
Suasana terik menyengat ditubuh Sonia, untungnya ia memakai sunblock dengan spf yang tinggi. Syuting kali ini berada di tepi pantai di pinggir kota, pantai yang sangat indah bersama deburan ombak.
Dia duduk di sebuah gubuk sambil menikmati kelapa muda, ia merasa sangat lelah karena take kali ini membutuhkan tenaga dan keberanian, apalagi ini take keempat setelah akting sebelumnya kurang sempurna.
"Sonia kamu sudah siap take selanjutnya."
Sonia menganggukan kepala, ia harus segera berakting, ia menyedot kelapa muda yang tersisa sedikit.
Huftt..
Kau pasti bisa Sonia!
"Kamera, rolling, action!"
Sonia berjalan di tepi pantai, ia mulai melangkah menerjang ombak, matanya juga melihat kekanan dan kekiri. Langkahnya semakin berat ketika harus menembus gelombang yang menerpa tubuhnya.
"Lisa!" Teriak Bima yang berperan sebagai Brian. Bima menyusul Sonia ke tengah laut.
Udara dingin menyerang tubuh Sonia yang mengenakan baju tanpa lengan, air laut sesekali masuk ke hidungnya. Dia begitu serius dalam berakting, tetapi penglihatannya semakin buram, ia sesekali menggelengkan kepalanya yang sedikit demi sedikit mulai terasa berat.
Ah! Kenapa kepalaku terasa sakit.
Aku juga sudah meminum obatku.
Ngiinggg....
Telinga Sonia berdengung dengan keras, ia sudah tidak bisa menahan tubuhnya yang diterjang ombak. Tubuhnya akhirnya roboh diterjang ombak dan kesadarannya hilang.
Bima yang menyadari jika akting Sonia yang pingsan tidak ada di skenario segera berteriak dan meminta bantuan.
Untungnya mereka sudah menyiapkan tim penyelamat jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Mereka bergegas menyelamatkan Sonia yang tenggelam dengan cepat, Bima segera menuju ke tepi pantai menunggu Sonia diselamatkan, ia diberi handuk oleh manajernya.
Bukannya tidak mau menyelamatkan Sonia tetapi memang Bima disuruh untuk menunggu di tepi pantai, ia juga begitu khawatir dengan keadaan Sonia yang tiba-tiba pingsan di tengah laut.
Beberapa menit kemudian tim penyelamat datang, mereka membopong tubuh Sonia menuju ke daratan.
Sonia begitu pucat seperti orang mati,
"Siapa yang mau memberinya nafas buatan?
Semua orang memandang Bima, Bima tanpa berpikir panjang segera memberi nafas buatan melalui mulut Sonia.
Uhuk.. uhuk.. uhuk..
Mulut Sonia mengeluarkan banyak air, semua orang bersyukur ketika melihat Sonia tersadar. Mereka segera membawa Sonia ke rumah sakit terdekat.
Restoran Ananta begitu ramai, kali ini Reno sangat sibuk diakhir pekan.
Handphonenya bergetar memecah pikiran yang sedang memikirkan anaknya.
" Hallo?" Ucap Reno, Reno mendengar dengan seksama, ia lantas menutup telponnya dan berlari kearah Rachel.
"Kakak titip restoran, mungkin kakak akan kembali lama." Ucap Reno sambil menenteng jaketnya, ia berlari menuju mobilnya yang terparkir di belakang restoran.
__ADS_1
Dengan secepat kilat ia mengemudikan mobilnya, rasa khawatir menggumpal menjadi satu di otaknya.
Satu jam kemudian, ia sampai di rumah sakit pinggir kota. Dia segera memarkirkan mobilnya, ia berlari kedalam rumah sakit, beberapa kru film dan ada juga Bima menunggu di depan ruangan yang merawat Sonia.
"Maafkan kami pak, kami sungguh minta maaf." Ucap sutradara.
"Kenapa kau bisa-bisanya menyuruh Sonia beradegan seperti itu?" Ucap Reno marah.
"Kami hanya menuruti naskah saja pak, kami akan bertanggung jawab jika Sonia terjadi apa-apa?"
Reno begitu kesal, ia ingin memaki tetapi ia tidak ingin terjadi keributan.
"Tidak usah berlebihan, sebentar lagi mungkin dia siuman." Ucap Bima.
Reno menoleh kearah Bima, ia menatapnya dengan tajam, sutradara yang mengetahui hal tersebut menyuruh Bima untuk keluar.
