Mariana

Mariana
Berada di desa


__ADS_3

Sonia terbangun dari tidurnya, ia melihat Reno yang sudah tidak ada disebelahnya.


Sonia memegangi kepalanya dengan erat, betapa bodohnya menceritakan hal memalukan kepada Reno.


Jam menunjukan pukul 9 pagi, rasa dingin menyeruak ke seluruh tubuh. Di desa tertinggi di pulau ini suhunya bisa mencapai 5 derajat celcius, suhu yang bisa membuat embun pagi membeku. Entah darimana Reno tau keberadaan desa ini, itu yang terlintas di benak Sonia.


Dia menurunkan kaki di lantai, ia bisa merasakan dingin lewat telapak kakinya.


Sonia memantapkan diri untuk keluar kamar, ia merasa malu untuk menunjukan muka ke Reno setelah kejadian semalam.


Dia mencari keberadaan Reno yang ternyata di depan tungku dapur, Reno menjulurkan kedua tangannya mendekat sumber api itu untuk mendapatkan kehangatan.


Sonia berjalan pelan menuju kamar mandi, ia tidak ingin Reno mengetahuinya. Reno melirik Sonia seolah membiarkannya masuk ke dalam kamar mandi.


Sonia mengambil gayung dan mengambil air, ia menyiramkan air itu ke mukanya.


"Aaaaaaah...."


Suara jeritan dari Sonia karena air itu sangat dingin, ia menjatuhkan gayung itu sampai terkena telapak kakinya.


"Aduuuh...."


Dia mengusap telapak kakinya terkena gayung yang berisi air, ia nampak kesakitan.


Tiba-tiba Reno datang membuka pintu kamar mandi, ia panik karena mendengar Sonia berteriak. Dia membantu Sonia untuk bangun.


"Ada apa Sonia? Kenapa kamu berteriak?"


Sonia menunjuk air dalam bak mandi itu, Reno seakan tahu apa yang di maksud Sonia.


Dengan sigap Reno berjalan ke dapur mengambil segayung air panas, ia membawa kembali ke kamar mandi dan meletakkannya di ember kecil, tak lupa ia menambah beberapa gayung air supaya air itu menjadi hangat.


"Cepat gosok gigi dan cuci mukamu dengan air hangat ini, aku akan membuatkanmu kopi," ucap Reno.


Sonia seolah malu menatap wajah Reno, ia tidak bisa berkata-kata seolah lidahnya sangat kelu. Dia segera menyiram mukanya dengan air hangat dan tidak lupa menggosok gigi setelah itu ia keluar kamar mandi dan menuju kursi kecil dekat tungku api.


Reno membawakannya segelas kopi dan duduk di sebelah Sonia.


"Aku.... Aku... hmm..," ucap Sonia kebingungan.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak melaporkannya ke polisi?


dan apa keluargamu tau tentang pelecehan itu?"


Sonia terdiam cukup lama, lidahnya kini kembali kelu seakan susah untuk menjelaskannya. Dia menggenggam gelas kopi yang belum sempat ia minum, ia berusaha menjelaskan yang sejujurnya dan membuat Reno tidak kecewa.


"Keluargaku tau semua tentang pelecehan itu, mereka memang sengaja untuk menutupinya lalu memindahkan Arkan ke luar negeri."


Kini satu persatu rahasia keluarga dari pendiri Stars Group terpecahkan, Reno tak menyangka kehidupan Sonia begitu kelam. Tangan Reno mengepal kuat memikirkan Sonia yang selalu di jahati oleh keluarganya.


"Aku akan bantu mengungkap kasus pelecehanmu! Akan ku jebloskan kakakmu ke penjara."


Sonia terkejut mendengar ucapan itu, ia tau jika Reno sangat tidak terima istrinya diperlakukan seperti itu. Sonia memeluknya erat, ia mengatakan tidak perlu seperti itu. Keluarganya sangat berbahaya terutama Papa Sonia, ia berani menyuap pihak kepolisian dengan jumlah uang yang fantastis untuk menutupi kasus itu dan yang melaporkannya akan di jebloskan ke penjara tanpa ampun.


"Aku tidak takut Sonia! Aku tidak terima istriku di perlakukan seperti itu!"


"Kumohon jangan! Jangan membuat Papa ku marah, aku bisa saja dikirim ke luar negeri dan parahnya Papa ku bisa menghancurkan seluruh bisnismu. Ku mohon Reno, aku mencintaimu tidak ingin berpisah denganmu. Jangan melakukan hal yang bisa membuat kita berpisah."


Reno menghela nafas, ia mengelus punggung Sonia yang memeluknya. Dia seakan tau kesedihan Sonia selama ini yang terpendam lama, ia cukup senang Sonia bisa berbicara jujur kepadanya. Dalam benaknya Reno tetap akan mengungkap kasus itu secara diam-diam tanpa sepengetahuan Sonia.


"Tapi kamu yakin jika hanya di sentuh saja? Dia tidak melakukan itu kepadamu?" tanya Reno masih penasaran.


