Mariana

Mariana
Firasat


__ADS_3

Malam semakin sunyi, hawa dingin menusuk tulang. Reno merebahkan dirinya di kamar ukuran 3X3 meter itu. Kamar yang berdindingkan anyaman bambu membuat angin dari luar bisa masuk dengan mudah.


Reno melirik Dylan yang belum tertidur dan menatap langit-langit kamar, tangan Reno membelai rambut Dylan.


"Dylan boleh main game di handphone om gak?" tanya Dylan dengan polosnya.


Reno mengernyitkan dahi, ia segera duduk mengeluarkan handphonenya.


"Kamu mau main game apa?"


Dylan lalu mendekati Reno dengan senang.


"Yang ada tembak-tembakannya om"


Reno lalu mengunduhkan game tersebut di internet, setelah mendapatkannya ia menyerahkan handphone ke Dylan. Reno juga mengajari bagaimana cara bermainnya.


Dylan terlihat bahagia sekali, Reno memperhatikannya dengan seksama, Dylan sama persis dengan Sonia saat bermain game. Reno mengusapkan tangannya ke rambut Dylan yang membuat kepala bocah kecil itu terasa geli.


"Om pasti orang kaya ya? Rumah om pasti besar"


Reno hanya tersenyum dan menjelaskan jika dia bukan orang kaya.


Reno menatap Dylan lembut dan melihat Dylan tengah asyik memainkan game.


Tetapi tiba-tiba Dylan menyerahkan handphone kepada Reno, ia sudah merasa bosan dan ingin tidur.


Anak kecil cepat sekali bosannya ya?


Tidurlah yang nyenyak anakku, Papa berjanji akan membahagiakanmu.


___________________________________


Pagi hari tanpa sinar mentari yang terang, ayam sesekali berkokok membangunkan Reno, ia segera melihat jam yang menunjukan pukul 6 pagi.


Dia segera bangun menuju ke kamar mandi dan melihat kakek dan nenek mulai beraktivitas di dapur.


Air di pagi hari terasa sangat dingin sampai ia tidak berani mencuci mukanya dengan air es itu, tapi ia mengumpulkan niat untuk segera bercuci muka.


Setelah itu dia berjalan keluar kamar mandi dan segera duduk disebelah nenek yang sedang berada di depan tungku menyala.


"Tidurmu nyenyak?" tanya Nenek.


Reno menganggukan kepala dan menahan kedinginan. Nenek lalu membuatkan teh hangat untuk Reno, ia segera meminumnya.


"Sebentar lagi saya mau pulang ke kota, saya titip Dylan ya nek. Saya usahakan dua minggu sekali saya datang kesini, saya juga akan mengirimkan uang untuk keperluan Dylan yang termasuk untuk sekolahnya"

__ADS_1


Nenek tersenyum dan mengucapkan terima kasih, ia juga menjelaskan jika Dylan sepertinya menyukai Reno. Dylan adalah tipe anak yang pendiam dan takut kepada orang yang baru di kenalnya. Tetapi sepertinya ia tidak takut sama sekali dengan Reno.


Reno segera menghabiskan tehnya, ia segera bersiap untuk pulang ke kota.


Dia berpamitan dengan kakek dan nenek, Reno melihat Dylan yang baru bangun keluar dari kamarnya sambil mengucek mata.


"Om mau pulang?"


Reno langsung memeluk Dylan, " Iya, tapi om akan kesini lagi jika tidak sibuk"


Dylan menunjukan wajah yang sedih, Reno tidak tega dan segera menggendongnya.


"Om janji jika kesini akan bawa mainan banyak buat Dylan, tapi Dylan harus janji tidak boleh nakal dan harus nurut sama kakek, nenek"


Dylan menganggukan kepalanya dan terlihat sangat riang. Kakek dan nenek hanya tersenyum. Setelah itu Reno bersalaman dengan mereka dan berpamitan pergi.


Dylan meminta agar sang nenek mengantar Reno sampai tanah lapang bersama Dylan.


Mereka berjalan beriringan, tiba-tiba nenek mengucapkan sesuatu yang membuat Reno cukup terkejut.


"Maaf jika nenek boleh bilang bahwa rumah tanggamu kini di ambang kehancuran nak," ucap nenek dengan wajah khawatir.


Reno terdiam dan tersentak mendengar ucapan nenek, ia hanya tersenyum dan bilang bahwa rumah tangganya kini merasa baik-baik saja.


