MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 17


__ADS_3

"Jadi Yaya sudah sadar." Miko tersenyum samar sembari menyetir mobilnya untuk pulang ke apartemen tempatnya tinggal selama ini.


Walau dirinya tidak bisa menemui Yaya secara langsung, setidaknya Miko sudah mendengar dari ayah Yaya, jika Yaya sudah sadar. Meski kondisinya masih lemas.


Di saat semuanya mengunjungi Zoya, Miko lebih memilih untuk menjenguk Yaya. Sebenarnya, Miko ingin sekali bertemu dengan Yaya.


Dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Yaya bisa ditemukan di tempat yang tidak semestinya.


"Semua seperti direncanakan." gumam Miko. Apalagi, Miko melihat dimana Yaya terlihat tertekan sebelum kejadian. Dan Milly, terlihat memandang Yaya dengan tatapan benci.


Meski sebelumnya Milly sama seperti yang lain, selalu membully Yaya, tapi sebelumnya Milly tidak pernah memandang Yaya seperti itu. Dia bersikap biasa.


"Bagaimana bisa, kamera CCTV tiba-tiba rusak. Padahal, gue dengar Yaya ditemukan karena rekaman CCTV."


Miko mencoba menebak apa yang sudah terjadi. Tapi, tetap saja dirinya tidak bisa menemukan akar permasalahannya.


Ponsel Miko berbunyi. Tampak tertulis nama MAMA pada layar ponselnya. "Ckkk,,,, ada apa lagi sih."

__ADS_1


Dengan malas, Miko mengangkat panggilan telepon sang mama. "Iya ma, ada apa?" tanyanya dengan malas. Sebab Miko tahu apa yang akan dikatakan sang mama.


"Eeemm,,,, baik. Nanti Miko akan menyempatkan diri." segera Miko mematikan panggilan telepon dari sang mama.


"Perjodohan. Astaga,,,, padahal umur gue belum tua. Kenapa mama ngotot sekali. Pasti ini semua karena teman arisan mama." keluh Miko.


Lagi-lagi mama Miko merencanakan perjodohan dirinya dengan anak dari temannya. Dan semua terjadi karena desakan dari anak teman mama Miko yang menyukai Miko.


Di rumah Pak Endri, Bu Murni dengan telaten menyuapi Yaya. "Ayo lagi, biar kamu cepat sembuh." desak bu Murni, saat Zoya menolak suapan darinya.


"Bu, Yaya sudah kenyang." tolak Zoya mencari alasan.


"Bu, jangan dipaksa. Yaya baru saja membuka kedua matanya. Mana mungkin langsung bisa makan dengan porsi sebanyak itu." sela pak Endri.


"Biasanya juga Yaya habis. Malah nambah." ujar bu Murni.


Zoya hanya bisa mengedipkan kedua matanya perlahan. "Gila, segitu banyaknya masih nambah." batin Zoya, melihat ke arah perut Yaya yang memang besar.

__ADS_1


"Bu, Yaya masih dalam proses penyembuhan. Mana bisa langsung makan banyak. Yang ada nanti malah perut Yaya sakit." jelas pak Endri.


Zoya tersenyum menyaksikan kedua orang tua Yaya. Keduanya terlihat begitu menyayangi Yaya. Lagi-lagi, Zoya menyayangkan kenapa Yaya tidak ingin kembali ke dalam tubuhnya, untuk melanjutkan hidupnya.


Kepala Zoya kembali sakit. "Sial, kenapa setiap gue memikirkan Yaya, kepala gue malah terasa mau pecah."


"Kenapa Yaya?" tanya bu Murni, melihat Yaya memegang kepalanya.


Beberapa kejadian di mana Yaya di jadikan bahan candaan dan juga hinaan oleh teman sekolah saat Yaya masih duduk di bangku SMP terlintas dalam benak Zoya. "Minum." cicit Zoya.


"Ini." bu Murni segera memberikan segelas air putih pada sang putri.


Gluk.. gluk.. glukk.. Zoya meminum segelas air hingga tandas. Nafasnya juga terengah, seakan dirinya baru saja berlari maraton.


"Ada apa lagi bu?" tanya pak Endri yang bersiap ingin pergi.


Sudah terlalu lama pak Endri membiarkan toko kelontongnya tutup. Dan keadaan Yaya yang semakin membaik. Membuat Pak Endri memutuskan untuk kembali membuka tokonya yang berada di depan rumah.

__ADS_1


Dan hari ini, pak Endri berencana untuk belanja kebutuhan tokonya yang sudah habis. Sebab, mereka juga butuh uang untuk melanjutkan kehidupan mereka.


__ADS_2