
***
Seperti biasa, sepagi ini Ana sudah bangun dan sibuk dengan segala aktivitasnya dirumah ini. Gadis itu seperti tidak mengenal rasa lelah. Segala hal dikerjakannya. Pantas jika ayahku menyayanginya seperti putri sendiri.
Hari Minggu begini, biasanya aku bangun lebih siang. Namun entah mengapa hari ini berbeda. Aku ingin lari pagi meski hanya disekitar perumahan. Rasanya sudah lama sekali aku tidak melakukannya. Badanku terasa sakit semua karena kurang olahraga. Basa-basi kusapa Ana yang sedang membersihkan kolam ditaman depan. Ingin mengajaknya lari pagi bersamaku. Tapi tentu saja ditolaknya dengan datar. Gadis itu seperti alergi saat berada di dekatku. Mungkin karena selama ini aku selalu menyuruhnya ini itu seenaknya. Kebiasaan sejak kecil yang sulit dirubah. Lagipula salah sendiri kenapa Ana selalu menurut, hanya beberapa kali dia membantah ucapanku. Aku yakin jauh di lubuk hatinya pasti sudah sangat ingin pergi meninggalkan keluargaku. Lalu jika nanti Ana pergi siapa yang akan aku suruh-suruh . Meski masih banyak pembantu yang lainnya, rasanya pasti akan berbeda jika itu bukan Ana, si ekspresi datar.
Kabut masih menutupi jalanan pagi ini. Dinginnya menusuk sampai ke tulang. Aku terus berlari kecil, sambil menikmati alunan musik yang terpasang lewat sambungan headset ditelinga ku. Butir keringat mulai membanjiri tubuhku. Sudah cukup jauh jarakku dari rumah. Aku sudah mulai merasa lelah. Dan sialnya aku lupa membawa air mineral. Beruntung masih ada sisa uang dicelana olah raga ku. Cukup untuk membeli air di minimarket depan.
Aku mengantri didepan kasir untuk membayar. Meski masih cukup pagi namun minimarket sudah cukup ramai oleh orang-orang. Saat kulihat dilayar televisi yang terpampang dibelakang kasir, berita tentang Mikhaela dan tunangannya yang semakin terlihat mesra. Mereka berdua memang pasangan yang serasi. Michaela model papan atas sementara calon suaminya adalah milyader muda. Aku tersenyum kecut, mencoba menghapus rasa sakit di dada. Kuteguk sebotol minuman dingin hingga membuatku tenggorokanku serasa membeku. Seperti hatiku saat ini.
Kulangkahkah pelan kaki menyusuri jalanan. Tak ada lagi gairah untuk berolahraga. Harusnya tadi kubiarkan saja dahaga melanda daripada harus melihat berita tentang Mikhaela yang membuat semangatku sirna. Sekeras apapun aku berusaha melupakan gadis cantik itu namun tetap saja kenangan tentang dirinya tak mudah untuk dihapuskan. Bagaimana antara aku dan Michaela cukup lama menjalin hubungan meski tanpa sebuah ikatan. Dulu kami sering menghabiskan waktu berdua. Saat Michaela masih merintis di dunia modeling. Banyak yang mengatakan jika dia hanya ingin memanfaatkan ku. Karna aku anak orang kaya yang punya banyak uang. Namun aku tak pernah menghiraukan semua yang dikatakan orang. Bagiku asal merasa nyaman dengan seseorang sekalipun harus memberikan seluruh bagian warisanku pun tak mengapa, aku rela. Semuanya berjalan baik-baik saja, hubungan ku dengan Mikhaela semakin hari semakin romantis. Meski aku memang harus selalu keluar uang untuknya. Segala keperluannya semua aku yang menanggung. Keadaan menjadi rumit saat ayah mengetahui tentang hubungan kami. Tagihan kartu kreditku melonjak diluar batas yang seharusnya. Tentu saja aku menjadi sasaran orang tua pelit itu. Dan entah apa yang dikatakannya pada Mikhaela hingga membuat gadis itu berlahan mulai menjauhiku. Hubungan kami berdua mulai renggang. Aku tak mempunyai cukup keberanian untuk memperjuangkannya. Takut jika dicoret dari daftar warisan oleh ayahku. Ya..aku memang pengecut. Bahkan sampai sekarang aku masih takut jika tidak mendapatkan uang dari ayahku. Dasar pecundang !!
