
Segera Tuan Darwin menghubungi petugas yang berjaga dan memantau kamera CCTV. Dirinya mengatakan untuk menghapus semua rekaman kamera CCTV di malam hari, saat terjadi peristiwa di mana Yaya ditemukan tergeletak tak sadarkan diri.
"Huh... pasti ini yang menjadi lakon utamanya." gumam salah satu petugas CCTV pada rekan di sampingnya.
Keduanya melihat Milly masuk lebih dulu ke dalam tempat di mana Yaya ditemukan. "Milly, bukankah dia sahabat dari Nona Zoya. Putri Tuan Darwin sendiri." sahut rekannya.
Dia mengangguk. "Sepertinya perempuan ini memiliki hubungan yang tak wajar dengan Tuan Darwin." tebaknya.
"Pasti. Gue pernah melihat Milly keluar dari ruangan Tuan Darwin dengan cara sembunyi-sembunyi. Meski gue melihatnya secara tak sengaja." tukas rekannya.
Keduanya saling menatap. "Apa pikiran elo sama kayak apa yang ada di dalam benak gue?" tanyanya sekalian menebak.
"Mungkin. Nona Yaya tahu hubungan gelap keduanya." tebaknya.
"Benar. Kasihan sekali Nona Yaya." cicitnya.
"Semoga Nona Yaya segera sadar."
"Bukan itu yang sekarang gue khawatirkan."
"Lalu apa?
"Keselamatan Nona Yaya. Elo paham maksud guekan?"
"Benar. Semoga Tuhan selalu melindunginya."
"Amin. Semoga."
Keduanya hanya pegawai rendahan yang tidak mempunyai kekuasaan. Mana berani terlalu ikut campur.
Keduanya memilih untuk membutakan kedua matanya dan menulikan pendengarannya atas apa yang terjadi pada Yaya. Dan juga skandal sang bos besar dengan teman putrinya sendiri.
Memilih jalur aman untuk keluarga mereka sendiri. Mungkin itulah jalan yang terbaik menurut mereka.
Keesokan harinya, Milly bersikap biasa masuk bekerja. Bahkan dirinya juga ikut bergosip dengan karyawan lain mengenai kejadian yang menimpa Yaya.
Tentu saja tujuannya adalah mencari informasi untuk rencana yang akan dia ambil ke depannya. "Astaga, kenapa bisa bersamaan ya." ujar Meta, salah satu karyawan yang berada di divisi tersebut.
Yaya, dia masuk ke dalam divisi keuangan. Dan didalamnya terdapat enam anggota lainnya. Termasuk Zoya dan Miko. Sedangkan yang dua lagi bernama Beni dan Enggar.
"Mungkin itu takdir." sahut Milly dengan wajah bersedih.
Mereka membicarakan Yaya dan Zoya yang mengalami nasib yang sama. Keduanya sama-sama berbaring di atas ranjang. Tak sadarkan diri.
Hanya berbeda caranya. Jika Yaya ditemukan tergeletak tak sadarkan diri. Lain dengan Zoya yang mengalami kecelakaan.
"Sabar ya Milly, gue yakin, Zoya akan segera sadar kembali. Dan berkumpul bersama kita di sini." tukas Enggar.
Milly mengangguk, memasang wajah muram. "Brengsek. Ngapain elo bilang begitu. Gue malah berharap Zoya tidak akan pernah kembali bersama kita." batin Milly.
"Apa ada yang sengaja mengerjai Yaya?" tukas Beni.
"Iiisss,,, kurang kerjaan kali. Lagian kita juga yang rugi jika tidak ada Yaya. Lihat." ucap Meta menunjukkan tumpukan pekerjaan miliknya yang menggunung.
"Benar juga. Tapi mungkin dari divisi lain." tebak Enggar.
__ADS_1
"Ckk,,,, sudahlah. Ngapain elo bingung sendiri. Orang tuanya saja tidak melapor ke polisi." timpal Beni.
"Elo gila. Bagaimana mau melapor. Tidak ada bukti. Malah yang gue dengar, kamera CCTV rusak pada saat Yaya ditemukan." sahut Enggar.
"Loh,,, kok bisa rusak. Bukannya, ada yang mengatakan jika Yaya ditemukan karena bantuan kamera CCTV." ujar Beni merasa ada yang aneh.
"Aduh... Entahlah gue juga pusing. Mending gue ngerjain kerjaan gue yang masih menumpuk gara-gara Yaya." keluh Meta.
