MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 29


__ADS_3

"Silahkan di minum Non." ucap pembantu di kediaman Nyonya Ratna.


Zoya tersenyum ramah. "Terimakasih bik." tutur Zoya, sembari mengambil segelas air minum tersebut. Menyeruputnya sedikit, lalu mengembalikannya lagi di atas meja.


"Tunggu sebentar ya Non, Nyonya sebentar lagi turun." paparnya, memberitahu Zoya. Sebab salah satu rekannya naik ke lantai atas. Memberitahu Nyonya Ratna jika ada tamu. Yakni teman Nona Muda mereka. Zoya.


Zoya hanya mengangguk pelan. Sejujurnya, jantung Zoya berdetak tak biasa. Rasanya sungguh menyesakkan.


Bertemu dengan sang mama, tapi harus berpura-pura menjadi orang lain. "Tuhan, berikan hamba kekuatan. Agar tidak membuat semuanya berantakan." batin Zoya berharap dirinya tidak akan melakukan sesuatu yang membuat Nyonya Ratna merasa terkejut.


Beberapa kali, Zoya menatap ke arah tangga. Dimana sang mama pasti akan melewati tangga tersebut saat hendak turun menemui dirinya.


Zoya menghela nafas berkali-kali. Zoya memutuskan untuk masuk ke dalam. Menemui sang mama dengan sosok Yaya.


Tujuan Zoya, selain menemui sang mama, dirinya juga ingin melihat keadaan dirinya. Yang masih berbaring dengan memejamkan kedua matanya.


Deg.... Detak jantung Zoya yang sudah normal, kembali berdetak tak beraturan saat melihat sang mama dengan anggun melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.


Zoya ingin berdiri, berlari memeluk sang mama. Melepas perasaan kangennya yang hanya bisa dia pendam. "Tahan Zoya,,,, tahan. Ingat,,, elo Yaya. Elo Yaya,,,, bukan Zoya." tekan Zoya pada dirinya sendiri.


Zoya langsung meneguk kembali minuman di gelas yang ada di atas meja depannya sampai habis. Lalu menghela nafas perlahan, dan panjang.


Zoya memejamkan kedua matanya sesaat. Menaikkan kedua sudut bibirnya dengan sempurna. "Sore." sapa Nyonya Ratna dengan mengulurkan tangan kanannya.


Zoya tak segera mengulurkan tangannya, untuk membalas uluran tangan Nyonya Ratna yang ingin bersalaman. Tapi, Zoya malah menatap lekat ke arah Nyonya Ratna dengan kedua mata berkaca-kaca.


Nyonya Ratna merasa aneh. "Halo,,,, sore." tutur Nyonya Ratna, kembali mengulangi untuk menyapa Zoya.


Zoya segera tersadar. "Ehh,, maaf ma... eh maksudnya maaf Nyonya."


Zoya segera menerima uluran tangan sang mama. Rasa hangat menjalar ke sekujur tubuhnya. Ada rasa yang tak bisa di jabarkan. Tapi begitu membuat Zoya merasa nyaman.


"Jangan panggil Nyonya. Panggil saja tante." pinta Nyonya Ratna.


Zoya tersenyum semanis mungkin. Meski hatinya terasa tercubit. Saat sang mama memintanya untuk memanggilnya dengan panggilan tante. "Mama, bukan tante." ucap Zoya yang hanya bisa diungkapkan dalam hati saja.


"Baik, tante."


Keduanya melepaskan jabat tangan mereka. Dan duduk di kursi. "Nama kamu siapa?"


"Zoya. Nama saya Zoya, tante."

__ADS_1


"Zo-ya." ucap Nyonya Ratna terbata. Bibirnya tersenyum pahit.


"Iya tante. Nama saya dan putri tante sama. Mazoya. Bahkan, tanggal serta tahun kelahiran kami juga sama." ungkap Zoya.


"Benarkan?" tanya Nyonya Ratna tak percaya.


Zoya mengangguk pelan. "Hanya badan kita saja yang tak sama." canda Zoya, tak ingin terlalu larut dalam keadaan yang sangat menyesakkan ini.


Nyonya Ratna tertawa pelan. "Kamu bisa saja. Bagi tante, ukuran seseorang hanya bisa dilihat dari tulusnya hati." jelas Nyonya Ratna.


Keadaan hening sejenak. "Oh iya,,, maaf, selama ini Zoya tidak pernah menceritakan kamu. Tante hanya tahu dengan Milly. Bahkan, Zoya dan tante, serta papanya Zoya sudah menganggap Milly seperti keluarga kita."


Zoya berusaha tersenyum. Sungguh, ingin sekali Zoya mengatakan yang sejujurnya. Siapa Milly. Dan bagaimana perilaku sang papa dan Milly di belakang sang mama.


Tapi, Zoya masih waras. Dirinya tentu tidak bisa begitu saja mengatakan apa yang terjadi. Apalagi dirinya tidak mempunyai bukti sama sekali.