Kulemparkan botol bekas air mineral yang isinya masih setengah itu untuk meluapkan kekesalanku. Namun siapa sangka botol itu justru mengenai seekor anjing yang menggonggong keras membuat bulu kudukku berdiri. Dan benar saja, anjing bertubuh sintal itu terus menggonggong melihatku. Seakan ingin menerkamku. Aku yang ketakutan berlari menyelamatkan diri. Namun justru anjing itu mengejar ku sambil tak berhenti menggonggong. Sial, anjing itu semakin dekat. Tubuhnya yang gemuk tak membuat larinya pelan tapi justru sebaliknya. Aku terus berlari tak mempedulikan tatapan aneh orang-orang.
" Braaakkk..!!"
Tubuhku terpental saat tak sengaja sebuah mobil menabrakku. Sedikit kesakitan, aku mencoba bangkit sebelum anjing itu menggigitku dengan ganasnya.
" Apa kau baik-baik saja ?" tanya seseorang dari dalam mobil. Seorang wanita berkacamata. Suaranya sudah sangat familiar ditelinga ku.
" Michaela ?" tanyaku terkejut saat melihat wanita yang ada didalam mobil itu adalah wanita yang sama yang membuat mood ku pagi ini buruk.
" Amero ? Apa kau baik-baik saja ?" Michaela terlihat sama terkejutnya denganku.
" Cepat naik ke dalam mobil !!" perintahnya yang melihatku masih bengong.
***
Suasana sedikit kaku saat aku harus berada di mobil yang sama dengan Michaela. Untuk sejenak kami saling diam, meski sesekali tertangkap basah saling curi pandang.
" Bagaimana kabarmu ?" tanya Mikhaela memecah keheningan, sambil terus melajukan mobilnya pelan.
__ADS_1
" Baik. Bagaimana denganmu ?" jawabku seadanya, menutupi rasa gugup didada.
" Seperti yang kau lihat, keadaanku sangat baik " Michaela tersenyum manis memperlihatkan deretan gigi putihnya.
" Tentu saja. Calon pengantin memang sudah seharusnya bahagia " aku menatap lurus ke depan, dijalanan yang mulai terang oleh kabut.
" Apa kau masih marah padaku ? Kenapa tidak mau membalas pesan ataupun mengangkat telpon dariku ?"
" Akan sangat baik untuk kita jika tidak lagi berhubungan. Aku tidak mau jika sampai calon suamimu tahu dan kau mendapat masalah karenanya "
" Dia tidak akan pernah tau, jadi berhentilah mencemaskanku !!" Michaela tersenyum memandangku.
" Bagus jika memang seperti itu " ucapku datar.
" Bagaimana jika kita membeli sarapan, bubur ayam seperti yang dulu selalu kita lakukan saat selesai berolahraga ? " kali ini Michaela tertawa lebih lebar. Seolah tidak peduli dengan luka yang telah digoreskannya ke dalam hatiku.
" Maaf aku tidak bisa. Bisa turunkan aku didepan ?"
" Lalu kau ingin aku bagaimana ? Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa sementara kenyataannya sekarang kau adalah tunangan pria lain ? Hah.." sengaja ku keraskan volume suaraku meski tak biasanya aku bicara kasar pada Michaela selama ini.