"Aku berani bersumpah Reno, aku tidak pernah melakukan dengannya."


Aku bisa melihat darah segar mengalir di area nya.


Nenek melihat mereka dari jauh seolah mengerti masa lalu Sonia, dia hanya berdoa supaya Reno bisa melindungi Sonia dan menerima istrinya apa adanya.


Goresan luka dari masa lalu seolah tergambar jelas di wajah Sonia, Sonia masih memendam lukanya sendiri. Dia enggan bercerita tentangnya yang meminum obat penenang, ia takut jika Reno menganggapnya gila.


"Kamu jijik denganku?" tanya Sonia dengan tidak yakin.


Reno tersenyum dan menggelengkan kepala, ia tidak mau membebani pikiran Sonia.


Itu hanya masa lalu yang ingin di lupakan Sonia, kini tubuh Sonia adalah milik Reno seutuhnya. Dalam pikiran Reno, Sonia tidak akan menyerahkan tubuhnya dengan gampang kepada pria lain termasuk kakak tirinya. Bahkan Reno belum tau wajah dari iparnya itu, ia ingin bertemu dengannya dan membalaskan dendam untuk Sonia.


Reno menyuruh Sonia segera meminum kopi yang kini kadar panasnya telah hilang karena obrolan panjang mereka, setelah itu Reno menggandeng tangan Sonia menuju ke suatu tempat. Sonia mengikutinya dengan ceria karena Reno sudah tidak marah lagi kepadanya, ia juga lega satu persatu rahasianya telah di ketahui oleh Reno.


Tinggal menunggu waktu untuk menceritakan rahasia yang lain.

__ADS_1


Reno memakaikan syal kepada Sonia, ia akan mengajak ke tempat wisata yang dekat dengan desa itu. Sonia menanyakan keberadaan Dylan yang sedari tadi tidak nampak batang hidungnya, Reno menjelaskan jika Dylan sudah berangkat sekolah jam 7 pagi dan Reno yang mengantarnya sampai sekolah.


Setelah itu Reno dan Sonia berpamitan kepada nenek bahwa akan keluar sebentar berjalan-jalan melihat desa ini, desa yang pemandangannya memanjakan mata bagi siapa yang memandang.


Setelah berpamitan mereka meninggalkan desa dengan berjalan kaki, jarak desa dari tempat wisata itu sekitar 1 KM. Reno memang memilih untuk berjalan kaki supaya bisa melihat pemandangan dengan puas.


Dia menggandeng tangan Sonia yang terasa dingin, ia menggenggamnya dengan erat.


Sonia tertawa membuat Reno kebingungan.


"Kenapa Sonia?"


"Bahkan kita tidak pernah melakukan proses pacaran sebelumnya, kita langsung menikah."


"Iya memang benar, aku berpacaran dengan orang lain bertahun-tahun tetapi malah menikah denganmu mendadak."


"Hahaha.... Semua ini membuatku cukup geli. Tapi menurutmu lebih enak pacaran atau menikah?" tanya Sonia.


"Menikahlah, kita bisa melakukan itu setiap hari semau kita," ucap Reno menyeringai.


Sonia tersipu malu mendengar ucapan Reno, hal yang dulu sangat di takuti Sonia malah kini ia lakukan dengan senang bersama suaminya itu. Dia kini masih mengharapkan seorang bayi, tetapi ia tidak yakin untuk bisa hamil kembali. Dia beruntung bisa menikah dengan Reno, lelaki yang sangat baik dan menerima apa adanya.


"Mari kita berfoto!" ucap Sonia mengeluarkan handphonenya.


Setelah mereka mengambil beberapa foto, Sonia segera mengunggah di akun IG nya.


Selama ini ia tidak pernah menunjukan kepada publik kemesraannya bersama suami.


Bahkan foto Reno tidak ada di akun IG Sonia.


"Bersama suami tercinta, aku mencintaimu Reno." ucap Sonia mengetik di handphonenya.


"Eh! Baru beberapa detik diunggah banyak yang komen positif tentang kita," ucap Sonia menatap Reno dengan bahagia.


"Tunggu ada yang komen, wah! akhirnya Sonia mempublikasikan foto sang suami. Padahal suaminya selalu mengunggah fotomu setiap hari dari awal kalian menikah!"


Sonia kebingungan dengan komen itu, ia menatap Reno yang tersenyum.


Sonia lalu menanyakan nama akun milik Reno, selama ini ia tidak peduli dengan urusan pribadi Reno.

__ADS_1


Mata Sonia terbelalak, ia mendapati foto closeup miliknya seperti di foto secara diam-diam oleh Reno. Fotonya tengah makan, sedang tersenyum, sedang berbelanja, sedang syuting dan lain-lain berada di akun IG Reno. Foto itu berjumlah ratusan dengan like dan komen sangat banyak terutama dari kaum perempuan seakan memuji keromantisan Reno.


"Kamu mendapat semua fotoku dari mana? Jangan-jangan kamu diam-diam mengikutiku?"


__ADS_2