Mariana

Mariana
Kak Satya mengamuk


__ADS_3

Malam telah tiba, hawa dingin mulai terasa, para kru segera membereskan perlengkapannya, para pemain film siap-siap untuk pulang.


Sonia masih bingung ia harus pulang naik apa, Bima yang melihatnya langsung menawarkan tumpangan.


"Tidak usah aku bisa naik taxi." Ucap Sonia.


Diujung jalan terparkir sebuah mobil sport, pria itu keluar dari mobil, ia berjalan kearah lokasi syuting.


Para kru dan pemain film lain memandangnya.


"Benar-benar tampan." Ucap Maharani.


Sonia tidak menyadari jika Reno menghampirinya, ia asyik mengobrol dengan Bima.


"Sudah selesaikah syutingnya?" Ucap Reno sambil memeluk Sonia dari belakang, Sonia sempat terkejut.


Bima tersenyum kearah Reno, Reno membalas dengan senyuman juga, Bima segera berpamitan untuk pulang.


Sonia segera melepas tangan Reno yang memeluknya dari belakang, ia segera menuju mobil, Reno mengekor di belakang Sonia.


Wajah Sonia cemberut karena Reno melakukan hal yang memalukan.


Reno segera menyetir mobilnya, ia menawari Sonia untuk mampir makan, tetapi Sonia hanya diam.


"Kamu harus jaga jarak dengan Bima, aku berfirasat buruk terjadi sesuatu dengan kalian berdua." Ucap Reno sambil fokus menyetir mobil.


Sonia diam, ia tidak mempercayai perkataan suaminya, baginya Bima adalah sebatas rekan kerja.


Reno mengarahkan mobilnya menuju cafe, dalam perjalanan mereka hanya terdiam.


Dddrrr ddrrrrt dddrrrt


Suara handphone milik Reno memecah kesunyian, ia segera mengangkatnya.


Terdengar suara perempuan dibalik telpon itu, Sonia hanya meliriknya.


"Besok kakak sibuk, kamu suruh Papa, Mama atau Rizky untuk menjemputmu." Ucap Reno.


Seketika telepon ditutup oleh wanita itu, Reno hanya bisa menghela nafas. Dia melanjutkan untuk mengemudikan mobilnya.


Kling...


Sebuah pesan dari handphone Sonia, ia segera membukanya, matanya terbelalak ketika membaca pesan itu.


"Reno bisakah kamu turunkan aku disini? Mendadak ada urusan penting." Ucap Sonia.


"Biarku antar saja, ini sudah malam." Jawab Reno sambil melirik Sonia.


Tidak ada waktu berpikir, Sonia langsung mengiyakan ucapan Reno, Sonia segera menunjukan alamat yang di tuju. Reno dengan cepat memutar balik mobilnya, ia melihat wajah Sonia begitu panik.

__ADS_1


Alamat yang dituju terasa asing bagi Reno, sampai ia menemukan fakta jika alamat yang dituju adalah rumah sakit jiwa.


Sempat ingin bertanya kepada Sonia tetapi ia urungkan karena tidak ingin menambah kegelisahan Sonia.


Setelah sampai didepan rumah sakit itu, Reno segera memarkirkan mobil, dengan secepat kilat Sonia segera berlari masuk menuju ke ruangan kakaknya, Reno segera mengikutinya.


Nafas Sonia terengah-engah karena berlari, ia terkejut ketika memasuki ruangan kakaknya.


Kepala kakaknya dipenuhi luka memar, darah sedikit menetes dari keningnya.


"Sonia untung kamu segera datang, kakakmu mengamuk dan menggedor-gedorkan kepalanya ke tembok, kami para dokter dan suster sudah kuwalahan, bahkan obat penenang yang kita berikan tidak memberikan efek." Ucap Suster.


Reno yang tertinggal di belakang segera memasuki ruangan itu, ia masih berpikir siapakah pria itu sampai membuat Sonia terburu-buru datang kesini.


Sonia segera mendekati kakaknya, ia berjalan pelan. Dokter dan suster memperingatkan jika harus berhati-hati karena mungkin sekarang kak Satya tidak mengingatnya.


"Kak, ini Sonia." Ucap Sonia sambil melangkah pelan, Kakaknya hanya terdiam duduk dilantai kepalanya bersandar pada tembok.


Kini Sonia berjongkok didepan Kakaknya, dia memegang tangan Kakaknya, ia percaya bahwa kakaknya tidak akan melukai dirinya.


Tetapi tiba-tiba tangan kakaknya menjambak rambut Sonia, ia membenturkan kepala Sonia ketembok dengan keras sampai mengeluarkan darah, kakaknya lalu mencengkram tangan Sonia kuat sampai membekas goresan merah dan sedikit mengeluarkan darah.