" Setidaknya jangan menghindariku !! Aku ingin kita tetap seperti dulu, sekalipun nanti aku telah menjadi istri orang, tetaplah bersamaku !! Jangan pergi menghindariku ataupun mencintai perempuan lain !! Tetaplah menjadi Ameroku !!" mata Michaela berkaca-kaca, membuat ku ingin sekali memeluknya. Namun segera ku tepis rasa itu.
" Jangan egois, sekali saja pikirkan tentang perasaanku !!" aku membuka pintu, keluar dari dalam mobil sebelum menjadi lemah oleh air mata Michaela.
" Kau tau kan aku melakukan semua ini karena ayahmu ? Karena dia tidak pernah menyukai ku ?" ucap Michaela lirih.
Aku terus berjalan meninggalkan Michaela meski gadis itu terus berteriak menyalahkan ayahku.
***
Ditaman yang penuh rerumputan hijau, Amera merebahkan tubuhnya. Mengatur nafasnya yang naik turun, sambil sesekali mengusap keringat yang membanjir dikeningnya. Disampingnya, Bian melakukan hal yang sama. Keduanya tersenyum renyah setelah lelah adu balap lari. Tinggal menikmati rasa lelah yang tersisa.
__ADS_1
" Apa kau tidak takut jika ada orang ayahmu yang melihat kita bersama seperti ini ?"
Amera menggeleng pelan mendengar pertanyaan Bian.
" Meski begitu lain kali pilihlah tempat untuk bertemu yang sedikit agak jauh dari rumahmu. Aku tidak ingin kau mendapat masalah karena ku !!"
Amera tertawa lagi, meneguk sebotol air mineral yang diberikan Bian.
" Iya aku tahu. Lain kali akan aku pilih tempat yang sangat jauuuh sekali agar kita bisa bertemu " Amera tertawa mengejek. Sementara Bian hanya menghela nafas melihat tawa Amera.
" Bagaimana dengan filmmu ? Kapan akan rilis ?" Amera bangun dari rebahannya.
" Entahlah, jika tidak ada halangan mungkin 2 bulan lagi " Bian tertunduk lesu.
" Kenapa ? Apa ada masalah ? " tanya Amera khawatir.
" Hanya sedikit masalah kecil, jangan khawatir !!" Bian tersenyum mengusap lembut rambut Amera.
" Apa ? Ceritakan padaku !! Apa kau kekurangan uang lagi ?"
Bian hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Amera.
" Jangan khawatir, aku akan memberikan uang untukmu " Amera menggenggam tangan Bian.
" Tidak usah. Kau sudah cukup banyak membantuku. Jika sampai ayahmu tau ini tidak akan baik untuk hubungan kita kedepannya. Lagipula aku tidak mau sampai orang lain mengira aku hanya memanfaatkan mu untuk kepentingan pribadimu saja. Jadi berhentilah memberikanku uang. Aku pasti bisa menyelesaikan semua ini sendiri " Bian tersenyum lemah.
" Jangan bicara seperti itu. Uangku adalah uangmu juga. Kelak aku akan mewarisi 30% dari saham perusahaan keluarga ku. Jadi berhentilah mengkhawatirkan mengenai uang dan biarkan aku membantumu !!" ucap Amera meyakinkan.
" Baiklah jika memang itu mau mu. Kelak jika uangku sukses pasti aku akan mengembalikan semua uang yang telah kau keluarkan untukku berkali-kali lipat " Bian tersenyum memegang erat jemari Amera.
" Tidak perlu. Cukup tetap berada disampingku, itu sudah lebih dari segalanya bagiku !!" Amera menyandarkan kepalanya dipundak Bian. Menikmati mentari pagi yang berlahan menerobos pekatnya kabut pagi ini.
__ADS_1
Tanpa dua orang itu sadari, aku sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Amera terlalu polos hingga tidak menyadari jika Bian hanya akan memanfaatkan nya saja. Sekalipun aku sudah berulang kali memperingatkannya. Aku harus segera mencari cara untuk menjauhkan artis tidak terkenal itu sebelum Amera semakin dalam jatuh ke dalam jebakannya.