
Sehari yang lalu.
Klotak.. Klotak.. klotak.. klotak..
Bunyi sepatu menggema di ruangan,
orang-orang yang berada disitu memperhatikan langkahnya, ia memakai pakaian yang mencolok tidak lupa kacamata hitam dipakainya.
Dia segera membuka pintu,
Ceklek..
Dia segera memasuki ruangan.
"Sonia?" Ucap dokter yang tengah terduduk dikursinya, ia kaget kenapa Sonia mendatanginya.
"Hai, Selena."
Wanita itu memandang bingung kearah Sonia, ia bermuka sinis.
"Apa maumu datang kesini." Tanya dokter itu.
"Eits tunggu, aku disini hanya konsultasi saja."
Sonia lalu menjelaskan maksud dari kedatangannya, ia hanya ingin meminta pil KB.
Dokter yang bernama Selena itu terkejut kenapa bisa Sonia meminta itu padahal ia baru saja menikah.
Sonia menjelaskan bahwa belum ingin mempunyai anak, dokter itu segera memberi yang Sonia inginkan.
"Maafkan aku tidak bisa hadir dipernikahanmu, aku akan mengirim hadiah pernikahan ke alamatmu sekarang." Ucap Dokter itu.
Sonia tersenyum, ia tidak ingin mendapat apa-apa darinya, setelah ia obat itu ia segera keluar.
"Kau bisa cerita jika terjadi apa-apa denganmu." Ucap sang dokter.
Sonia menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah dokter itu ia hanya membalas dengan senyuman, ia segera meninggalkan ruangan.
Sonia menaiki taxi menuju ke club, dalam perjalanan ia meminum sebutir obat itu, ia berjaga-jaga jika Reno menyerangnya,
karena Sonia memang belum siap ingin mempunyai seorang anak.
Malam harinya ia mabuk berat dan masih setengah sadar, ia sempat ingat telah di goda oleh pria lain tetapi Reno menolongnya dan membawanya pulang ke rumah, setelah itu ia tidak ingat apa-apa.
Pukul 2 pagi Sonia terbangun, ia sengaja membangunkan Reno, ia sudah siap mental jika hari ini dihabisi oleh Reno.
Dia memancing Reno untuk melakukan itu jika disaat itu juga ada k*nd*m, sebenarnya Sonia sudah tau jika didalam laci ada benda tersebut, Sonia segera melepas semua pakaiannya yang membuat nafsu Reno naik.
Dan akhirnya mereka melakukan itu, Sonia hanya pasrah dan menahan depresinya supaya tidak kambuh.
Sonia sempat sadar jika Reno diam-diam melepas benda itu, Sonia tidak khawatir karena ia sebelumnya meminum pil KB.
Sebuah perjuangan untuk menaklukkan depresinya, ia harus menahan rasa trauma yang mendalam.
__ADS_1
***
Sore yang melelahkan setelah selesai syuting seharian akhirnya Sonia bisa melepas penat dengan bersantai di rumah, setelah mandi ia menuju ke taman keluarga yang berada di belakang rumah Reno.
Taman itu sangat tertata rapi, penuh dengan bunga, terdapat air mancur dan berbagai jenis pepohonan rindang.
Dia segera mengambil handphonenya untuk berfoto selfie, lalu ia menguploadnya di akun instagramnya.
Sebuah foto selfie yang sangat cantik, ia memakai baju warna merah muda dengan senyuman yang lebar.
Disaat yang bersamaan, Reno yang tengah membuka instagramnya saat waktu sedang senggang ia melihat foto Sonia yang begitu menawan, ia segera menyimpan foto itu, ratusan ribu like sudah mendarat di akun Sonia dalam beberapa menit dan juga ribuan komentar yang membanjiri fotonya.
Reno dengan iseng membuka
komentar-komentar itu.
Dasar sok cantik, modal cantik aja belagu! Ucap netizen A.
Wah beruntung banget jadi kamu modal kaya dan cantik bisa menggaet laki-laki tampan!
Ucap netizen B.
Cantikmu 100%, Sopan santunmu 0%. Ucap Netizen C.
Kenapa harus kamu yang bermain film dengan Bima! Mati saja kau!. Ucap Netizen D.
Reno begitu terkejut setelah melihat komentar yang mencela istrinya, ia segera mengirimi Sonia pesan agar tidak membaca komentar. Sonia segera membaca pesan dari Reno ia tersenyum setelah membacanya, ia membalas pesan itu.
Reno membaca pesan itu langsung tersenyum girang, ia sekarang sedang sibuk mengurusi bisnisnya itu, tetapi ia memutuskan untuk pulang lebih awal dan menyerahkan semua pekerjaannya kepada managernya.
Dia menuju mobil dengan kegirangan, ia selalu tersenyum mengingat pesan Sonia tadi.
