Mariana

Mariana
Kedatangan Rachel


__ADS_3

Reno menghampiri Sonia, ia terduduk disampingnya. Dia melihat Sonia begitu pulas dan tidak tega untuk membangunkannya.


Beberapa butir obat berada diatas meja, Reno mengambilnya.


"Obat apa ini?"


Dia menatap wajah Sonia, ia mengelus rambut Sonia.


Aku tidak tau apa masalahmu sebenarnya, aku harap kamu segera cerita denganku.


"Mama." Ucap Sonia mengigau.


Reno seperti mengetahui jika Sonia pasti Rindu dengan Mamanya yang telah meninggal. Sontak Reno mencium kening Sonia membuat ia terbangun.


"Ah! Kenapa kamu berada disini, kamu mengganggu tidurku."


Reno diam sambil tangannya menenteng obat tidur, Sonia yang mengetahui segera menjelaskan jika ia hari ini ingin tidur nyenyak. Tetapi obat tidur itu tidak memberikan efek.


"Kamu bisa tidur di rumah." Ucap Reno.


Sonia menggelengkan kepala, ia tidak ingin berada dirumah, hanya sebuah ketenangan yang ia inginkan sekarang.


"Yasudah, aku mau lanjut kerja, aku berada disini sampai jam 2 siang setelah itu aku harus kembali ke restauran." Ucap Reno.


Sonia memegang tangan Reno yang tengah berdiri dan akan keluar, ia menggelengkan kepala supaya Reno tidak pergi.


Dia menyuruh Reno untuk duduk kembali di ranjang, Reno masih memandangnya dengan heran.


"Kita sudah hampir satu bulan menikah, kita melakukan itu juga baru sekali. Maafkan aku."


Ucap Sonia.


Reno tersenyum ia mengerti dengan keadaan Sonia yang merasa takut melakukan itu, ia akan bersabar menunggu Sonia.


Sonia terduduk dan menundukan kepala, tergambar sebuah kecemasan diwajahnya.


"Kamu boleh pergi, kamu sangat sibuk kan?"


Reno lantas berdiri, sebelum berdiri ia mencium pipi Sonia. Dia mengacak-acak rambut Sonia, Sonia menunjukan ekspresi muka kesal.


Reno segera kembali bekerja, hari ini ia sangat sibuk dengan pekerjaannya.


Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari handphonenya.


Sampai jumpa besok Reno.


Aku tidak sabar berjumpa denganmu setiap hari.


Reno segera menghapus pesan itu, ia tidak ingin mempedulikan Veronica.


Dalam lamunannya ia malah membayangkan kejadian 6 tahun yang lalu. Kejadian yang tak mungkin mudah dilupakan, ia masih sangat heran kenapa Sonia tidak ingat dengan dirinya. Perasaan kesal kerap membayangi dirinya, tapi untungnya ia sudah menikahi gadis tersebut.


"Reno sepertinya kamu sangat menikmatinya." Ucap Sonia yang berada di atas Reno, ia melakukannya sangat lihai.


Mereka dalam kondisi nafsu yang sangat tinggi, tangan Reno memegang pinggul Sonia.

__ADS_1


Sonia lantas mencium bibir Reno, mereka beradu lidah dengan nikmatnya.


"Aku mau keluar Sonia."


Sonia menunjukan ekspresi kecewa, ia segera turun dan berpindah posisi.


Satu menit kemudian Reno benar-benar keluar, ia segera mengambil tisu.


Reno merebahkan dirinya di sebelah Sonia, Sonia memandangnya dengan marah.


"Dasar payah!" Gerutu Sonia.


"Kita bahkan sudah melakukannya setengah jam." Jawab Reno dengan nafas yang kelelahan.


"Pak, ini berkas yang harus di tandatangani." Ucap manager hotel Aiden membuyarkan pikiran Reno.


Reno kaget, ia segera menandatangi berkas itu, ia segera menyerahkannya kembali.


Setelah manajernya keluar ia memegangi kepala seperti orang bodoh.


Hah! Kenapa aku selalu membayangkan itu.


Bahkan Sonia sendiri tak mengingatnya.


**


Disisi lain Rachel sedang berbincang-bincang


dengan Mamanya, ia seperti melampiaskan rindu kepada orang tuanya. Sejak kuliah di Jepang ia selalu mandiri, tetapi jika dekat orang tuanya ia akan bertingkah manja.


"Mama, wajah istri Kak Reno seperti apa, aku sangat menyesal tidak hadir di pernikahan mereka." Tanya Rachel sambil berbaring di pangkuan Mamanya.


"Nanti kamu tau sendiri." Ucap Mama yang malas menjawab tentang Sonia.


Mamanya membelai rambut Rachel, sudah kebiasaan Rachel suka dibelai rambutnya bahkan ia bisa sampai tertidur.


Mama menghela nafas, ia tidak tega jika Rachel di jodohkan. Tapi mau bagaimana lagi surat perjanjian telah ditandatangani, tinggal menunggu Rachel mengetahuinya.


