
Zoya berpakaian seperti orang yang kedinginan. Memakai jaket serta memakai masker. Celana panjang kedodoran menjadi pilihan Zoya sebagai bawahannya. Badannya terlihat lebih besar dari pada biasanya akibat jaket yang melekat di tubuhnya, serta bentuk celananya.
Bahkan, Zoya mengurai rambutnya sedikit ke depan. Persis seperti seseorang yang hendak melakukan aksi kriminal. Lengkap dengan gaya kepalanya yang celingukan mencari target.
Berharap tak ada yang akan melihat atau mengenalinya. Sebab saat ini dirinya berada di depan restoran, dimana Nyonya Ratna dan Tuan Darwin berada di dalam.
Zoya ingin memastikan jika Milly akan datang ke tempat tersebut. Sehingga rencananya akan berjalan dengan lancar. ''Mana perempuan berharga murah itu." gumam Zoya, mencari sosok Milly yang tidak kunjung datang.
Tanpa Zoya tahu, jika di dalam bukan hanya sang mama dan sang papa yang sedang melakukan makan malam. Tapi juga ada Reiner di dalam sana.
Lelaki yang selama lebih dari setahun lamanya berada di dalam hatinya. Lelaki spesial yang dia perlakukan dengan sangat spesial. Sayangnya, pengkhianatan Reiner di depan mata, mengubah segalanya. Juga hidupnya.
Entah bagaimana perasaan Zoya, jika melihat Reiner juga berada di meja yang sama dengan kedua orang tuanya. Tapi juga bersama perempuan yang dijodohkan oleh kedua orang tua Reiner.
Apakah rasa sakit karena cemburu masih ada. Atau hanya ada rasa kecewa serta rasa sakit. Sebab karena dirinya melihat kejadian saat itu, membuat semua yang ada pada dirinya berubah total.
Atau malah hanya ada penyesalan yang mendalam. Karena bertahun-tahun hidup di dalam kebohongan seseorang, yang sudah dia anggap sebagai belahan jiwa.
Zoya menunggu kedatangan Milly bagai cacing kepanasan. "Astaga,,, mana Milly. Jangan sampai dia tidak datang. Rencana gue bisa gagal total." geram Zoya khawatir, bahkan duduk di atas motornya dengan tidak tenang.
Sebelum berangkat ke restoran ini, Zoya merasa yakin jika Milly akan datang. Bukan hanya Zoya mengirimi pesan menggunakan nomornya sendiri.
Tapi juga karena Zoya menggunakan nama Reiner untuk memikat Milly. Zoya tahu, jika Milly menginginkan Reiner sebagai seorang kekasih.
"Pasti dia datang. Gue tahu, bagaimana otak gilanya mendamba seorang Reiner. Atau malah, kemungkinan Reiner dan dia pernah melakukan hal menjijikkan itu." geram Zoya menebak.
Sama dengan keresahan yang dirasakan Zoya di luar restoran, Nyonya Ratna yang berada di dalam restoran juga merasakan hal yang sama. "Ada apa?" bisik Tuan Darwin, melihat sang istri sepertinya duduk dengan tidak jenak.
"Tidak ada." sahutnya dengan senyum di bibir. Dirinya tak ingin ada yang curiga pada dirinya.
Tuan Darwin juga bukan lelaki bodoh yang tidak tahu apa-apa. Sedari tadi, dia memperhatikan setiap tindakan dan sikap Tuan Benyamin pada sang istri.
Dan Tuan Darwin menyimpulkan jika rekan kerjanya tersebut mempunyai niat tidak baik terhadap sang istri. Dia tertarik pada sang istri yang sebentar lagi akan dia madu. Beberapa kali, Tuan Darwin melirik ke arah sang istri yang memang tampil berbeda dari biasanya.
"Lagi pula, tumben mama berdandan seperti ini." batin Tuan Darwin, merasa sang istri terlihat lebih cantik dari biasanya. Juga dengan pakaian yang melekat di tubuhnya, tampak membuat Nyonya Ratna terlihat seksi.
"Pantas, Benyamin seperti serigala lapar. Apa memang mama tahu, jika ada Benyamin. Tapi,,, aku tidak memberitahu mama, siapa yang akan makan malam dengan kita." batin Tuan Darwin menerka-nerka sendiri di dalam hati.
