
Zoya memikirkan matang-matang apa yang akan dia lakukan. Tak mungkin dia keluar dari tubuh Yaya. Lagi pula, Zoya sendiri tak tahu, cara keluar dari tubuh Yaya.
"Yang ada gue malah mati." gumam Zoya.
Zoya perlahan turun dari kasur berukuran kecil yang sekarang menjadi tempat tidurnya. "Kecil sekali kasur Yaya. Keras lagi." keluh Zoya menatap kasir yang dirasanya sangat membuat tubuhnya terasa sakit.
Dengan langkah pelan, Zoya mendekatkan dirinya ke arah kaca. "Sial, kenapa gue harus terjebak di tubuh ini." umpatnya sembari berdecih.
"Jika saja gue bisa memilih, gue akan memilih masuk ke dalam tubuh seorang artis yang cantik dan terkenal." cicit Zoya.
Zoya berulang kali menghembuskan nafas panjang melihat penampakan dirinya sekarang dari pantulan cermin. "Apa gue akan sanggup, menjalani hari sebagai Yaya."
Terdengar suara pintu terbuka dari luar. "Yaya sayang, ini sarapan kamu."
Bu Murni membawa nampan yang di atasnya terdapat nasi yang sudah disisihi sayur dan lauk pauk, serta segelas susu berwarna putih berada di gelas berukuran besar.
Zoya kembali meneguk ludahnya dengan kasar, setiap kali bu Murni membawa makanan untuk dirinya. "Sumpah, ini makanan gue dua hari Yaya. Dan elo hanya sekali makan. Pantas saja badan elo kayak gajah." batin Zoya.
"Kamu duduk sini saja. Biar ibu yang menyuapi kamu." tukas bu Murni, membantu Zoya duduk di kursi single.
Bu Murni mengambil sebuah kursi lagi, bersiap menyuapi Zoya. "Enak?" tanya bu Murni.
Zoya mengangguk. Sebab memang masakan bu Murni memang enak. "Kamu habiskan ya, biar cepat sembuh."
"Ini terlalu banyak bu."
"Ayo buka lagi. Aaa... Ayo, buka mulut kamu." paksa bu Murni masih ingin menyuapi Zoya, padahal Zoya sudah menggelengkan kepalanya.
"Sudah bu, Yaya kenyang." tolak Zoya.
"Astaga sayang. Biasanya kamu habis. Ayo,,, biar ibu yang suapi." paksa bu Murni.
"Bu,,,,, Yaya kenyang." seru Zoya menaikkan nada suaranya.
Bu Murni sampai terjingkat kaget. Ini pertama kalinya Yaya berbicara seperti itu pada dirinya. "Baiklah, minum susu dulu. Ini." bu Murni memberikan segelas susu pada Zoya.
__ADS_1
Lagi-lagi Zoya menolak. Karena memang Zoya tidak suka dengan susu putih. "Yaya kenyang."
"Sedikit saja." paksa bu Murni.
"Bu, Yaya nggak suka susu putih. Tolong mengerti." tolak Zoya dengan tegas. Mencium baunya saja, Zoya mau muntah. Apalagi sampai meminumnya.
Bu Murni tersenyum kaku. "Baiklah, kamu istirahat saja. Ibu keluar dulu ya."
Zoya tahu, ada rasa kecewa tergambar di raut wajah bu Murni. Tapi memang Zoya tak akan sanggup menghabiskan makanan sebanyak itu, serta meminum susu putih tersebut. "Gue bukan Yaya, mana habis makanan sebayak itu." gumam Zoya.
Bu Murni merasa jika Yaya sangat berbeda. Dari pandangan kedua matanya, cara berbicara, bahkan tingkahnya. "Dia seperti bukan Yaya." batin Bu Murni.
Bu Murni menyusul sang suami yang sedang menjaga toko di depan rumah. "Ada apa bu?" tanya pak Endri sambil merapikan barang dagangan di tempatnya.
"Pak, kenapa ibu merasa Yaya berubah ya." cicit Bu Murni.
"Sebentar lagi dokter akan datang. Mungkin nanti beliau bisa memberitahu kita."
Pak Endri sendiri juga merasa jika ada perubahan pada sang putri. Yaya biasanya manja kepada dirinya juga sang istri.
