
Hari yang menegangkan telah tiba, hari dimana harus melepas masa lajang.
Hari yang akan menimbulkan masalah baru, hari yang membuat Sonia mengabdi sebagai seorang istri.
Terpaksa? Memang pernikahan ini cukup terpaksa bagi Sonia, dia harus menuruti Papa dan Mama tirinya, ia masih heran kenapa dia dipaksa menikah dengan Reno, sungguh masih tanda tanya besar.
Dia hanya mengikuti rencana, dia siap akan resiko yang diterima jika menikah nanti.
Gaun putih bersih, serta dekorasi pernikahan yang mewah. Membuat Sonia menjadi ratu seharian, ia terlihat cantik dengan gaun yang dirancang oleh desainer ternama, seikat bunga tak lupa di genggamannya, make up yang tidak terlalu tebal membuat ia cantik alami.
Dalam lamunannya ia masih merasa gugup dan bersedih, tetapi lelaki yang berada disampingnya dengan refleks memegang tangan Sonia seakan memberi tau jika semua akan baik-baik saja.
Lelaki memakai jaz putih dan dasi
kupu-kupu dengan senyumannya yang manis yaitu Reno. Hari ini dia benar-benar sangat tampan, janji suci pernikahan telah diucapkan sekarang mereka sudah sah sebagai suami istri.
Para tamu undangan berdatangan, mereka adalah tamu-tamu penting perusahaan.
Mereka menyelamati pengantin sebelum menuju ke ruang makan.
Ini adalah pernikahan heboh di kota ini, bagaimana tidak dua orang dari keluarga konglomerat menikah.
Orang tua mereka sangat bahagia dengan pernikahan ini tetapi mereka menghiraukan perasaan sedih anak-anaknya yang menjadi korban keserakahan orang tuanya.
Seketika Sonia teringat sesuatu,
Harusnya Kak Satya berada disini, dia harus melihatku menikah.
Aku sungguh sedih, ia hanya terkurung di rumah sakit jiwa.
Dalam lamunannya ia terkejut dengan kedatangan Jonathan, ia berdiri jauh menatap Sonia. Ekspresi sedihnya tergambar dengan jelas.
Sonia memang tak menyukai Jonathan, tetapi kali ini ia merasa iba karena dirinya menikah dengan pria lain.
Jonathan selalu ada dikala Sonia sedih maupun senang, Sonia sudah menganggapnya seperti seorang sahabat tetapi Jonathan malah mengartikannya lebih, dia malah mencintai Sonia.
Disisi lain Reno memandang seorang gadis yang berada jauh di depannya, mereka saling menatap, ya.. itu Veronica.
Padahal Reno tak mengundangnya untuk menjaga perasaan Veronica.
Dalam hati Reno bergetar, dulu ia pernah berucap jika suatu saat nanti ia akan menikahi Veronica. Tetapi takdir berkata lain Veronica malah menjadi tamu undangan di pesta pernikahan Reno dengan wanita lain.
Reno dan Sonia saling memandang mereka, Jonathan tersenyum kepada Sonia, tetapi Veronica hanya menatap Reno tanpa ekspresi seolah memiliki dendam kepada Reno.
Veronica membalikkan badan dan keluar.
__ADS_1
Jonathan menghampiri mereka lalu memberikan selamat atas pernikahan mereka.
Pesta dansa akan segera dimulai, alunan musik akan mengiringi pesta dansa ini.
Terlihat beberapa tamu tengah asyik berdansa.
Reno dengan sigap mengajak Sonia untuk berdansa, ada rasa ragu di diri Sonia.
Reno meyakinkannya, ia merasa tidak enak kepada para tamu jika pengantinnya sendiri tidak berdansa. Sonia menerima tawaran itu tetapi dengan syarat hanya sebentar saja.
Mereka berjalan ke depan, Reno memegang tangan Sonia ketika menuruni tangga
benar-benar seperti pangeran dan permaisurinya.
Mereka berdansa mengikuti alunan lagu, Sonia merasa malu dengan kejadian beberapa hari yang lalu, ia selalu memalingkan muka ketika Reno menatapnya tajam.
"Tataplah wajahku, tidak enak dilihat yang lain jika kamu selalu memalingkan muka." Ucap Reno. Seketika Sonia menatap wajah Reno.
Jonathan melihat mereka dari jauh, rasa sakit di hatinya tak terelakkan lagi.