Cemburu, tentu saja. Masih ada rasa cemburu di hati Tuan Darwin. Saat mengetahui jika ada lelaki lain yang menatap sang istri penuh damba. Hanya saja, Tuan Darwin berusaha mengontrol emosinya. Dia tidak ingin kemarahannya yang tidak terkontrol malah menimbulkan masalah.
Di luar, Zoya tersenyum melihat seseorang yang dinantinya sedari tadi. "Akhirnya datang juga." gumam Zoya, senang.
__ADS_1
Sebab dapat dipastikan jika rencananya akan berhasil. "Ma,,, Zoya percaya pada mama. Mama bisa melakukannya dengan baik. Tunjukkan pada perempuan brengsek ini. Dimana seharusnya dia berada. Agar dia bangun dari tidurnya." batin Zoya, berharap sang mama bisa menyelesaikan bagiannya dengan baik.
"Tidak sia-sia gue berada di sini. Berbohong pada ibu Murni." lanjut Zoya melihat Milly.
Untuk bisa keluar dari rumah, Zoya terpaksa berbohong pada ibu dan bapak Yaya. Dia mengatakan jika dirinya akan bertemu dengan teman kerjanya. Untuk mengambil lembar kerja yang terbawa oleh teman kerjanya.
Beruntung, Bu Murni begitu percaya dengan apa yang dikatakan oleh Zoya. Sehingga Zoya bisa keluar rumah dengan mudah tanpa hambatan.
Sedangkan Pal Endri memang kebetulan sedang tidak berada di rumah. Beliau sedang mengikuti rapat rutin yang diadakan setiap sebulan sekali di rumah pak RT.
Zoya tersenyum pahit melihat mobil yang dipakai oleh Milly. "Enak sekali dia. Pasti mobil baru." tebak Zoya, melihat mobil yang dipakai Milly sama persis dengan mobil miliknya yang sekarang pastinya terparkir aman di dalam garasi.
Mobil yang dikendarai Milly sama persis dengan mobil milik Zoya. Perbedaannya hanya ada di plat nomor polisinya saja.
"Silahkan elo ambil apa yang elo inginkan. Selagi elo mampu."
Zoya melihat ke arah Milly yang berjalan ke dalam restoran dengan sinis. "Nikmati apa yang elo dapatkan sekarang. Gue pastikan, hari-hari berikutnya gue akan membuat hidup elo selalu berada di dalam masalah." sinis Zoya.
Zoya melihat dengan jelas semua yang melekat di tubuh Milly adalah barang mahal. Yang mustahil jika dia beli sendiri dari gajinya seorang karyawan perusahaan. Sebab dirinya tahu berapa uang gaji yang didapat Milly sebagai seorang pegawai perusahaan.
"*****. Murahan. Pasti apa yang elo dapatkan, hasil dari pekerjaan haram elo." tutur Zoya dengan yakin, jika denhan menyodorkan tubuhnya pada sang papa. Akhirnya Milly memiliki semuanya.
"Menjijikkan." geram Zoya menatap Milly dengan pandangan jijik.
Zoya mengeluarkan dompet. Melihat jumlah uang yang dia bawa di dalam dompetnya. "Apa iya, gue pakai untuk membeli makan." cicit Zoya merasa sangat tidak rela mengeluarkan uang untuk membeli makanan yang harganya pasti mahal.
Pasalnya, jika dia masuk ke dalam. Itu artinya Zoya juga harus membeli makanan. Jika tidak, yang ada di malah diusir. Dan membuat keributan. Kemungkinan rencananya akan gagal jika sampai itu terjadi.
Zoya menghela nafas. "Jika gue mengeluarkan uang untuk hal mubadzir, astaga..... Aaa...." geram Zoya dengan suara pelan, merasa ragu melakukannya.
Zoya memang sedang mengumpulkan uang. Dirinya ingin membeli sebuah pick up untuk sang bapak. Pasalnya, pick up pak Endri di jual untuk biaya pengobatan Yaya saat Yaya masih koma.
Dan hingga kini, beliau belum membeli kendaraan baru. Dan Zoya tahu alasan pak Endri tidak membeli kendaraan yang baru.
Sebab pak Endri setiap bulan masih membayar angsuran hutang yang masih banyak. Dan lagi, pak Endri berhutang dalam jumlah banyak juga karena ingin memberikan pengobatan yang terbaik untuk Yaya saat itu.
"Jika saja gue bisa mengambil uang tabungan gue sendiri, pasti gue tidak perlu melakukan ini. Mengirit. Menabung. Berpikir dua kali untuk membeli sesuatu." ujar Zoya tersenyum kecut.