"Elo, ngapain nyalahin Yaya." tukas Enggar merasa aneh dengan perkataan Meta.
Sedangkan Miko hanya diam. Dia memilih mengerjakan pekerjaannya. Tapi Miko tak serta merta benar-benar diam dan fokus pada lembar-lembar kertas di depannya.
Beberapa kali dia mencuri pandang ke arah Milly. Miko masih mengingat kejadian kemarin. Dimana Yaya terlihat ketakutan. Sementara Milly menatap Yaya seperti mangsa.
"Pasti ada yang tidak beres di sini." batin Miko.
Awalnya pihak satpam mengatakan jika mereka menemukan keberadaan Yaya karena bantuan dari kamera CCTV. Dan sekarang, mereka mengatakan jika kamera CCTV rusak. Sehingga tidak ada bukti apapun terkait kecelakaan hang menimpa Yaya.
Milly tersenyum samar. Pastinya dia merasa senang sekali. Yaya dan Zoya. Keduanya sama-sama berbaring di atas ranjang. Bagai mayat hidup yang pastinya tidak akan merecoki hidupnya lagi.
"Sebentar lagi, gue akan menjadi Nyonya Darwin. Kita tunggu saja saatnya." batin Milly dengan percaya diri.
Sudah hampir dua minggu, baik Yaya dan Zoya dama sekali tidak ada perkembangan. Keduanya sama-sama seperti nyaman berada di dalam mimpi mereka.
Tuan Darwin memutuskan untuk membawa pulang Zoya. Melanjutkan pengobatan Zoya di negeri tercinta. Bukan tanpa sebab beliau mengambil keputusan seperti itu.
Tentu saja Tuan Darwin juga capek, harus bolak balik ke negaranya mengurus perusahaan. Dan kembali lagi ke negara dimana sang putri di rawat.
Zoya tidak dirawat di rumah sakit. Tapi di rawat di rumah pribadi Tuan Darwin. Beliau memilih untuk memanggil dokter dan beberapa perawat untuk terus memantau perkembangan sang putri.
Tuan Darwin pulang bukan hanya bersama sang istri, Nyonya Ratna. Melainkan juga bersama dengan Reiner.
Mama dari Reiner langsung memeluk Nyonya Ratna. "Yang sabar jeng. Saya yakin, Zoya akan kembali seperti semula." tuturnya.
"Terimakasih." sahut Nyonya Ratna.
Meski mama dari Reiner sendiri sudah mengetahui bagaimana parahnya kondisi calon menantunya tersebut dari sang putra.
Tapi tetap saja, beliau mendoakan yang tebaik untuk Zoya.
Zoya dalam perjalanan menuju ke kediamannya. Dimana di rumah tersebutlah dia tinggal dan dibesarkan.
Sedangkan Yaya, kedua orang tuanya juga merasa frustasi. Ditambah lagi, uang yang dimiliki oleh pak Endri semakin habis. Sebab, mereka juga bukan berasal dari keluarga kaya.
Meski pihak perusahaan juga memberikan bantuan atas pengobatan Yaya, tapi tetap saja, uang yang di miliki pak Endri semakin habis.
Pick up yang biasanya beliau gunakan untuk membeli barang kebutuhan pokok, juga telah terjual. Termasuk motor yang biasanya digunakan Bu Murni berbelanja ke pasar.
Hanya tersisa motor milik Yaya. Dan mereka tak akan mau menjualnya. Sebab motor tersebut dibeli Yaya dengan uang Yaya sendiri.
Meski saat bangun, Yaya juga tidak akan marah. Jika motornya di jual untuk biaya pengobatan. Tapi kedua orang tua Yaya tetap akan mempertahankannya.
"Pak, bagaimana ini. Uang kita tinggal sedikit." lirih bu Murni.
Apalagi, semenjak Yaya di rawat di rumah sakit, toko pak Endri juga tutup. Beliau tidak mungkin membuka toko, dan menunggu toko tersebut. Sementara sang anak sedang berada di rumah sakit.
__ADS_1
"Sabar bu, bapak akan mencari pinjaman." ujar pak Endri, menenangkan rasa galau sang istri.
Tanpa keduanya sadari, sang dokter yang hendak masuk ke dalam kamar rawat Yaya mendengar apa yang dikatakan oleh keduanya.
Beliau membalikkan badan. Dan kembali ke ruangannya. "Jika saja saya bisa membantu." ucapnya. Kemungkinan sang dokter akan bisa membantu, tapi tidak seterusnya. Hanya beberapa hari. Sebab, biaya perawatan Yaya yang memang mahal.
