
***
Diruangan ini hanya tinggal aku dan Melka seorang. Kami sengaja menyewa sebuah ruang karaoke VIP hanya untuk sekedar bernyanyi melepas penat. Namun sepertinya anak-anak yang lain sengaja meninggalkan kami berdua. Dan entah bagaimana mulanya, aku dan Melka menjadi begitu intim. Saling beradu bibir menikmati malam yang indah ini. Melka gadis yang begitu berani dan tentu saja sangat menggoda. Pantas jika dia terpilih menjadi ketua kelas dikelas kami. Aktivitasku dan Melka terhenti saat terdengar suara Amera yang sengak.
" Ayo kita pulang !!" ajaknya sinis.
" Sejak kapan kau ada disini ? " tanyaku kesal.
" Baiklah jika kau tidak ingin pulang, aku akan meninggalkanmu !!" Amera berbalik pergi dan aku mengejarnya. Tak mempedulikan Melka yang berusah menahanku.
***
Kulihat Amera hanya diam sepanjang perjalanan. Matanya terlihat sedikit sembab seperti habis menangis. Kurasa dia bukan pergi les melainkan pergi menemui artis itu. Dan sepertinya mereka berdua bertengkar. Sejak dulu Amera tidak pernah menerima yang namanya kekalahan. Dia tidak akan membiarkan dirinya terlihat lemah dihadapan orang lain.
" Apa kau dan artis itu..kalian sedang bertengkar ?" tanyaku penasaran.
" Itu bukan urusanmu !!" jawaban yang sudah aku prediksi sebelumnya.
" Sudah kukatakan berulangkali, jauhi artis itu karena dia hanya ingin memanfaatkan mu !! Sesuatu yang awalnya kau anggap main-main, kini mulai terasa serius bukan ? Kalian berdua tidak akan pernah berhasil dalam hubungan yang sesungguhnya. Si tua itu tidak akan membiarkannya.."
" Tidak bisakah kau diam ?" Melka mendesis kesal.
" Terserahlah, aku hanya sekedar memperingatkanmu saja " aku menguap, menyandarkan kepalaku dikursi.
" Dengan siapapun nanti aku berhubungan, tidak akan aku biarkan hubunganku berakhir menyedihkan seperti hubunganmu dengan Michaela " Melka seperti sedang mengejekku dan itu membuat ku tersinggung.
" Kenapa kau membawa Michaela dalam pembahasan ini ? Kau merusak moodku saja. Pak berhenti !!!" perintahku pada sopir. Aku turun dari mobil karna sedang malas berdebat dengan Melka. Wanita selalu ingin benar dalam segala hal.
***
Rasanya kakiku pegal semua setelah berjalan cukup jauh menuju rumah. Menyesal karena tadi turun dari mobil. Kurebahkan tubuhku diatas tempat tidur. Nyaman sekali rasanya kamar ini.
Meski begitu ngantuk tapi mataku belum juga mau terpejam. Kubuka ponsel dan membaca beberapa pesan. Penuh nama Melka didalamnya. Sepertinya gadis itu berharap lebih setelah ciuman kami malam ini. Semoga ini tidak menjadi masalah buatku untuk kedepannya. Karna bukan rahasia umum jika Melka dikenal sebagai orang yang nekad.
***
Sinar mentari menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamar. Aku mengusap mataku yang silau. Entah semalam tertidur jam berapa. Cepat sekali rasanya waktu berlalu. Alarm tak berhenti berdering sejak tadi. Aku bangun dengan malas. Berjalan menuju balkon kamar. Menikmati secangkir kopi yang telah disiapkan untukku seperti biasanya. Pagi ini kabut belum juga pergi.
Dari atas balkon, kulihat Ana sedang sibuk membersihkan taman. Mengenakan sweater usang, rambut pendeknya diikat seadanya. Raut wajahnya nampak datar seperti biasanya. Apa demamnya sudah reda ? Tiba-tiba saja aku menvemaskannya.
