MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 37


__ADS_3

Jari Zoya berselancar di dunia maya. Di carinya cara mengecilkan badan tanpa harus pergi ke gym. "Banyak sih. Tapi harus berolah raga juga." tukas Zoya.


Jika hanya mengandalkan olah raga sendiri, pasti prosesnya akan lama. Apalagi tidak dilatih oleh ahlinya. Dan Zoya paham akan hal tersebut.


Zoya berdiri dari duduknya, tapi nafasnya terasa berat. "Ada apa ini." badan Zoya terasa bergetar, dan terasa tidak baik-baik saja.


Zoya yang berada di kursi, perlahan berdiri ingin berbaring di tempat tidur. Tapi tubuhnya tiba-tiba merasakan sesuatu yang sulit dijabarkan.


Prang.... Tangan Zoya menyenggol mangkok berisi buah. Membuat mangkok tersebut jatuh ke bawah dan pecah. Dengan beberapa buah yang belum sempat Zoya makam terjatuh ke bawah.


Zoya duduk di bawah. Memegang dadanya yang terasa sakit. "Ada apa ini." batin Zoya menahan rasa sakit yang sangat amat.


Suara mangkok terjatuh yang pecah terdengar hingga luar. Membuat bu Murni berlari menuju ke kamar Zoya. "Zoya....!!" teriaknya, melihat Zoya duduk di bawah dengan tangan di depan dada.


Keringat sebesar biji jagung keluar dari dahi Zoya. Tampak wajah Zoya sangat pucat. Bu Murni kembali berlari keluar kamar. Mencari sang suami.


"Pak...!!! Pak...!!" teriak bu Murni sembari berlari keluar. Menuju ke toko yang berada tepat di depan rumah.


Bu Murni sampai lupa, jika sang suami sedang tidak berada di toko. Dan toko sedang ditutup sedari beberapa jam yang lalu. Karena pak Endri harus menghadiri undangan dari pak RW untuk membicarakan sesuatu bersama warga lainnya.


"Astaga,,,!! kenapa aku sampai lupa. Bapak tidak ada di rumah." ucap bu Murni bertambah khawatir.


Ingin menyusul sang suami, tak mungkin bu Murni lakukan. Karena tempat dimana pertemuan itu diadakan jaraknya lumayan jauh dari rumah.


Bu Murni kembali masuk ke dalam rumah dengan berlari. Dirinya hingga tak melihat ada mobil yang baru saja berhenti di depan rumah karena rasa cemasnya.


"Ada apa dengan bu Murni?" tanya Zain pada dirinya sendiri.


Perasaan Zain seketika terasa tidak enak. Segera dia keluar dari mobil. Dan bergegas menuju ke rumah pak Endri.


"Zoya." bu Murni kembali ke kamar Zoya. "Apa yang harus ibu lakukan? ayah kamu nggak ada?" tanya bu Murni menjadi bingung sendiri karena melihat kondisi Zoya yang terlihat lemas.


"Tenang bu. Tenang." lirih Zoya memaksakan senyumnya. Dengan tangan tetap di depan dadanya.


Tangan bu Murni mengusap keringat yang ada di wajah Zoya. "Telepon dokter Zain." pinta Zoya dengan suara lirih menahan rasa sakit.


"Iya benar. Astaga, kenapa ibu sampai lupa." bu Murni berdiri, hendak mengambil ponselnya yang beliau taruh di luar.


"Astaga...!!" seru Bu Murni terkejut, hampir saja bertabrakan dengan dokter Zain yang sudah berada di depan kamar Zoya.


Zain ingin membuka mulutnya, meminta maaf karena sudah lancang masuk ke dalam rumah tanpa permisi. Namun bu Murni terlebih dahulu mengeluarkan suaranya.


"Dokter, Zoya... Zoya ada di dalam." ujar Bu Murni seraya menangis.


Tanpa menunggu penjelasan yang akan dikatakan bu Murni, Zain langsung masuk begitu saja. Menerobos masuk ke dalam kamar Zoya


"Zoya." segera dokter Zain mendekat ke tempat Zoya.


