MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 50


__ADS_3

Tak lupa, Zoya memberikan kabar pada bu Murni jika dirinya pulang terlambat karena mengikuti rapat bulanan yang diadakan perusahaan tiap akhir bulan.


Dan tentu saja Zoya berbohong. Sebab dirinya sekarang dalam perjalanan ke sebuah restoran untuk bertemu dengan sang mama. Nyonya Ratna.


Sebab, tak mungkin Zoya mengatakan yang sejujurnya pada bu Murni. Yang ada, Bu Murni dan pak Endri bakal bertanya siapa Nyonya Ratna. Yang notabennya istri dari pemilik perusahaan.


Taksi yang Zoya naiki berhenti di depan restoran, dimana dirinya dan Nyonya Ratna akan bertemu. Zoya berhenti di dekat pintu, pandangan Zoya menyapu seluruh meja, mencari keberadaan Nyonya Ratna.


''Itu dia." dengan langkah pasti, Zoya berjalan menuju meja di mana Nyonya Ratna duduk seorang diri.


"Maaf tante, saya terlambat." cicit Zoya sebelum duduk di kursi.


Nyonya Ratna tersenyum manis. "Tidak apa-apa. Pasti jalanan macet." sahut beliau, sebab sekarang adalah jam pulang kerja. Yang pastinya membuat jalanan penuh dengan kendaraan.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Nyonya Ratna menawari Zoya, sebab dirinya terlebih dahulu memesan minuman serta makanan ringan sembari menunggu kedatangan Zoya.


"Minum saja tante." tukas Zoya.


Nyonya Ratna memanggil pelayan restoran. Zoya segera memesan minuman tanpa melihat ke buku menu.


Nyonya Ratna terhenyak mendengar apa yang Zoya pesan. Pasalnya itu adalah minuman kesukaan sang putri yang selalu dia pesan saat mereka makan di restoran ini.


"Kami sering ke sini?" tanya Nyonya Ratna.


"Baru pertama kali ini tante." sahut Zoya, membuat ekspresi Nyonya Ratna terlihat aneh.


Baru pertama kali, tapi memesan minuman tanpa melihat buku menu. Mustahil. "Tadi, di kantor saya berbincang dengan teman saya. Dan saya mengatakan akan mengunjungi restoran ini. Dia merekomendasikan minuman tadi." ujar Zoya menjelaskan. Dan tentu itu adalah sebuah kebohongan.


Zoya menatap lekat ke arah Nyonya Ratna yang menatap minumannya sembari tersenyum pahit dan mengangguk perlahan. "Minuman itu,,,, minuman kesukaan putri tante. Zoya." cicitnya memperlihatkan ekspresi sedih.


Zoya pun ikut terbawa suasana. Dimana dirinya juga merasa sedih melihat gurat kesedihan di wajah sang mama. "Ma,,, ini Zoya. Putri mama. Putri kandung mama yang manja." ucap Zoya yang hanya mampu dia katakan dalam hati.


Sejujurnya, Zoya tak tega melihat sang mama yang menampilkan wajah sendunya. Ingin sekali Zoya memeluk dan menguatkannya.


Tapi Zoya sadar betul, bagaimana keadaannya saat ini. Dirinya berperan sebagai Yaya. Putri dari pasangan pak Endri dan bu Murni. Dan Zoya harus menjalankan perannya dengan baik.


Meski dirinya tak bisa lepas dari siapa sebenarnya dia. Dan Zoya pasti akan tetap membantu sang mama yang sedang dalam masalah. Sebagai Yaya, bukan Zoya.

__ADS_1


Tak lama setelah Zoya memesan minuman, seorang pelayan datang membawa minuman hang dipesan oleh Zoya. "Silahkan Nona." ucapnya, sembari menari segelas jus di atas meja.


"Terimakasih." tutur Zoya.


Zoya mengambil selembar kertas yang telah dia persiapkan sejak dirinya di kantor. Meletakkannya di atas meja, menggesernya mendekat ke arah Nyonya Ratna.


Nyonya Ratna memandang Zoya dengan tatapan penasaran, dan Zoya tahu jika pandangan sang mama sama artinya dengan sebuah pertanyaan yang menginginkan penjelasan dari Zoya.


"Itu alamat tempat tinggal Milly, tan-tante." jelas Zoya, selalu berat memanggil Nyonya Ratna dengan panggilan tante.


Nyonya Ratna mengambil, membaca apa yang Zoya tulis di atas kertas tersebut. "Dua alamat?" tanya beliau dengan mengerutkan keningnya.


Zoya mengangguk. "Jika apartemennya, Zoya tahu dari dulu. Tapi, alamat rumah itu, baru beberapa hari Zoya tahu."


Zoya menjeda kalimatnya sejenak sebelum kembali mengatakan sesuatu pada sang mama. "Zoya tak sengaja melihat Tuan Darwin masuk ke rumah tersebut. Bersama Milly. Sekitar empat hari yang lalu, kalau tidak salah." lanjut Zoya menjelaskannya.


Nyonya Ratna terdiam. Empat hari yang lalu. Dimana sang suami mengatakan jika dirinya berada di luar kota, karena ada pekerjaan.


"Tante, jangan pernah bertanya dan percaya dengan sopir Tuan Darwin." celetuk Zoya.


Dan memang, setelah hari ini. Dimana sang sopir membohongi dirinya, Nyonya Ratna tak mempercayainya lagi.