Aku berjalan kembali ke kamar. Kuperiksa laci satu persatu. Senang rasanya saat menemukan obat demam yang masih tersisa. Aku membungkusnya ke dalam sapu tangan, tak lupa ku selipkan batu kerikil yang lumayan besar didalamnya. Kembali ke balkon, aku berteriak memanggil nama Ana. Gadis itu menoleh heran ke arahku. Ku perlihatkan bungkusan yang ada di tanganku lalu melemparkannya ke arahnya. Kemudian memberi isyarat agar Ana mengambilnya. Meski terlihat ragu namun Ana memungut bungkusan yang tadi ku lempar untuknya. Dibukanya bungkusan itu dan melihat heran ke arahku seolah bertanya untuk apa obat itu.
" Minumlah obat itu !!! Kau sangat merepotkan saat sakit !!" teriakku dari atas balkon. Hampir Ana membuang obat itu jika saja aku tidak mengancamnya.
" Jika kau membuang obat itu, aku akan menciummu lagi !!!" teriakku lebih keras. Wajah Ana berubah merah jambu. Lucu sekali saat dia panik takut jika ada yang mendengar ucapanku. Buru-buru dia pergi meninggalkan taman. Dan aku hanya tersenyum seolah mendapat kemenangan.
***
Bima dan Arya tak berhenti tertawa saat mendengar ceritaku. Dan itu membuatku ingin menjitak kepala mereka berdua. Sengaja mereka meninggalku berdua dengan Melka diruang karaoke semalam, padahal mereka tau betul bagaimana sifat Melka yang garang seperti singa betina. Setelah ini gadis itu pasti akan terus menempel padaku seperti perangko. Berpikir jika ciuman semalam adalah tanda terjalinnya ikatan diantara kami. Sial, aku tak berhenti mengumpat.
Dari kejauhan, kulihat para siswa berlari ke arah lapangan. Mungkinkah ada sesuatu yang sedang terjadi. Aku, Bima dan Arya hanya saling pandang tak mengerti.
__ADS_1
" Hey bro, ada apa ?" tanya Arya pada salah seorang anak perempuan yang wajahnya bersemu merah.
" Ada bintang film datang ke sekolahan kita " jawab perempuan itu antusias.
" Bintang film apa ? Siapa ?" tanya Arya lagi.
" Lihat saja sendiri ke lapangan sekalian minta tanda tangan !! Dan lagi, jangan memanggilku bro, aku ini cewek bukan cowok !!!" anak perempuan itu berlalu sambil memonyongkan bibirnya. Aku dan Bima tak bisa untuk tidak tertawa.
***
Dilapangkan sudah ramai anak-anak berkumpul. Aku hampir tidak bisa mencari celah. Mereka semua heboh sekali. Penasaran bintang film mana yang kurang kerjaan datang ke sekolah kami. Kulihat diantara kerumunan, Amera berdiri didepan. Wajahnya bersemu merah. Benar dugaanku, bintang film itu adalah si artis pendatang baru itu. Teman dekat Amera. Dengan gitar ditangan menyanyikan sebuah lagu cinta. Suaranya terdengar fals namun entah kenapa para gadis justru heboh. Mudah sekali para gadis itu dibodohi. Bukan hanya itu, artis tidak terkenal itu juga membacakan sebuah puisi romantis untuk Amera. Berlutut dengan memberinya bunga. Kurasa benar apa yang ku pikir, jika keduanya sedang bertengkar, dan si artis tidak terkenal itu menggunakan cara murahan untuk kembali meluluhkan hati Amera. Akh, polos sekali hati saudaraku itu.
Belum puas dengan pertunjukan dramanya. Artis tidak terkenal itu juga membagikan coklat pada semua anak yang ada disitu. Pasti dia membeli bunga dan juga coklat-coklat itu dengan uang pemberian Amera. Dasar benalu !! Aku berdecak kesal.
" Kenapa kau melakukan semua ini dan membuat aku malu ?" tanya Amera menyembunyikan wajah merahnya saat mereka duduk bersama ditaman sekolah.
