
Seperti malam-malam sebelumnya, Tuan Darwin pulang setelah tengah malam. Tapi untuk malam ini, beliau tidak menemui Milly terlebih dahulu.
Tuan Darwin mengistirahatkan badan serta pikirannya di kamar pribadi yang ada di dalam ruang kerja di perusahaan. Dirasa perasaannya sudah tenang. Beliau memutuskan untuk pulang ke rumah.
Langkahnya terhenti. Untuk pertama kalinya tak ada makanan di atas meja. Padahal biasanya selalu tersedia makanan, meski dia tak pernah makan malam di rumah.
Tuan Darwin menghela nafas. Kembali melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, dengan langkah lesu. Beliau sebenarnya antara siap dan belum untuk bertemu dengan sang istri.
Langkah kakinya kembali terhenti saat tepat di depan pintu. Tangannya memegang handle pintu, tapi tak segera mendorongnya ke dalam, atau membukanya.
Perlahan, dibukanya pintu kamar. Seperti biasa, kamar tidur begitu terang, karena lampu menyala. Beliau masuk. Langkah kakinya terhenti melihat ranjang besar dan empuk yang biasanya beliau tempati untuk tidur bersama sang istri berpuluh tahun terlihat rapi. Tal ada sosok sang istri yang biasanya tidur di atasnya.
Tuan Darwin menatap ke pintu kamar mandi. Mengira sang istri berada di dalam. Tuan Darwin meletakkan tas kerjanya di sofa.
Melepaskan dasi serta jas yang masih dia pakai, lalu meletakkannya di atas meja begitu saja. Tanpa menunduk, dilepaskannya sepasang sepatu di kakinya, tanpa melepas kaos kakinya.
"Ma..." panggil Tuan Darwin pada sang istri.
Beliau ingin memastikan sang istri di dalam kamar mandi, namun pandangannya terpaku pada secarik kertas yang berada di atas meja dekat ranjang tempat tidurnya.
Langkahnya berbelok, dengan tangan terulur mengambil secarik kertas tersebut. Deg..... jantungnya seakan berdegup kencang, dengan darah mengalir hebat.
Tuan Darwin mengeraskan kedua rahangnya dengan kedua mata memerah melihat ke arah bawah. Dimana terdapat sebuah coretan. Tanda tangan dari sang istri. Yang menyetujui bila dirinya ingin kembali menikah dengan perempuan lain. Tanpa harus menceraikan sang istri.
Masih teringat tadi pagi dirinya dan sang istri bertengkar hebat. Dimana Nyonya Ratna menolak untuk dipoligami. Tapi sekarang, surat tersebut sudah tercoret dengan tanda tangan Nyonya Ratna.
Tuan Darwin menetralkan emosi yang membuncah. Cukup aneh. Bukankah ini yang dia inginkan. Persetujuan sang istri untuk rela dipoligami. Tapi kenapa Tuan Darwin merasa ada yang mengganjal di dalam hatinya. Saat Nyonya Ratna menyetujuinya.
Tuan Darwin menaruh kembali kertas tersebut. Mencari sang istri di kamar mandi, di ruang ganti. Di balkon kamar. Dan hasilnya nihil.
Dengan tergesa, dibukanya almari tempat menyimpan pakaian sang istri. Kosong. Tak ada sehelai pakaian di dalamnya.
Tanpa berkata apapun, Tuan Darwin keluar dari kamar. "Tuan..." panggil salah satu pembantu yang melihat majikan mereka seperti terlihat kebingungan bercampur khawatir.
"Dimana Nyonya?!" tanya Tuan Darwin langsung dengan raut wajah cemas bercampur ketakutan.
"Nyonya berada di kamar Nona Zoya, Tuan. Beliau mengatakan jika mulai malam ini, beliau akan tidur di kamar Nona Zoya." jelas sang pembantu memberitahu yang apa di katakan Nyonya Ratna.
Tanpa berkata sepatah katapun, Tuan Darwin menuju ke kamar sang putri. Membuka pintu kamarnya, dan sayang sekali. Pintu kamar terkunci dari kamar.
"Cckkk,,,, kekanak-kanakan sekali." geramnya kesal. Menyalahkan sang istri yang pastinya ingin menenangkan diri.
