
Siang ini Sonia mengajak Reno untuk mengunjungi kakaknya yang berada di rumah sakit jiwa, Reno melajukan mobilnya dengan santai sambil satu tangannya menggenggam erat tangan Sonia. Sebelum itu Reno menyuruh Sonia membawa satu set pakaian tebal dan syal sebagai baju ganti karena ia akan membawa Sonia ke desa Dylan setelah mengunjungi kakaknya.
Setelah sampai di rumah sakit, Sonia berjalan menggandeng Reno. Sonia mengajak Reno langsung menuju taman belakang rumah sakit, ia melihat kakaknya duduk di kursi roda sambil menatap teriknya matahari siang ini.
Sonia berlari memeluk kakaknya dari belakang, ia mencium pipi kakaknya.
Sonia melampiaskan kerinduannya setelah beberapa saat tidak mengunjunginya.
Sonia memundurkan kursi roda menuju tempat yang lebih teduh, Reno tersenyum melihat Sonia sangat senang.
Kak Satya lalu memandang Sonia, Sonia terkejut karena kak Satya kini mau melihat wajah Sonia. Kak Satya membelai rambut Sonia lembut yang tengah berjongkok dihadapannya. Sonia mulai meneteskan air mata, ia lalu memeluk kakaknya.
Hiks hiks hiks hiks.....
Tangisan Sonia mulai pecah saat itu juga, ia begitu bahagia kakaknya mulai merespon kedatangannya bahkan ia bisa melihat garis senyuman yang terukir di bibir kak Satya.
Reno tersenyum melihat pemandangan kakak beradik yang tengah melampiaskan kerinduan seperti tidak berjumpa belasan tahun. Ya.. Kak Satya saat remaja sudah di masukan ke rumah sakit jiwa, Sonia sangat terpukul karena kakak kesayangannya harus meninggalkannya sendirian di rumah neraka itu.
"Sonia?"
"Iya kak?"
"Kamu sudah makan?" tanya Kak Satya.
Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sering terlontar dari mulut Kak Satya sewaktu ia masih sehat dan belum di masukan ke rumah sakit jiwa. Mereka sedari kecil memang tidak di perhatikan oleh orang tuanya, sampai kelaparan. Padahal mereka anak dari seorang direktur perusahaan ternama dan tersukses. Papanya lebih memperhatikan anak-anak dari wanita jal*ng itu. Kak Satya dan Sonia lebih di perhatikan oleh pembantunya yaitu bu Inah, tetapi kini ia sudah meninggal lama saat Sonia masih SMP.
Sonia menganggukan kepala pertanda sudah makan, ia juga menanyakan kepada kakaknya.
"Kakak sudah makan lauknya tidak enak. Hambar," jawab Kak Satya terdengar mengeluh.
"Benarkah? Kakak mau makan apa? Biar Sonia belikan."
"Kakak ingin makan masakan bu Inah"
DEG!
Sonia terkejut, Kakaknya belum tau jika kini bu Inah sudah meninggal sekitar 8 tahun yang lalu saat Kak Satya sudah di masukan ke rumah sakit jiwa. Sonia segera memutar otak untuk mengganti konflik pembicaraan. Tetapi tiba-tiba sang suster datang, ia membawa Kak Satya untuk masuk dan minum obat.
"Sebentar," ucap Kak Satya saat suster mulai mendorong kursi rodanya.
"Tolong jaga adikku," ucap Kak Satya sambil melihat Reno.
Reno tersenyum dan menganggukan kepala, ia akan menjaga istrinya dengan baik.
Sonia melambaikan tangan ke arah Kakaknya, ia cukup lega bahwa kakaknya cukup mengalami perkembangan.
__ADS_1
Reno merangkul pundak Sonia dan menyuruh segera berangkat ke desa. Sonia hanya menurut entah kemana ia akan dibawa oleh suaminya itu.
Reno melajukan mobilnya menuju desa Dylan, ia ingin Dylan bertemu ibu kandungnya langsung. Dalam perjalanan Sonia hanya terkantuk-kantuk, ia menahan matanya supaya tidak tertidur. Reno menyuruhnya segera tidur, beberapa menit kemudian Sonia terlelap dalam mimpi yang indah.
2 jam kemudian.
Reno menghentikan mobilnya di rumah makan sederhana, ia membangunkan Sonia untuk makan. Sonia terbangun dan segera turun dari mobil, ia memandangi rumah makan itu.
"Tidak ada restorankah? Aku tidak bisa makan makanan yang seperti itu," ucap Sonia sambil menunjuk makanan yang sudah matang dan tersaji di etalase.
"Disini kota kecil tidak ada restoran, adapun juga sudah terlewati," jelas Reno segera menggandeng tangan Sonia masuk ke rumah makan itu.
Reno segera berdiri di depan etalase dan melihat seluruh hidangan makanan, Sonia sudah terduduk di depan meja.