" Apa kau malu terlibat hubungan denganku ?" Bian memasang wajah sendu. Buaya.
" Bukan, tentu saja tidak seperti itu. Maksudku bagaimana jika nanti kau kehilangan semua fans mu saat mereka tahu tentang hubungan kita. Bukankah kau baru merintis di industri ini ? Itu tidak akan baik untuk karirmu " ucap Amera hati-hati, takut jika Bian akan tersinggung dengan perkataannya.
" Tidak masalah. Lebih baik aku kehilangan semua fans ku daripada harus kehilangan wanita yang aku cintai. Sedikit banyak kau lah yang telah membantuku hingga berada diposisi saat ini ". Bian mengusap lembut punggung tangan Amera.
" Jangan pernah merasa berhutang budi padaku. Aku melakukannya dengan senang hati ".
" Apa ini artinya kau tak marah dengan kecerobohanku semalam ? Aku benar-benar menyesal " Diciumnya punggung tangan Amera dengan ekspresi yang minta dikasihani.
" Tentu saja tidak, asal kau berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Setidaknya jangan sampai ketahuan olehku ".
Keduanya tersenyum. Saling berpegangan tangan menikmati daun-daun yang berguguran.
" Terima kasih untuk bunganya, cantik sekali. Suaramu juga bagus " puji Amera, disambut suara tawa Bian. Keduanya saling tertawa.
Aku yang memperhatikan mereka dari sudut kantin merasa mual. Entahlah, firasat ku sungguh tak enak pada artis tidak terkenal itu.
" Sepertinya kau akan punya adik ipar seorang artis !!" Ledek Bima diiringi tawa Arya.
" Kalian pikir ayahku akan membiarkan hubungan mereka berlanjut ?" kali ini aku berbicara lebih serius.
" Tapi kelihatannya Amera sudah sangat menyukai artis itu ?"
" Karna itu kalian harus membantuku mencari tahu tentang latar belakang artis itu. Aku ingin tahu semua tentang kehidupannya. Bagaimanapun Amera adalah kembaranku, aku tidak mau jika sampai dia terluka karena hal konyol "
Arya dan Bima mengangguk pertanda mengerti maksudku.
Benar, aku harus bergerak selangkah lebih cepat sebelum ayah tau tentang hubungan Amera dan Artis itu. Aku tidak ingin Amera merasakan apa yang aku rasakan. Sebuah hubungan yang kandas tidak akan baik untuk Amera yang masih muda. Terlebih jika itu adalah cinta pertamanya.
***
Ana berniat pergi ke perpustakaan saat melihat sesuatu yang mencurigakan diparkiran. Seorang pria terlihat mengambil sesuatu dari dalam mobil pribadiku dan Amera. Ana merasa belum pernah melihat pria asing itu sebelumnya disekolahan ini. Kecurigaan Ana semakin bertambah saat pria asing itu membawa tas pribadi Amera.
" Apa kau mau mencuri ?" pertanyaan Ana mengagetkan Bian, pria yang dipikir Ana adalah pencuri.
__ADS_1
" Apa tampangku seperti seorang pencuri ?" jawab Bian santai.
" Lalu apa namanya, mengambil barang orang lain tanpa ijin ? Kembalikan tas Amera !!" perintah Ana mengeraskan volume suaranya.
" Bagaimana jika aku tidak mau ?" Bian tersenyum menantang.
" Kau mencari masalah dengan orang yang salah !!" Ana memelintir pergelangan tangan Bian hingga cowok itu meringis kesakitan. Diambilnya tas Amera dari tangan Bian. Belum puas, Ana membanting tubuh Bian hingga terjungkal ke tanah. Bian mengaduh memegangi punggungnya yang sakit.
Setelah itu Ana menyeret Bian yang masih dalam kesakitan ke ruang kepala sekolah.
***
Amera memandang benci ke arah Ana. Bagaimanapun apa yang sudah dilakukannya terhadap Bian sangat keterlaluan. Terlebih sekarang membawa Bian ke hadapan kepala sekolah. Sementara Ana terlihat santai seperti biasa. Tak sedikitpun merasa bersalah, meski dihadapannya kini Bian masih terlihat kesakitan.
