MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 59


__ADS_3

"Cantiknya anak ibu." puji bu Murni melihat sang putri yang sudah memakai pakaian kerja. Berdandan cantik dengan wangi parfum yang memanjakan hidung.


"Bapak mana?" tanya Zoya tidak melihat pak Endri di meja makan.


"Kerja bakti. Hari ini para warga melakukan kerja bakti bersama." jelas bu Murni.


Zoya mengambil sedikit nasi serta sayur dan lauk pauk yang dia letakkan di atas piring miliknya. "Tumben." sahut Zoya, sebab biasanya kerja bakti akan dilakukan hari libur atau hari minggu.


"Ibu dengar akan ada kegiatan warga. Entahlah. Ibu kurang paham. Karena belum ada pengumuman resmi dari RT." jelas bu Murni.


Bu Murni meletakkan sebuah paper bag di atas meja. Seperti biasa, di dalamnya ada bekal makan siang Zoya beserta minumannya.


"Ibu nggak ikut kerja bakti?" tanya Zoya setelah menelan makanan di dalam mulutnya.


"Nanti ibu menyusul. Tapi hanya sebentar. Mengantarkan makanan kecil buat bapak-bapak yang bekerja bakti." jelas bu Murni, sebab beliau juga harus membuka toko kelontongnya.


Tanpa sengaja, bu Murni melihat luka di tangan Zoya. "Kenapa tangan kamu?" tanya bu Murni.


"Kena pinggiran meja bu." sahut Zoya tanpa menghentikan sarapannya. Dirinya tidak ingin bu Murni curiga. Sehingga Zoya bersikap senatural mungkin.


"Hati-hati kalau bekerja. Jangan ceroboh." pesan Bu Murni.


"Iya." sahut Zoya melirik ke arah bu Murni.


"Sudah kamu obati?"


"Ibu,,, hanya luka kecil. Nanti kering sendiri." sahut Zoya, memang hanya sebuah goresan tipis, tapi sedikit memanjang. Sehingga terlihat jelas.


Yaya duduk di kursi dekat sang ibu. Tersenyum melihat keakraban sang ibu dan Zoya. "Yaya senang, melihat bapak dan ibu sehat dan bahagia. Meski kebahagiaan itu bukan berasal dari Yaya. Tapi Yaya ikhlas." cicit Yaya.


Sekarang Yaya perlahan bisa menerima takdir yang dia jalani. Tak ada rasa kesal bercampur amarah pada Zoya, karena mengambil alih tubuhnya.


Yaya berpikir bijak. Yaya berpikir, jika Zoya juga pasti tidak mau semua itu terjadi. Dan yang paling penting, Yaya sekarang bisa melihat bagaimana Zoya membalas kelakuan Milly dan orang-orang yang pernah jahat padanya.


"Zoya,,, terimakasih sudah membuat bapak dan ibu ku selalu tersenyum. Dan terimakasih telah menjaga tubuh ku."


Yaya melihat jika tubuhnya sekarang tidak sebesar dulu. Memang masih terlihat gendut, tapi setidaknya Yaya melihat jika ada banyak sekali perubahan.


Bahkan Yaya juga melihat baju yang dahulu pernah dia pakai, sekarang tidak dipakai oleh Zoya. Sebab semua baju tersebut kini kebesaran. Dan Zoya tidak menyukai baju yang kedodoran.


"Pasti sekarang lebih ringan." ujar Yaya, membayangkan jika dirinya yang berada di dalam tubuh itu. Membawa tubuhnya untuk berjalan.


"Zoya,,,, aku akan membantu kamu sebisa aku. Sebagai rasa terimakasih aku. Dan aku akan bersabar menunggu saatnya tiba. Saat dimana aku akan kembali ke tubuh aku. Dan kamu, juga akan kembali ke tubuh kamu."


Yaya yakin, jika saat itu akan tiba. Yaya percaya, jika dirinya belum sepenuhnya meninggalkan dunia nyata. Buktinya dia masih bisa melihat semua orang di dunia ini. Dan beberapa kali membantu Zoya.


"Zoya,,,, aki berharap, kelak kita akan menjadi saudara." ujar Yaya berharap.


Sebelum berangkat, Zoya meminta izin pada sang ibu. Jika dirinya akan terlambat pulang. Zoya mengatakan jika dia akan menjenguk teman kerjanya yang sedang terbaring sakit.


Sampai di perusahaan, Zoya tak langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam meskipun dia sudah berada di area parkir.


Zoya masih duduk di atas sepeda motornya. Memegang stir motor dengan pandangan lurus ke depan, satu sudut bibirnya perlahan terangkat ke atas. "Milly, Meta, dan elo, Enggar. Gue yakin jika kalian tidak akan dikeluarkan. Tapi memang itu yang gue inginkan." batin Zoya.


