Mariana

Mariana
Kencan 2


__ADS_3

Ding dong ding dong...


Suara bel pertanda pulang sekolah, waktunya Sonia untuk segera pulang.


Dia murid teladan di sekolahnya, dan ia begitu populer dikalangan cowok-cowok di sekolah.


Sonia melangkahkan kakinya keluar kelas, dilihatnya awan mendung yang menghiasi siang ini.


Sial aku tidak membawa payung.


Dia bergegas berlari, ia takut akan demam jika ia kehujanan nanti.


Dia berlari secepat mungkin, sampai dia tak memperhatikan jika didepannya melaju sebuah motor dengan kecepatan tinggi.


Brakkkk...


Sonia terpental ke semak-semak, badannya penuh goresan terkena duri dari semak-semak itu, dia menangis kesakitan.


Huhuhuhuhu hiks hiks hiks hiks.


Seorang lelaki menghampirinya, ia yang ternyata menabraknya tadi. Dia segera menolong Sonia,


"Kau tidak apa-apa dik?


Huhuhuhu hiks hiks hiks


Sonia hanya menangis kesakitan, kakinya yang berdarah tak memungkinkan untuk berdiri. Lelaki itu segera membopongnya dan menghentikan taksi.


Motornya sengaja ditinggal oleh dia, dan dia memilih mengantar Sonia ke rumah sakit.


Lelaki itu memandang Sonia, Sonia sudah berhenti menangis.


" Aku ingin pulang, aku ingin turun disini saja."


"Kamu terluka parah dik, aku tidak bisa membiarkanmu terluka seperti ini." Ucap Lelaki itu khawatir.


Sonia hanya merengek ingin pulang, lelaki itu akhirnya bingung, ia tidak bisa meninggalkannya seperti ini.


"Sebentar, ini kartu nama ku, nama ku Reno, kamu bisa datang kerumahku jika terjadi


apa-apa denganmu nantinya, aku siap bertanggung jawab."


Sonia menerima kartu itu, ia segera meminta turun, dia meyakinkan jika dirinya baik-baik saja.


***


Deru mobil menemani perjalanan mereka, setelah dari taman Reno memutuskan mengantar Sonia pulang.


Reno melirik Sonia, gadis cantik itu sedang melamun.


"Oh ya aku lupa aku harus ke suatu tempat, kita kesana sebentar ya."


Suara Reno memecah suasana,


"Kemana? kalau tau gini mending aku nyetir sendiri saja." ucap Sonia.


Reno tersenyum, "Sebentar saja."


Sonia yang masih merasa canggung dengan kejadian di taman memilih untuk diam, ada rasa malu tersimpan dibenak Sonia.


Reno mengarahkan mobil menuju ke suatu tempat, ia fokus ke jalanan.


Matanya tengah asyik memandangi ke depan dan sesekali melirik Sonia.


Beberapa menit kemudian ia sampai di sebuah toko perhiasan, mereka segera turun dari mobil.


"Kenapa kita kesini? Tanya Sonia.


"Sudah masuk dulu saja." Ucap Reno.

__ADS_1


Mereka memasuki toko emas itu, gemerlap perhiasan menghiasi etalase.


Reno segera memilih perhiasan, Sonia hanya memperhatikan.


"Coba saya mau lihat kalung yang ini."


"Baik tuan." Ucap pelayan itu dan segera mengambilkan kalung berwarna putih itu.


Kalung emas berliontinkan bentuk love terlihat indah sekali, Reno segera memasangkan di leher Sonia.


"Tolong dicoba kalung ini, aku harus memberikannya kepada seseorang."


Sonia dengan terpaksa mengikuti perkataan Reno.


Indah, sangat indah kalung putih berliontin bentuk love ini terasa indah di tubuh Sonia,


dengan reflek Sonia mau melepaskannya,


tetapi Reno segera menghentikannya.


Reno membayar kalung itu dan mereka segera pergi dari toko perhiasan tersebut.


Sonia bingung kenapa ia tak boleh melepaskannya," Ini kalungmu bagaimana?"


Reno tersenyum," Pakai saja itu untukmu."


Sonia merasa terbebani, ia segera melepas kalung itu, dia tidak ingin menerima sepeserpun dari Reno. Reno tetap menyuruh Sonia untuk memakainya, dia benar-benar tulus memberikannya tidak ada maksud lain.


"Kita belajar untuk saling mencintai." Ucap Reno.


Sonia hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Reno.


Cinta? Hahahaha...


