
Satu minggu kemudian.
Keluarga Reno tengah asyik sarapan di ruang makan, Reno terlihat perhatian dengan Rachel seperti seorang suami. Dia sangat sedih ketika membayangkan Rachel harus menjalani kehamilan tanpa seorang suami maka dari itu Reno selalu memberi perhatian lebih kepada Rachel.
Sonia belum terlihat berada di kursinya, ia menyuruh Reno untuk sarapan terlebih dahulu.
Sonia berada di dalam kamar mandi, ia ingin menelpon Arkan karena ia akan bertanya sesuatu, sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Hey Bodoh! Kenapa menelponku?" tanya Arkan pada panggilan Video.
"Ini mengenai saat Papa memukuli ku dulu. Kamu pasti tau penyebabnya"
Arkan terdiam, ia sudah menduga jika Sonia pasti suatu saat menanyakan hal itu.
Arkan menunjukan ekspresi yang bingung, tapi sepertinya inilah waktu yang tepat untuk memberitahu Sonia yang sebenarnya.
"Kamu dulu hamil di luar nikah, itu membuat Papa marah kepadamu. Jika tidak ada aku pasti kamu sudah mati ditangan Papa. Aku mengatakan hal bohong jika aku menghamilimu, itu yang membuat Papa mengirimku ke luar negeri"
Apa? Aku dulu hamil? Kenapa aku tidak ingat?
"Siapa yang menghamiliku? Terus dimana anakku sekarang?" tanya Sonia penasaran.
"Itu yang masih menjadi pertanyaan. Tidak ada yang tau siapa yang menghamilimu, hanya kamulah yang tau Sonia, keluarga kita mengira jika anak itu adalah anakku, tetapi itu bukanlah anakku, aku mengaku hanya untuk melindungimu dari amukan Papa saja"
Kepala Sonia terasa sakit, ia mematikan panggilan video itu. Arkan sempat menghubunginya lagi tetapi tidak dihiraukan oleh Sonia. Satu persatu ingatannya mulai muncul di otaknya, gambaran sesosok lelaki membayangi dirinya.
Lelaki itu berwajah buram, ia teringat saat menghabiskan waktu bersama lelaki itu, saat bercinta beradu kasih di rumah kecil miliknya dulu. Sonia memukul kepalanya sendiri supaya bisa mengingat wajah lelaki itu.
Dia mulai menangis mengingat tingkah lakunya yang memberikan keperawanannya hanya untuk kesenangan pribadi.
Siapa laki-laki itu? Kenapa aku begitu bodoh?
Dimana anakku sekarang? Huh! Kepalaku sakit sekali.
Ingatan demi ingatan terlintas dibenak Sonia.
Gambaran masa lalu terkumpul menjadi satu, salah satunya kenangan dengan lelaki itu.
__ADS_1
Hiks hiks hiks hiks.... Aku bodoh!
Aku ingat siapa lelaki itu!
Lelaki brengsek itu meninggalkanku!
Lelaki brengsek itu membiarkanku menderita!
Terdengar suara pintu diketuk, Sonia seketika berdiri saat terduduk di lantai kamar mandi.
Ternyata Reno yang memanggilnya dan menyuruh Sonia agar makan sarapannya.
Tetapi Reno malah mendengar Sonia menangis di kamar mandi, ia panik dan mendobrak pintu kamar mandi.
Sonia masih berdiri di tempatnya, ia memegang botol parfum terbuat dari kaca yang sudah dipecah dulu sebelumnya. Wajahnya nampak sayu dengan beberapa bulir air mata menempel dipipinya.
"Ada apa denganmu Sonia? Kenapa kamu menangis?" tanya Reno panik dan mencoba mendekati Sonia.
Sonia masih menatap tajam Reno, ia juga berjalan mendekati Reno.
Sonia seperti kesetanan, ia menikam Reno tanpa ampun. Reno mencoba menghentikan Sonia walaupun beberapa kali sempat gagal.
Kepala Reno mulai mengeluarkan banyak darah, ia berusaha mendorong Sonia dengan kuat sampai Sonia terjatuh.
Mama dan Rachel masuk ke kamar mereka ketika mendengar keributan.
Mama dan Rachel terkejut melihat kepala Reno berdarah-darah, ia juga melihat Sonia masih memandangi Reno dengan tatapan tajam.
"Ada apa denganmu Sonia? Kenapa kamu seperti ini?" ucap Reno sambil memegangi kepalanya.