" Bapak rasa kesalahpahaman ini sudah terselesaikan, kalian bertiga boleh pergi meninggalkan ruangan ini " kepala sekolah mempersilahkan Ana, Bian dan juga Amera untuk pergi meninggalkan ruangannya.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ana. Membuat Bian sedikit terkejut.
" Ini hukuman atas kecerobohanmu !! Lain kali jangan suka mencampuri urusan orang lain !! Apa kau mengerti ?" Amera memberi Ana sedikit pelajaran. Bian tak bisa berbuat banyak, takut jika Amera akan lebih kasar lagi. Dipandanginya Ana yang menunduk dengan muka merah.
" Ayo kita pergi !!" Amera menarik tangan Bian.
Ana menghela nafas pelan, tersenyum kecut memegangi pipinya yang memar
" Ini sangat menyebalkan !!" ucapnya lirih
***
Aku tak bisa berhenti menahan tawa saat mendengar cerita Arya dan Bima tentang Ana yang menghajar artis tidak terkenal itu. Sangat lucu sekali. Bagaimana bisa mereka bertemu disaat yang tidak tepat seperti itu. Namun tawaku menghilang saat Aryo bercerita jika dia melihat Amera menampar Ana disamping ruang kepala sekolah tadi. Akh, Amera itu sejak dulu memang tidak pernah menyukai Ana. Apapun yang dilakukan Ana selalu terlihat salah dimatanya. Amera merasa kalah saing dari Ana yang selalu mendapatkan juara satu. Meski begitu ayah tetap menyekolahkan Ana disekolah yang sama dengan kami, meski kami merasa tidak nyaman jika terus dibandingkan dengan anak pembantu. Mungkin itulah sebabnya Amera selalu menyuruh Ana untuk mengerjakan seluruh tugas sekolahnya. Bukan karena Amera bodoh namun karena dia ingin Ana merasa sulit.
Aku berlari mengejar Ana yang kulihat baru keluar dari ruang perpustakaan. Ada bekas tangan dipipi kirinya.
" Apa kau sudah minum obat yang tadi pagi kuberikan ?" kehadiranku mengagetkan Ana yang tengah asyik membaca buku sambil berjalan menuju kelas.
" Ya.." Jawabnya singkat tanpa menoleh ke arahku.
" Kudengar tadi kau terlibat sedikit masalah dengan Amera ? Apa dia mengganggumu lagi ?" tanyaku penasaran.
" Kenapa masih bertanya jika sudah tau semuanya ?" jawab Ana angkuh. Membuatku ingin menjitak kepalanya saja.
" Pulanglah bersamaku dan Amera, hari ini. Jangan salah sangka, aku hanya tidak ingin demammu bertambah parah. Karna jika kau sakit itu akan sangat merepotkan !!" aku berusaha mencari alasan yang pas agar Ana mau pulang bersamaku. Tidak biasanya aku merasa kasihan padanya. Namun kali ini, melihat wajahnya yang masih terlihat pucat dan perlakuan Amera padanya, ada sedikit rasa iba.
" Tidak perlu merasa kasihan padaku !! Dan berhentilah sok peduli !!" namun justru penolakan yang aku dapatkan dari niat baikku. Ana memang selalu keras kepala. Sekalipun aku ini putra majikannya namun untuk hal-hal tertentu dia selalu melawanku.
Gadis itu mempercepat langkahnya meninggalkanku.
***
Ana menghela nafas. Dilihatnya didepan cermin pipinya yang masih terasa panas.
" Aku pasti akan membalik semua keadaan ini suatu saat nanti " ucapnya lirih. Dibukanya lembar per lembar buku pelajaran. Dia harus belajar giat agar mendapatkan beasiswa yang selama ini diimpikannya. Satu-satunya cara untuk memperbaiki hidupnya saat ini adalah dengan menjadi pintar dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Membawa ayah dan ibunya keluar dari keluarga ini.
__ADS_1