Mariana

Mariana
Dylan


__ADS_3

Suasana sejuk dan langit terlihat mendung. Kabut pun mulai terlihat turun. Reno sesekali mengusap-usapkan tangannya ke saku jaket. Dia sangat kedinginan, tetapi yang ia herankan anak kecil yang di sebelahnya tidak kedinginan sama sekali. Dylan hanya memakai celana pendek dan baju lengan panjang yang tipis.


Mereka melintasi pemandangan yang menakjubkan dan melewati hamparan kebun sayur milik warga.


"Dylan, kita berhenti disini ya. Pemandangannya bagus banget," pinta Reno lalu ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


Mereka segera turun, Reno mempunyai ide ia ingin berfoto dengan Dylan dengan background gunung dan kebun sayur.


Dylan menyetujuinya, anak itu melontarkan senyum saat mereka berfoto.


Cekrek.


"Dylan kamu berdiri disana, om mau foto kamu sendirian"


Dylan segera melangkah menjauhi Reno, ia berpose lucu yang membuat Reno tertawa.


Ah! Manisnya, rasanya ingin kuajak pulang.


Setelah mendapat foto Dylan mereka segera menaiki mobil lagi. Dylan seperti senang sekali bisa naik mobil.


"Dylan kamu sekolah dimana?"


"Tidak sekolah"


"Kenapa?"


"Kakek dan nenek tidak punya uang"


Jantung Reno terasa sakit mendengar anaknya menderita selama ini, bahkan baju yang dikenakan Dylan beberapa ada yang berlubang.


Sakit sekali hatiku, aku dan Sonia di beri kemewahan yang berlimpah. Tetapi anakku menderita sekali.


Setelah berputar-putar keliling desa mereka segera kembali ke rumah nenek. Reno memarkirkan mobilnya di tanah lapang tadi, mereka kembali menuju ke rumah nenek.


Diruang tamu sudah tersedia sebakul nasi berlaukan sayur sop dan tempe goreng.


Kakek dan nenek menyuruh mereka makan dahulu.


Reno adalah sesosok pria yang baik dan tidak manja, makanan yang ada di depannya disambar seketika. Dia tidak mau kalah dengan sang anak yang makan dengan lahapnya.


"Nak, menginaplah disini. Kabut sudah mulai turun, berbahaya jika kamu nekat pulang sore ini," pinta kakek.


"Iya om, nanti tidur dengan Dylan," ucap Dylan tersenyum dan bersemangat.


Reno mendengar Dylan mengucapkan seperti itu langsung mengiyakan jika ia akan menginap malam ini.


"Kamu bisa berganti pakaian milik anak nenek sekaligus bapaknya Dylan"


Reno mengangguk pertanda setuju, nenek tersenyum kepada Reno ia kagum karena bisa makan makanan sederhana seperti ini.


Dia diberitahu oleh tetangga jika tamunya kali ini adalah pengusaha terkenal dan kaya raya yang sering diberitakan di TV.


"Kalau saya lauk apa saja oke yang penting ada nasi," ucap Reno supaya kakek dan nenek tidak memikirkan makanan yang akan dimakan olehnya.


Kakek dan nenek tersenyum bangga mereka lalu melanjutkan obrolan sampai sore.


**

__ADS_1


Waktu menunjukan pukul 4, Reno sudah memegang handuk dan pakaian milik anak nenek. Reno sudah berada di depan bak mandi, ia berpikir berkali-kali ketika mengetahui jika air di bak itu sedingin es.


Tadi sepertinya Dylan menikmati mandinya tanpa air panas.


Reno memegang air itu dengan tangannya.


Huh! Dingin sekali!


Dia seperti menyesal karena menolak tawaran mandi menggunakan air hangat.


Dia tidak ingin merepotkan nenek karena harus merebus air dulu di kompor.


Tanpa pikir panjang ia melepas seluruh pakaiannya dan menyiram air dingin itu ke tubuhnya secara cepat menggunakan gayung.


Rekor dalam hidupku mandi dengan air es ini.


Reno segera menyudahi mandinya, ia segera memakai pakaian dan keluar kamar mandi dengan keadan menggigil.


Kakek yang mengetahuinya segera memanggil untuk duduk disebelahnya.


Mereka kini tengah duduk di depan tungku api yang kini kayunya telah menjadi arang.


Reno segera menjulurkan kedua tangannya didekat sumber api itu, rasa hangat menghilangkan kedinginan di tubuhnya.


Nenek datang membawa 2 teh hangat lalu menyodorkan ke mereka.


