
"Sonia aku mencintaimu."
Sebuah kalimat membuat keringat dingin keluar, bagaimana bisa Reno secepat ini mencintai Sonia. Padahal ketika sebelum menikah mereka saling berjanji supaya tidak menyimpan perasaan satu sama lain, tetapi Reno malah mendobrak pagar pembatas cinta diantara mereka. Sonia yang tidur di sebelah Reno tanpa sehelai benang pun hanya bisa meresapi arti dari kalimat itu.
Waktu seakan melambat membuat bibir Sonia terasa kelu tidak dapat di gerakkan.
Tangan Reno mulai mengelus perut Sonia, Sonia hanya menahan amarah kenapa bisa Reno membohongi dirinya jika ia sudah mencintai Sonia padahal Reno masih sering menemui Veronica dibelakangnya.
"Aku sudah menanam benih cinta disini." Ucap Reno sambil memegang perut Sonia.
"Sudah cukup basa-basinya aku mau tidur."Jawab Sonia sambil memakai seluruh pakaiannya.
Reno tersenyum, ia juga memakai pakaiannya. Hari ini ia merasa senang karena Sonia begitu memuaskan dirinya. Reno juga mengingat saat kejadian 6 tahun yang lalu rasanya masih sama dengan yang dilakukannya bersama Sonia saat ini.
"Kamu masih belum mengingatnya?"Tanya Reno.
Sonia menaikkan alisnya pertanda bingung, ia tak mengerti ucapan Reno.
"6 tahun yang lalu." Sambung Reno.
Sonia merasa bosan mendengar ucapan itu, ia sudah menjelaskan beberapa kali jika dia bukan orang yang Reno maksud.
Reno juga masih bingung bagaimana cara mendapatkan bukti jika Sonia adalah gadis 6 tahun lalu yang telah di nodainya sampai ia mengingat bahwa Rachel adalah teman sekolah Sonia sewaktu SMA.
Waktu menunjukan pukul 11 malam, Reno mencoba ke kamar Rachel.
Reno membuka pintu kamar adiknya dengan pelan sampai ia melihat Rachel masih terbangun dan memainkan handphonenya.
"Kakak?"
Reno segera duduk di sebelah Rachel.
"Kamu belum tidur?" Tanya Reno.
Rachel menganggukan kepala, ia belum mengantuk.
"Kakak mau bertanya apakah sewaktu SMA kamu berteman dengan Sonia?"
"Tidak, tetapi kami sekedar teman sekelas yang tidak saling mengenal, ia dulu di benci teman-teman karena sombong dan suka menyendiri dan yang paling kuingat dia keluar sekolah karena hamil setelah itu ia menghilang di telan bumi." Jelas Rachel.
Sebuah fakta yang cukup mengejutkan membuat Reno tersentak, tubuhnya seketika bergetar.
"Kamu ingat gadis yang ku perkenalkan kepada Papa dan Mama adalah Sonia?"
Rachel terkejut dan menatap mata kakaknya.
__ADS_1
"Aku belum pernah melihat gadis itu, apakah dia Sonia?"
Reno mengangguk, Rachel sangat terkejut dengan perkataan kakaknya.
"Kupikir kakak yang telah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja."
Rachel masih tak percaya jika kakaknya yang dianggap baik seperti itu, ia bisa melihat wajah kakaknya yang penuh penyesalan.
Rachel melihat kakaknya berdiri, kakaknya berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Dia juga menyuruh Rachel untuk segera tidur.
Sonia sungguh menjijikan sampai ia menggoda kakakku, sepertinya ia memang tidak waras.
Tunggu! Tapi dimana anak yang dikandungnya dulu?
Reno dengan rasa amarah yang meluap segera menuju ke kamarnya, ia juga menutup pintu dengan digebrak sampai Sonia terkaget.
Baru kali ini Sonia melihat Reno begitu marah, sampai ia tak berani menatap mata Reno.
"Dimana kamu menyembunyikan anakku?"
Sonia mengernyitkan dahi.
Anak? Anak Siapa? Dia sudah punya anak?
Reno menarik tangan Sonia kencang yang membuat Sonia kesakitan.
"Dimana anakku yang kamu kandung dulu?"
"Kamu gila? Hal konyol apa lagi yang kamu ingin bahas sekarang." Ucap Sonia marah.
Reno menatapnya tajam lalu memalingkan muka dari Sonia, Sonia yang melihatnya mulai bingung. Tak terasa air mata Reno menetes, ia baru pertama kali menangis di depan seseorang. Dia sangat menyesali perbuatannya dulu. Sonia yang masih bingung memeluk tubuh Reno.