Yaya akan berbicara, jika mereka mengajaknya bicara terlebih dahulu. Jika tidak, Yaya akan memilih diam. "Semoga Yaya baik-baik saja ya pak."
"Semoga bu." sahut pak Endri khawatir.
Di dalam kamar, Zoya merasa jenuh. Tapi tubuhnya belum bisa dia paksa untuk berjalan terlalu lama dan jauh.
"Membawa tubuh Yaya seperti menggendong karung berisi padi." keluh Zoya, kembali duduk di tepi ranjang.
Pandangan Zoya menelisik semua sudut di kamar. Tampak beberapa foto Yaya sewaktu berseragam sekolah. Mulai dari SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.
Rata-rata, Yaya berfoto seorang diri dengan memegang sebuah medali dan piala. Jika tidak berfoto sendiri, Yaya berfoto bersama kedua orang tuanya.
"Apa dia tidak punya teman." cicit Zoya.
Zoya berdiri, berjalan ke arah meja kecil dimana terdapat foto Yaya. "Dulu, badannya dia tidak segede gaban." tutur Zoya, melihat foto Yaya sewaktu berseragam putih merah.
__ADS_1
Di atas meja, terlihat buku yang ditumpuk dengan rapi. Merasa penasaran, Zoya membuka lemari milik Yaya. "Rapi juga." cicitnya, melihat pakaian Yaya di dalam lemari.
Zoya kembali menatap tubuh Yaya dari pantulan cermin. "Ckkk,,,, bisa-bisa gue mati muda karena obesitas." cicit Zoya.
"Jika saja gue punya cara keluar dari tubuh ini, dan masuk ke tubuh gue. Pasti akan gue lakukan." gumam Zoya.
Tanpa Zoya tahu, jika keadaan tubuhnya mengalami luka yang cukup parah di beberapa bagian anggota badannya.
"Mama." batin Zoya, teringat kembali sang mama yang selalu menyayanginya.
Ceklek... pintu kembali terbuka dari luar. Nampak kedua orang tua Yaya beserta seorang lelaki muda yang memakai jas putih masuk ke dalam. "Yaya, ini, pak dokternya mau memeriksa kamu." ujar pak Endri.
"Maaf mbak Yaya, dokter yang biasanya datang tidak bisa datang. Beliau sekarang berada di luar negeri. Dan saya yang menggantikan beliau." jelasnya dengan ramah.
Zoya hanya diam. Dan memang seperti itulah sifat Zoya setiap hari pada orang yang belum dia kenal. Duduk di tepi ranjang tempat tidur tanpa bicara apapun.
Bu Murni dan pak Endri saling pandang. Tapi keduanya hanya diam. Mereka berdua menduga jika sikap Yaya yang sekarang adalah efek dari tubuh Yaya yang terlalu lama tidur.
"Bagaimana dok?" tanya pak Endri setalah sang dokter selesai memeriksa Yaya.
Sang dokter tersenyum. "Baik, semua baik. Tidak ada yabg perlu di khawatirkan." jelas sang dokter.
"Semoga cepat sembuh mbak Yaya." tukas sang dokter, yang hanya mendapat anggukan dari Zoya.
"Sayang, sebentar ya. Kami antar pak dokter dulu." pamit bu Murni pada Zoya.
"Ada apa pak, bu?" tanya pak dokter, setelah mereka berada di luar kamar Yaya. Sang dokter merasa jika keduanya sedang menyimpan sesuatu untuk ditanyakan pada dirinya.
"Pak, kami merasa putri kami banyak berubah." cicit bu Murni.
"Benar pak, dulu Yaya tidak seperti itu. Dulu, dia lembut dan ramah. Tapi sekarang, dia sangat dingin dan pendiam." jelas pak Endri.
"Maaf pak, bu. Tapi, semua anggota badan mbak Yaya cukup bagus dan baik. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kemungkinan, perubahan sikap atau sifat mbak Yaya karena dia baru saja membuka kedua matanya. Dan mungkin dia perlu beradaptasi." jelas sang dokter, sembari menebaknya.
Masih di dalam kamar, Zoya menatap lurus ke depan. "Milly. Reiner. Gue nggak akan melepaskan kalian. Pengkhianat." geram Zoya.
__ADS_1
Tapi, lagi-lagi tubuh Yaya yang akan menjadi penghalang terbesarnya. "Gue harus diet." omel Zoya pada tubuh Yaya.