Zoya menatap Nyonya Ratna tanpa menyahutinya. "Tante,,,, tante sudah menandatangani lembar kertas itu." lirih Nyonya Ratna menahan tangisnya, dengan tersenyum pahit.


Zoya menelan ludahnya dengan kasar. Berganti kursi, lebih dekat dengan Nyonya Ratna. Tepat di samping beliau.


Zoya memegang telapak tangan Nyonya Ratna. "Tante,,, tante nggak sendiri. Masih ada saya, Zoya. Dan juga Zoya, putri tante." Zoya berusaha membuat sang mama merasa tidak sendirian memikul beban tersebut.


Nyonya Ratna mengangguk dan memeluk Zoya. Dengan pelan, Zoya menepuk punggung beliau. "Tante jangan sungkan menghubungi Zoya, jika ada apa-apa. Anggap Zoya seperti putri tante. Selama Zoya, putri tante masih lelap dalam tidurnya, saya akan menemani tante."


Nyonya Ratna mengurai pelukannya. Memandang Zoya dengan intens. "Kenapa putri tante tidak mengenalkan kami sama tante sedari dulu. Malah mengenalkan Milly." tukas Nyonya Ratna.


Zoya hanya tersenyum. Tak mungkin juga dirinya mengatakan jika dulu pemilik tubuh ini selalu dia hina dan dia ejek.


"Jika tante punya kabar atau informasi apapun, tante bilang sama saya. Zoya akan segera mencari tahu."


"Zoya, apa benar, jika Milly orangnya?" lagi-lagi Zoya melihat rasa tidak percaya di raut wajah Nyonya Ratna jika Milly adalah perempuan yang akan menjadi madunya.

__ADS_1


"Tante busa menyelidikinya. Itu, alamat Milly. Tante bisa memulai dari sana." jelas Zoya.


Zoya tak lantas menyalahkan serta marah pada sang mama, atas keraguan sang mama yang belum percaya jika Milly yang menjadi selingkuhan sang suami, dan akan menjadi madunya.


Nyonya Ratna menatap kertas tersebut. "Jika memang benar, apa tante akan sanggup. Apa yang harus tante lakukan?" ucapnya dengan nada galau.


"Tante jangan menemui Milly. Cukup tante tahu. Dan biarkan Zoya yang melakukan semuanya. Tugas tante hanya menemani putri tante, Zoya." tekan Zoya. Tak ingin sang mama semakin merasakan sakit hati.


Nyonya Ratna menatap intens ke arah Zoya. "Kenapa tante?" tanya Zoya merasa risih dengan pandangan Nyonya Ratna.


"Kenapa kamu mau melakukan semuanya?" tanya Nyonya Ratna yang memang pantas bertanya alasan Zoya mau membantunya.


Padahal mereka tak ada hubungan apapun. Dan juga, Nyonya Ratna baru saja mengenalnya. Bertemu saja masih tiga kali pertemuan.


Zoya terdiam. Dirinya memang sudah menduga jika sang mama akan bertanya hal ini. "Semua karena kebaikan putri tante pada saya." jelas Zoya yang pastinya berkata tak jujur.


"Zoya, putri tante. Apa yang dia perbuat?" tanyanya penasaran.


Zoya tersenyum kaku. "Tak mungkin gue bilang, kalau gue selalu merendahkan pemilik tubuh ini. Yaya. Maaf ma, Zoya banyak berbohong pada mama." batin Zoya yang tak punya pilihan serta jawaban lain.


"Zoya selalu baik sama saya. Pokoknya, Zoya penolong saya." tukas Zoya tak bisa menjelaskan secara detail.


Zoya tak sengaja menatap ke arah lain. Dimana ada seorang lelaki yang menatapnya dengan intens. "Ngapain dia di sini." batin Zoya membuang mukanya dengan malas.


"Maaf tante, Zoya nggak bisa lama-lama. Takut ibu menunggu Zoya." pamit Zoya yang sebenarnya merasa tidak nyaman saat dirinya mengetahui ada seseorang yang memperhatikannya.


"Iya, tante juga mau pulang. Jika kamu tidak keberatan, kamu ikut saja ke mobil tante. Tante antar kamu pulang." tawar Nyonya Ratna.


Zoya tersenyum manis. Ingin sekali Zoya mengatakan iya, mau diantar Nyonya Ratna. Semobil dengan beliau, supaya lebih lama bersama dengan beliau.


Tapi tak mungkin Zoya lakukan. Apalagi sepasang mata terus memperhatikannya. "Maaf tante, Zoya naik taksi saja. Kebetulan Zoya mau mampir dulu. Mau membelikan sesuatu buat ibu." tolak Zoya, lagi-lagi berbohong pada sang mama.


"Baiklah. Jika begitu, kita bareng saja keluarnya." ajak Nyonya Ratna, yang taka mungkin ditolak oleh Zoya.


"Mari tante." Zoya mengambil dompet, bermaksud untuk membayar minuman mereka serta makanan Nyonya Ratna.


"Tidak perlu, saya yang akan membayarnya." tutur Nyonya Ratna, meletakkan beberapa lembar uang di atas meja.

__ADS_1


"Tapi tante..."


"Ayo..." Nyonya Ratna memegang lengan Zoya, membawanya meninggalkan meja mereka untuk berjalan keluar dari restoran.


__ADS_2