"Kamu kenapa? Kamu terlihat aneh Reno." Ucap Sonia.
Reno mengelap air matanya, ia tidak mau terlihat cengeng di depan istrinya.
Dia mencium kening Sonia, "pasti kehidupanmu begitu berat tanpaku."
Pria ini sepertinya gila.
Hah! Sungguh semua ini membuatku bingung.
**
Reno memanasi mobilnya, dilihatnya awan yang begitu putih nan indah tetapi tak sesuai dengan yang diharapkannya.
__ADS_1
Dia masih ingin tau keberadaan sang anak, apakah ia sudah digugurkan atau dilahirkan oleh Sonia. Dia mengira Sonia telah amnesia.
Pagi ini ia ingin bertemu Papa Sonia, ia ingin mengetahui masa lalu Sonia secara langsung.
"Reno, aku berangkat syuting dulu." Ucap Sonia menaiki mobilnya.
"Tunggu sebentar!" Jawab Reno, ia mencium kening Sonia.
Sonia bergegas menaiki mobilnya dan meninggalkan rumah Reno.
Reno melihat Rachel keluar dari dalam rumah, ia meminta Rachel untuk berangkat sendiri ke restoran karena ia ada keperluan penting.
Reno segera menaiki mobilnya dan menuju ke kantor Papa mertuanya.
Sesampainya disana, ia segera menemui Papa Sonia, ia memberi salam kepada Papa mertuanya itu.
"Ada apa Reno? Apa ada masalah dengan perusahaan?" Tanya Papa.
Reno menjelaskan bahwa ia ingin mengetahui masa lalu Sonia, Papa Sonia cukup terkejut mendengarnya seolah menyembunyikan sesuatu. Reno meyakinkan Papa Sonia untuk menceritakan semuanya.
"Jika ku ceritakan kepadamu pasti kamu akan merasa jijik dengan Sonia."
"Tidak, sekarang ini dia adalah istri saya, semua kekurangan Sonia akan saya maklumi sebagai suaminya." Ucap Reno.
Papa Sonia menghela nafas panjang, ia menceritakan masa lalu Sonia saat masih SMA. Dia dihamili oleh seseorang dan orang itu tidak bertanggung jawab, Papa Sonia yang merasa sangat marah dan malu segera menyuruh Sonia untuk menggugurkannya.
Tetapi dilarang oleh Mama David, ia ingin Sonia melahirkan anak yang dikandungnya.
Akhirnya Sonia keluar dari sekolah dan melanjutkan home schooling sambil mengandung anaknya. Setelah melahirkan anaknya, Papanya meminta anak itu diurus oleh orang lain di luar kota.
"Anak itu laki-laki mungkin saat ini berusia 5 tahun, aku sudah bisa bersyukur karena Sonia tidak mengingat masa lalunya yang kelam itu." Jelas Papa Sonia.
Reno mendengar penjelasan dari Papa Sonia merasa sangat terpukul dan menyesal, tetapi ia tidak menceritakan jika dirinya yang telah menghamili Sonia.
"Kamu jangan pernah cerita masalah ini ke Sonia, Papa bersusah payah untuk menghilangkan ingatan Sonia yang buruk itu sampai Papa menyuruh seorang dukun untuk menghilangkan semua kenangan yang menyiksa batinnya."
Kini Reno tau kenapa Sonia bisa melupakan dirinya dengan mudah. Dengan berbagai alasan ia meminta alamat keluarga yang telah mengadopsi anak mereka. Tetapi Papa Sonia seketika menolak, ia sudah tidak ingin tau tentang anak itu.
"Reno, kumohon jangan membebani pikiran Sonia. Anggaplah jika Sonia tak pernah melakukannya, dan Papa mohon kamu jangan pernah mencoba meninggalkannya setelah mengetahui hal ini."
"Aku tidak akan meninggalkan Sonia, tetapi aku hanya ingin mengetahui anak itu saja, jadi kumohon berikan alamat keluarga yang mengadopsi anak itu." Ucap Reno memohon.
Papa Sonia menghela nafas, ia masih bingung kenapa Reno ingin sekali mengetahui keberadaan anak itu lalu Papa Sonia memberikan alamatnya tetapi ia tidak yakin tentang alamat itu. Dia mengira jika mereka sudah pindah.
Setelah mendapatkan alamat itu, ia segera berpamitan dengan Papa Sonia.
__ADS_1
Aku sudah mendapatkan titik terang.
Papa akan mencarimu nak.