Kenyataannya, Zoya tidak bisa melakukannya. Jika sampai ketahuan, dia malah akan dituduh mencuri. "Dan gue akan mendekam di penjara. Dan mama, nggak akan percaya lagi sama gue. Sabar Zoya,,, lakukan dengan sabar." ujarnya menasehati dirinya sendiri.
"Astaga... Sadar Zoya,,, Zoya. Elo seharusnya bersyukur atas apa yang telah diberikan Tuhan pada elo." ujar Zoya mengingatkan dirinya sendiri, karena sempat-sempatnya mengeluh.
__ADS_1
Zoya kembali menghitung uang miliknya yang ada di dompet. Dirinya tahu berapa kira-kira uang yang harus dia keluarkan jika memutuskan masuk ke dalam restoran.
"Cukup sih. Tapi...." tutur Zoya ragu untuk melangkah ke dalam.
"Tapi gue penasaran. Apa yang terjadi di dalam." lanjut Zoya, kakinya gatal ingin melangkah. Tapi juga sedikit ragu. Karena permasalahan uang.
"Memang kamu ingin makan apa?" bisik seorang laki-laki yang tiba-tiba berada di belakang Zoya, tanpa Zoya sadari.
"Astaga...!!" seru Zoya terjingkat kaget dan langsung menjauh dari lelaki di belakangnya.
Zoya memegang dadanya sembari menatap kesal kepada lelaki di depannya yang memamerkan deretan giginya yang bersih dan rata.
"Elo ngikuti gue." sarkas Zoya menatapnya dengan kesal. Tapi lelaki di depannya tetap tersenyum. Bahkan sama sekali tidak merasa tersinggung atas apa yang Zoya katakan.
Di dalam restoran, Milly mengedarkan pandangannya ke seluruh meja. Mencari sosok Reiner. "Awas saja jika dia berbohong. Gue akan mencari dia sampai dimanapun." batin Milly, padahal tidak tahu siapa yang mengiriminya pesan tertulis di ponselnya.
Milly tersenyum melihat sosok yang dilihatnya. "Dia Reiner kan." cicit Milly, sebab dirinya melihat dari jarak sedikit jauh.
Untuk memastikannya, Milly melangkahkan kaki untuk lebih dekat ke tempat dia melihat Reiner. Tanpa dia tahu, jika ada Tuan Darwin dan Nyonya Ratna di meja tersebut.
Milly tidak melihat kedua orang tua Zoya, karena keduanya duduk membelakangi dimana Zoya berada.
Dengan langkah pasti dan gayanya sok kaya, Milly mendekat dengan percaya diri sepenuhnya. "Reiner." panggil Milly menyapa Reiner.
Suara Milly yang memanggil Reiner, membuat semua orang yang duduk di meja menoleh ke arahnya. Kecuali Nyonya Ratna.
Senyum sinis tercetak di bibir Nyonya Ratna. Beliau hapal siapa pemilik suara tersebut. "Perempuan murahan. Akhirnya elo datang." batin Nyonya Ratna.
Nyonya Ratna mengatur nafasnya. "Sabar Ratna... Ingat, apa tujuan kamu datang ke sini." batin Nyonya Ratna menenangkan dirinya sendiri, supaya tidak sampai lupa tujuannya datang menemani sang suami ke acara malam ini.
Senyum Milly menghilang langsung, saat melihat jika Tuan Darwin juga ada di sana. Duduk di antara Reiner dan yang lainnya.
"Om Darwin di sini, berarti tante Ratna juga ada di sini." batin Milly, menyesal menyapa Reiner.
"Milly.... Kamu di sini." tukas Nyonya Ratna segera berdiri.
"Pelayan,,, ambilkan satu kursi lagi." pinta Nyonya Ratna.
Milly tersenyum kaku. Nyonya Ratna melirik ke arah sang suami yang menampilkan ekspresi datar. "Terimakasih." tukas Nyonya Ratna pada pelayan restoran yang sudah mengambilkan dia kursi.
"Kebetulan kita bertemu di sini. Sebaiknya kamu bergabung bersama kami. Ayo." Nyonya Ratna menggiring Milly untuk duduk.
__ADS_1
Mana mungkin Nyonya Ratna melepaskan mangsa begitu saja, setelah dia masuk ke dalam jaringnya.