Dokter dan para suster segera memegangi kak Satya, dirantainya tubuh kak Satya itu diranjang.


Reno segera menghampiri Sonia, ia melihat istrinya begitu syok dan berdarah segera membawanya kerumah sakit, Sonia menolak ia ingin pulang kerumah, Reno menurutinya.


Dalam perjalanan ia melirik Sonia yang sedang melamun, ia juga melihat darah Sonia yang mengalir dikeningnya, Reno segera menepikan mobil, ia mengambil selembar tisu diusapkannya tisu itu dikening Sonia.


Sonia masih diam tak bergeming, Reno yang memandangnya khawatir, ia segera melanjutkan perjalanannya untuk pulang kerumah.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai dirumah. Reno segera membantu Sonia berjalan, ia merasakan tubuh Sonia yang bergetar, tiba-tiba Sonia pingsan.


Reno yang panik segera membopongnya masuk ke dalam rumah.


Mama Reno melihat Sonia yang seperti itu segera menghampirinya.


"Ada apa dengannya Reno?" Tanya Mama.


"Mama gak usah khawatir dia hanya pingsan."


Ucap Reno ia segera membawanya ke kamar.


Mama yang tidak ingin ikut campur membiarkannya, ia pikir Reno dan Sonia bertengkar.


Reno segera masuk ke kamar, ia merebahkan tubuh Sonia di ranjang. Reno segera mengambil kotak obat, ia mengobati kening Sonia dan tangannya yang berdarah-darah.


Beberapa menit kemudian Sonia telah siuman, ia melihat Reno yang menatapnya.


"Biar ku ambilkan minum dulu." Ucap Reno tetapi tangannya dipegang oleh Sonia dengan kuat.

__ADS_1


Sonia seketika memeluk Reno yang tengah terduduk disebelahnya, ia menangis


sejadi-jadinya.


Hiks hiks hiks hiks hiks.


Reno yang merasa iba segera mengelus-elus rambut Sonia.


Hiks hiks hiks hiks hiks.


Sonia selama 10 menit menangis di pelukan Reno, Reno seperti enggan untuk bertanya.


Dia memilih untuk diam supaya tidak membuat sedih Sonia.


"Reno jika aku cerita ke kamu, apakah kamu mau merahasiakannya dari siapapun, kamu janji?" Ucap Sonia yang masih menangis di pelukan Reno.


"Aku berjanji akan merahasiakannya." Jawab Reno.


Sonia segera melepas pelukannya, ia mengusap air matanya, ia menatap Reno.


"Pria yang mengamuk itu adalah kakak kandungku." Ucap Sonia membuat Reno kaget, Reno masih diam ia masih ingin mendengarkan penjelasan dari Sonia.


"Dia terkena gangguan jiwa sejak SMP, keluarga kami seolah menyembunyikan fakta tersebut dan menghilangkannya dari kartu keluarga kami, David dan yang ku panggil Mama itu bukan keluargaku, mereka adalah ibu tiri dan saudara tiriku. Mama kandungku telah meninggal sewaktuku kecil." Jelas Sonia sambil meneteskan air matanya.


Reno yang mendengarnya sedikit terkejut, ia tak bisa berkata-kata hanya menatap Sonia yang menangis.


"Itu hanya sebagian rahasia besar dari keluargaku, yang lain aku tidak bisa menceritakannya." Ucap Sonia.


Reno segera memeluk Sonia, "Mereka ingin membuangku juga, makanya mereka segera menikahkanku denganmu." Lanjut Sonia.


"Kamu menikah dengan orang yang tepat, aku akan melindungimu, tapi apakah biasanya kakakmu seperti itu kepadamu?" Tanya Reno.


Sonia menggelengkan kepala, baru sekali ini kakaknya melukai dirinya, mungkin ada sesuatu yang menjadi pemicunya.


Perut Sonia tiba-tiba berbunyi, Reno mendengarnya lantas memesankan makanan.


Setengah jam kemudian makanan itu sampai, mereka segera melahapnya dikamar.


Sonia seperti tidak nafsu makan, akhirnya Reno dengan cepat menyuapinya.


"Besok kamu izin saja dari syuting, aku akan bilang ke sutradaramu." Ucap Reno sambil menyuapi Sonia.


Sonia menggelengkan kepala, ia tidak bisa libur karena ia adalah pemeran utama yang lebih banyak mengambil take ketimbang pemain lain.


"Kamu ingin syuting dengan tubuh yang seperti itu?" Tanya Reno sambil menunjuk dahi dan lengan Sonia.


"Ini bisa di tutupi dengan make up, jangan khawatir." Jawab Sonia.


Sepertinya bukan suatu hal buruk menikah dengan Reno.

__ADS_1


Dia bisa membuatku tenang dalam kondisi yang seperti ini.


__ADS_2