MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 57


__ADS_3

Dan benar saja, seperti yang ditebak oleh Zoya. Banyak karyawan yang melihat ke dalam ruangan. Bahkan Beni dan Miko pun juga ada di antara mereka.


"Zoya,,,, buka...!! Kalian semua,,,, buka...!! Milly...!! Meta...!! Enggar....!! Buka...!!!" teriak Miko dengan menggedor pintu dengan ekspresi cemas.


Beberapa karyawan juga berteriak sembari melihat daei kaca jendela hang memang tembus pandang. Sehingga dengan mudah mereka melihat apa yang terjadi di dalam ruangan.


Milly dan Meta, juga Enggar baru saja menyadari sandiwara yang Zoya rencanakan. "Zoya...!!" geram Milly, dimana Zoya menatap ke arahnya dengan tatapan meremehkannya.


"Kita lihat. Siapa yang akan menang, perempuan binal." batin Zoya menahan amarah di saat teringat apa yang Milly lakukan.


Yakni menyakiti hati sang mama tersayang, dengan menjalin hubungan terlarang dengan sang papa. Apalagi sekarang sang papa malah berkeinginan menikahi Milly.


Ditambah satu lagi. Dimana ternyata Zoya baru mengetahui sebuah kebenaran pagi tadi. Yang ternyata Milly juga menginginkan sang kekasih. Reiner untuk menjadi miliknya.


"Perempuan maruk. Semua lelaki yang ada di dekat gue mau elo embat. Silahkan,,,, gue akan berikan dengan senang hati laki-laki nggak berguna seperti mereka. Tapi tetap saja, elo tunggu balasan yang gue berikan. Jika gue berdo'a dan menunggu Tuhan yang membalas. Terlalu mulus sekali jalan elo." batin Zoya yang memang sudah mempunyai segudang rencana untuk membalas dendam pada Milly.


"Bagaimana bisa, perempuan gendut dan jelek itu bisa melakukan hal seperti itu....!! Berani sekali dia mau menjebak kita bertiga...!" geram Meta tidak menyangka, Zoya akan melakukan hal yang mengejutkan baginya.


"Gila...!! Zoya benar-benar gila...!! Pasti dia sudah tidak waras...!!" tukas Enggar menggeleng heran bercampur takjub. Zoya yang sekarang tidak lagi seperti Zoya yang dahulu. Benar-benar berubah seratus persen.


Terdengar suara para karyawan yang menyarankan untuk mendobrak pintu. "Silahkan kalian masuk. Dan gue akan dengan senang hati menunjukkan drama yang paling sempurna yang akan kalian nikmati." batin Zoya, dimana air mata mulai mengalir dari kedua kelopak matanya.


Milly menggeleng kesal. "Tidak, gue tidak bisa membiarkan Zoya menang. Tidak akan." batin Milly, melihat senyum remeh yang Zoya perlihatkan saat Zoya memandang dirinya. Seakan Zoya dengan yakin akan menenangkan sandiwara ini.


"Kalian yang mulai. Karena gue baik hati, gue akan mengakhirinya. Benar-benar adil bukan?" batin Zoya.


Milly menatap keluar ruangan, dimana di balik jendela banyak sekali karyawan gang melihat ke ruangan tersebut. "Lagi pula, semua karyawan di sini semua tidak menyukai Zoya. Gue yakin, jika mereka akan berada di pihak gue." batin Milly menebak apa yang akan terjadi.


Di sudut ruangan, jiwa Yaya melihat semua yang terjadi. Pandangannya fokus pada Zoya yang terlihat tak berdaya karena dianiaya dengan ekspresi datar.


Kenyataannya, Zoya sendirilah yang membuat penampilannya seperti sekarang. Bahkan Zoya dengan berani melawan ketiga perempuan iblis tersebut.


"Dia... Dia benar-benar menang melawan mereka bertiga. Sendirian. Dan itu, dia,,,, dia,,, dia menggunakan tubuh gue. Tanpa rasa takut."


Yaya kini memasang ekspresi sendu. Kenapa dulu dirinya tak bisa seperti Zoya. Padahal sama-sama mempunyai badan gemuk dan sering diejek. Namun terbukti Zoya bisa menang melawan mereka bertiga.


"Jika aku kembali ke tubuh itu, apa aku bisa seperti Zoya. Atau tetap menjadi Yaya yang hanya bisa menundukkan kepala. Yaya yang selalu dihina dan diinjak-injak. Kenapa,,,, kenapa, kami berbeda. Padahal tubuh kita sama." perlahan, tubuh Yaya mulai menghilang dengan sendirinya. Meninggalkan ruangan dimana akan terjadi sebuah drama.