Bisik-bisik terdengar dari mulut para karyawan, terkait Milly dan dua temannya yang hanya diberikan hukuman ringan oleh pemilik perusahaan. Padahal mereka bertiga melakukan kekerasan terhadap Zoya.


"Astaga,,, gue pikir mereka akan dikeluarkan. Ternyata tidak." ujar seorang karyawan.


"Benar. Tuan Darwin benar-benar tidak adil." timpal yang lain.


"Hussttt..." sahut yang lain, menyuruh yang lainnya untuk diam. Dia memandang ke arah lain. Dimana Milly dan dua gundiknya berjalan menuju ke arah lift berada.


Milly menghentikan langkah kakinya. Diikuti oleh Meta dan Enggar. Tersenyum sinis ke arah para karyawan yang menatapnya dengan sinis pula. "Jika kalian masih ingin bekerja di sini. Jangan pernah ikut campur urusan gue. Dan jaga lidah kalian. Atau, kalian akan mendapatkan masalah." ancam Milly, seakan dirinya pemilik perusahaan ini. Sehingga dia yang berkuasa dan bisa bertindak semaunya.


Enggar dan Meta juga menatap mereka dengan remeh. Meski keduanya merasa aneh dengan hukuman yang mereka dapat, sebab hukuman mereka sangatlah ringan.

__ADS_1


Ketiganya hanya dihukum untuk menulis surat pernyataan. Jika mereka bertiga menyesal telah melakukan tindakan tersebut. Dan tidak akan mengulanginya lagi.


Serta meminta maaf pada Zoya. Yang pada kenyataannya, todak ada kata permintaan maaf oleh ketiganya pada Zoya.


Tapi baik Enggar maupun Meta tidak peduli. Yang terpenting mereka tetap bekerja dan tidak dikeluarkan. Keduanya malas untuk berpikir terlalu jauh.


Tanpa malu, Milly dan keduanya masuk ke dalam lift dengan senyum yang menjengkelkan. Seakan apa yang mereka lakukan sama sekali tidak berarti. "Kalian, lihat saja. Permainan hari ini, akan segera dimulai." batin Zoya, melihat mereka dari jarak lumayan jauh.


Zoya menghela nafas. "Come on Zoya. Tunjukkan bakat akting elo." batin Zoya.


Zoya berjalan masuk ke perusahaan. Tidak seperti biasa, kali ini Zoya berjalan sembari menundukkan kepalanya. "Zoya..." panggil seorang karyawan.


"Gotcha. Elo memang brilian Zoya." batin Zoya memuji dirinya sendiri.


"Ada apa?" tanya Zoya lirih, seakan enggan mengangkat kepalanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mereka bertiga hanya diberi hukuman ringan?" tanyanya.


Beberapa karyawan yang baru datang segera merapat ke tempat Zoya berada. Dan kini, Zoya dikerubungi beberapa karyawan. Mereka terlihat penasaran dengan apa yang terjadi.


Semuanya menunggu apa apa yang akan dijelaskan oleh Zoya. "Entahlah. Aku melihat Milly masuk sendirian ke ruangan Tuan Darwin. Lalu dia keluar dengan senyum di bibirnya." ujar Zoya yang tentu saja dia berbohong. Sebab Zoya tidak melihat hal tersebut.


"Astaga... Apa jangan-jangan Milly ada main dengan Tuan Darwin." tebak salah satu karyawan.


"Mulut elo. Jangan keras-keras. Bisa-bisa elo di tendang dari perusahaan." tegur rekannya mengingatkan.


"Sudah-sudah. Tapi elo harus berhati-hati Zoya. Pasti mereka bertiga akan melakukan hal licik lagi." ujar salah satu karyawan.


Zoya memandangi semua dengan kedua mata yang sayu. Tampak raut ketakutan di wajah Zoya. "Boleh saya meminta tolong?" cicit Zoya, dengan kedua tangan memegang erat tas yang dia letakkan di depan dada.


"Katakan."


"Saat di tempat sepi, jika kalian melihat saya di sakiti mereka, tolong,,,, tolong saya." pinta Zoya menahan air mata palsunya.


Semua terdiam dan saling memandang. "Maaf,,, saya tahu permintaan saya keterlaluan. Maaf. Saya permisi." cicit Zoya.


"Iya benar. Tenang saja."


"Benar. Kamu jangan takut."


"Iya. Kami akan membantu."


Zoya tersenyum dengan tangan mengusap air mata di pelupuk matanya supaya tidak terjatuh. "Terimakasih. Saya hanya tidak mau Milly melakukan sesuatu lagi. Saya tidak mau koma lagi. Permisi, saya duluan."


Zoya berjalan menuju lift, masih dengan raut wajah ketakutan. "Gue tebak, kalian sekarang pasti kebingungan dengan perkataan terakhir gue." batin Zoya.


