Mariana

Mariana
Sonia bertemu Dylan


__ADS_3

"Nafsumu besar sekali Reno," ucap Sonia


sambil memakai seluruh pakaiannya.


"Wajar saja, kamu istriku jika tidak meminta kepadamu terus ke siapa lagi? Kamu juga terlihat sangat menikmatinya."


Sonia terlihat malu, ia hanya tersenyum kecil.


Reno memandangi Sonia dengan tatapan lembut, ia begitu menyayangi Sonia, gadis yang masih menjadi misteri baginya.


Reno menyuruh Sonia untuk mandi sekalian tetapi Sonia menolak, ia ingin mandi setelah sampai di rumah Dylan.


Setelah itu mereka segera melanjutkan perjalanan, Sonia semakin intens melihat pemandangan di luar kaca mobil. Dia sangat takjub dengan pemandangan yang begitu indah, kecuali Reno yang tengah fokus mengemudikan mobil karena mereka melewati pinggir jurang.


Setengah jam kemudian, mereka sampai di desa Dylan. Reno seperti biasa memarkirkan mobilnya di tanah lapang.


Segerombolan anak kecil juga nampak terlihat bermain di sekitar itu, termasuk Dylan ia berlari ke arah Reno. Reno memeluk Dylan lalu menggendongnya, Sonia hanya diam melihat anak kecil itu yang di gendong oleh Reno. Dia masih bertanya-tanya siapa anak kecil itu.


"Turun ya Dylan," ucap Reno yang ingin menurunkan Dylan dari gendongannya tetapi Dylan tidak mau ia memeluk erat Reno.


Reno tau jika Dylan sangat merindukannya sudah 2 minggu lebih Reno tidak bertemu dengan Dylan.


Reno segera menyuruh Sonia untuk membawakan belanjaan tadi yang berada di mobil, dengan rasa malas Sonia membawanya. Dia berjalan di belakang Reno yang tengah asyik mengobrol dengan anak itu sampai ia melupakan Sonia.


Dylan sesekali melirik Sonia, ia begitu takut dengan wajah Sonia yang menatap tajam kearahnya.


"Baumu seperti kambing, Dylan."


"Iya pah tadi habis kasih makan kambing bersama teman-teman."


Apa? Pah? Aku gak salah dengar? Batin Sonia.


"Setelah ini mandi ya?"


"Dylan dimandiin papah ya?" tanya Dylan dengan wajah imut.


Reno menganggukan kepala, ia mencubit pipi Dylan dengan lembut.


Sonia mendengar Dylan yang memanggil Reno dengan sebutan papah begitu syok, ia membanting barang belanjaannya.


Reno membalikan badan melihat ekspresi Sonia yang begitu marah.


Sonia berlari ke arah tanah lapang, ia masuk ke dalam mobil.


Reno mengejarnya sambil menggendong Dylan dan membawa barang belanjaan yang di jatuhkan oleh Sonia. Dia menuju ke arah mobil dan membuka pintu mobil, Sonia memalingkan muka.

__ADS_1


"Kamu kenapa Sonia?"


Sonia hanya terdiam, ia begitu marah dengan Reno. Dalam pikirannya anak itu adalah anak Reno bersama wanita lain tanpa sepengetahuannya, anak itu sungguh mirip dengan wajah Reno menurut pandangan Sonia.


"Ayo keluar! Kabut sudah mulai turun."


"Siapa anak itu?"


"Dia anak temanku," ucap Reno berbohong.


Dylan begitu takut melihat wajah Sonia yang marah, ia menyembunyikan wajahnya di dada Reno. Reno tau jika Dylan sedang ketakutan.


"Kenapa dia memanggilmu papah?"


"Huuuft.... Ceritanya panjang Sonia, kita berbicara di rumah Dylan saja disini sangat dingin."


Reno menurunkan Dylan dari gendongannya, ia menarik tangan Sonia untuk turun dari mobil.


Mereka berjalan beriringan, nampak Dylan memegang erat tangan Reno.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah Dylan, rumah itu telah di renovasi oleh bantuan Reno. Rumah itu kini sudah berganti menjadi lebih bagus dan sebagian dinding sudah di ganti dengan batu bata.


Dylan berlari memanggil kakek dan nenek, Reno segera menyalami mereka, nampak Sonia diam seakan tak acuh.


Reno menyenggol tangan Sonia untuk menyuruh menyalami kakek dan nenek.