"Jangan, disini saja." tolak Zoya, saat Zain ingin menggendongnya. Memindahkan tempatnya.

__ADS_1


"Kamu meremehkan kekuatanku." tukas Zain. Tetap menggendong Zoya, untuk dia pindahkan ke atas ranjang tempat tidur Zoya yang kecil dan keras.


"Bu, tunggu Zoya di sini. Saya mau ambil sesuatu di mobil." pinta Zain, yang mendapat anggukan dari bu Murni.


Segera Zain berlari keluar. Menuju mobilnya untuk mengambil perlengkapan medis yang selalu dia bawa.


"Bu, jangan menangis. Zoya baik-baik saja." cicit Zoya, menenangkan bu Murni yang terlihat begitu cemas dan khawatir.


Zoya dengan perlahan menghela nafas berulang kali. Rasa sakit di dadanya perlahan mulai berkurang. Hanya saja. Kaki serta tangannya yang kini terasa sakit.


"Ada apa Zoya? Mana yang sakit sayang?" tanya bu Murni dengan khawatir, menghapus air matanya.


Zoya tersenyum sembari menggeleng. Dokter Zain datang dan langsung memeriksa badan Zoya dengan teliti.


Beberapa kali Zain menatap Zoya dengan tatapan aneh. "Bagaimana nak Zain?" tanya bu Murni dengan cemas.


Zain merasa bingung. Pasalnya, semua kondisi Zoya dalam keadaan baik. Tak ada yang mengkhawatirkan. "Tapi kenapa Zoya seperti ini?" tanya Zain dalam hati, melihat wajah pucat Zoya yang menahan rasa sakit.


Zain segera menampilkan senyum dengan menatap bu Murni. "Apa karena Zoya melakukan diet ya nak? Sebab hari ini, Zoya pertama kali pergi ke gym." cerocos bu Murni mendahului Zain.


Zain tetap tersenyum. "Bisa juga bu. Yang pasti, Zoya hanya butuh istirahat." tukas Zain.


Zoya termenung. Seketika dalam pikirannya terbesit badannya yang ada di rumah mewah Tuan Darwin. "Ada apa dengan tubuh gue?" batin Zoya langsung cemas.


Zoya menoleh ke samping, menghindari tatapan bu Murni, dan terutama Zain yang terus menatapnya. "Tuhan, jangan sampai tubuhku tidak bisa terselamatkan." cicit Zoya merasa takut.


"Baik." bu Murni segera keluar dari kamar Zoya untuk menuju ke dapur.


"Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" tanya Zain.


Zoya menoleh, menatap ke arah Zain. Zoya paham, jika Zain sengaja menyuruh sang ibu keluar dari kamar. Supaya dirinya bisa bicara berdua dengan Zoya.


"Ibu kamu akan segera datang." tukas Zain, karena Zoya hanya diam. Dan memandangnya dengan intens.


"Apa yang harus gue katakan." batin Zoya tersenyum miring.


"Dia bisa berpikir gue gila, jika gue menceritakan kebenarannya." lanjut Zoya dalam hati.


Zoya merasa sakit di kaki dan tangannya perlahan menghilang. "Syukurlah, semoga ini pertanda jika badan gue baik-baik saja." batin Zoya lega.


"Hari ini hari pertama aku melakukan gym. Dan juga hari terakhir." ucap Zoya, mengalihkan perhatian. Dirinya tak mungkin menceritakan semuanya pada orang yang baru saja dia kenal.


"Kenapa?" tanya Zain.


"Dia bukan melatih. Tapi membuli. Mungkin badan saya tidak sanggup menerima. Karena ini pertama kalinya. Makanya jadi seperti ini." jelas Zoya berbohong.


"Gila, kenapa gue nggak jadi penulis novel saja. Pandai benar mengarang cerita." batin Zoya.


"Kenapa kamu harus diet. Bukankah yang terpenting sehat."

__ADS_1


Zoya tersenyum kecut. "Sehat. Anda seorang dokter, seharusnya anda tahu. Mana badan yang sehat, dan mana badan yang mudah terserang penyakit." ketus Zoya merasa kesal dengan Zain.