__ADS_1
Tak mungkin Tuan David masuk ke kamar Zoya. Meski ada kunci cadangan. Dirinya juga tengah lelah. Dan jam sudah menunjukkan lewat tengah malam.
Pasti akan terjadi perdebatan jika dirinya melakukan hal tersebut. Sehingga membangunkan seluruh penghuni rumah yang sudah tertidur lelap.
Tuan David memutuskan untuk kembali ke kamar. Masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Pandangannya tertuju ke bak mandi yang masih kosong, belum terisi air.
Dimana biasanya, bak mandi tersebut sudah berisi air hangat. Tuan David menghela nafas panjang. Menyalakan kran. Beliau mandi tanpa berendam di dalam zaquci.
Tak seperti biasa, beliau mandi dengan cepat dan singkat. Di sambarnya handuk yang berada di gantungan untuk dia pakai.
Begitu keluar dari kamar mandi, pandangan matanya tertuju pada ranjang tempat tidurnya. Dimana, biasanya sudah terlipat rapi pakaian tidur yang akan dia kenakan. Yang telah disediakan oleh Nyonya Ratna.
Lagi, beliau hanya bisa menghela nafas panjang. Masuk ke dalam ruang ganti, mengambil pakaian dan memakainya.
Kedua matanya yang sedari tadi meminta untuk diajak terpejam, kini malah tak bisa terpejam. Tuan David berbaring di atas tempat tidur. Sendirian. Menatap ke atas. Memandang langit-langit kamar.
Tuan David menoleh ke samping. Dimana biasanya sang istri tertidur lelap di sampingnya sembari memeluk tubuhnya.
Entah apa sekarang yang ada di dalam benaknya. Rasa bersalah pada Nyonya Ratna. Atau malah merasa jika keputusannya adalah sesuatu yang tepat.
Sementara di kamar Zoya, Nyonya Ratna sudah terlelap dengan memeluk tubuh kurus sang putri. Rasanya sungguh sangat damai.
Setelah beberapa malam Nyonya Ratna tak bisa tertidur nyenyak, malam ini beliau benar-benar tertidur lelap tanpa beban.
Kedua alis Zoya mengerut. Lalu dia segera mengubah posisinya dengan duduk. Beranjak dari tempat tidur untuk mengambil tas kerja.
Diambilnya selembar kertas dari dalam tas tersebut. Zoya tersenyum penuh makna. "Milly, gue tahu. Jika elo menjadi simpanan bokap gue hanya karena ini." Zoya mengibaskan kertas tersebut.
"Harta Tuan David yang begitu banyak." lanjutnya sembari menatap jauh ke depan.
Zoya kembali menatap ke lembar kertas tersebut. "Tapi maaf, selamanya gue tidak akan pernah membiarkan elo mendapatkan apa yang elo inginkan. Tidak akan." ujar Zoya.
Entah apa isi dari selembar kertas yang sekarang berada di tangan Zoya. Hingga membuat Zoya dengan yakin, mengatakan jika Milly tak akan bisa mendapatkan harta Tuan David, selama kertas tersebut berada di tangannya.
Zoya kembali duduk di ranjang. "Reiner pernah mengatakan ke gue, untuk berhati-hati dengan Milly." cicit Zoya mengingat perkataan Reiner saat itu.
"Pasti ada sesuatu yang Reiner ketahui. Sehingga dia mengatakan hal tersebut." tutur Zoya, ingin mencari tahu semua tentang Milly.
"Zoya,,, Zoya,,, Zoya,,, Tenang,,, tenang,,, berpikir dengan tenang. Cari satu-persatu. Jangan semua elo pikirkan. Oke. Slowwww...." ujar Zoya pada dirinya sendiri yang ingin menyelidiki tentang Milly.
Zoya manggut-manggut. "Ya,,, gue bisa mencari tahu semua tentang Milly dari perusahaan. Benar." tukas Zoya.
__ADS_1
Zoya menyimpan kertas tersebut di dalam kamar Yaya. "Yaya, gue nitip ini ya." ujarnya, merasa tempat tersebut adalah tempat yang aman.
