
Setelah dari tempat wisata dan mampir untuk makan, Sonia dan Reno berniat untuk membantu kakek di kebun. Dia juga mendapati Dylan sudah berada disana sepulang dari sekolah.
Kakek mempunyai kebun sayur dan beberapa buah-buahan seperti jambu merah dan jeruk.
Reno nampak lihai membantu kakek, ia sudah terbiasa membantu kakek ketika mengunjungi desa kecuali Sonia yang seakan jijik dengan tanah yang masuk ke kuku-kukunya yang terawat.
Sonia memilih untuk duduk di gubuk saja, ia memperhatikan suaminya dengan tatapan lembut dan tersenyum.
Reno berasal dari keluarga kaya tetapi ia tidak pernah jijik dengan pekerjaan yang menurutku jorok bahkan ia disini bisa mandi dengan air sedingin es. Pantas saja Veronica tergila-gila dengannya.
Dylan. Anak itu memang mirip dengan Reno, aku harus mencari tau siapa sebenarnya anak itu.
Kurasa Dylan memang anak Reno dengan wanita lain sebelum menikah denganku.
Waktu tak terasa sudah sangat sore, terlihat kabut juga mulai turun. Kakek memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya dan mengajak mereka pulang. Nampak Sonia juga sudah kelelahan karena aktivitasnya sedari pagi.
Reno dengan sigap menggendong Dylan, ia harus melepaskan rindu kepada Dylan karena esok ia harus pulang ke kota.
Sesampainya di rumah, Reno dan Dylan mandi bersama-sama dengan air es itu.
Membayangkan saja sudah merasa ngeri.
Sonia mencuci tangannya, ia berusaha menghilangkan bekas tanah yang menempel.
Tanah itu telah masuk kedalam kuku membuatnya kesusahan untuk membersihkan.
Harus potong kuku jika begini, tapi aku tidak bisa memotong kuku sendiri.
Setengah jam kemudian.
Sonia telah selesai menyelesaikan mandi hingga sebersih mungkin, tetapi kuku kotornya masih dipenuhi tanah.
Dia mencari Reno yang tengah asyik menyuapi Dylan, Sonia tersenyum dan memeluk Reno dari belakang.
"Aku akan berusaha memberikanmu anak, aku ingin kamu juga perhatian kepada anak kita nanti," ucap Sonia mencium pipi Reno.
Di depanmu ini adalah anakmu Sonia.
Huh! Aku tidak sabar melihat reaksimu bahwa Dylan adalah anak kita.
"Pasti aku akan perhatian dengan anak-anak kita nanti," ucap Reno juga mencium pipi Sonia.
Setelah selesai menyuapi Dylan, ia membiarkan Dylan bermain game di kamar.
Sonia dengan cepat menggandeng Reno ke halaman belakang, Reno nampak kebingungan melihat tingkah Sonia.
Sonia duduk di kursi sementara Reno masih berdiri kebingungan.
__ADS_1
"Potongkan kuku ku!"
Sonia mengulurkan jemarinya yang sangat kotor, Reno terkejut melihatnya. Kuku Sonia yang hitam karena tanah segera di potong oleh Reno dengan hati-hati. Sonia memandang Reno dengan tatapan kagum.
"Kamu tidak bisa memotong kukumu sendiri?"
"Jika aku bisa aku akan memotong sendiri tanpa menyuruhmu"
"Terus apa yang kamu bisa?" tanya Reno menatap mata Sonia.
"Membuatmu lemas ketika di ranjang," jawab Sonia sedikit berbisik.
Reno terkejut dengan ucapan Sonia yang membuatnya tertawa, tak disangka Sonia sudah mulai berani menggodanya.
Reno melanjutkan memotong kuku Sonia, ia tak lupa membersihkan sisa tanah yang masih menempel tanpa merasa jijik.
"Reno"
"Hemm"
"Punyamu berapa centi?"
Mata Reno terbelalak mendapat pertanyaan tak terduga dari Sonia, Sonia melihat ekspresi Reno segera menutup mulutnya. Sepertinya ia memang salah bertanya, Reno menggeleng-gelengkan kepalanya dan mulai tersenyum lebar.
"Kamu sudah sering lihat kan? Kamu pasti bisa menjawab sendiri dari pertanyaanmu itu"
Bodoh! Gara-gara efek dingin pikiranku meracau kemana-mana.
Hah! Bodohnya aku juga menonton film asyik itu, pasti jika Reno tau ia akan menertawakanku.
Harga diriku sebagai perempuan hancur.
Sonia merebahkan dirinya diranjang, ia sungguh malu jika harus menatap Reno lagi.
