Mariana

Mariana
Rumah sakit


__ADS_3

Dentingan suara detik jam menggema di kamar VIP yang merawat Sonia, seharian ini tidak ada yang menjaga ataupun yang menjenguknya hanya dokter Selena lah yang sesekali melihat keadaan Sonia.


Dimana Reno dan keluarganya?


Papa dan Mama pun memilih pulang tidak mau menemaniku disini.


Tok.. tok.. tok.. tok..


Ketukan pintu membuyarkan pikiran Sonia, ia melirik kearah pintu, ia terkejut yang datang adalah Veronica. Veronica tersenyum licik kepada Sonia, Sonia memalingkan muka.


"Bahkan Reno tidak menjengukmu," ucap Veronica.


Sonia memang belum tahu jika Reno tengah dirawat di rumah sakit karena Reno terluka di bagian bahu dan mengalami keretakan tulang.


"Hmm"


"Sonia, aku kesini untuk meminta izin darimu, aku dan Reno masih saling mencintai, aku ingin menikah dengan Reno. Aku janji akan baik denganmu sebagai keluarga"


Sonia tersenyum kecut mendengar ucapan Veronica. Veronica juga menjelaskan jika Reno juga dirawat di rumah sakit ini, ia terluka cukup parah karena menyelamatkan Veronica yang akan menabrakan diri di truk yang melaju kencang.


"Itu membuktikan jika Reno masih mencintaiku, ia menyelamatkanku dari maut dan mengorbankan dirinya sendiri hingga terluka cukup parah"


"Dimana Reno dirawat?"


Setelah mengetahui dimana ruangan Reno, Sonia segera berlari dan tidak lupa melepas paksa infusnya. Dia menahan rasa sakit demi melihat keadaan Reno.


Dia membuka pintu kamar Reno, ia melihat Reno terbaring dengan Mamanya yang duduk disebelahnya.


"Sonia? Maaf Mama tidak bisa menemanimu"


Sonia menganggukan kepala dan menuju ke Reno yang tengah tertidur diranjangnya.


Mama Reno segera keluar membiarkan Sonia melihat keadaan suaminya itu.


Sonia mengelus rambut Reno dan mencium keningnya


Cinta? Memang mudah diucapkan tetapi sulit dilakukan. Sepertimu yang mudah bilang cinta kepadaku. Tapi nyatanya cintamu masih milik mantan pacarmu itu.


Bahkan ketika aku sedang membutuhkanmu, kamu tidak ada disampingku.


Tak terasa air mata Sonia menetes betapa tidak adilnya hidup ini.


Fakta bila ia harus kehilangan calon buah hatinya menambah beban pikiran Sonia teramat berat.


"Nikahilah gadis yang kamu cintai jika kamu merasa bahagia, kamu tidak perlu mencemaskanku," ucap Sonia mengecup pipi Reno.


Sonia segera mengelap air matanya, ia segera berjalan keluar kamar Reno.


Mama Reno yang melihat Sonia terlihat lemas segera mengantarkan Sonia ke ruangannya.

__ADS_1


Tetapi Sonia menolak dan menyuruh Mama Reno untuk menjaga Reno.


Mama Reno terkejut melihat Veronica menghampirinya.


"Beraninya kamu muncul lagi didepan Reno, aku sudah menyuruhmu pergi dan memberikanmu uang kenapa kamu kembali lagi?"


"Saya tidak akan menyerah begitu saja, saya yakin Reno masih mencintai saya"


Veronica tersenyum lalu berpamitan untuk pulang, ia kini merasa menang dari Sonia dan sebentar lagi pasti Reno jatuh ke pelukannya.


"Kau yang membuat Reno seperti ini dan malah merasa bangga," ucap Mama Reno seketika menghentikan langkah kaki Veronica.


Veronica menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Mama Reno, ia hanya tersenyum setelah itu berjalan meninggalkan Mama Reno..


Gadis itu ternyata lebih berbahaya dibanding dengan pacar Rizky.


Ambisinya cukup besar, aku harus berhati-hati dengannya.


_________________________________


Hari ini Sonia diizinkan untuk pulang, ia sudah tidak sabar untuk makan enak.


Tetapi ia cukup sedih karena Reno masih dirawat dirumah sakit.


Sonia segera membayar administrasi.


Sonia menyerahkan uang tetapi suster itu mengatakan jika sudah dibayar oleh dokter Selena. Sonia terkejut ia segera menuju ke ruangan Selena.