Sonia hanya tersenyum kecut, ia masih begitu marah dengan Reno tentang anak itu.


Kakek dan nenek segera menyuruh Reno dan Sonia duduk serta Dylan duduk di pangkuan sang nenek.


"Kalian sudah makan? Biar nenek siapkan makanan," tanya nenek.


"Tidak usah nek, kami sudah makan, ini juga ada buah dan beberapa snack untuk Dylan."


Dylan dengan cepat mengambil makanan itu, ia begitu girang dibelikan makanan oleh Reno. Nenek segera menyuruh Dylan untuk mandi, Reno dengan sigap menggendong Dylan untuk dibawa ke kamar mandi.


"Yey! Dimandikan Papah," ucap Dylan sambil mencium pipi Reno.


Kini di ruang tamu hanya ada kakek, nenek beserta Sonia. Sonia nampak canggung dengan mereka, pada akhirnya kakek yang membuka pembicaraan.


"Dylan adalah cucu kami satu-satunya, ia kehilangan ayah dan ibunya 2 tahun yang lalu.


Dia nampak sedih dan terpukul, ia dulu selalu menanyakan ayah ibunya tetapi dengan kehadiran Reno kini Dylan bisa merasakan memiliki sosok seorang ayah," ucap kakek.


"Reno adalah anak yang sangat baik, ia selalu menyayangi Dylan dengan sepenuh hati. Makanya tidak heran jika kini mereka sangat akrab," sambung nenek.

__ADS_1


Kakek dan nenek seolah tau jika Sonia merasa cemburu dengan Dylan padahal Dylan adakah anak kandungnya sendiri.


Mereka sepakat untuk menutupi jika Dylan anak kandung Sonia.


Huh! Bodohnya aku cemburu dengan anak kecil. Anak itu seperti aku tidak memiliki orang tua. Eh... Aku masih punya Papa tetapi rasanya tidak memiliki Papa.


Sonia tersenyum mendengar penjelasan dari mereka, ia merasa sangat malu karena cemburu dengan anak kecil.


Nenek memperhatikan tangan Sonia yang bergetar pertanda ia sangat kedinginan.


Nenek menawari Sonia untuk minum teh tetapi Sonia menolak, ia hanya ingin beristirahat. Nenek seketika mengantarkannya ke kamar, kamar itu untungnya telah di renovasi oleh Reno supaya Sonia bisa betah menginap di rumah nenek.


Sonia merebahkan dirinya di ranjang yang empuk dan terlihat seperti baru, ia mengambil selimut warna merah untuk menyelimuti dirinya. Dia begitu mengantuk karena mungkin efek dari dingin.


Sonia mencoba untuk tidur tetapi tidak bisa, sampai ia mendengar suara orang yang sedang membuka pintu.


"Jangan tidur Sonia! Ini sudah jam 5 sore," ucap Reno.


"Aku tidak tidur, hmm.... Kenapa kamu sangat sayang dengan anak itu? Apa jangan-jangan itu anakmu dengan wanita lain? Dia sangat mirip denganmu."


Reno mendekati Sonia, ia mengelus rambut Sonia. Reno tidak menjawab pertanyaan dari Sonia, " cepatlah mandi, aku sudah menyiapkan air panas untukmu."


"Tidak mau, dingin begini aku tidak mau mandi."


"Jadi selama di Italia kamu juga tidak mandi?" tanya Reno menggoda.


"Ooh... Iya kadang-kadang," jawab Sonia malu.


Tiba-tiba Dylan membuka pintu kamar, ia berlari kearah Reno. Dia terlihat tampan dengan rambut basahnya dan juga bedaknya yang terlihat cemong di muka.


Reno mengangkat Dylan naik ke ranjang, Dylan bercerita panjang lebar dengan gaya bahasa anak-anak yang lucu.


Sonia merasa gemas seketika mencubit pipi Dylan, Dylan nampak terkejut.


"Nama kamu siapa?" tanya Sonia.


"Dylan tante."


Sonia merebut Dylan dari pangkuan Reno, ia menciumi wajah Dylan dengan gemas.


Dylan tertawa kegelian, ia menyuruh Sonia menghentikannya.


"Tante sangat cantik," ucap Dylan.


Sonia, dia adalah anak kita.

__ADS_1


Aku senang karena kamu kini sudah berjumpa dengan Dylan.


__ADS_2