
Zoya tidak pulang ke rumah Pak Endri setelah dirinya meninggalkan rumah sang mama, Nyonya Ratna. Tapi, Zoya pergi ke sebuah tempat, dimana dirinya pernah melihat sang papa dan Milly masuk ke sebuah rumah kecil, tapi tetap terlihat mewah.
Zoya turun dari dalam taksi. Dirinya yakin, jika Milly masih berada di perusahaan. Jadi dia tak perlu merasa khawatir jika ketahuan oleh Milly.
Zoya melongok ke dalam pagar. Bermaksud mencari satpam, atau pembantu yang mungkin bisa dia ajak bicara.
"Maaf mbak, ada yang bisa saya bantu?" tanya seseorang yang melewati jalan tersebut.
Zoya menebak, jika orang tersebut tinggal di sekitar rumah ini. Sehingga beliau bertanya seperti itu. Zoya segera tersenyum.
"Maaf pak. Saya mencari Milly, tapi kelihatannya dia belum pulang. Mobilnya saja tak terlihat di depan rumah." Zoya langsung saja memulai memainkan peran.
Layaknya dirinya sudah mengetahui jika rumah tersebut di huni oleh seseorang dengan nama Milly.
"Mbak Milly. Apa mbak ini temannya mbak Milly?" tanya lelaki tersebut.
Zoya tersenyum sembari menggeleng. "Sebenarnya bukan pak. Saya hanya suruhan dari majikan saya."
Zoya terpaksa berbohong. Dirinya tak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Bisa-bisa Milly akan langsung bisa menebak siapa yang datang.
Terlebih jika lelaki yang berada di hadapan Zoya, mengatakan secara detail ciri-ciri Zoya. Pastinya akan membuat Milly menaruh rasa curiga terhadap Zoya.
__ADS_1
Karena Zoya menyelidiki dirinya. Serta yang lebih utama. Zoya mengetahui kediaman Milly yang memang disembunyikan keberadaannya.
"Oalah... iya. Biasanya sebentar lagi, Nona Milly akan datang. Mbak tunggu saja."
Zoya tersenyum. "Pasti dia diantar papanya ya pak?" tanya Zoya langsung mengerucut ke pikirannya sendiri. Zoya berpikir, bisa saja Milly mengatakan jika Tuan Darwin adalah papanya.
"Benar mbak. Biasanya, Nona Milly akan pulang bersama papanya." jelas lelaki di depannya.
Zoya melihat ada gurat aneh pada raut wajah lelaki di depannya. Dan itu sangat terlihat jelas. "Mungkin, gue bisa mencoba peruntungan di sini." ucap Zoya dalam hati.
"Maaf pak." Zoya celingak celinguk ke kanan dan kiri. Zoya ingin lelaki di depannya percaya dengan apa yang akan dia katakan. Setidaknya, Zoya bisa memulai semuanya dari tetangga Zoya.
"Apa bapak yakin, jika mereka bapak dan anak?" tanya Zoya lirih, bermaksud memulai untuk meracuni pikiran lelaki tersebut.
"Maaf, jika salah berucap. Hanya saja, mereka berdua sama sekali tidak mirip. Dan juga, mereka terlalu mesra untuk hubungan bapak dan anak. Apalagi, selama ini saya tidak pernah melihat ibu dari Milly." cerocos Zoya panjang lebar.
Lelaki tersebut mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan Zoya. "Benar mbak. Asal mbak tahu, pak RT saja sepertinya menutup-nutupi sesuatu dari kami. Saat kami bertanya tentang mereka, pak RT hanya mengatakan jika mereka bapak dan anak. Tanpa memberikan bukti pada kami."
Zoya memandang sinis ke rumah Milly. "Elo akan gue singkirkan dari rumah ini. Akan gue buat elo di keluarkan dari rumah ini dengan cara yang memalukan. Dan jika itu berhasil, gue akan memulai rencana selanjutnya." batin Zoya.
"Apa mereka sudah lama menempati rumah ini?" tanya Zoya.
__ADS_1
"Belum mbak. Belum genap satu tahun. Kira-kira,,,, masih sekitar delapan bulan lebih sedikit." jelas lelaki didepannya.
"Karena setahu saya, mbak Milly itu juga punya sebuah apartemen. Dan semua temannya tahunya dia tinggal di sana. Dan hanya majikan saya saja yang tahu, jika dia tinggal di sini."
"Berarti ada yang tidak beres dengan mereka." ujar lelaki tersebut.
"Pak, bisa saya minta tolong?"
"Katakan saja mbak. Jika bisa, akan saya bantu."
"Pak, jangan katakan pada mbak Milly, jika saya mengatakan semua ini. Bisa-bisa saya nanti dipecat dari pekerjaan saya." cicit Zoya dengan ekspresi takut.
"Tenang mbak. Saya akan tutup mulut." ucap lelaki tersebut, dengan tangan di depan mulut, seperti sedang menutup resleting.
"Terimakasih banyak pak."
"Iya mbak. Saya juga tidak akan mengatakan jika kita bertemu. Mbak bilang saja pada atasan mbak, jika Non Milly belum datang."
Zoya tersenyum. "Terimakasih banyak pak."
Zoya yakin, setelah ini, lelaki tersebut akan mencari tahu tentang Milly dan sang papa. Dan dirinya, akan menunggu hal baik itu terjadi.
__ADS_1
Zoya segera meninggalkan depan rumah Milly. Menaiki taksi, menuju ke rumah pak Endri.
Selama di dalam taksi, Zoya berpikir keras. Memikirkan cara, bagaimana dirinya bisa mengetahui jika Milly dan sang papa mendapat masalah karena tinggal di tempat tersebut.