
Suara deru mobil menemani perjalanan pulang mereka, pemandangan nan sejuk tak lupa menghiasi perjalanan yang bagi Reno mengecewakan. Dia tidak berhasil membujuk kakek dan nenek untuk ikut ke kota bersamanya, tapi di balik itu ia masih bingung dengan ucapan nenek tentang rumah tangganya. Jantung Reno berdegup kencang ketika mengingat perkataan itu, dia yakin rumah tangganya akan bahagia sampai tua nanti dengan anak-anaknya.
Sudah 2 kali nenek berucap seperti itu, maksud nenek apa? Apakah itu hanya alasan supaya Dylan tidak boleh kubawa bersamaku?
"Reno?" tanya Sonia kepada Reno, Reno tidak bergeming.
"Hey!" ucap Sonia sambil menepuk pundak Reno.
Reno kaget, ia melirik Sonia.
"Jangan melamun! Sebelah kita jurang!"
Reno menganggukan kepala, ia kini lebih fokus menyetir mobil. Semua pikiran yang memberatkannya kini ia buang jauh-jauh, ia tidak mau Sonia curiga kepadanya.
3 jam kemudian.
Kini mereka sudah sampai di kota tetapi Reno mengarahkan ke suatu tempat, ia ingin membuat Sonia senang.
Tujuannya kali ini adalah taman hiburan, Reno mengingat akan kenangannya bersama Sonia saat 6 tahun yang lalu.
Kenangan yang tidak akan terlupakan seumur hidup, tapi mungkin Sonia tidak akan pernah mengingatnya.
Taman hiburan itu belum berubah sama sekali, masih terlihat ramai walaupun ini adalah hari biasa. Terdengar suara jeritan dari orang-orang yang naik roller coaster cukup menggema di telinga. Ada juga anak kecil yang merengek meminta sesuatu tetapi tidak dituruti oleh orang tuanya.
Sonia bingung kenapa Reno membawanya ketempat seperti ini, ia merasa sudah terlalu dewasa untuk datang ke tempat ini.
Reno menawari Sonia untuk menaiki beberapa wahana, tetapi Sonia menolak terlebih lagi ia harus naik sendirian karena Reno tidak mungkin naik dengan bahu yang masih terasa sakit.
Mereka memutuskan duduk di sebuah bangku, mereka menikmati hilir mudik orang-orang yang berlalu lalang.
"Kamu mau permen kapas?" tanya Reno.
"Tidak, aku bukan anak kecil"
Bahkan dulu kamu suka sekali memakannya hingga habis 2 bungkus permen kapas.
Reno mengingat semua kenangannya bersama Sonia 6 tahun yang lalu, sungguh kenangan yang tak terlupakan. Dia menyesali perbuatannya karena sudah meninggalkan Sonia dalam keadaan hamil.
Pasti kehidupan Sonia sangatlah berat, keluarganya seperti tidak memperdulikan Sonia. Keluarganya begitu tega memisahkan Sonia dengan anak kandungnya sendiri sampai membuat Sonia melupakannya.
Kakak tirinya juga kurangajar melecehkan Sonia, aku ingin menghajarnya!
"Papa?!" ucap Sonia memukul bahu Reno.
Reno terkejut dengan ucapan Sonia yang memanggilnya dengan sebutan Papa.
"Terus aku harus memanggilmu apa? Sepertinya kamu tidak senang?"
"Iya Mama, aku suka dengan panggilan seperti itu"
"Apa? Mama? Huh! Aku seperti emak-emak saja, aku tidak suka!"
__ADS_1
Wanita memang susah dimengerti, dia memanggilku dengan sebutan Papa tetapi dia tidak mau dipanggil dengan sebutan Mama.
"Honey. Panggil aku honey!"
"Iya honey" ucap Reno tersenyum.
"Sayang, aku ingin masuk ke rumah hantu"
Hahaha belum 5 menit dia memanggilku dengan sebutan berbeda lagi. Memang hati perempuan susah ditebak.
Reno menuruti permintaan Sonia yang ingin masuk ke rumah hantu.
Mereka berjalan beriringan sambil berhati-hati dengan hantu palsu yang tiba-tiba mengagetkan.
Sonia menunjukan wajah angkuhnya yang seolah berani, ia tidak merasa takut dengan hantu palsu itu.
Braaaak...
Suara bantingan pintu terdengar, mereka mulai mendengar hantu palsu yang tertawa cekikan, Reno mulai was-was dan Sonia semakin memasang wajah berani.
Reno memegang erat lengan Sonia, ia kini mulai merasa ketakutan. Bulu kuduk mulai merinding ketika bahu Reno seakan ada yang menepuk dari belakang.
Sebuah tangan keriput terlihat pucat menempel di bahu itu, Reno semakin ketakutan.
Sonia menengok ke belakang, ia langsung mendorong hantu jadi-jadian itu.
"Dasar kunti keganjenan! Berani-beraninya menyentuh suamiku yang tampan ini! Sadar woy mukamu kayak pantat panci!" umpat Sonia.
"Heh! kamu pocong yang disitu! Sini urusin pacarmu jangan sentuh suami orang! Dasar hantu murahan!"lanjut Sonia mengumpat.
Sonia memandang wajah Reno dengan ekspresi mengejek, dia sangat puas melihat wajah Reno yang memucat.