Setengah jam kemudian ia sudah sampai di rumahnya, ia segera berlari menuju ke kamarnya. Mamanya heran kenapa ia berlari kegirangan seperti itu tanpa menyapa mamanya dulu.
Reno memasuki kamar, waktu menunjukan pukul 5 sore dan Sonia asyik terduduk di balkon kamar.
"Kamu sudah mandi?" Tanya Reno mengagetkan Sonia.
"Kenapa jam segini sudah pulang? Harusnya kan kamu pulang jam 8?"
Reno lantas menarik Sonia masuk kedalam kamar, ia segera membuka jaz dan dasinya, Sonia hanya bingung memandang Reno.
"Aku sangat kegerahan, aku ingin mandi." Ucap Reno menggoda lalu menarik tangan Sonia menuju kamar mandi.
Sonia hanya pasrah dan ia masih bingung, Reno segera melepas semua pakaiannya, ia juga membantu melepas pakaian Sonia.
Kini mereka tanpa menggunakan sehelai benang satupun.
Reno mendorong Sonia ke tembok, ia segera melum*t bibir manis Sonia, dari bibir ia turun sampai menuju dua gumpalan lemak milik Sonia, Sonia yang merasa risih segera mendorong tubuh Reno.
Reno tersenyum, ia melanjutkan pikiran kotornya, tetapi Sonia seakan menolak.
"Ayo kita segera mandi, aku tidak ingin melakukan itu." Ucap Sonia.
__ADS_1
Reno sedikit kecewa, ia lantas menyiram tubuhnya dengan air shower, ia segera memakai sabun dan tidak mempedulikan Sonia yang memperhatikannya.
Dia segera membilas setelah itu ia memakai handuk dan segera keluar dari kamar mandi.
Sonia yang masih didalam kamar mandi terdiam melihat tingkah Reno.
Beberapa menit kemudian Sonia keluar dari kamar mandi, ia memandang Reno dengan muka yang masam, Sonia segera memakai bajunya.
Reno terbaring di sofa dengan lengannya menutupi wajahnya, sepertinya ia sungguh kecewa dengan Sonia.
"Reno maaf membuatmu kecewa, aku hanya bilang ingin mandi bersamamu bukan ingin melakukan itu bersamamu."
"Sonia, aku sampai meninggalkan semua pekerjaanku hari ini hanya untuk melakukan itu bersamamu, tapi kamu mengecewakanku, kamu membuang waktuku." Pungkas Reno.
Sonia terlihat sedih, ia segera meminta maaf.
Sonia mendekati Reno dan naik ke pangkuannya, tangannya menggelayuti leher Reno, mereka saling bertatapan.
"Kamu gak ingat kita ini terpaksa menikah, kenapa kamu bersifat kekanakan begitu, seperti anak kecil yang marah jika tidak diberi sebuah permen." Ejek Sonia.
Reno segera mengangkat Sonia dari pangkuannya, ia menghempas tubuh Sonia di ranjang, ia memegangi kedua tangan Sonia, Sonia memberontak dan berteriak keras.
AAAHHHHH... CUKUP RENO!
AAAHHHHH... HENTIKAN RENO!
Sonia berteriak keras sampai terdengar di seluruh rumah, orang-orang yang berada dirumah kaget dan mulai tersenyum sendiri.
"Tuan muda sepertinya menikmati pernikahan ini, buktinya Sonia sampai berteriak sekencang itu." Ucap bibi di dapur yang sedang berbicara dengan rekannya.
Rekannya tertawa, ia sepemikiran dengan bibi. Bibi yang mengetahui jika ada majikannya yaitu Mama Reno segera menghentikan pembicaraan dan melanjutkan pekerjaannya.
Mama Reno hanya menunjukan muka masam seakan tidak senang, ia segera menuju ke ruang TV, ia melihat Rizky yang tengah menonton TV, ia juga masih mendengar teriakan Sonia.
"Irinya aku." Ucap Rizky seperti menggoda Mamanya.
Mamanya segera duduk dan mengeraskan volume TV, Rizky hanya tersenyum.
Ehmm ehmm ehmm...
Hah.. hah.. hah..
Reno melepas tangannya yang menutupi mulut Sonia yang berteriak kencang, ia memarahi Sonia kenapa berteriak sekencang itu, padahal Reno hanya menggelitiki tubuh Sonia.
"Kamu gila! tanganku kamu pegangi, badanku kamu gelitiki, bagaimana aku tidak berteriak?"
Ucap Sonia kecapekan karena berteriak tadi.
Reno memegangi kepalanya,
"Hah! Bagaimana ini untuk keluar kamar pasti canggung dengan mereka, pasti mereka pikir aku sedang melakukan itu ke kamu." Ucap Reno khawatir.
Sonia seketika bingung dan merasa malu bahkan ia tidak berani keluar kamar.
__ADS_1