
Pagi telah tiba, Reno terbangun saat Mamanya membuka tirai jendela.
Reno adalah anak kesayangan sang Mama bahkan sebelum menikah terkadang sang Mama yang membangunkannya dan menyiapkan pakaian kerjanya. Reno sempat protes karena ia sudah dewasa tapi bagi Mama, Reno tetaplah anak kecil di matanya.
"Kapan Sonia pulang? Dia juga tidak sopan pergi tanpa izin dengan Mama," ucap Mama sambil mengambilkan baju kerja Reno.
"Minggu depan dia pulang," Reno melirik Mamanya, " Mah, hari ini aku tidak kerja ada keperluan lain"
Mamanya mengerutkan dahi, ia lalu memasukan lagi pakaian kerja Reno ke dalam lemari.
Hari ini aku harus mencari keberadaan anakku. Mumpung Sonia tidak ada dirumah.
Reno bergegas mandi lalu turun dari kamarnya menuju ruang makan.
Kali ini hanya empat orang saja yang duduk di meja makan yaitu tanpa Sonia dan Rizky.
Rizky telah meninggalkan rumah tetapi orang tuanya sudah menyuruh orang untuk mengawasi tanpa sepengetahuan Rizky.
"Reno, kapan kamu punya anak? Papa sudah gak sabar ingin main sama cucu Papa"
Pertanyaan dari Papa menghentikan suapan Reno, Mama Reno hanya tersenyum kecut.
"Secepatnya Pah"
Bahkan sekarang ini Reno sudah punya anak dari Sonia Pah. Entah dimana keberadaan dia.
Reno akan segera mencarinya.
Reno segera menyelesaikan makannya.
Setelah itu bergegas menuju alamat yang mengadopsi anaknya. Kira-kira butuh waktu 2 jam perjalanan dari kotanya.
Dia melajukan mobilnya dengan santai, tak lupa ia mendengarkan musik dari mobilnya.
Beberapa kali handphonenya bergetar mendapat panggilan dari Veronica, tetapi ia sudah tak memperdulikan Veronica lagi.
Dia sudah cukup kecewa dengan perlakuan Veronica kemarin yang sudah membuat salah paham Sonia.
Veronica yang kukenal gadis yang lembut dan ramah tetapi tak kusangka dia bisa berbuat senekat itu. Cinta memang membutakan semua hal.
Sonia? Hah!
Tidak usah ditanyakan lagi semua orang tau jika dia bersifat buruk. Tapi entah mengapa bagiku ia jauh lebih baik dari Veronica.
Sonia tidak munafik, dia juga pemaaf.
__ADS_1
Sifatnya yang selalu riang bisa membuatku tergila-gila dengannya.
Reno tersenyum sendiri membayangkan sifat konyol Sonia mulai dari menggoda Reno saat Sonia masih SMA, muntah di jaket Reno hingga saat ini jaket itu disimpan di lemari khusus. Dan ketika Sonia meminta uang 100 juta untuk biaya ganti pakaiannya, semua itu membuatnya semakin mengagumi Sonia.
Gadis bar-bar seperti itu bisa membuatku jatuh cinta dengan cepat.
Tetapi kenapa tidak dari 6 tahun yang lalu aku harus menyukainya.
Cinta memang datang terlambat.
Jam demi jam telah di lalui, ia melirik handphonenya sudah tidak berbunyi lagi.
Cukup lega karena Veronica sudah menyerah untuk menelponnya.
Pemandangan yang dari gedung-gedung tinggi kini sudah menjadi pepohonan rindang tetapi masih nampak pemukiman warga berjejer Reno hanya mengandalkan maps di handphonenya.
10 menit kemudian ia sampai di sebuah perkampungan. Dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan, beberapa warga sempat penasaran. Bagaimana tidak mobil mewah dan mahal berhenti di kampung tersebut.
Reno segera turun dari mobil, ia sempat tersenyum dan menunduk ketika warga menyapanya. Kini ia sudah berada dialamat yang telah di beritahu oleh Papa Sonia, dia segera bertanya kepada warga dimana rumah yang di maksud Reno.
"Maaf mas sebelumnya, orang yang mas maksud telah meninggal 2 tahun yang lalu.
