
Malam hari mereka berkumpul di ruang tamu sambil menonton tv, mereka mengobrol kesana kemari. Sonia kini nampak lebih akrab dengan nenek, ia sudah tidak terlihat canggung, mereka menonton TV sambil menikmati singkong goreng buatan nenek yang menurut Reno spesial. Sonia nampak enggan memakan itu, ia melihat sang suami makan dengan lahap.
Reno mencoba untuk menyuapi Sonia tetapi Sonia menolak.
"Cobalah sepotong saja, tidak enak dengan kakek dan nenek jika kamu tidak mau makan," ucap Reno berbisik.
Reno mencoba menyuapi lagi, Sonia segera membuka mulut dan mengunyah singkong itu. Dia mengunyah sambil berpikir rasa dari singkong goreng itu.
Hem... Lumayan.
"Mau lagi?"
Sonia menggelengkan kepala, ia melirik Dylan yang sedang menggambar sebuah pemandangan. Pemandangan alam yang sangat indah, ia mendekati Dylan. Sonia takjub dengan Dylan menggambar dengan tangan yang sangat lentur.
"Dylan menggambar apa?"
"Pemandangan tante."
Sonia mencoba meraih pensil, ia ikut menggambar di gambar pemandangan Dylan.
Sonia menggambar binatang seperti gajah, singa, ayam, sapi dan lain-lain. Sonia memang pandai menggambar tetapi ia tidak menekuni bakatnya itu.
"Gambar tante sangat bagus, tante bisa gambar orang disini?" tanya Dylan sambil menunjuk gambarnya.
Sonia tersenyum, tangannya dengan terampil menggambar orang yang sedang bercocok tanam. Reno memperhatikan Sonia dan Dylan, ia sangat takjub dengan mereka berdua.
Ternyata Dylan pandai menggambar karena bakat darimu Sonia. Kalian memang sangat mirip.
Diam-diam Reno memotret kebersamaan Sonia dan Dylan, ia bahagia melihat ibu dan anak tengah berkumpul kembali walaupun Sonia masih belum mengetahui jika Dylan adalah anak kandungnya.
Dylan melirik televisi yang tengah mengiklankan film yang di bintangi Sonia.
Dia sesekali melihat Sonia yang ada di depannya dan Sonia yang berada di TV.
"Itu kan tante?" ucap Dylan sambil menunjuk kearah televisi.
"Iya memang benar."
"Hebat sekali, apakah Dylan juga bisa masuk TV seperti tante?"
"Bisa saja, nanti akan tante bantu jika kamu mau masuk TV, kamu ganteng, kamu bisa jadi model dan pemain film."
Dylan tersenyum sembari melanjutkan menggambarnya. Sonia begitu mengantuk ia berpamitan dengan mereka untuk menuju ke kamar. Reno masih menemani Dylan menggambar, sesekali ia memotret dengan handphonenya.
Didalam kamar, Sonia mencoba untuk tidur tetapi selalu gagal, ia menarik selimut sampai menutupi kepala. Hawa dingin begitu menusuk ke tulang, sialnya ia hanya memakai jaket tipis.
Saat tengah akan tertidur dering handphone membuatnya terkejut, ia segera meraih handphone yang berada di sampingnya.
__ADS_1
Kak Arkan?
Sonia begitu takut mengangkat panggilan video itu, ia lalu terduduk dan menggigit jemarinya. Dia menghilangkan rasa ketakutannya lalu mengangkat panggilan itu.
"Hey kau masih hidup rupanya?" ucap Arkan kakak David.
Sonia terdiam memandangi wajah Arkan, ia kini begitu tampan tetapi tidak menghilangkan sifat psychonya.
"Beraninya kau tidak mengangkat teleponku dan tidak membalas pesanku!"
Sonia bingung dan takut untuk menjawab, ia menggigit bibirnya.
"Kenapa kau menerima perjodohan itu? Awas kau setelah aku kembali akan kuhabisi."
Sonia masih terdiam, tubuhnya mulai bergetar. Dia teringat apa yang Arkan dilakukannya dulu kepada dirinya.
"Coba kirim fotomu yang seksi! Aku sangat merindukanmu adikku yang cantik."
Sonia menangis, ia begitu takut dengan kakak tirinya itu.
"Kenapa kau menangis? Apa yang kuperbuat kepadamu?"
"Hey bodoh! Kenapa diam saja? Huh! Kau selalu begitu Sonia mencampakan perhatianku kepadamu."
"Aku akan transfer uang ke rekeningmu, beli lah pakaian baru dan berdandanlah yang cantik ketika bertemu denganku nanti, awas jika kau jelek di depanku akan ku ***** bibirmu sampai berdarah!"
Sonia mendengar pintu terbuka, ia segera mengelap air matanya.
Dia terduduk melihat Reno yang menaiki ranjang. Reno melihat wajah Sonia yang seperti menangis, Sonia menepisnya ia menjelaskan jika ia menahan kantuk sampai mengeluarkan air mata.