Beberapa kru telah pulang ke kota hanya tertinggal beberapa orang saja, Reno menunggu di depan ruangan dengan panik karena Sonia belum siuman.
Bima menghampiri Reno sambil menyodorkan minuman soda, Reno tak menolaknya.
"Duduklah kak, apa kamu tidak capek mondar-mandir seperti itu?" Ucap Bima yang terduduk di kursi sambil meminum minumannya.
Reno meliriknya, ia segera duduk di sebelah Bima. Dia membuka minuman soda itu, ia segera meminumnya.
"Pulanglah, aku yang akan menunggu Sonia."
Ucap Reno.
Bima menggelengkan kepala, ia masih ingin menunggu Sonia siuman.
Sebuah pertanyaan yang membuat Bima tersentak, ia tersenyum sinis kearah Reno.
Reno seperti tau arti dari senyuman itu.
Reno hanya ingin bersabar dan tidak ingin membuat masalah baru.
"Kamu boleh menyukai istriku, tapi jangan pernah merebutnya dariku."
Bima belum menjawab ucapan Reno, Papa Sonia datang bersama istrinya.
Mereka menanyakan keadaan Sonia.
**
"Tolong Sonia, tolong!"
Sonia hanya bisa bersembunyi dibawah ranjang bersama sang kakak.
Dia tidak berani berteriak, ia menutup mulutnya sekencang mungkin.
Ngiiiingggg......
Suara itu terdengar lagi sangat keras yang memekakkan telinga.
__ADS_1
"Mama!" Ucap Sonia ia terbangun, nafasnya tersengal-sengal. Dia mendapati dirinya diruangan asing, ia melihat ke kanan sudah ada Reno yang memegang tangannya erat.
Di sebelah kiri ada Mama dan Papanya tengah tersenyum.
Reno mencium kening Sonia, ia bersyukur jika
Sonia baik-baik saja.
"Kami semua mengkhawatirkanmu." Ucap Reno.
Sonia hanya menganggukan kepala, ia belum kuat untuk berbicara banyak.
**
Rachel sedari tadi melamun memikirkan anak yang di kandung Sonia dulu, ia juga masih tidak menyangka jika kakaknya yang menghamili Sonia. Sampai lamunannya di perhatikan oleh Veronica.
"Ada apa?" Tanya Veronica.
"Oh! Tidak ada."
"Hah! Aku sungguh tergila-gila dengan kakakmu, kami juga hampir menikah, tetapi gara-gara wanita sialan itu. Huh!"
Rachel menepuk pundak Veronica, ia mengatakan jika pernikahan mereka tidak akan bertahan lama.
"Kau harus bersiap, peranmu akan segera dimulai." Ucap Rachel.
Seorang pelayan menghampiri mereka, ia berkata jika salah satu pelanggan marah karena pesanannya belum dibuatkan, Veronica segera bergegas di dapur, ia memarahi kokinya dan Rachel menemui pelanggan yang marah.
Seorang pelanggan pria tampan berjaz sedang memarahi salah satu pelayan, ia tidak sabar untuk segera menikmati pesanannya.
"Mohon maaf jika pelayanan kami sangat lambat karena hari ini adalah hari weekend yang membuat pesanan pelanggan membludak ." Ucap Rachel sambil menunduk.
Pria itu memandangnya seperti pernah melihatnya sebelumnya.
"Siapa kau?" Tanya pria itu.
"Perkenalkan saya adik dari pemilik restoran ini, saya mewakili permohonan maaf atas karyawan kami yang lelet dalam melayani anda."
Pria yang bertopi dan berkacamata itu melepas topi dan kacamatanya, Rachel terkejut melihatnya, pria itu tersenyum kepadanya.
"Jonathan?"
"Sudah lama tidak bertemu ya Rachel?"
Mereka berbincang-bincang, sedari tadi Rachel hanya menunduk malu.
"Kamu tambah cantik," Puji Jonathan.
Rachel hanya membalas sebuah senyuman, hawa yang di rasakannya semakin panas.
Bagaimana tidak ia harus bertemu dengan mantan kekasihnya, mantan yang kini masih dicintainya. Rachel meneteskan air mata, ia begitu rindu dengan Jonathan.
Jonathan mengambil sapu tangannya dan menyodorkan kepada Rachel.
__ADS_1
Rachel menerimanya dengan tersenyum.
"Aku sangat merindukanmu, Jonathan."