Brak.... pintu terbuka dari luar dengan keras karena dobrakan yang Miko dan beberapa karyawan lainnya lakukan. Miko langsung membuka jas yang dia kenakan, berlari ke arah Zoya dan memakaikan jasnya pada tubuh Zoya.


Zoya memeluk tubuh Miko dengan erat. Seolah dirinya sedang merasakan ketakutan yang besar. Pundak Zoya bergerak naik turun. Menandakan jika dia tengah menangis.


Enggar dan Meta terkejut bukan main, melihat bagaimana perhatian yang Miko berikan pada Zoya. Juga dengan Zoya yang memeluk tubuh Miko, tanpa Miko menolaknya. Dan Miko malah membalas pelukan Zoya, sembari mengelus punggungnya.


"Zoya,,,," geram Meta dan Enggar bersamaan. Merasakan api cemburu membakar mereka berdua.


Zoya menatap sinis ke arah Meta dan Enggar. "Lihat kawan,,,, bagaimana lelaki yang kalian sukai memeluk tubuh gendut gue." batin Zoya sembari memberikan senyum kemenangan.


"Tenang, jangan takut. Semua akan baik-baik saja." tutur Miko menenangkan Zoya.


"Gue akan perlihatkan. Tanpa gue bicara sekalipun, gue akan tetap menang." seringai Zoya masih dalam pelukan Miko, menatap ke arah Milly.


Tentunya Milly melihat bagaimana ekspresi Zoya yang sangat membuatnya berang dan ingin sekali mencakar wajah menjengkelkan yang Zoya perlihatkan. Hanya saja, Milly tak mungkin melakukannya.

__ADS_1


Beni mendekat, membawakan segelas minuman untuk diberikan pada Zoya. "Berikan minum dulu. Biar Zoya sedikit tenang." ujar Miko setelah mengambil segelas air dari tangan Beni.


Dengan bantuan Miko, Zoya meminum air mineral di dalam gelas tersebut. "Habiskan." pinta Miko, Zoya meminumnya hingga tandas dengan tangan terlihat bergetar, terlihat sangat lemah dan tak berdaya. Sungguh, Zoya sangat menjiwai perannya .


Semua mata memandang sinis ke arah Milly dan Meta, juga Enggar. Seakan mereka menghakimi apa yang terjadi di ruangan ini. Menuduh ketiganya sebagai pelaku utama.


Melihat bagaimana kondisi Zoya, dimana keadaan Zoya lah yang terlihat sangat parah ketimbang mereka bertiga. Meski ketiganya sama-sama duduk di lantai. Tapi dilihat dari penampilannya, mereka bertiga masih jauh lebih rapi dari Zoya.


Milly segera berdiri dengan menahan rasa sakit di bagian kakinya karena terkilir, dengan tangan memegang meja di dekatnya.


"Jaga pandangan kalian. Jangan pernah memandang gue seperti itu...!! Dia... dia yang menyerang kita bertiga..." serunya menunjuk ke arah Zoya, tak terima dipandang layaknya pelaku kejahatan.


Apakah mereka percaya. Tentu saja tidak. "Milly,,, elo gila. Kalian bertiga. Dan dia sendirian. Oke... kita tahu, selama ini kalian,,, maaf. Juga gue dan kebanyakan karyawan di sini memang tidak menyukai si gendut ini. Tapi kita nggak seperti kalian bertiga. Astaga,,, kalian bertiga. Benar-benar sadis." celoteh seorang karyawan.


"Cihh,,,, kalian sama saja dengan mereka bertiga. Hanya saja kalian tidak seberani mereka. Jika saja sekarang kalian berani melakukan hal lebih pada gue. Gue bersumpah akan membalas berkali-kali lipat." batin Zoya tak akan membiarkan siapapun menyakitinya.


"Heyy... kalian yang gila. Bisa-bisanya percaya begitu saja dengan perkataan gendut jelek itu. Kita bertiga yang menjadi korban....!" seru Meta tak terima dituduh sebagai tersangka. Padahal Zoya sama sekali tak mengeluarkan separah katapun untuk membela diri.


"Padahal gue nggak bicara apa-apa." batin Zoya memutar kedua matanya jengah, dan tetap berada di dalam pelukan Miko.