Apa tidak ada pelayan? Apa memang kita harus memilih sendiri makanan itu?
Sonia heran dengan model rumah makan itu, sedari kecil memang ia tidak pernah makan selain di restoran mewah. Reno memanggil Sonia menyuruh memilih makanan yang akan ia santap. Sonia cukup ragu lalu memutuskan untuk pesan makanan yang sama dengan Reno.
Sepiring nasi bersama lauk daging rendang, telur bacem, tempe goreng dan tak lupa sambal sebagai pelengkap.
Sonia sudah menerima sepiring nasi itu dari si penjual.
Hah? Apakah aku harus membawa makananku sendiri ke meja?
Sonia memandang Reno yang berjalan menuju meja, Sonia mengikutinya.
Sonia dengan ragu menyuap sendokan yang pertama, makanan itu sangat lezat sampai Sonia makan dengan lahap. Reno mengamatinya dengan tersenyum.
"Enak?" tanya Reno.
Sonia menganggukan kepala, makanan itu tidak kalah lezatnya dari makanan restoran.
Setelah makan sampai habis Reno segera membayar makanan itu dan Sonia menunggu di luar.
Sonia menatap di sekitarnya, ia sangat asing dengan kota itu, dia mengambil handphone lalu membuka maps. Ternyata kota itu cukup jauh dari kotanya.
Reno menepuk pundak Sonia, ia mengajak untuk masuk ke minimarket sebelah rumah makan itu.
Reno mengambil buah pear dan apel, ia mengambil semua buah itu di mesin pendingin, ia juga mengambil beberapa coklat dan roti tak lupa dengan beberapa susu kotak. Reno menanyakan apa yang mau di beli Sonia, Sonia menggelengkan kepala karena sudah merasa kenyang.
Reno segera membayar semua belanjaannya, Sonia lebih memilih menunggu di dalam mobil.
10 menit kemudian.
"Untuk apa semua makanan itu?"
__ADS_1
"Untuk Dylan"
Dylan? Anak kecil itu?
Apakah Reno memiliki hubungan sedekat itu dengannya?
Reno segera melajukan mobilnya, sesekali memegang bahunya yang masih terasa sakit.
"Biar aku saja yang menyetir," pinta Sonia.
"Jangan! Sebentar lagi kita akan memasuki jalan berliku pegunungan, biar aku saja yang menyetir."
"Kalo tau jauh begini mending tadi kita naik jet pribadiku saja."
Reno tersenyum lalu menjawab," Mau mendarat dimana? Di gunung?"
Sonia tertawa lepas, ia lalu melihat ke arah jendela yang mulai nampak pemandangan perbukitan. Suhu di dalam mobil juga mulai terasa dingin, Reno segera mematikan AC mobil. Reno berhenti di pinggir jalan sebentar ia segera memakai jaket dan menyuruh Sonia juga memakainya.
Setelah itu Reno melanjutkan perjalanan menuju ke desa Dylan.
Dalam perjalanan mereka melewati beberapa penginapan, Pikiran Reno mulai kotor membayangkan yang tidak-tidak.
"Dingin begini hal apa yang enak dilakukan?" tanya Reno menggoda Sonia.
"Minum jahe hangat," jawab Sonia tidak tau akan kode dari Reno.
"Mau mampir disitu? Siapa tau menyediakan jahe hangat," ucap Reno sambil menunjuk sebuah penginapan yang berada di kiri jalan.
Sonia menganggukan kepala, Reno tersenyum kecil, ia segera menuju penginapan itu.
Penginapan itu cukup bagus, Reno tidak salah pilih. Reno memesan satu kamar untuk mereka berdua dan memesan minuman jahe untuk dibawa di kamar.
Sonia cukup heran kenapa harus sampai memesan sebuah kamar, padahal di penginapan itu menyediakan tempat nongkrong untuk sekedar minum minuman hangat.
Setelah sampai di kamar Reno merebahkan dirinya, ia mengeluh bahunya ngilu karena sedari tadi menyetir.
Sonia mengelus bahu Reno sebentar lalu segera meminum jahe hangat.
"Apakah masih jauh?"
"Setengah jam lagi kita sampai"
Sonia segera menghabiskan minumannya, ia melirik Reno yang menepuk-nepuk bantal di sebelahnya seolah memberikan kode untuk Sonia segera merebahkan diri.
Sonia tidak mau dan malah memainkan handphone, Reno kecewa lalu dengan sigap memeluk Sonia dari belakang. Tangan Reno mulai masuk dari bawah baju Sonia, ia mengelus perut Sonia. Tangannya mulai naik keatas pada gumpalan lemak milik Sonia yang nampak besar. Reno mulai mencium bibir Sonia dalam-dalam, mereka semakin masuk pada hawa nafsu yang kian meninggi apalagi suasana dingin menambah hasrat untuk bercinta.
__ADS_1
Sampai akhirnya mereka membuka pakaian masing-masing dan melampiaskan seluruh rasa cinta mereka.