Sang dokter terdiam. Membuka catatan kondisi kesehatan Yaya. "Semua baik." gumamnya.
Sang dokter tersenyum. "Mungkin aku bisa meminta izin pihak rumah sakit." ucapnya, mendapatkan ide untuk mengurangi biaya rumah sakit Yaya.
Tak mau membuang waktu, dan juga mempergunakan waktunya yang sedang luang. Segera sang dokter menemui pihak terkait di rumah sakit. Yakni kepala rumah sakit.
Sang dokter mengungkapkan alasan beliau menemui kepala rumah sakit. "Kamu yakin, apa yang kamu sarankan itu tidak akan membahayakan pasien?" tanya kepala rumah sakit dengan serius.
"Tentu saja tidak dok. Saya setiap hari memantau perkembangannya. Yaya sama sekali tidak terluka. Dia seperti enggan untuk kembali membuka kedua matanya."
Dokter tersebut memanggil kepala rumah sakit dengan panggilan dokter juga, sebab beliau juga merupakan seorang dokter di rumah sakit ini.
"Saya hanya berharap, Yaya akan merasakan kenyamanan saat berada di rumahnya sendiri. Mungkin itu bisa membantu kesembuhannya." jelas sang dokter.
Padahal, bukan hanya itu saja alasan sang dokter dengan berani menemui kepala rumah sakit dan mengatakan rencananya untuk membawa Yaya pulang ke rumah keluarganya.
Tapi dengan tetap dibantu alat medis dari rumah sakit. Tentu saja pak Endri tidak perlu membayar. Sebab, alat tersebut akan dipinjamkan oleh pihak rumah sakit.
"Saya akan setiap hari pergi ke rumahnya. Untuk terus mengawasi perkembangan Yaya." sang dokter dengan kekeh.
Sang dokter berharap kepala dokter akan menyetujui saran yang dia ungkapkan. "Baiklah, tapi anda harus bertanya dan juga meminta persetujuan keluarga Yaya." pinta kepala rumah sakit.
"Baik dok."
Dengan perasan lega, sang dokter keluar dari ruangan kepala rumah sakit. Beliau bergegas menuju ruangan di mana Yaya dirawat.
"Siang pak Endri, bu Murni." sapa sang dokter dengan senyum di bibir.
"Siang dok." sahut keduanya tersenyum. Meski keduanya sedang merasa resah atas biaya Yaya, tapi mereka tidak memperlihatkan pada sang dokter.
"Pa Endri, bu Murni. Ada yang ingin saya sampaikan." tukas sang dokter.
Pak Endri dan bu Murni saling pandang sejenak. Tentu saja keduanya takut, jika sang dokter mengabarkan kabar yang tidak ingin mereka dengar. Pasalnya, sampai sekarang Yaya belum juga membuka kedua matanya.
Sang dokter mengatakan rencananya untuk memindahkan Yaya ke rumah mereka. Tapi sang dokter sama sekali tidak menyinggung perihal biaya.
Beliau beralasan, mungkin Yaya akan merasa nyaman di rumah sendiri. Dan hal tersebut bisa membantu untuk kesembuhan Yaya.
"Tapi bapak dan ibu tenang saja. Pihak rumah sakit akan meminjam alat medis pada Yaya. Jadi, ibu dan bapak tidak perlu membeli."
Pak Endri dan bu Murni tersenyum lega. "Dan juga, setiap hari saya akan datang untuk melihat keadaan Yaya. Jika saya ada kegiatan, dan tidak bisa datang, akan ada yang mengantikan saya. Bagaimana, pak,,, buk..." tanya sang dokter menunggu keputusan keduanya.
"Bagaimana pak?" tanya bu Murni pada sang suami.
Pak Endri mengangguk. "Jika itu yang terbaik. Kami akan mengikuti saran pak dokter." tukas pak Endri.
"Maaf dok, Bagaimana dengan obat gang akan dikonsumsi Yaya?" tanya pak Endri.
"Bapak tidak perlu khawatir. Yaya bukan pasien yang menderita penyakit berbahaya. Lagi pula, akan ada gang datang setiap hari. Jadi, Yaya akan tetap dalam pantauan kami." jelas pak dokter.
__ADS_1
"Baik dok." sahut pak Endri.
Sesuai yang direncanakan. Sang dokter langsung mengurus semuanya. Begitu pula dengan pak Endri. Beliau segera ke bagian administrasi untuk melunasi biaya pengobatan Yaya yang belum dia bayar, selama berada di rumah sakit