"Kalian lihat...!! Zoya yang menyerang kita. Dia mengamuk kayak binatang. Menyerang kita dengan membabi-buta...!!" timpal Enggar membela diri, menyakinkan semua yang ada di ruangan, juga di luar ruangan yang melihat ke arah mereka.


Segera Enggar dan Meta berdiri dari duduknya, dengan mengucek kedua mata mereka yang masih terasa sedikit perih. "Lihat ini,,, bahkan mata gue masih terasa perih. Dan semua itu gara-gara dia...!!" seru Enggar menunjuk ke arah Zoya.


Beni berdiri, memandang ketiganya dengan lekat. "Gue memang nggak suka dengan Zoya. Gue akui itu. Tapi gue masih waras untuk tidak menyakiti Zoya secara pisik." seru Beni.


"Halah,,,, sama saja. Elo juga biasanya menekan psikis Yaya. Sok suci. Kalian sama saja. Eemmmm,,,, gue juga." batin Zoya merasa bersalah. Dan berjanji akan menebus kesalahannya.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus melaporkannya pada Tuan Darwin." timpal karyawan lain.


"Jika perlu keluarkan saja manusia seperti mereka..!" seru karyawan lainnya.


Zoya mencebik, tersenyum samar. "Gue nggak butuh mereka keluar dari pekerjaan ini. Yang gue inginkan, mereka tetap bekerja di sini. Dan gue akan membalas apa yang selalu mereka lakukan pada Yaya. Terutama elo, Milly." batin Zoya.


Zoya yakin, jika sang papa tidak akan menghukum Milly meskipun Milly terbukti bersalah. Dan Zoya belajar dari kasus yang menimpa Yaya. Dimana Yaya tidak mendapatkan keadilan.


Dan untuk Meta serta Enggar, Zoya juga yakin, keduanya akan terbebas dari hukuman karena permintaan Milly. Mana mungkin Milly akan membiarkan sekutunya dalam kesusahan .


Tapi Zoya tak peduli dengan ketiganya yang akan dihukum atau tidak. Sebab memang niat Zoya bukan untuk memberikan hukuman pada ketiganya.


Tapi lebih kepada pandangan semua karyawan di perusahaan pada Milly dan Meta, serta Enggar. Zoya yakin, setelah ini mereka akan mendapat nilai buruk di mata para karyawan.


Dengan begitu, Zoya akan lebih mudah membuat ketiganya semakin menderita. Karena kepercayaan semua karyawan pada mereka telah hilang. Dengan demikian, Zoya akan memberikan tekanan mental pada ketiganya.


"Cukuppp.....!! Kita bertiga sama sekali tidak membuat Zoya seperti itu..!!" seru Meta dengan nafas naik turun karena menahan marah.


"Buktikan...!!" pinta karyawan lainnya.


Zoya tersenyum samar. Tanpa berbicara, Zoya yakin dirinya pasti akan berada di atas angin. "Teruslah membela diri. Teruslah berkata apa yang ingin elo ungkapkan. Kita lihat, mereka akan percaya saka elo,,, atau tidak." batin Zoya, masih nyaman dalam pelukan Miko.


Milly dan Meta serta Enggar, ketiganya saling berpandangan. Ketiganya sudah mematikan kamera CCTV. Sehingga apa yang dilakukan Zoya tidak akan terekam.


Tapi, jika kamera CCTV berfungsi dengan baik. Dan meski apa yang dilakukan Zoya terekam. Bukankah sama saja mereka memperlihatkan kelakuan jahat mereka pada seluruh karyawan.

__ADS_1


Bingung. Tentu saja. Mereka bertiga akan tetap dipandang sebagai tersangka, dengan adanya kamera CCTV atau tidak.


Sebab ketiganya yang memulai lebih dulu. Ketiganya yang menyerang Zoya seorang diri. Mengurung Zoya di dalam ruangan. "Apa yang harus gue lakukan?" batin Milly bagai makan buah simalakama.


Milly yang awalnya merasa rencananya berjalan dengan lancar, tidak menduga akan berbalik ke arahnya. Dan sekarang, dirinya merasa terpojok.


"Lihat...!! Mereka bertiga malah diam. Dasar pembohong....!!!" seru seorang karyawan.


"Zoya,,, kita bisa bertanya pada Zoya." saran yang lain.


Zoya mempererat pelukannya pada tubuh Miko, saat mendengar namanya di sebut. Terlihat Zoya begitu trauma dan ketakutan.


