai kekasih. Aku benar-benar hampir gila dibuatnya.


***


Selesai makan malam, ibu sengaja mengajak Amera dan juga Ana untuk pergi ke suatu tempat. Sebuah peragaan busana yang disponsori oleh perusahaan keluarga Amera. Sebuah acara megah dimana semua orang kaya dan terpandang berkumpul. Amera terlihat begitu antusias melihat para model berjalan lenggak-lenggok diatas panggung. Sangat cantik dan glamor. Sesuai standar keluarganya. Sementara Ana merasa minder melihat penampilan dirinya yang lusuh. Andai dia tahu jika sang nyonya besar akan mengajaknya ke tempat seperti ini, paling tidak dirinya akan memakai baju yang sedikit lebih bagus.


Acara malam hari ini berjalan sangat meriah. Ibu berjalan diatas panggung untuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Tak kalah cantik dari para model yang mengelilinginya. Senyum ibu terlihat berwibawa, diusianya yang semakin matang. Semua orang memberikan tepuk tangan riuh. Amera merasa bangga dengan pengaruh ibunya yang begitu luas.


Selesai acara, semua orang menikmati makan malam yang telah disajikan. Amera menemani ibunya menemui para tamu. Begitupun dengan Ana yang mengekor dibelakang mereka. Seolah nyonya besar ingin menunjukkan betapa besar kekuasaannya. Ana hanya bisa diam, menjadi penurut atas semua kemewahan yang tersaji didepan matanya.


***


Ana menghela nafas panjang. Berjalan disekitar kolam renang. Menepi sejenak dari hingar bingar pesta. Semoga Amera dan nyonya besar tidak mencarinya. Dipandanginya langit malam yang penuh dengan bintang. Indah sekali.

__ADS_1


" Bagaimana aku bisa meraihmu sementara kau begitu jauh ?" ucap Ana lirih, mencoba meraih bintang di langit.


" Jangan memaksakan apa yang terasa sulit bagimu !! Coba lihat sekelilingmu, masih banyak yang bisa kau gapai " Bian tersenyum pada Ana yang tampak terkejut dengan kehadirannya.


" Kau ? Kenapa kau selalu ada dimana-mana ?" Ana terlihat tidak begitu nyaman berada didekat Bian.


" Berapa kali aku bilang jika aku ini adalah artis terkenal. Hanya kau saja yang tidak mengenalku. Apa yang kau lakukan disini ? " Pandangan Bian naik turun memperhatikan penampilan Ana. Membuat gadis itu merasa tidak nyaman.


" Apa aku boleh minta sesuatu kepadamu ?" Ana mengajukan sebuah permintaan.


" Apa ?"


" Sekalipun kau melihatku, bisakah untuk tidak menyapaku. Sebenarnya kita ini tidak saling kenal, jadi lebih baik tetap seperti itu !! " ucap Ana datar.


" Kenapa ?"


" Aku tidak harus menjelaskan alasannya padamu bukan ? Jadi tolong, jangan pernah lagi mengajakku bicara !!" Ana mempertegas ucapannya. Dia tak ingin jika sampai Amera melihatnya bicara dengan Bian. Itu akan mendatangkan masalah untuknya. Namun sepertinya Bian masih penasaran dengan alasannya menjauh darinya.


" Katakan alasannya baru kau boleh pergi !!" Bian menarik paksa tangan Ana yang akan berpaling pergi. Keduanya saling menatap tajam.


" Apa kau anti fansku ?" tanya Bian penuh selidik.


" Lepaskan tanganku !!!" Ana berusaha melepaskan diri dan tanpa sangaja tangannya mengenai pipi Bian. Seperti sebuah tamparan yang tidak disengaja.


" Apa yang kau lakukan ?" sebuah teriakan Amera mengagetkan Ana dan Bian. Terlihat marah, Amera mendekati keduanya. Sementara semua orang memperhatikan mereka.


" Berani sekali kau menampar Bian ku ?" Amera menatap tajam pada Ana yang hanya diam. Merasa penjelasan apapun akan percuma, dirinya akan tetap salah dimata Amera yang memang tidak pernah menyukainya.


" Sebenarnya ini hanya sebuah kesalahpahaman. Kumohon jangan memarahinya !!" Bian berusaha menjelaskan apa yang terjadi pada Amera. Namun gadis itu terlanjur naik pitam. Sebuah tamparan mendarat di pipi Ana. Belum puas, Amera mendorong Ana hingga jatuh ke dalam kolam renang. Semua orang terperanjat kaget namun tak ada yang berani menolong Ana yang terlihat seperti akan tenggelam. Ana memang tidak bisa berenang.


" Apa yang kau lakukan ? Gadis itu bisa mati tenggelam ?" Bian terlihat panik ingin menyelamatkan Ana namun dihalangi oleh Amera.


" Aku tidak peduli sekalipun dia akan mati. Jangan berani menolongnya atau tidak akan ada lagi uang untuk filmu !!" ancam Ana, memegangi tangan Bian.


" Terserah jika memang itu mau mu tapi aku tidak bisa melihat seseorang mati didepan mataku !!" Bian menghempaskan tangan Amera dan melompat ke kolam renang untuk menyelamatkan Ana.


Amera menyaksikan semua itu dengan amarah yang luar biasa. Baru kali ini Bian tidak mengindahkan perkataannya. Dan semua itu karena gadis seperti Ana. Air mata menetes dari kedua matanya. Kebenciannya pada Ana semakin dalam.


" Jangan menangis, hapus air matamu !! Jangan terlihat lemah dihadapan musuhmu !!!" Ibu menggenggam erat tangan Amera. Menyuruhnya untuk tidak menangis. Dilihatnya penuh amarah Ana yang hampir sekarat. Sebuah rencana telah disiapkannya untuk membalas sakit hati putrinya kesayangannya.

__ADS_1


__ADS_2