MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 28


__ADS_3

"Kenapa elo nggak mengerjakannya!" bentak Enggar dengan wajah memerah karena marah.


Divisi keuangan kalang kabut, pasalnya hari ini adalah hari dimana seharusnya mereka menyerahkan pekerjaan mereka pada pimpinan mereka.


Semua disebabkan oleh berkas yang seharusnya dikerjakan oleh Enggar dan Meta belum selesai. Bukan belum selesai, tapi memang belum dikerjakan sama sekali.


Mereka baru mengetahuinya saat jam kerja sudah berakhir. Yang artinya, mereka semua hendak pergi meninggalkan perusahaan.


Dan semua terjadi karena Enggar, juga dengan Meta yang memberikan pekerjaan mereka pada Zoya. Seperti sebelum-sebelumnya. Dimana Zoya pasti akan mengerjakan pekerjaan mereka dengan benar.


Tanpa keduanya harus bersusah payah. Tanpa mereka harus merasa lelah dan stress karena banyaknya angka nol.


Tapi kali ini, berkas tersebut sama sekali tidak di sentuh oleh Zoya. Membuat pekerjaan keduanya sama sekali belum dikerjakan.


"Zoya...!!" seru Meta dengan menggebrak meja kerja Zoya.


Miko segera berdiri. "Meta,,, jaga sikap kamu...!! Kenapa malah menyalahkan Zoya. Ini semua karena kesalahan kalian sendiri." tegas Miko.


Zoya memutar kursinya dengan santai. Menatap ke arah Enggar dan Meta tanpa rasa bersalah. "Jangan membuang-buang waktu. Sebaiknya, kalian segera mengerjakannya. Dari pada berteriak tak guna." tukas Zoya.


"Berani sekali elo membuat kita kesulitan...!!" geram Meta, tak mengindahkan teguran dari Miko.


"Astaga,,, kalian ini. Dari pada terus memaki gue, yang pastinya menghabiskan waktu dan tenaga. Lebih baik kalian mengerjakan segera pekerjaan kalian. Jangan makan gaji buta." sindir Zoya.


"Benar kata Zoya, segera kerjakan pekerjaan kalian." timpal Milly, yang terlihat jika dirinya ingin membela Zoya.


Zoya mencebik, memutar kedua matanya dengan malas. Enggar dan Meta hanya bisa menahan kesal dan melampiaskan rasa itu dengan menghentakkan kaki mereka ke lantai.


Keduanya kembali ke meja kerja dan terpaksa mengerjakan pekerjaan mereka.


"Zoya... bisa kita kita bicara." ajak Milly.


"Ngomong saja. Bukannya elo dari tadi sudah ngomong." ucap Zoya cuek sambil membereskan meja kerjanya, tanpa menatap ke arah Milly.


Milly mengeraskan rahangnya. "Gue ingin kita bicara berdua." tekan Milly.


"Berdua. Sorry, gue merasa nggak ada hal penting yang akan kita bahas. So,,,, jangan sok akrab." tolak Zoya.


Zoya berdiri, memberikan berkasnya pada Miko. "Ini milik gue." ucap Zoya, menaruh map berisi berkas-berkas yang sudah dia selesaikan pada Miko.

__ADS_1


Karena memang Mikolah yang biasanya memberikan hasil kerja mereka kepada pimpinan mereka.


"Elo mau kemana?" tanya Beni, melihat Zoya mengambil tasnya.


"Pulang." sahut Zoya santai.


"Tunggu....!! Enak sekali elo pulang, dan kita masih di sini. Bekerja lembur. Ingat,,,!! ini semua juga karena ulah elo...!!" tukas Enggar tak terima.


Zoya tertawa pelan. "Terus elo mau gue kayak gimana? Menunggu elo di sini. Ikut bekerja hingga larut malam? merasakan lebur lagi." tanya Zoya menyindir mereka.


"Dan satu lagi. Jaga ucapan elo. Jangan pernah bilang itu salah gue. Paham. Itu tugas elo. Bukan gue. Pecundang. Cih..." ketus Zoya.


"Ingat, kerja yang benar. Kalian pikir ini perusahaan bokap elo. Bekerja seenak jidat elo." sarkas Zoya.


Zoya membalikkan badan, memandang tajam ke arah Milly. Lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. "Jika kalian tidak becus kerja. Tidur saja di atas ranjang dan buka ************ kalian." tekan Zoya.


Deg..... Jantung Milly serasa tertusuk sebilah pisau yang runcing. Menelan ludahnya dengan kasar. Ada rasa cemas menyeruak dalam relung jantungnya.


"Eeehhh... elo suruh kita menjual badan...!!" seru Enggar tak terima.


"Nyuruh elo. Bodoh. Gue cuma menyarankan." tekan Zoya, lalu menatap Milly kembali.


Zoya berjalan ke depan, sedikit menabrakkan lengannya bagian atas pada Milly yang berdiri di depannya. Membuat tubuh Milly sedikit oleng.