Pasangan suami istri itu meninggal karena kecelakaan," jelas salah satu warga.
Jadi bagaimana dengan anakku sekarang?
Apa dia sekarang masih hidup?
"Fahmi dan Nanda meninggalkan seorang anak laki-laki, dulu kira-kira berusia 3 tahun.
Mungkin jika sekarang berumur 5 tahun"
"Jadi sekarang dimana anak laki-lakinya pak?"
Bapak itu menjelaskan jika anak dari pasangan suami istri itu telah ikut dengan neneknya yang berada di desa.
Reno segera meminta alamat kepada bapak itu, untungnya bapak itu tau alamatnya.
Setelah mendapatkan alamat, Reno segera berpamitan dengan warga. Dia juga sangat berterima kasih karena warga begitu ramah dengannya.
Reno melanjutkan perjalanan. Butuh satu setengah jam untuk sampai ditempat itu. Tempat itu di lereng bukit dan sangat sejuk sampai Reno mematikan AC mobilnya apalagi jaketnya yang tidak terlalu tebal membuatnya kedinginan. Kabut mulai turun padahal ini masih siang hari, ia mengendarai mobilnya dengan hati-hati salah sedikit ia bisa masuk jurang.
Di Italia.
Sonia terbangun dari mimpi buruknya, kali ini ia bermimpi seorang anak kecil mengajaknya bermain riang. Tetapi saat bermain anak kecil itu kabur dan berlari sangat cepat sampai Sonia tak sanggup mengejarnya.
__ADS_1
"Gara-gara Papa menelpon ingin mempunyai cucu malah sampai kebawa mimpi kan," guman Sonia.
Dia bergegas bangun, ia melirik Maharani tengah tertidur pulas. Sonia segera menuju ke kamar mandi, ia ingin berendam air panas untuk menghilangkan rasa dingin itu.
Aku rindu Reno.
Aku ingin peluk dia.
Huhuhuhuhu.
Berendam air panas bisa membuat pikiran lega, ia lalu menutup mata.Tetapi suara ketukan pintu kamar mandi mengagetkannya.
"Sonia cepat keluar! Bima mencarimu," ucap Maharani menggedor pintu kamar mandi.
Dengan malas Sonia segera beranjak dari bak mandi, ia segera memakai pakaiannya.
Dia lalu menemui Bima yang sudah terduduk di sofa. Sonia memarahi Maharani yang membolehkan Bima masuk ke kamar mereka.
"Kita ini rekan kerja tak masalah jika dia masuk ke kamar kita," ucap Maharani sambil menggeliat di tempat tidurnya.
Bima hanya tersenyum kecil saat dua wanita itu berdebat. Sonia lalu duduk menghampiri Bima, mereka mengobrol tak jelas sampai Sonia tertawa dan memukulnya pelan.
"Ingat suami woy!" sindir Maharani.
"Kita ini rekan kerja tak masalah jika bercanda bersama," ucap Sonia tertawa lalu melempar bantal sofa kearah Maharani yang tengah rebahan di ranjang.
Maharani membalas serangan itu dengan bantal yang ditidurinya.
Mereka sudah seperti seorang teman dan bahkan sudah akrab. Di film yang mereka ceritakan, mereka adalah seorang rival yang memperebutkan Brian yang diperankan Bima.
Tapi dalam dunia nyata mereka seperti seorang sahabat, Maharani adalah satu-satunya teman wanita yang dimiliki Sonia.
Dia sangat bersyukur jika Maharani mau berteman dengannya yang memiliki images buruk di media.
"Hey Sonia, kamu memang beruntung menikah dengan Reno. Dia sangat tampan dan baik, dia juga kaya raya," ucap Maharani.
Tampan memang iya, baik memang iya.
Kaya raya? Memang benar tetapi perusahaannya pun dibawah naungan perusahaan Papaku.
"Oh ya aku sangat beruntung"
"Bagaimana dengan urusan di ranjang?" sambung Maharani.
Sonia dan Bima tersentak mendengar pertanyaan dari Maharani, Sonia langsung melempar dengan bantal dan tidak mau menjawabnya. Perang bantal pun akhirnya dilanjutkan mereka lagi.
__ADS_1