5 menit kemudian mereka sudah sampai di tanah lapang yang terparkir mobil Reno.


Reno segera masuk ke mobilnya, ia membuka kaca dan melihat Dylan melambaikan tangan kepadanya. Reno membalas lambaian tangan itu dan segera melajukan mobilnya menuju ke kota tempat tinggalnya.


____________________________________


Di italy.


Suara musik diskotik menggema di seluruh ruangan. Bima, Sonia dan Maharani tengah berada di kerumunan warga Italy yang asyik berjoget riang. Mereka pergi ke diskotik tanpa sepengetahuan kru film dan sutradara.


Sonia sempat takut tetapi diyakinkan oleh Maharani jika hanya sebentar saja.


Bima hanya menemani mereka dan melihat mereka berjoget bersama bule tampan.


Apakah aku harus melakukan itu?


Aku akan sangat bersalah sekali kepada Sonia.


Setelah puas berjoget Maharani menarik tangan Sonia untuk duduk di bar bersama Bima. Maharani lalu memesan minuman memabukan untuk Sonia, Sonia tidak menolak karena sudah terbiasa meminum minuman itu.


Maharani juga menenggaknya tetapi hanya sedikit, Bima tidak meminum minuman itu ia tidak boleh mabuk kali ini.

__ADS_1


4 gelas sudah Sonia meminum minuman itu, ia sudah mabuk dan tidak bisa mengendalikan diri.


"Dia sudah mabuk, ayo mulai rencana kita, kita buat senatural mungkin," ucap Maharani.


Bima menganggukan kepala, ia sedikit terpaksa melakukannya. Bima segera membopong Sonia menuju kamar hotel yang telah disewanya tanpa sepengetahuan sutradara. Dia membawanya dengan hati-hati supaya tidak ada yang melihat mereka.


Tidak lupa dengan Maharani yang mengikuti dari belakang.


Setelah sampai di kamar hotel Bima segera merebahkan tubuh Sonia di tempat tidur.


Maharani tengah meletakkan beberapa kamera di sekitar kamar. Setelah itu ia memandangi Bima yang tengah menatap Sonia kasihan.


"Hey! Kita sudah menandatangani surat perjanjian, kau mau kita di penjara jika melanggarnya?" ucap Maharani melihat Bima.


"Kau mau kuperkosa disini sekalian?" jawab Bima menatap Maharani tajam yang membuatnya ketakutan.


Maharani segera meninggalkan Bima dan menuju ke kamarnya sendiri.


Bima masih belum yakin ingin melakukan kepada Sonia, tetapi ia juga tidak bisa menghindari kesepakatan itu.


"Reno aku mencintaimu," ucap Sonia yang tengah mengigau.


Bima terkejut mendengarnya, ia semakin tidak yakin melakukan itu terhadap Sonia.


Sonia maafkan aku, maafkan aku!


Bima segera berjalan kearah Sonia, ia menindih tubuh Sonia yang membuat Sonia terbangun. Dia mengira jika Bima adalah Reno.


"Reno, kenapa kamu disini?" ucap Sonia yang mabuk berat.


Bima secepat mungkin menanggalkan pakaian Sonia, Sonia tak menolaknya karena ia berpikir jika itu Reno.


Bima menyusuri seluruh tubuh Sonia, ia juga melepas semua pakaiannya.


Dan pada akhirnya mereka kalah dengan nafsu yang menggebu-gebu.


Disaat bersamaan Reno tengah fokus menyetir mobil, sebentar lagi ia akan sampai di rumahnya. Tetapi tiba-tiba seorang lelaki menyebrang di depannya, Reno segera membanting stir ke kanan jalan yang membuatnya menabrak tiang lampu di pinggir jalan.


Kini mobil tersebut ringsek bagian depan tetapi ia hanya mengalami sedikit benturan di kepala.


Nafas Reno terengah-engah dan seketika terbayang tangisan Sonia.


Aku terlalu lelah sampai tidak fokus menyetir mobil. Tapi kenapa aku tiba-tiba memikirkan Sonia? Apa terjadi hal buruk dengannya?


Suara ketukan kaca mobil membuyarkan lamunannya, ternyata sedari tadi orang-orang telah menghampirinya dan menanyakan keadaan Reno. Reno segera turun dari mobil dengan dahi yang lecet dan mengeluarkan darah segar.

__ADS_1


__ADS_2