"Dasar kau lelaki brengsek!" ucap Sonia mendekati Reno, ia kembali mendorong tubuh Reno dan menindihnya.
Mama dan Rachel mencoba mendekati mereka tetapi Sonia mengancam akan membunuh Reno jika mereka ikut campur.
Reno masih menatap Sonia, ia masih bingung kenapa Sonia sampai seperti ini.
Mata Sonia seolah menyimpan dendam yang membara.
__ADS_1
"Kau pria brengsek yang meninggalkanku saat hamil! Kau membiarkanku menderita!"
"Kamu ingat Sonia?" tanya Reno dengan tatapan terkejut.
"Ya! Aku ingat semuanya saat kamu memanfaatkanku sebagai pemuas nafsumu. Setelah kamu bosan lalu meninggalkanku, kamu tidak tau betapa menderitanya aku hiks hiks... Aku dipukuli Papaku sampai aku koma di rumah sakit hiks hiks... Papaku ingin membunuh anak kita tetapi kak Arkan melarangnya, dia membelaku dan berbohong jika bayi yang dikandungku adalah anaknya.
Sementara kamu bersenang-senang berada diluar negeri dengan wanita lain!"
Semua yang berada disitu terkejut, mereka semua berkumpul melihat pertengkaran mereka, Papa dan Rizky juga tengah mendengar ucapan mereka nampak kaget.
Sonia menangis semakin histeris dengan masih memegang pecahan botol parfum, Reno seakan pasrah jika ia harus dibunuh hari ini oleh istrinya.
"Kamu boleh membunuhku Sonia, lakukanlah jika itu bisa menebus kesalahanku. Tapi semua ucapanmu tadi tidak benar, aku meninggalkanmu karena memang aku tidak tau jika kamu sedang hamil, aku saat itu juga harus kuliah di luar negeri. Bahkan kamu tidak pernah bilang tentang kehamilanmu kepadaku. Aku minta maaf Sonia," ucap Reno.
Kemarahan Sonia berada di puncaknya, ia mengarahkan pecahan kaca itu di wajah Reno, semua orang berteriak histeris.
Sonia dengan cepat menikam wajah Reno tetapi ternyata ia menikam telapak tangannya sendiri di depan wajah Reno. Nampak darah segar menetes dari telapak tangan dan terjatuh di pipi Reno. Belum puas membuat telapak tangannya berdarah, Sonia mencoba menggores dengan pecahan kaca di lengannya tetapi Reno mencegah dan membuang pecahan kaca itu.
Reno sedikit mendorong tubuh Sonia yang berada di atasnya, ia memeluk Sonia erat.
Sonia menangis histeris merasakan kesedihan yang sangat mendalam.
"Maafkan aku Sonia, aku memang salah kepadamu. Aku meninggalkanmu saat kamu hamil anak kita, tetapi kini aku sudah menebus kesalahanku. Aku telah menikahimu, aku akan membahagiakanmu sayang. Kamu tau Dylan? Dia anak kandung kita, dia anak kita sayang," ucap Reno sambil memeluk Sonia.
Sonia masih terisak, ia tidak menyangka sudah menikah dengan lelaki yang menghamilinya dulu. Dia juga bahagia mengetahui jika Dylan adalah anaknya, ia teringat saat akan melahirkan Dylan ada seorang dukun perempuan yang menghilangkan ingatannya, setelah itu ia tidak mengingat apa-apa lagi.
"Kak Reno.. Hiks hiks..," ucap Sonia terisak sambil memukul dada suaminya itu.
Papa segera menyuruh dokter datang untuk mengobati luka mereka, Mama masih syok dengan ucapan Sonia jika dulu dihamili oleh Reno. Masih banyak pertanyaan yang ingin Mama lontarkan tetapi ia urungkan karena tidak mungkin bertanya pada situasi seperti ini.
Tangisan Sonia berhenti ketika dokter datang, ia membiarkan dirinya diobati oleh dokter.
Sementara Reno harus menerima jahitan di kepalanya, ia harus di rawat di rumah sakit tetapi Reno menolak.
Setelah mereka mendapatkan pengobatan, keluarga Reno berkumpul di ruang keluarga dan siap menyerang dengan pertanyaan bertubi-tubi. Sonia masih duduk terdiam di sebelah suaminya, ia menundukan kepala karena malu tidak bisa mengontrol emosinya sampai menyerang sang suami.
Reno mulai menjelaskan sedetail mungkin dari pertama kali saat berjumpa dengan Sonia 6 tahun yang lalu.
__ADS_1