Semua lantas menatap Zoya dengan penuh iba. "Zoya,,,, astaga, apa yang telah kalian lakukan...!" ujar seorang karyawan, menebak jika Zoya benar-benar dalam ketakutan besar.


Miko mengelus lembut rambut Zoya. "Tenang. Ada kita di sini. Mereka tidak akan berani menyakiti kamu." papar Miko dengan lembut.


Beberapa karyawan perempuan mendekat ke arah Zoya. "Zoya,,, jangan takut. Kita percaya sama kamu. Katakan apa yang sebenarnya terjadi." pinta salah satu dari mereka dengan pelan.


Zoya menggeleng cepat. Menyembunyikan wajahnya di dada Miko. "Tenang Zoya." Miko menatap penuh dendam pada ketiganya.


"Sudah,,, jangan paksa Zoya. Yang ada nanti dia malah akan semakin trauma. Kasihan dia. Jangan sampai Zoya frustasi. Dan mempengaruhi mentalnya." ujar karyawan lain.


Miko membubarkan semua karyawan yang berada di ruangannya. Sebagai ketua divisi keuangan, dia mengatakan akan mengambil alih masalah ini. Dan akan melaporkannya pada pemilik perusahaan.


Sedangkan Zoya, dia terpaksa di rawat di ruang kesehatan yang memang tersedia di perusahaan ini. Zoya menolak saat hendak diantarkan pulang. Dan Zoya tetap tak mau berbicara. Dia masih diam, bahkan saat berada di ruang kesehatan.


"Milly,,, elo lihat, siapa pemenangnya. Dan ini masih babak awal, sayang." batin Zoya berbaring di ranjang yang berada di ruang kesehatan.


Di ruangan Tuan Darwin, Miko menceritakan semua yang terjadi. Dia juga membawa Beni sebagai saksi lain.


Milly melihat ada yang berbeda dari Tuan Darwin. Beliau tampak kesal dengan ekspresi gusar. "Kalian boleh keluar. Saya akan memikirkannya nanti." pinta Tuan Darwin.


Milly mengernyitkan keningnya, bahkan lelaki yang selama ini dilayaninya di atas ranjang melihatnya tanpa minat. "Ada apa dengan tua bangka itu? Apa yang terjadi?" batin Milly penasaran.


Miko hanya bisa melakukan apa yang Tuan Darwin katakan. Dirinya tak bisa memaksa Tuan Darwin untuk memberikan hukuman pada ketiganya saat ini juga.


Miko menebak jika Tuan Darwin sedang mempunyai masalah. Terlihat jelas beliau sangat tidak bersemangat dan terlihat gusar.


Bagaimana Tuan Darwin bisa tenang. Di rumah beliau diacuhkan oleh sang istri. Beberapa jam setelah sampai di kantor, beliau tidak menemukan kertas penting di dalam brangkasnya.


Dimana kertas tersebut telah diambil oleh sang putri, Zoya. Bahkan, saat Tuan Darwin meminta pihak CCTV memeriksa siapa yang mengambilnya, mereka tidak menemukan apapun dan siapa yang berani masuk serta mengambil kertas tersebut dari brangkas.


Tanpa Tuan Darwin tahu, jika pihak CCTV memang sudah bekerja sama dengan Zoya. Tentunya dengan ancaman hang diberikan oleh Zoya.


"Siapa yang mengetahui nomor brangkas ku." gumam Tuan Darwin memijat keningnya yang terasa berdenyut. Sebab kertas tersebut sangatlah penting dan berharga.


"Hanya aku sendiri dan Zoya yang mengetahuinya." lanjutnya.


Tuan Darwin sama sekali tidak pernah memberitahu nomor brangkas pada orang lain. Bahkan pada sang istri dan juga Milly. Hanya Zoya yang mengetahuinya. Karena Zoyalah yang memberi nomor sandi brangkas tersebut.


Tuan Darwin tentu saja merasa bingung. Siapa pelaku yang berani mengambil selembar kertas berharga tersebut.


Apalagi sang putri, Zoya masih berbaring tak berdaya di atas ranjang. Zoya saja belum sadar. Jadi tidak mungkin Zoya yang melakukannya.

__ADS_1


"Apa aku lupa menaruhnya." cicitnya, mencoba mengingat dimana dirinya meletakkan benda berharga tersebut.


Sedangkan Zoya tertidur lelap di ruang kesehatan. Kedua matanya terpejam dengan senyum mengembang sempurna pada bibirnya.


__ADS_2