"Tapi, jika itu membuat kamu sakit, bukankah malah berbahaya? Dan malah menyiksa kamu." ujar Zain dengan lembut.


Zoya menatap sebal ke arah Zain. "Karena elo nggak pernah berada di posisi gue...!!" teriak Zoya.


Zain terkejut mendengar teriakan Zoya. "Asal elo tahu, lebih baik gue tersiksa seperti ini, dan gue bisa menurunkan berat badan. Gue capek Zain, gue capek....!! Sejak dulu, mereka selalu menghina gue. Menjauhi gue. Bahkan gue hampir sekarat gara-gara mereka...!!" seru Zoya melampiaskan ganjalan yang berada di hatinya.


Tanpa Zoya dan Zain tahu, bu Murni berada di balik pintu. Mendengar semua yang mereka katakan. Bu Murni membungkam mulutnya. Air matanya menetes tanpa bisa di tahan.


"Tuhan, seberat itukah kehidupan putriku di luar sana. Maafkan ibu nak.... maaf." batin Bu Murni, kembali lagi ke belakang. Beliau tak sanggup untuk masuk dan menatap wajah Zoya untuk saat ini.


"Zoya." lirih Zoya.


"Sejak kecil, mereka menghina gue. Menyiksa batin gue. Bahkan sampai sekarang. Dimanapun gue berada. Gue bahkan nggak punya satu temanpun. Tidak ada yang mau mendekati gue. Bagi mereka, gue hanya bisa dimanfaatkan, saat mereka membutuhkan. Itupun dengan cara yang menjijikkan." jelas Zoya dengan raut wajah menahan amarah.


Zain terdiam. Memandang sendu pada Zoya. Dirinya memang tak menyangka, Zoya yang dia kenal cuek dan dingin, ternyata menahan rasa sakitnya seorang diri.


"Terlihat baik-baik saja. Padahal hatinya sangat rapuh." batin Zain.


Tanpa Zain tahu, jika jiwa dan badan yang ada di depannya adalah dua orang yang berbeda.


Zoya memejamkan kedua matanya. "Biar aku bantu." segera Zain membantu Zoya untuk duduk.


Zoya memandang ke depan. Lurus tanpa berkedip. "Zain." panggil Zoya untuk pertema kalinya, dengan nada begitu lembut.


Zain duduk di tepi ranjang, di depan Zoya. "Apa elo percaya sesuatu yang tak nyata?" tanya Zoya lirih


Zain menaikkan sebelah alisnya. "Tak nyata. Seperti apa?" Zain merasa bingung.


"Jiwa seseorang, bisa masuk ke dalam tubuh orang lain." tukas Zoya dengan tenang.


Zain terdiam sesaat. Mencerna kalimat yang dikatakan oleh Zoya. "Maksud kamu. Badan dan jiwa, yang menjadi satu, tapi sebenarnya dua orang yang berbeda." tebak Zain.


Zoya mengangguk perlahan. Zain langsung tertawa lepas. "Zoya,,, hal tersebut hanya ada dalam cerita novel. Atau film di televisi. Jangan mengkhayal." ujar Zain masih dengan sisa tawanya.


Zain berhenti tertawa, saat dirinya sadar, Zoya menatapnya dengan tajam. "Khemmm... maaf." ucap Zain dengan canggung.


"Benarkan. Dia tidak percaya. Bagaimana mau meminta tolong." batin Zoya.


Sedangkan di belakang, bu Murni masih menangis. Beliau menyalahkan dirinya sendiri, atas apa yang menimpa sang putri.


"Maafkan ibu nak. Maaf. Ibu benar-benar tidak berguna." ucapnya sembari terisak.


Sekarang beliau paham dan mengerti. Kenapa selama ini sang putri tidak pernah membawa temannya untuk bermain di rumah.


Kenapa Zoya selalu mengerjakan pekerjaan sekolah, hingga sekarang mengerjakan pekerjaan kantor hingga larut malam.


"Apa yang harus ibu lakukan? Apa ibu harus mengurung kamu selamanya di dalam rumah." cicit bu Murni.

__ADS_1


__ADS_2