Dia menyukai Sonia lebih dari 5 tahun, bukan hanya sekedar suka melainkan cinta.
Bagai daging terkoyak-koyak seperti itulah rasa sakitnya, melihat wanita yang dicintainya harus menikah dengan orang lain.
Reno menghentikan dansanya tetapi ia malah mencium bibir Sonia.
Semua tamu undangan bersorak seketika, pemandangan yang sangat mengagumkan.
Tidak dengan Jonathan, ia segera pergi meninggalkan tempat itu, dia tidak mau merasa sakit hati lebih lama lagi.
"Sepertinya mereka sudah saling mencintai, ini lebih gampang dari yang kita kira Mah." Ucap David kepada Mamanya.
"Iya, segera kita mulai permainan ini." jawab sang Mama.
Apa yang akan mereka rencanakan, Sonia sudah siap menghadapinya. Sonia sudah tahu pasti ada sesuatu dibalik perjodohan ini.
Mama dan David adalah orang yang sangat licik, bahkan mereka bisa mempengaruhi Papa Sonia.
Reno menghampiri teman-temannya dan Sonia menghampiri Papanya.
Papanya meneteskan air mata, ia terharu putri kecilnya yang dulu sering digendongnya kini telah menikah.
"Papa tau kamu sangat terpaksa dengan pernikahan ini, maafkan Papa Sonia. Tapi Papa yakin Reno bisa membahagiakanmu, ia pria yang baik." Ucap Papa.
Sonia hanya tersenyum, ia berpikir Papanya hanya berpura-pura sedih. Papa yang ia kenal kini telah berubah dan berbeda.
__ADS_1
Disaat itu Kak Nia datang, Sonia segera menemuinya, Kak Nia sudah seperti kakaknya sendiri, dia sudah membantu Sonia banyak.
"Selamat atas pernikahanmu, semoga kalian cepat mendapat momongan." Ucap Kak Nia.
Sedari tadi orang-orang mendoakanku seperti itu, kupikir ini hanya pernikahan politik saja.
Jadi kupikir kami tidak akan mempunyai anak.
"Terima kasih atas doamu kak, semoga kamu juga cepat mendapatkan jodoh." Ucap Sonia mengejek, mereka lalu melanjutkan obrolan.
Waktu tak terasa berlalu begitu cepat, para tamu undangan satu persatu berpamitan pulang, hanya tersisa beberapa orang saja.
David memandang ke Sonia, ia melemparkan senyuman, ia segera mendatangi Sonia.
"Selamat atas pernikahanmu adik tercinta." Ucap David, Sonia hanya membalas dengan senyuman kecut.
"Aku tidak tau tentang apa yang kalian rencanakan, tapi aku sudah bersiap-siap dengan apa yang terjadi di depan." Ucap Sonia.
"Kamu terlalu naif Sonia, berpikirlah positif, aku sudah baik kepadamu."
Sonia tersenyum, ia sungguh muak dengan celotehan David, Sonia lalu meninggalkannya.
Mata Sonia tertuju ke sebuah koper besar dan beberapa barang miliknya seperti boneka beruang coklat yang besar.
Itu barang-barangku kenapa ada disitu?
Sonia lalu bertanya kepada Mama nya yang sedang memberesi barang-barangnya.
"Oh Sonia, ini barang-barangmu yang akan kamu bawa ke rumah Reno, Mama cukup sedih karena kamu tidak akan tinggal disini lagi."
"Mama mengusirku?" Tanya Sonia dengan marah.
Mamanya menjelaskan jika Sonia telah menikah maka ia harus tinggal di rumah Suaminya, itu bukan hal baru lagi dan itu sudah kewajiban seorang istri harus ikut dengan Suaminya.
"Tidak bisakah kita tinggal disini, aku tidak begitu mengenal keluarga Reno." Tanya Sonia.
"Tidak bisa, sudah kewajibanmu tinggal bersama Reno dirumahnya, kamu harus menyesuaikan dengan keluarga Reno, kini mereka adalah keluargamu juga." Jelas Mama tirinya.
Sonia langsung memandang keluarga Reno, ia tahu jika keluarga Reno tidak menyukainya terutama Mama Reno.
Ini adalah mimpi burukku.
Aku harus tinggal bersama mertua.
Tidak, aku harus segera menyuruh Reno untuk membeli rumah sendiri.
__ADS_1