
Dua kakak adik ini sedang duduk berhadapan disebuah cafe, Reno memandangi Rizky dengan mata tajam dan penuh pertanyaan.
Rizky hanya diam menunduk, bukannya takut ia lebih memilih diam jika kakaknya sedang marah.
Reno mengambil segelas jus mangga yang ada di meja, ia meminumnya sampai habis tidak tersisa.
"Kamu tau ulahmu kemarin sampai membuat Sonia syok, kamu tau jika dia sedang hamil?"
Rizky terkejut mendengar ucapan kakaknya, ia hanya tersenyum kecil. Rizky segera mengambil handphone di saku celananya, ia memainkannya saat kakaknya tengah berbicara kepadanya.
Hal yang membuat Reno selalu kesal ketika ia mengajak berbicara dengan seseorang tapi seseorang itu malah sibuk dengan handphonenya.
"Kakak selalu sayang denganmu tetapi balasanmu sungguh mengecewakan, sekarang terserah padamu, kakak tidak mau ikut campur lagi. Dan kamu jangan pernah mengganggu Sonia!"
Reno segera beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan keluar cafe dan meninggalkan Rizky.
Tapi aku tidak terlalu suka dengan kakak!
Kakak selalu dibanggakan oleh Papa dan Mama. Sedangkan aku seperti anak tiri diperlakukan tidak baik.
Reno segera melajukan mobilnya, ia menuju ke hotel Ananta, kali ini ia akan mengadakan rapat penting. Tetapi ditengah jalan ia hampir menabrak seorang gadis, dia seketika mengerem mendadak. Reno segera keluar dari mobil dan melihat keadaan gadis itu.
"Veronica?"
Reno segera membantu Veronica untuk berdiri, Veronica terlihat sangat syok dan menangis. Reno segera membawanya kerumah sakit, ia yakin jika Reno belum sempat menabrak Veronica. Reno melirik seluruh badan Veronica tidak terluka maupun lecet sedikitpun.
"Kenapa kamu menyebrang mendadak begitu?"
"Aku ingin mati"
Reno terkejut lalu segera menepikan mobilnya, ia memandangi Veronica yang menangis.
"Ada apa denganmu?"
"Tidak ada yang menyayangiku, semua tidak menginginkanku, aku ingin mati saja hiks hiks"
Reno menyentuh bahu Veronica seolah menenangkan dari tangisannya. Selama 4 tahun bersama Reno sudah tau persis kehidupan Veronica yang mulai ia adalah anak piatu, ayahnya tidak menyayanginya dan ia tidak punya saudara selain ayahnya.
Veronica gadis yang baik dan selalu ceria, ia sudah bergantung dengan Reno terlebih lagi ia tahu jika Reno orang kaya.
"Reno tak bisakah kita bersama lagi? Aku mau jika menjadi istri keduamu, aku akan akur dengan Sonia dan baik dengannya"
__ADS_1
Reno menghela nafas panjang, ia sungguh tidak ingin melukai hati Sonia. Lagipula Reno juga tidak memiliki perasaan apa-apa dengan Veronica.
"Kenapa diam saja Reno? Kamu tidak mau menerimaku lagi? Oke jika begitu!"
Veronica keluar dari mobil, ia berlari ke tengah jalan raya, tampak sebuah truk besar melaju dengan kencang dan tidak mengetahui jika di depannya ada seorang gadis. Reno dengan cepat berlari menyelamatkan Veronica, ia mendorong tubuh gadis itu dan memeluknya sampai tubuh Reno terbentur pembatas jalan.
Orang-orang segera menolong mereka dan membawa ke rumah sakit.
Disisi lain Sonia mendadak keram perut yang sangat hebat, ia segera menelpon Reno tetapi tidak diangkat. Sonia segera ke kamar mandi dengan tergopoh-gopoh sambil memegang perutnya. Dia berteriak keras karena melihat darah keluar dari sela-sela kakinya.
Mama Reno mendengar teriakan Sonia segera menghampirinya.
"Sonia kamu kenapa?" tanya Mama Reno sambil membuka pintu kamar tetapi kosong dan hanya terdengar tangisan Sonia yang berada di kamar mandi.
Mama Reno segera menghampirinya dan ia terkejut Sonia menangis histeris sambil memegangi perutnya, Mama Reno juga melihat darah keluar dari tubuh Sonia.