"Kamu seorang pria gagah dengan postur tubuh yang oke takut dengan hantu palsu? Bagaimana jika ingin melindungi keluargamu nanti jika kamu penakut? Hahaha"
"Aku hanya kaget Sonia, bukan takut!"
"Aku sudah tau kelemahanmu, hehehe"
"Terserahlah ayo kita pulang," ucap Reno marah.
__________________________________
Reno dan Sonia segera memasuki rumah, rumah dalam keadaan sepi, sampai mereka mendengar teriakan wanita.
Insting Reno lalu memikirkan Rachel, memang suara itu adalah suara Rachel seperti menangis dan berteriak histeris.
Mereka dengan cepat menuju ke kamar Rachel, Reno mendapati Rachel menangis sesegukan yang di tenangkan oleh Papa dan Mama.
Tau akan kedatangan sang kakak, Rachel segera memeluk Reno, ia menangis sejadi-jadinya.
"Hiks hiks.... Kakak. Aku tidak mau dijodohkan! Papa dan Mama memaksaku untuk menikah! Tolong aku kak! Hiks hiks.."
__ADS_1
Reno memandangi Papa dan Mamanya, ia merasa kesal. Padahal Reno sudah memperingatkan jika tidak usah mencampuri urusan percintaan kedua adiknya, Reno sudah mengalah untuk mau di jodohkan oleh orang tuanya. Papa Reno memandangi Sonia yang berdiri di depan pintu, ia menyuruh Sonia untuk keluar karena ini menyangkut masalah pribadi keluarga. Sonia menurut dan menuju kamarnya, ia menelpon Papanya.
"Pah? David jadi di jodohkan dengan Rachel?"
"Iya. Kenapa Sonia?"
"Lebih baik batalkan saja pah, Rachel tidak setuju menikah dengan David"
"Kita tidak perlu memperdulikan keputusan Rachel. Kedua orang tuanya pun setuju"
Pasti ada sesuatu dibalik kedua keluarga ini.
Tidak mungkin hanya masalah saham saja, pasti ada yang lain.
Disisi lain Rachel membuat pengakuan mengejutkan, ia mengaku sedang hamil bersama pria bule yang di kenalnya.
Tetapi pria itu malah pergi meninggalkan Rachel, Papanya semakin marah dan ingin menampar Rachel tapi Reno melindungi adiknya itu.
Tuhan. Apakah ini karma untukku karena aku dulu menghamili seorang gadis lalu meninggalkannya? Dan kini terjadi kepada adik perempuanku sendiri.
Mama menenangkan suaminya , ia membawa Papa untuk keluar. Kedua orang tua itu sangat bingung dan pasti malu, apalagi dengan keluarga Sonia. Dan mungkin keluarga Sonia tidak akan mau menikahkan David dengan Rachel.
Reno dengan lembut menenangkan adiknya, ia mengusap air mata Rachel. Tampak pancaran wajah Rachel sangat terpukul dan terluka.
"Siapa pria bule itu? Ku pikir kamu berpacaran dengan Jonathan" tanya Reno sambil memeluk Rachel.
"Aku memang berpacaran dengan Jonathan tapi aku mengkhianatinya karena ada pria bule yang baik denganku, malah dia lebih baik dan perhatian daripada Jonathan"
"Kabur kemana pria bule itu? Biar kakak mencari dan menyuruh segera menikahimu!" ucap Reno berapi-api.
"Jangan kak! Hiks hiks hiks... Dia sudah mempunyai keluarga dan memiliki seorang anak. Hiks hiks hiks"
Reno merubah ekspresinya menjadi marah, ia tidak menyangka jika adiknya melakukan hal seperti itu. Adiknya merusak rumah tangga orang dan menurut Reno yang salah memang Rachel, ia telah menyakiti 2 pria sekaligus yaitu David dan Jonathan.
Terdengar pintu kamar di ketuk, Sonia masuk ke kamar Rachel.
Reno yang melihat Sonia nampak ragu untuk masuk segera memberi kode untuk mendekati mereka.
Reno menceritakan kepada Sonia apa yang terjadi dengan Rachel sambil tetap memeluk adiknya yang menangis sesegukan.
"Sonia? Kamu pernah diposisiku kan? Apa yang kamu lakukan saat itu? Hiks hiks.." tanya Rachel.
Sonia masih bingung dengan pertanyaan dari Rachel, Reno segera mengalihkan pembicaraan.
Tiba-tiba kepala Sonia terasa sakit, dipikirannya tergambar jelas jika dulu ia di pukuli Papanya tanpa sebab yang pasti.
Papanya memukuli tanpa ampun sampai membuat tulang rusuk Sonia sampai retak dan Arkan mencegah amukan Papa tirinya itu dengan mengaku jika yang menghamili Sonia adalah dirinya, padahal tidak. Arkan memang menyukai Sonia tapi dia hanya sebatas mencium dan memegang dada Sonia.
Maka dari itu Arkan dikirim ke luar negeri supaya tidak bisa dekat dengan adiknya itu.
Huh! Kepalaku sakit sekali.
__ADS_1
Aku harus bertanya kepada Papa kenapa dia memukuli ku sampai seperti itu?.
Kenapa? Kenapa? Hah! Otakku rasanya buntu jika harus memikirkan itu.