"Diminum dulu tehnya biar badanmu hangat," ucap nenek.


Reno tersenyum dan segera meminum teh itu.


"Kakek sudah tau perihal kamu datang kesini.


Reno hanya terdiam, dia juga tidak tega melihat raut wajah kakek yang sedih.


"Saya belum ada rencana membawa Dylan, saya ingin melakukan tes DNA dulu" .


"Kupikir kamu datang kesini karena sudah yakin jika Dylan adalah anakmu"


"Dylan adalah anak diluar nikah, bahkan waktu itu saya belum menikahi istri saya. Saya meninggalkannya ke luar negeri, saat itu saya tidak tau jika dia mengandung"


Kakek seolah bingung dengan maksud Reno, ia seperti menyembunyikan sesuatu.


"Kakek dan nenek pasti setuju dengan keputusanmu," ucap kakek tersenyum.


__________________________________________


Malam telah tiba, hanya lampu


remang-remang yang menyinari ruang tamu yang kecil itu, tidak ada teletivi hanya suara radio yang menemani kesunyian mereka.


Reno sedari tadi melihat Dylan menggaHahaha


ia melihat setiap coretan yang membekas di kertas.


Reno keasyikan bersama Dylan sampai ia melupakan Sonia yang sedari tadi menghubungi Reno tetapi tidak tersambung.


Handphone Reno memang sengaja dimatikan karena ia lupa tidak membawa carger, ia hanya membawa kabel data saja.

__ADS_1


Reno beranjak berdiri dan berpamitan untuk menuju ke mobilnya mengambil sesuatu yang ketinggalan, kakek dan nenek mengizinkannya.


"Om mau pulang?" tanya Dylan ketika Reno sudah berjalan kearah pintu.


"Om mau ke mobil sebentar, nanti kesini lagi"


Dylan menganggukan kepala lalu melanjutkan menggambarnya.


Reno bergegas menuju mobil, suasana desa ini sunyi. Tidak ada warga yang keluar rumah.


Setelah sampai ia langsung masuk ke mobilnya, ia menyalakan mesin dan segera mengecas handphonenya.


Pemberitahuan banyak sekali yang masuk termasuk dari orang tua Reno.


Aku lupa bilang jika malam ini tidak pulang kerumah, pasti mereka khawatir.


Reno langsung mengirim pesan kepada Mamanya.


Untung masih ada sinyal walau di daerah pegunungan. Kapan-kapan aku mau mengajak Sonia kesini pasti enak suasana begini bersama pasangan. Hahaha.


Aku harus menelpon Sonia mungkin sekarang disana masih sore.


Reno menelpon Sonia, tidak lama berselang Sonia mengangkatnya.


"Hallo cowok brengsek! Dari tadi kamu dimana? Pasti Kamu selingkuh?"


Reno mengernyitkan dahi, ia tidak suka jika dibilang cowok brengsek.


"Hari ini aku sangat sibuk, aku sangat merindukanmu Sonia"


"Bohong! Aku tau kamu bersama wanita lain"


Reno tertawa lalu segera beralih ke panggilan Video.


Reno mengalihkan kameranya kesetiap ujung mobil supaya Sonia tau jika ia sedang sendirian. Sonia mulai lega lalu melanjutkan obrolan.


"Dingin sayang, pengen peluk kamu," goda Sonia.


Sepertinya kamu ingin memancingku Sonia.


Kita lihat seberapa jauh kamu memancingku.


Mereka mulai terlibat obrolan panas dan Sonia selalu menimpali omongan Reno dengan semangatnya. Tapi tiba-tiba Sonia tidak sengaja membicarakan adegannya bersama Bima yang membuat Reno berubah ekspresi.


Ya.. Sonia memang memancingku, memancing amarah dan kecemburuanku.


"Aku tidak suka kamu dekat laki-laki lain, apalagi Bima yang seperti menyukaimu"


Sonia menghela nafas ia menjelaskan jika mereka hanya teman kerja.


Obrolan mereka begitu panjang sampai Reno lupa jika mungkin Dylan sedang menunggunya. Reno segera berpamitan dengan Sonia dan mengakhiri panggilan.


Hawa semakin dingin, ia segera mematikan mesin mobil dan mencabut handphonenya.


Reno segera berjalan ke rumah nenek, ia tau jika mereka menunggunya.


Dari kejauhan ia melihat Dylan telah menunggu di depan pintu dengan tersenyum riang.

__ADS_1


Anak ini membuat hatiku terasa nyaman dan damai. Apakah itu sebuah ikatan antara seorang ayah dan Anaknya?


__ADS_2