Tiba-tiba ia mendengar suara pintu terbuka, Sonia dengan cepat menutup mata.
Reno mendekati Sonia dan mengelus pipinya, ia memegang dada istrinya yang nampak tegang. Reno bisa mendengar detak jantung Sonia berdegup kencang.
"Kamu terlalu baper, maksud pertanyaanku tadi rambutmu berapa centi?" ucap Sonia sedikit berteriak lalu terduduk di depan Reno.
"Kenapa kamu malah jadi panik sendiri?" tanya Reno menyeringai.
"Ah Sudahlah! Oh ya kamu mau datang kan di acara nonton film perdanaku bersama para pemain lainnya?"
Reno menganggukan kepala, ia membelai rambut hitam Sonia. Dia memang harus datang ke acara itu terlebih lagi ada Bima.
Dia harus menjaga Sonia dari Bima, ia sudah mencari info detail tentang Bima.
__ADS_1
Pria yang lebih muda dari Reno itu bahkan seumuran dengan Rizky ternyata memiliki riwayat buruk seperti berganti-ganti pacar, menggunakan narkoba dan sex bebas bersama wanita-wanita penghibur.
Reno masih menyembunyikan rahasia Bima seorang diri, ia cukup tau jika Bima adalah anak broken home. Orang tuanya bercerai karena kasus perselingkuhan dimasa lampau.
Kini Bima hanya sebatang kara yang haus oleh perhatian, maka dari itu ia memilih menjadi seorang artis yang di segani oleh banyak orang.
Reno menyimpan informasi itu untuk kepentingannya sendiri, ia tidak mau ikut campur masalah pribadi Bima.
"Bima tidak menghubungimu lagi?" tanya Reno.
"Tidak, dia cuman mengirimkan pesan saja bahwa aku harus datang di acara itu bersama keluargaku"
"Tapi...," Sonia menghela nafas panjang, " entah kenapa Bima dan Rani seolah menjauhiku, padahal aku merasa tidak punya masalah dengan mereka" ucap Sonia sedih.
"Syuting film kalian kan sudah selesai mungkin mereka punya kesibukan lain?"
"Sesibuk itukah hingga tidak mau mengangkat teleponku? Sepertinya mereka memang sengaja menjauhiku, padahal aku cukup senang mempunyai teman. Selama ini aku tidak mempunyai teman seasyik mereka"
Reno memeluk Sonia, dia tau istrinya itu hanya butuh seorang teman, tetapi Reno akan berusaha menjadi suami sekaligus teman Sonia dalam suka maupun duka.
______________________________________
Sebuah fakta yang cukup mengejutkan bagi kakek dan nenek, Reno tengah mengajak mereka untuk tinggal di kota bersama Dylan.
Pasangan suami istri itu tidak setuju, mereka ingin menghabiskan masa tua berada di desa. Kakek juga tidak mungkin meninggalkan kebunnya, ia harus menggarapnya sendiri sambil berolahraga.
"Kamu boleh membawa Dylan bersamamu. Tapi apakah Sonia mau menerimanya? Dia kini tidak mengingat jika Dylan adalah anak kandungnya, kakek bisa melihat jika Sonia tidak menyukai Dylan" ucap kakek sambil matanya melihat Sonia dan Dylan bermain di pekarangan rumah.
"Nenek tidak setuju jika kamu membawa Dylan, biarkan dia disini menemani kami! Terlebih lagi sesuatu hal buruk akan menimpa rumah tanggamu, nenek tidak mau Dylan menjadi korbannya!"
Ucapan nenek membuat Reno tersentak, ia cukup marah mendengar perkataan nenek tentang rumah tangganya, ia merasa jika hubungannya bersama Sonia baik-baik saja.
Tetapi Reno meredam amarah itu, ia hanya mengalah dan membiarkan Dylan berada didesa.
Saat ini hanya kecewa lah yang dirasakan Reno, tapi apa boleh buat ia harus merelakan anaknya dibesarkan oleh orang lain.
Setelah mengakhiri obrolan, Reno segera berpamitan dengan kakek dan nenek di karenakan harus pulang ke kota.
Reno memeluk Dylan, ia menciumi wajah anak kecil yang menggemaskan itu, perasaan sedih melandanya karena harus berpisah dengan anak kandungnya lagi.
Kuyakin jika Dylan adalah anak Reno bersama wanita lain. Batin Sonia.
"Papa akan kesini lagi kan?" tanya Dylan sedih.
"Papa akan kesini lagi jika tidak sibuk," jawab Reno.
Reno dan Sonia lalu meninggalkan desa di pagi itu juga.
__ADS_1