Mama Reno segera memanggil ambulance dan membawa Sonia ke rumah sakit.
Mama menelpon Reno tetapi tidak diangkat sampai ia mendapat telepon dari nomor tidak dikenal dan mengabarkan jika Reno kini berada dirumah sakit mengalami luka benturan yang cukup parah.
Mama begitu syok kenapa Reno dan Sonia mengalami nasib yang buruk secara bersamaan. Mama Reno menatap wajah Sonia yang kesakitan dan terus memanggil nama Reno tetapi Mama tidak tega jika harus memberitahu Sonia keadaan Reno sekarang.
Satu jam kemudian.
Keluarga Sonia sudah berada didepan ruangan yang merawat Sonia, keluarga Reno sudah berada didepan ruangan yang merawat Reno, mereka berada dirumah sakit yang sama tetapi berbeda ruangan.
Dokter Selena keluar dari ruangan Sonia, ia menemui keluarga Sonia, ia menjelaskan jika Sonia mengalami pendarahan yang hebat dan berakibat keguguran. Keluarga Sonia terutama sang Papa sangat terpukul dengan kejadian itu.
"Saat ini biarkan kondisi Sonia stabil dahulu, ia harus banyak beristirahat. Saya permisi dulu," ucap dokter Selena.
"Bisakah kita bicara sebentar dokter?" tanya Papa Sonia.
Selena merasa ragu tetapi ia tidak bisa menolak keluarga pasiennya, ia menganggukan kepala dan menyuruh Papa Sonia menuju keruangannya.
Setelah sampai diruangannya, Selena segera duduk dan Papa Sonia masih berdiri.
"Saya akan semaksimal mungkin untuk merawat Sonia agar cepat pulih"
"Ini bukan masalah Sonia, kamu benar tidak merindukan Papa?"
Selena tidak menghiraukan ucapan pria tua didepannya.
__ADS_1
"Bagaimana kabar ibumu? Dia baik-baik saja kan?"
Selena tersenyum," Kami berdua baik-baik saja tanpa anda"
"Kamu bisa main ke rumah Papa jika kamu mau, pintu rumah Papa selalu terbuka untukumu. Papa permisi dulu"
Bagaimana Papa mengucap begitu gampangnya setelah menendang ibu dan aku dari rumahnya. Setelah perceraian itu aku sudah tidak peduli lagi kepadanya*.
Papa kini sudah terpengaruh oleh nenek lampir itu*.
Selena segera memeriksa berkas dari laboratorium, ia terkejut setelah mendapati penyebab keguguran Sonia.
Dia segera menemui Sonia langsung diruangan yang merawatnya, Sonia terlihat sudah siuman setelah menjalani pembersihan dirahimnya.
Tatapan Sonia kosong yang memandang langit-langit kamar rumah sakit.
"Sonia, aku ingin kamu berbicara jujur, selama ini kamu meminum obat apa?"
Sonia hanya menggelengkan kepala dan tidak mau menjawab.
"Oke jika tidak mau menjawab, aku akan memberitahu keluargamu"
Sonia panik dan menarik tangan Selena, ia menggelengkan kepala supaya Selama tidak memberitahukan kepada keluarganya.
"Sejak kapan kamu meminum obat itu? Apa kamu tau obat itu bisa membunuh janinmu? Obat itu yang membuatmu keguguran"
Sonia mulai menangis, ia merasa sangat bodoh meminum obat itu saat hamil.
Dia tidak tau jika obat itu memberikan efek buruk terhadap janinnya.
"Aku meminum obat itu sejak lulus SD, kamu tau kan masa lalu ku sangat buruk?"
"Kenapa kamu tidak bilang ke Papa?"
"Hey kamu gila? Aku tidak mau dimasukan ke rumah sakit jiwa seperti kak Satya, kamu tau sendiri kan jika David dan Mamanya sangat licik"
Selena merasa geram ia memukul pelan kepala Sonia, " Kamu bodoh kenapa kamu pendam masalahmu sendiri? Aku sudah pernah bilang temui aku jika kamu membutuhkanku!"
Sonia memeluk Selena yang berdiri didepannya, ia bersyukur karena masih ada yang memperdulikannya.
"Terima kasih Selena telah mengkhawatirkanku"
__ADS_1