"Hei kamu sudah merawatku kenapa kamu juga membayar biaya rumah sakitku?"


Selena masih terfokus pada berkas-berkasnya dan tak mau mendengarkan ucapan Sonia. Sonia merasa kesal, ia mengatakan jika akan mentransfer uang ke rekening Selena secepatnya.


"Tidak usah, sebagai gantinya ajak aku jalan-jalan saja kita menghabiskan waktu bersama seperti kakak dan adik"


Sonia tersenyum lebar sambil menganggukan kepala, ia berlari menuju Selena dan mencium keningnya. Selena hanya tersenyum kecut melihat tingkah adiknya.


"Jangan lupa kamu harus sering konsultasi ke psikiater, aku mengkhawatirkanmu"


Sonia tersenyum, ia berpamitan dengan Selena untuk pulang. Sebenarnya ia ingin menemani Reno tetapi Mama Reno melarangnya supaya Sonia bisa beristirahat dirumah. Reno belum mengetahui jika Sonia telah keguguran, Mamanya tidak ingin Reno sedih saat ini.


Sonia segera pulang ke rumah, ia segera mandi supaya bisa menenangkan pikirannya.


Sonia terduduk disudut kamar mandi, ia menangis sejadi-jadinya. Dia kehilangan calon bayinya.


Reno yang akan menikahi Veronica dan fakta jika dirinya divonis akan susah mengalami kehamilan, jika pun hamil pasti akan keguguran.


Saat ini aku hanya ingin mempunyai keluarga kecil, tetapi semua itu hanya mimpi saja.


Aku bingung harus bagaimana.

__ADS_1


Sonia menumpahkan seluruh kesedihannya, rasa sakit dari waktu ke waktu kian memburuk. Hanya obat penenangnya yang menjadi penyelamatnya.


Aku tidak bisa hamil karena obat penenang ini, karena mereka lah aku meminum obat penenang.


Jika saja Mama David tidak datang dikehidupan kami pasti kami akan bahagia dan saling melengkapi.


"Mama, Mama hiks hiks hiks, aku merindukanmu Mama hiks hiks"


Kak Satya.


Ya aku masih punya kakak kandung, ia harapanku bertahan untuk selama ini.


Sonia mengelap air matanya, ia bangkit dan segera mandi untuk menyegarkan pikirannya.


Berendam air hangat hal yang dilakukan Sonia memiliki beban pikiran.


Beban pikirannya semakin bertambah berat, satu masalah belum selesai tetapi masalah lain datang bertubi-tubi.


Setelah mandi air hangat ia segera bergegas mengenakan pakaian. Badannya terasa dingin sekali ia segera ke ruang ganti pakaian untuk mengambil jaket Reno yang disimpan di lemari khusus.


Reno tidak akan marah jika aku memakainya kan?


Sungguh jaket ini sangat hangat dan nyaman.


Bau parfum Reno membuatku rindu kepadanya.


Huh! Apakah ucapan Veronica benar jika Reno masih mencintainya dirinya?


Setelah memakai jaket itu Sonia segera merebahkan dirinya ke ranjang, ia memeluk guling sambil membayangkan jika guling itu adalah Reno. Sepertinya ia sudah terjebak cinta dengan Reno, wajah Sonia dibenamkannya di guling itu.


Hah! Aku rindu Reno.


Kling....


Bunyi pesan masuk di handphone Sonia, ia segera membukanya. Ternyata dari sang Papa, ia meminta maaf karena tidak bisa menemani Sonia karena ada meeting mendadak diluar negeri.


Kebiasaan! Memang Papa lebih mementingkan pekerjaan daripada putrinya sendiri.


Sonia mengecek seluruh panggilan telepon dan pesan yang masuk, salah satunya dari Bima.


"Bagaimana dengan kabarmu Sonia?


Sebentar lagi film kita akan ditayangkan di seluruh bioskop. Para pemain dan kru film akan mengadakan nonton bareng film kita, kamu bisa mengajak seluruh keluargamu untuk datang" pesan dari Bima.


Aku tidak sabar untuk menonton filmku sendiri.


Jika Mama masih ada dan kak Satya tidak gila pasti aku mengajak mereka untuk melihat aktingku yang memukau.


Beberapa menit kemudian, ia terlelap sambil mencium aroma parfum Reno yang berada di jaket yang ia kenakan.

__ADS_1


__ADS_2