Cinta itu seperti apa bentuknya.


"Oh iya siapa gadis yang kamu peluk itu?"


Reno terdiam, dia bingung harus menjelaskan bagaimana kepada Sonia.


"Pacarmu?"


Hufffttt....


Reno menghela nafas,


"Kamu masih berpacaran dengannya?"


"Tidak, kami sudah putus?"


"Kau masih perjaka? kau pernah melakukannya?" Ucap Sonia.


Reno sedikit tersinggung ketika Sonia menanyakan hal seperti itu.


Dia hanya diam tak menjawab, setelah itu sunyi tidak ada obrolan sama sekali.


Beberapa menit kemudian Sonia membuka obrolan lagi.


"Kupikir kamu memang pernah melakukannya, sudah berapa kali?"


Reno masih diam, ia lalu menyetir mobil dengan kencang. Dia tidak menghiraukan Sonia yang berteriak.


Tin...tin...


Klakson mobil dibunyikannya jika ada mobil lain yang menghalangi jalannya.


Lelaki ini memang gila, apa dia ingin membunuhku?


Beberapa menit kemudian mereka berhenti disebuah hotel, Reno segera turun dan menarik tangan Sonia.

__ADS_1


Reno ternyata akan memesan sebuah kamar, setelah mendapat kuncinya ia segera menarik Sonia untuk mengikutinya.


Brakk..


Suara pintu kamar yang ditutup oleh Reno, ia juga mengunci pintu itu.


Sonia yang ketakutan tidak bisa berkata


apa-apa, ia melangkah mundur.


Reno melepas kancing bajunya, ia seperti ingin menerkam Sonia.


Apa yang ingin ia lakukan?


Apa benar dia ternyata orang yang seperti ini?


Reno telah melepaskan bajunya, kini ia sudah bertelanjang dada. Dia mendekati Sonia, dan Sonia melangkah mundur.


Tidak ada tempat untuk lari, Sonia begitu ketakutan.


Seketika terlintas bayangan masa lalu, tubuhnya bergetar dan mengeluarkan keringat dingin. Dia hampir meneteskan air mata.


"Kumohon jangan lakukan ini kepadaku.


Reno semakin mendekat, dia lalu berbisik ditelinga Sonia, " Kamu mau tau kan aku masih perjaka atau tidak?, aku juga ingin tau kamu masih perawan atau tidak,


mari kita lakukan untuk pembuktian."


Hiks hiks hiks hiks hiks


Sonia menangis setelah mendengar ucapan Reno, ia begitu takut.


Reno merasa iba dan ia tak tega dengan Sonia. Dia mengusap air mata Sonia.


"Maafkan aku telah menakutimu, aku tidak bermaksud berbicara seperti itu, aku heran denganmu kenapa dari kemarin kamu berbicara seperti itu, seolah aku cowok yang brengsek." Jelas Reno.


Sonia hanya terdiam, ia masih menangis.


Dia benar-benar tak menyangka jika Reno seperti ini. Tanpa berpikir panjang Sonia ikut membuka kancing bajunya, satu persatu ia tanggalkan, setengah dada Sonia telah terlihat tetapi ia masih dalam keadaan menangis.


"Cukup jangan diteruskan" Ucap Reno.


Dia segera menutup kancing Sonia, dan ia segera memakai baju.


"Rapikan dirimu mari kita pulang." Ucap Reno.


"Bolehkah kita berciuman sekali lagi?" tanya Sonia dengan tubuh yang bergetar.


Dia teringat kenangan masa lalu yang menyakitkan, jika depresinya kambuh disini itu akan membuatnya kesulitan.


Reno terkejut mendengar ucapan Sonia, Sonia dengan cepat mencium bibir Reno.


Ciuman yang begitu hangat, mereka saling menikmati.


Entah apa yang dipikirkan Sonia, baginya ciuman itu seperti obat penenangnya.


Dia merasa tenang dan lega, ia merasa begitu nyaman dengan ciuman itu.


Dia melihat wajah Reno dilepaskannya ciuman itu, Reno dengan cepat membalas ciuman Sonia


Mereka benar-benar hanyut dalam suasana.


Sebentar saja, aku ingin melepaskan beban berat di hidupku.


Ya.. Lelaki ini membuatku merasa nyaman ketika ia berada didekatku.


Cinta? Sepertinya kita memang belum saling mencintai, hanya sebatas rasa nyaman saja.


Aku benar-benar menikmatinya, seperti inikah rasanya?

__ADS_1


__ADS_2