Zoya sengaja mengatakan saat dirinya koma, tentu saja Zoya ingin semua terkuak sedikit demi sedikit, seakan dia tidak sengaja mengatakannya. Padahal, semua memang telah Zoya rencanakan.


Dan benar saja, di saat Zoya sudah masuk ke dalam lift, semua yang ada di sekitar Zoya tadi masih berdiri. "Apa maksud Zoya?" tanya salah satu dari mereka.


"Jangan-jangan, yang membuat Zoya koma waktu itu,,,,," ujar salah satu karyawan, menggantung kalimatnya.


"Jangan sebutkan namanya. Kita semua sudah tahu." tukas yang lain.


"Astaga.... Apa tebakan kita benar. Dia ada main dengan pemilik perusahaan." lirihnya.


Di dalam lift, Zoya hanya diam. Berdiri sendiri, menunggu pintu lift terbuka. "Kalian sama saja. Pecundang dan pengecut. Bangsat." batin Zoya, pada semua karyawan di perusahaan yang dulu selalu memperlakukan Yaya dengan tidak baik.


Di saat Zoya berjalan dengan tenang di lorong, terdengar suara seorang lelaki memanggil dirinya. "Zoya...." panggilnya, membuat Zoya menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Melihat siapa pemilik suara tersebut.


"Miko." lirih Zoya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Miko khawatir.


"Kenapa kamu masuk? Jika kamu belum baik, kamu bisa istirahat di rumah." lanjut Miko, tidak memberikan Zoya waktu untuk menjawab.

__ADS_1


"Loh... Zoya." panggil Miko, berlari mengikuti langkah Zoya. Dan berjalan di samping Zoya.


"Gue sudah bekerja. Itu artinya gue baik-baik saja." jelas Zoya.


Merasa aneh dengan Zoya, itulah yang Miko rasakan. Sebab, sebelumnya Zoya pasti akan izin libur sehari setelah dirinya mendapatkan perundungan. Tapi kali ini, Miko melihat Zoya tampak baik-baik saja. Tak terlihat raut wajah tertekan, atau ekspresi ketakutan.


Zoya menghentikan langkahnya, saat kedua matanya melihat sosok Tuan Darwin, sedang berbicara dengan sang sekertaris di depan ruangan Tuan Darwin.


"Papa. Demi Milly, papa rela sakiti hati mama. Tapi tunggu saja pa. Zoya akan memperlihatkan wajah asli Milly di hadapan papa. Dan jika saat itu tiba, papa akan menyesal. Bahkan, berlutut di kaki mamapun, tak akan ada yang berubah." batin Zoya memandang sang papa dengan penuh kebencian.


Miko juga sadar, jika Zoya sedang menatap penuh benci ke arah Tuan Darwin. Tapi tentu saja Miko berpikir ke arah lain. Miko menduga jika Zoya merasa kesal karena Tuan Darwin hanya memberikan hukuman ringan pada tiga perempuan yang sudah melakukan kekerasan padanya.


"Kita masuk. Jangan terus kamu lihat. Yang ada kamu akan semakin sakit hati. Biarkan saja, orang kaya memang seperti itu. Semaunya sendiri." cicit Miko, menggenggam tangan Zoya dan menuntunnya.


Zoya mengerutkan keningnya. Dirinya melihat Miko dengan tatapan aneh. "Apaan sih." batin Zoya yang dia sendiri juga tidak tahu jika Miko beranggapan dia marah pada Tuan Darwin karena merasa tidak adil.


Otak Zoya langsung mempunyai rencana jahil. "Pasti Meta dan Enggar akan kepanasan melihat apa yang dilakukan Miko." batin Zoya, melihat ke arah tangannya yang masih dipegang Miko.


"Gue berjanji, akan membuat kalian berdua saling serang dan bermusuhan. Demi seorang lelaki bernama Miko." batin Zoya, yang mengetahui jika Meta dan Enggar, keduanya mempunyai perasaan yang sama pada Miko.


Zoya dan Miko masuk ke ruang kerja mereka masih kondisi Miko memegang tangan Zoya. Sontak saja, Meta dan Enggar mengeratkan rahang mereka. Dan semua itu jelas terlihat oleh Zoya.


Ditambah, tatapan mata keduanya yang seakan ingin melahap habis Zoya saat ini juga. "Terimakasih, sudah menemani saya." cicit Zoya melepaskan tangan Miko di lengannya.


Miko hanya tersenyum dan mengangguk kecil. Duduk di kursi yang biasanya dia tempati. "Panas-panas deh elo." batin Zoya.


Zoya pun juga duduk di kursi yang biasa dia tempati. Menoleh ke tempat Meta dan Enggar dengan tatapan remeh. Sembari mengerlingkan sebelah matanya, membuat mereka berdua semakin kesal.