Zoya menatap tubuhnya dari pantulan cermin. Menepuk perutnya dengan pelan berkali-kali. "Kapan badan ini akan mengecil. Apa gue perlu melakukan operasi." oceh Zoya.
"Operasi. Duit dari mana." lanjutnya tertawa pelan. Merasa lucu dengan perkataannya sendiri.
Zoya mengambil timbangan badan dari laci meja yang ada di bawah. Beberapa hari yang lalu, dia sengaja membeli timbangan tersebut. Tentu untuk mengetahui, apakah dietnya membuahkan hasil atau tidak.
Kedua mata Zoya membulat melihat angka yang tertera di atas timbangan tersebut. "Berkurang empat kilo. Tapi kenapa gue merasa, badan gue masih sama." cicit Zoya setelah turun dari timbangan.
Zoya mengembalikan timbangan tersebut ke tempatnya. Lalu dia duduk kembali di atas ranjang. "Tak mungkin gue hanya fokus diet. Bisa-bisa rencana gue malah berantakan." ujar Zoya.
Saat duduk, Zoya kembali teringat akan Milly. "Identitas Milly." cicit Zoya tersenyum, tahu pada siapa dirinya akan meminta pertolongan.
"Milly. Sabar sayang, gue akan memulainya dengan pelan. Tunggu sebentar lagi. Akan banyak kejutan buat elo." tukas Zoya sudah ada beberapa rencana di dalam otak kecilnya.
Sedangkan di sebuah rumah mewah, seorang lelaki muda duduk di kursi single di dalam kamar. Dia memandangi foto di tangannya.
"Apa yang harus aku lakukan." cicitnya, mengajak gambar perempuan di foto tersebut berbicara.
Wajah Reiner tampak sedih. Dipandanginya wajah sang kekasih yang ada di foto. "Zoya,,,, sayang. Bangunlah. Sampai kapan kamu akan tertidur." ucapnya.
Reiner meletakkan foto tersebut. Mengambil sebotol minuman berwarna ungu. Menuangkannya sedikit di dalam gelas. Memandang gelas berisi air dengan menggoyangkannya perlahan.
Diminumnya dengan sekali teguk. Lalu di letakkannya gelas kosong tersebut di atas meja dengan kasar hingga menimbulkan bunyi.
Baru saja dirinya dan kedua orang tuanya membicarakan mengenai hubungan Reiner dengan Zoya.
Melihat keadaan Zoya yang sepertinya tidak segera membaik. Dan malah semakin mengkhawatirkan, kedua orang tua Reiner menyuruh Reiner untuk mencari perempuan lain.
Saran yang sama, yang dikemukakan oleh papa Zoya, Tuan Darwin. Jika sebaiknya Reiner mencari perempuan lain.
"Kenapa malah seperti ini." keluh Reiner.
Reiner mengusap dengan kasar wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. "Seandainya Zoya tidak melihat gue bersama perempuan lain. Seandainya Zoya tidak mengalami kecelakaan. Aaaaiisssshhh... Zoya...!! Elo salah paham. Di hati gue cuma ada elo. Gue hanya memanfaatkan tubuh mereka. Tak lebih." ucap Reiner hanya tinggal penyesalan.
Selama berpacaran dengan Zoya, Reiner memang tak pernah meminta Zoya untuk melakukan hal lebih. Seperti memuaskannya di atas ranjang.
Reiner bisa menebak dari sikap serta pendirian Zoya. Jika Zoya bukan sosok perempuan yang dengan senang hati dan mudah menyerahkan tubuhnya pada pasangan di saat mereka berpacaran.
Sebagai kekasihnya, Reiner tak pernah memaksa Zoya untuk melakukan hal tersebut. Alhasil, Reiner mencari perempuan lain. Hanya untuk pemuas nafsunya. Dan sama sekali tidak menggunakan perasaan.
__ADS_1
Besok, kedua orang tua Reiner mengatakan jika mereka akan mengenalkan Reiner dengan putri dari rekan kerja sekaligus sahabat sang papa.
Reiner berdiri di dekat jendela. Memandang lurus ke depan. Dirinya tersenyum getir. "Apa gue bisa menerima perempuan lain untuk masuk ke dalam hati gue." cicit Reiner sebelum dia bertemu dengan perempuan yang akan dikenalkan dengan dirinya.