Beruntung Milly segera berpegangan pada meja kerja milik Beni. "Elo baik-baik saja." tanya Beni.


Milly mengangguk. Segera dia pergi ke meja kerjanya dan duduk di kursi miliknya. Raut wajah Milly menjadi pucat seketika.


Segera Milly menengguk minuman. Apa yang Milly lakukan tak lepas dari pandangan Miko. "Pasti ada sesuatu di antara mereka." batin Miko menebak.


"Zoya... Dia mengatakan jika lupa dengan kejadian itu. Tapi, kenapa sepertinya mustahil. Dia mengatakan hal seperti itu." batin Milly menggigit bibir bawahnya dengan cemas.


"Gue harus segera memberitahu lelaki tua itu. Gue nggak mau semua orang tahu apa yang terjadi. Apalagi, sekarang ada Reiner." batin Milly.


Tentu saja Milly berubah pikiran dengan cepat saat mengetahui kondisi Zoya. Yang awalnya dia ingin menjadi istri dari Tuan Darwin, tapi sekarang semua berbeda.


Milly menebak jika kondisi Zoya tak akan membaik dan bertambah buruk. Dan jika semua seperti yang dia perkirakan, tentunya dia akan mendekati Reiner. Dan meninggalkan Tuan Darwin yang selama ini telah memenuhi semua kebutuhannya.


"Badan besar elo ternyata guna juga." ucap Zoya dalam hati.

__ADS_1


Sekarang Zoya berjalan dengan percaya diri. Banyak yang berbisik saat melihat langkah Zoya yang sekarang. Sangat berbeda jauh.


Jika dulu Zoya berjalan dengan menundukkan kepala, sekarang Zoya berjalan dengan dagu terangkat.


Seakan dirinya tidak takut dengan siapapun. Dan perubahan Zoya, secara cepat menyebar ke seluruh karyawan. Sontak saja, perubahan sikap Zoya menjadi pembicaraan panas di kalangan karyawan.


Zoya menghentikan langkah kakinya saat berada di halaman perusahaan. Dimana bukan hanya dirinya yang berada di sana.


Tapi karyawan lainnya juga banyak yang berada di sana. Karena waktu pulang kerja sudah tiba. Pandangan Zoya terkunci pada sebuah mobil yang tidak asing di matanya.


Sesosok lelaki dengan tubuh atletis serta wajah rupawan keluar dari dalam mobil. Setelan jas hitam melekat sempurna di tubuhnya. Membuat nilai pesonanya semakin bertambah.


Reiner.


Lelaki yang menjadi kekasih Zoya. Entah apa yang ada di dalam benak Zoya saat ini, ketika dia melihat wajah lelaki yang sangat dicintainya itu.


Tak ada yang tahu, apa rasa itu masih ada. Atau sudah hilang dan lenyap. Zoya hanya menampilkan ekspresi datarnya. Hingga suara seorang perempuan membuyarkan lamunannya.


"Bangun. Elo nggak akan pernah bisa mendapatkan lelaki sesempurna Tuan muda Reiner." bisiknya tersenyum remeh, sembari berjalan kembali meninggalkan Zoya.


Zoya membuang wajahnya ke arah lain. "Sempurna." dengus Zoya tersenyum getir.


Masih teringat jelas apa yang dia lihat sebelum dirinya mengalami kecelakaan. "Ckk,, kenapa gue malah berdiam di sini." gerutu Zoya.


Segera Zoya menunggu taksi yang dia pesan dan menaikinya saat taksi tersebut datang. Tujuannya adalah rumah yang selama ini meninggalkan banyak kenangan untuk dirinya.


Dan di sinilah Zoya berada. Di depan rumah besar dan megah bak istana dalam dongeng. Rumah dimana dia dibesarkan dan selalu mendapatkan limpahan kasih sayang.


Zoya sengaja segera pulang dari perusahaan. Menggunakan waktu yang menurutnya baik untuk mengunjungi sang mama dan juga melihat keadaan tubuhnya.


Zoya berpikir, jika saat ini sang papa belum pulang. Dan hanya ada sang mama. Pasti dirinya akan diperbolehkan masuk untuk menjenguk Zoya.


"Ingat Zoya. Jaga emosi. Tahan perasaan kamu. Jangan membuat kesalahan yang akan membuat kamu kesulitan ke depannya."


Zoya menghela nafas berkali-kali. Menetralkan deru nafasnya yang tak beraturan. "Tapi,,,, apa gue bisa." tanya Zoya pada dirinya sendiri.


Zoya merasa ragu pada dirinya sendiri. Bagaimana tidak ragu, dia akan bertemu dengan sang mama. Yang selama ini selalu memanjakannya dengan semua kasih sayangnya.


Tentu sangat sulit bagi Zoya untuk berpura-pura menjadi orang lain. Zoya hanya takut jika dia kelepasan dan akan melakukan suatu hal yang mengejutkan sang mama.

__ADS_1


__ADS_2