Tak hanya mereka berdua, Zoya mengalihkan pandangannya pada Milly yang saat ini juga sedang menatap tajam kepadanya.


Seakan menegaskan, bahwa dirinya sama sekali tidak takut dengan Milly, Zoya memainkan daun telinganya. Lalu memasukkan satu jarinya ke dalam lubang telinga. Menggerakkan jarinya seperti sedang membersihkan kotoran di dalam lubang telinga tersebut.


Zoya mengeluarkan jarinya, menaruhnya di depan mulutnya, lalu meniupnya. Seakan Zoya menghilangkan kotoran yang ada di jarinya dengan mudah.


Zoya menegaskan, jika Milly bukanlah masalah besar bagi dirinya. Dan Zoya saka sekali tidak merasa takut dengan Milly.


Milly yang melihatnya, tentu saja tersulut emosinya. Tapi Meta segera mengingatkan Milly dengan menepuk bahu Milly.


Saat Milly menoleh ke arah Meta, Meta menggelengkan kepalanya. "Sial...!! Badak brengsek itu mulai berani sama gue." batin Milly, dengan tangan memegang erat pena.


Zoya bersikap biasa, santai dan tenang. Mulai membuka laptopnya untuk bekerja. Tiba-tiba jari Zoya berhenti, lalu dia tersenyum samar. Pastinya, dia mempunyai rencana licik untuk ketiga perempuan yang bekerja satu ruangan dengannya.


Di sebuah rumah mewah, seorang perempuan cantik dengan pakaian yang anggun duduk di ruang tamu. Menunggu seseorang dengan sangat sabar. "Reiner." panggilnya, saat dia melihat sosok lelaki tampan penuh karisma berjalan mendekat ke arahnya.


"Bisa kita bicara sebentar." ajaknya dengan senyum mengembang di bibir seksinya.


"Sebaiknya elo pulang. Dan gue ingetin, jangan berharap lebih." tekan Reiner merasa malas harus berhadapan dengan perempuan yang sengaja dipersiapkan kedua orang tuanya untuk dijodohkan dengannya.


Sang perempuan tidak terima, dia merasa diacuhkan oleh Reiner. Padahal dirinya sudah bersabar sedari tasi menunggu kedatangannya.


"Reiner...!! Aku sudah mendengar semua dari mama kamu." teriak sang perempuan. Membuat langkah kaki Reiner terhenti. Namun Reiner sama sekali tidak membalikkan badan.


Melihat Reiner menghentikan langkahnya, dia beranggapan jika ini adalah waktu yang tepat untuk dia berbicara.


"Aku tahu, jika kamu sangat mencintai Zoya. Tapi kamu bisa melihat sendiri, Zoya tidak mungkin akan kembali seperti dulu. Walau dia akan sadar, tapi dia akan cacat. Dia akan mengalami cacat seumur hidupnya. Apa kamu sanggup jika masih berhubungan dengan dia. Kamu lelaki normal Reiner. Seharusnya kamu bisa memilih, mana yang terbaik untuk kamu. Dan aku, aku akan siap menggantikan nama Zoya di hati kamu. Aku akan berusaha menjadi seperti yang kamu inginkan." ujarnya panjang lebar, berharap Reiner mau membuka hatinya.


Reiner mengepalkan kedua tangannya. Menahan emosi yang langsung membuncah, saat sang perempuan menyebut nama Zoya.


Reiner mengabaikan apa yang dikatakan oleh perempuan tersebut. Memilih meninggalkan rumah dan berangkat ke perusahaan untuk bekerja seperti biasa.


"Aaaa...!!" seru Reiner, memukul stir mobil saat dirinya sudah berada di dalam mobil.


"Kalian semua tidak tahu. Gue,,, gue penyebab kenapa Zoya seperti sekarang. Gue,,, gue yang membuat Zoya hanya diam di atas ranjang. Gue... Gue,,,, yang menyebabkan semua itu....!!" teriak Reiner.


Reiner merasa bersalah. Dia merasa terus dihantui perasan bersalah, karena dirinya, Zoya mengalami kecelakaan. Tapi dia juga tidak berani untuk berkata jujur.

__ADS_1


"Maaf sayang. Maaf. Aku memang pengecut. Tapi aku memang tidak berani menghadapi semua orang. Jika mereka tahu apa yang terjadi." cicitnya.


Sementara sang perempuan merasa dipermalukan oleh Reiner. Penolakan Reiner benar-benar membuat dia merasa direndahkan. "Tidak bisa. Gue akan membuat elo datang menemui gue. Dan berlutut si kaki gue. Lihat Reiner,,, elo salah menilai gue. Gue bukan perempuan lemah." geramnya.


__ADS_2