MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 08


__ADS_3

Di rumah sakit, Nyonya Murni tak sadarkan diri, setelah mengetahui bagaimana keadaan sang putri. Terpaksa, Pak Endri menemani sang istri, dan mempercayakan sang putri pada perawat.


Setelah ditemukan oleh satpam perusahaan, segera Yaya dibawa ke rumah sakit guna untuk dilakukan perawatan lebih lanjut.


Tampak tubuh Yaya sama sekali tidak mengalami luka. Meski kepalanya terbentur. Tak ada goresan sedikitpun di bagian tubuhnya karena kejadian tersebut.


Tapi yang membuat Pak Endri dan Bu Murni syok adalah Yaya yang tak sadarkan diri. "Ibu yakin, sudah kuat?" tanya pak Endri. Ketika sang istri mengajaknya untuk ke ruang rawat sang anak.


Bu Murni mengangguk. "Kita tidak boleh di sini pak. Kita harus menemani Yaya." cicit bu Murni.


Dengan dipapah oleh sang suami, bu Murni berjalan perlahan ke ruangan Yaya. "Selamat malam pak, bu. Bagaimana keadaan ibu? Apakah sudah lebih baik?" tanya sang dokter yang merawat Yaya dengan ramah.


Bu Murni tersenyum. "Terimakasih dok. Keadaan saya sudah membaik." sahut Bu Murni.


"Baiklah, bisa bapak ikut dengan saya. Ada yang ingin saya sampaikan. Mungkin ibu bisa tetap di sini. Menemani Yaya." pinta sang dokter.


Sang dokter ingin memberitahu bagaimana keadaan pasien pada keluarga. Melihat bagaimana rapuhnya sang ibu, sang dokter memutuskan untuk cukup memberitahu pak Endri saja. Tanpa melibatkan bu Murni.


Sang dokter hanya tidak ingin bu Murni kembali tak sadarkan diri setelah mendengar apa yang akan dia ucapkan mengenai keadaan Yaya.


"Buk, bapak tinggal dulu. Ibu di sini saja." pamit pak Endri. Bu Murni hanya mengangguk pelan, tanpa menatap ke arah sang suami.


Dirinya sibuk mengelus pipi gembul Yaya dengan penuh kasih sayang.


"Silahkan." ucap sang dokter, mempersilahkan pak Endri duduk di kursi setelah keduanya berada di dalam ruangan sang dokter.


"Terimakasih dok." sahut pak Endri seraya duduk di kursi.

__ADS_1


"Begini pak. Maaf sebelumnya. Tapi saya harus menyampaikan keadaan pasien yang sebenarnya pada keluarga."


"Silahkan dok."


"Jika dilihat dan diperiksa secara medis, Yaya sama sekali tidak mengalami luka. Dia hanya kedinginan karena terlalu lama berada di bawah guyuran air hujan dengan keadaan tak sadarkan diri."


Sang dokter menjeda kalimatnya. Dengan pak Endri menjadi mendengar dengan baik tanpa memotong kalimat sang dokter.


"Dan seharusnya Yaya sudah sadar untuk saat ini. Tapi sepertinya Yaya sendiri yang tidak menginginkan untuk bangun dan membuka kedua matanya." lanjut sang dokter.


"Tidak mungkin. Bagaimana bisa terjadi." pak Endri merasa kebingungan dengan apa yang dijelaskan sang dokter sama sekali tidak masuk akal.


"Seperti yang sudah saya katakan, keadaan Yaya seratus persen baik. Bahkan kami memeriksa secara keseluruhan setiap bagian dari anggota tubuh Yaya yang fital dengan teliti. Dan semuanya cukup baik. Tidak ada kerusakan, bahkan tidak ada luka di dalamnya."


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Pak Endri semakin bingung.


"Dok,,,, Saya akan menjual semua benda saya untuk biaya berobat putri saya. Yang terpenting putri saya bisa sembuh." ekspresi pak Endri terlihat bingung bercampur cemas.


Dirinya yang memang orang awam dan tidak tahu menahu hal tersebut hanya bisa mengatakan apa yang ada di dalam benaknya.


"Pak, ini bukan masalah biaya. Tapi keadaan pasien itu sendiri."


Pak Endri terdiam. Mencerna apa yang dikatakan sang dokter. "Pak, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya sang dokter dengan hati-hati.


"Silahkan?"


"Apa Yaya pernah mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan. Maaf sebelumnya. Seperti korban bully, atau korban kekerasan."

__ADS_1


Segera pak Endri menggeleng. "Tidak. Yaya putri kami selalu tersenyum senang. Dia pergi dan pulang ke rumah dengan wajah ceria setiap hari." jelasnya dengan jujur.


Sang dokter mengangguk. "Mungkin bapak tahu teman Yaya. Siapa tahu dia bisa membantu untuk menyembuhkan Yaya."


"Teman." lirih pak Endri.


Pak Endri menatap intens ke arah sang dokter. Sebab selam ini, tidak ada yang pernah datang ke rumahnya, mangaku sebagai teman Yaya. Dan juga, Yaya tidak pernah mengajak seseorang untuk ke rumah. Memperkenalkan sebagai teman.


"Teman sekolah. Atau teman bekerja." tukas sang dokter.


Pak Endri menggeleng. "Yaya tidak pernah mengenalkan temannya pada kami." lirih pak Endri.


Sang dokter menghela nafas. Kini, beliau sepertinya bisa menebak dengan mudah kasus yang dialami Yaya. Apalagi Yaya ditemukan tergeletak tak sadarkan diri, di tempat yang terkunci dari luar. Di tempat kerjanya.


Sebab, sang dokter telah menemukan banyak kasus seperti ini sebelumnya. "Baik pak. Kami akan tetap berusaha membuat Yaya sadar kembali. Tapi, kami tidak bisa menjanjikan seratus persen pada bapak. Semua tergantung pada Yaya, dan juga kuasa Tuhan."


Dengan langkah gontai, pak Endri keluar dari ruangan sang dokter. Dirinya tak langsung masuk ke dalam ruang rawat sang putri. Tapi duduk di taman belakang rumah sakit.


Pak Endri tidak ingin sang istri bertambah khawatir melihat keadaannya. Pak Endri kembali memutar setiap ucapan dari sang dokter di dalam benaknya. "Ditindas. Kekerasan. Teman." lirih pak Endri.


Pak Endri meraup wajahnya dengan kasar. Beliau teringat jika Yaya selalu mengerjakan sesuatu, meski itu di rumah. Yaya selalu beralasan jika pekerjaannya belum selesai di kantor, lalu dibawa pulang.


"Tapi kenapa setiap hari." lirih pak Endri.


"Sadarlah sayang. Buka mata kamu. Katakan semua pada ayah." pak Endri meneteskan air mata.


Dirinya merasa gagal menjadi seorang ayah. Yang tidak bisa melindungi sang putri. Hingga dirinya tidak tahu apa yang dirasakan dan dialami sang putri di luar rumah.

__ADS_1


__ADS_2