"Kamu sudah punya pacar?"


"Belum."


Mamanya tersenyum, ia tidak bisa membayangkan jika Rachel mengetahui perjodohannya.


Tiba-tiba Rizky datang, Mama dan Rachel melihatnya tetapi seolah Rizky tak mempedulikan mereka dan kepulangan Rachel. Rachel mengomel dan membandingkan dengan sifat Reno kenapa Rizky memiliki sifat yang berkebalikan dengan kakak pertamanya itu.


"Kenapa Kak Rizky seperti itu berbeda sekali dengan Kak Reno yang super baik dan selalu perhatian." Ucap Rachel dengan wajah cemberut.


"Sifat seseorang memang berbeda, kamu tidak boleh seperti itu dia tetap kakakmu." Jawab Mama.


**


Dikamar hotel yang sangat mewah Sonia tertidur lagi setelah meminum obat tidur, dia tertidur dengan pulas sampai malam hari.


Reno yang dari restauran segera menjemputnya untuk pulang, Reno memasuki kamar hotelnya tanpa mengetuk.

__ADS_1


Dia melihat Sonia yang tengah pulas.


"Sonia, cepat bangun mari kita pulang." Ucap Reno sambil menggoyangkan tubuh Sonia.


Hoamm..


Sonia terbangun sambil merenggangkan tubuhnya, ia melihat Reno yang sudah berada di depannya. Sonia bergegas bangun dan mengambil tasnya, ia berjalan lunglai menuju keluar kamar, Reno yang berada di belakangnya hanya tersenyum.


Dalam perjalanan mereka hanya terdiam, apalagi Reno juga sangat kelelahan karena harus mengurus 3 tempat sekaligus tetapi ia cukup senang dengan kepulangan Rachel yang akan sedikit membantu dirinya dalam mengelola perusahaan.


Sesampainya dirumah mereka menuju ke kamar dan segera mandi setelah itu menuju ke ruang makan.


Reno dan Sonia segera duduk, Rachel memperhatikan Sonia dengan kaget. Dia tidak menyangka bertemu dengan saingannya dulu sewaktu SMA.


"Dunia memang sempit ya bahkan kau bisa menjadi kakak iparku, Sonia Larasati."


Sonia melihat Rachel dengan bingung, ia seperti tidak mengenalinya. Sonia diam dan melanjutkan makannya.


"Kamu sudah kenal dengannya Rachel?" Tanya Mama, Reno juga memperhatikan dengan heran.


"Ya kami teman SMA, bahkan ia selalu merebut pacarku." Ucap Rachel kesal dan melototi Sonia.


Sonia terlihat santai, ia mengambil segelas air putih didepannya, ia segera menenggaknya.


Reno melihat Sonia seperti membutuhkan sebuah penjelasan. Suasana ruang makan menjadi tidak menyenangkan, Papa Reno segera mencairkan suasana.


"Rachel itu semua sudah masa lalu, sekarang Sonia adalah keluarga kita." Ucap Papanya.


Sonia masih menatap Rachel tajam, ia mengingat jika Rachel sebagai pembully di sekolahnya dan kerap bergonta-ganti pacar.


"Aku tidak pernah merebut pacar siapapun, pacarmu sendiri yang kegatelan denganku."


Rachel sangat marah mendengar ucapan Sonia dan bahkan hampir menyiramnya dengan segelas air tetapi dihentikan oleh Mamanya.


"Kak Reno aku yakin kamu akan menyesal menikahi dia, dia tidak pantas untuk orang sebaikmu kak." Ucap Rachel, ia lantas berdiri dan menuju ke kamarnya.


Reno yang mengetahui adiknya sangat kesal segera menghampiri ke kamar. Sonia hanya menunduk seakan sudah lelah menghadapi orang-orang yang selalu mendatangkan masalah baru.


"Maafkan dia Sonia, dia memang anaknya masih labil." Ucap Papa Reno.


"Hah! Sonia sendiri pun masih labil." Ucap ibu mertuanya sambil meninggalkan ruang makan.


Apakah aku seburuk itu di mata orang-orang?


Apa aku selalu merugikan mereka hingga mereka sangat jijik kepadaku?


Sonia segera berpamitan dengan Papa Reno, ia ingin beristirahat dikamarnya, Papa Reno membalas dengan senyuman.


Reno sedang membujuk Rachel untuk berbicara, tetapi Rachel seperti mengalihkan pandangannya.


"Kamu tidak boleh begitu dengan Sonia, dia sekarang kakak iparmu."


Rachel masih diam, ia masih memasang wajah cemberutnya. Dia melirik Reno yang tersenyum kepadanya, hatinya goyah dia dengan cepat memeluk kakaknya itu.


"Aku tidak akan membiarkan Sonia menyakiti hati kakak, jika iya akulah orang pertama yang akan menamparnya." Ucap Rachel serius.

__ADS_1


Reno tersenyum ia tidak menggubris omongan Rachel, ia percaya jika Sonia tak akan menyakitinya.


__ADS_2