Sonia menyenderkan kepala di dada Reno, Reno mengelus rambut Sonia.
"Reno, apakah kamu punya nafsu dengan Rachel? Apakah kamu pernah memegang dadanya?" tanya Sonia, ia begitu penasaran dengan hubungan kakak beradik.
Reno tersentak mendengarnya, ia melihat wajah Sonia dan mulai memegang keningnya.
Dia mengecek badan Sonia terasa panas atau tidak. Sonia masih menunggu jawaban dari Reno, ia sangat penasaran.
"Kenapa kamu melontarkan pertanyaan konyol itu? Itu sangat tidak mungkin Sonia."
"Kakakku sering melakukan itu kepadaku."
"Siapa Sonia?" tanya Reno marah.
Sonia menangis, ia merasa sangat bersalah dengan Reno yang tidak jujur dari awal.
Reno menenangkannya supaya Sonia bisa melanjutkan penjelasannya.
__ADS_1
"Arkan, dia kakak David selalu memegang dadaku. Apakah itu wajar? Katanya itu sangat wajar bagi hubungan kakak beradik."
Reno mendengar ucapan Sonia lalu mencengkeram lengan Sonia, ia merasa Sonia sangat bodoh. Sonia merasa kesakitan akan cengkraman itu, Reno melepasnya.
"Kamu begitu bodoh! Kenapa kamu mau di perlakukan seperti itu? Cepat ceritakan!" ucap Reno berapi-api.
Sonia dengan cepat membaringkan dirinya membelakangi Reno, ia seperti enggan untuk bercerita. Dia menepuk mulutnya sendiri karena sudah keceplosan berbicara seperti itu. Reno masih memaksa Sonia untuk bercerita, ia berjanji tidak akan marah.
"Jangan-jangan kamu pernah melakukan itu dengan dia?"
Sonia terbangun mendengar ucapan Reno.
"Hey tidak! Dia hanya menciumku dan memegang dadaku saja," ucap Sonia membela dirinya.
"Ceritakan dengan jujur aku tidak akan marah."
Sonia menggelengkan kepala, ia memeluk erat Reno sambil menangis. Reno cukup kecewa karena Sonia tidak ingin bercerita.
"Coba ceritakan, kini aku suamimu berhak tau apa saja masalahmu selama ini."
Sonia mendongakan kepalanya, ia lalu mencoba mencium bibir Reno tetapi Reno seolah menghindar. Reno masih menunggu penjelasan dari Sonia, Sonia hanya diam menunduk.
"Hatiku terasa sakit mendengar ucapanmu seperti itu? Kamu dicium? Dadamu di sentuh oleh kakakmu sendiri?"
"Dia kakak tiriku," jawab Sonia masih menunduk.
"Sama saja dia tidak berhak menyentuhmu! Jika kamu hanya diam saja berarti kamu sama-sama gila!"
Sonia masih menunduk, ia menangis meluapkan kesedihan. Reno memandanginya seolah merasa jijik dengan Sonia, dia berpikir macam-macam tentang Sonia, padahal faktanya tidak seperti itu.
Reno mendorong tubuh Sonia, ia kini berbaring membelakangi Sonia.
"Kamu membuatku terluka, jika kamu menjelaskan hanya setengah-setengah saja maka aku akan berpikir yang tidak-tidak tentangmu."
Sonia memeluk Reno dari belakang, ia membenamkan wajahnya di punggung Reno, ia menangis terisak tubuhnya mulai bergetar dan panas. Sonia begitu kepanasan sampai mengeluarkan keringat padahal suhu disitu sangat dingin. Dia menggigil membuat Reno panik, Reno terduduk melihat kondisi Sonia begitu pucat. Reno segera memanggil kakek dan nenek, nenek mengira jika Sonia mengalami hipotermia. Nenek menyuruh Reno untuk mengganti jaket Sonia menjadi lebih tebal, ia juga menyuruh menyelimuti Sonia. Kakek datang membawa kompres, nenek segera mengompres Sonia dengan telaten.
"Mungkin tubuhnya kaget karena suhu dingin disini, kakek dan nenek mau ke kamar dulu, jaga dia Reno," ucap nenek.
Kakek dan nenek meninggalkan Reno dan Sonia, Reno memandangi wajah Sonia yang memejamkan mata. Dia begitu menyesal karena membuat kondisi Sonia seperti ini, ia memaksa Sonia untuk bercerita yang tak mungkin ia ceritakan secara detail.
Reno mengecup kening Sonia sambil berkata," Selamat tidur sayang, lupakan semua masalah mu. Aku mencintaimu Sonia."
*****
Hallo ini author, untuk updatenya kini jam 10 pagi karena aktivitas author yang baru di kehidupan nyata.
jangan lupa like, vote, komen dan rate5 supaya author bisa lanjut menyelesaikan cerita ini.
__ADS_1