Yang ada, sang mama malah akan menjauh darinya. Padahal, Zoya menginginkan dirinya bisa berhubungan dekat dengan sang mama.


"Iya tante. Meski nama kami sama, tapi kami tidak terlalu akrab. Saya dan putri tante hanya saling kenal. Sebah kami berada di divisi yang sama di perusahaan Tuan Darwin." jelas Zoya mengatakan yang sejujurnya.


"Pantas saja." timpal Nyonya Ratna.


Zoya sengaja menghindari untuk bertemu sang papa. Sebab, sang papa mengenal dirinya sebagai Yaya. Pegawai perempuan yang mengetahui rahasia besar dirinya.


"Maaf tante, Zoya datang ke sini untuk menjenguk putri tante. Karena, saat teman-teman saya datang ke sini, saya tidak bisa ikut. Saat itu saya juga sedang dalam keadaan sakit." jelas Zoya mengatakan yang sejujurnya.


Nyonya Rindi masih terdiam. Zoya menatap Nyonya Rindi dengan harap-harap cemas. Tentu saja, Zoya takut jika dirinya tidak diizinkan.


Nyonya Ratna tersenyum. "Mari, saya antar ke atas." ajak Nyonya Ratna.


Plong.... Rasanya begitu lega. "Terimakasih ma... ehhh,,, maksud saya tante." Zoya tersenyum kaku.


Nyonya Ratna tersenyum. "Tidak apa-apa. Ayo." ajak beliau.


Nyonya Ratna berjalan terlebih dulu, dengan Zoya berada sedikit di belakangnya. "Ini kamar Zoya. Silahkan masuk." tutur Nyonya Ratna.


"Iya ma, Zoya tahu. Ini kamar Zoya." batin Zoya yang terasa ingin menitikkan ari mata.


Tapi Zoya menghela nafas panjang. Mengedipkan kedua matanya dengan cepat, untuk menghalau air mata yang ingin keluar dari pelupuk matanya.


Pintu terbuka dari luar. Zoya melangkahkan kakinya dengan berat ke dalam ruangan yang bertahun-tahun dia tempati.

__ADS_1


Deg.... Kaki Zoya bergoyang. Kedua matanya melotot sempurna melihat sosok yang terbaring tak berdaya di atas ranjang.


Nyonya Ratna membalikkan badan. Dirinya ingin membuka mulutnya, tapi enggan beliau lakukan saat melihat raut wajah Zoya.


Kedua kaki Zoya melangkah mendekat ke arah ranjang. Tanpa terasa, air mata mengalir dari kedua pelupuk matanya yang sedari tadi dia tahan. Meluncur bebas di kedua pipinya.


Zoya berdiri diam. Hanya matanya yang menyiratkan rasa sedih yang mendalam. "Ini gue. Tuhan, apa benar, ini gue." batin Zoya.


Sosok yang dahulu sangat cantik dengan badan seksi dan rambut panjang. Kini, terbaring tak berdaya dengan badan kurus, dan tak ada sehelai rambutpun di kepalanya.


Ditambah lagi, ada berbagai selang dan peralatan medis yang menempel di badan kurus tersebut.


Badan Zoya luruh ke bawah, dirinya syok melihat keadaan tubuhnya sendiri. Terdengar jelas suara isak tangis di telinga Nyonya Ratna.


Nyonya Ratna berjongkok di samping Zoya. Membawa Zoya ke dalam pelukannya. "Sudah, jangan menangis. Do'akan saja untuk Zoya agar cepat sembuh."


Nyonya Ratna merasa berbeda, saat dirinya memeluk tubuh besar Zoya. Beliau juga merasa, kesedihan yang Zoya tunjukkan bukanlah sebuah kepalsuan.


Beberapa menit, Zoya tampak tenang. Dibawanya Zoya untuk duduk di kursi yang berada di dalam kamar sang putri.


"Bagaimana keadaan Zoya, tante?" tanya Zoya pada sang mama, dengan mata tak lepas dari tubuhnya yang tanpa jiwa. Terbaring tak berdaya di atas ranjang.


"Sama sekali tak ada kemajuan. Padahal, kita sudah memanggil dokter-dokter terbaik. Tapi tetap saja, Zoya tak menunjukkan perubahan." jelas Nyonya Ratna.


Zoya tersenyum kecut. "Bagaimana bisa berubah ma, jiwa Zoya ada di sini. Di hadapan mama." batin Zoya.


Zoya segera menghapus air mata di kedua pipinya. Dirinya kembali teringat, jika dia tak boleh terlalu lama berada di rumah ini. Takut jika Tuan Darwin tiba-tiba pulang. Dan memergokinya.


Padahal, Zoya tak perlu merasa takut. Sebab, tak mungkin sang papa pulang sore. Yang ada, sang papa pasti akan berduaan, bermesraan bersama Milly di rumah yang memang dibelikannya khusus untuk Milly.


"Sering-sering datang ke sini." tukas Nyonya Ratna, saat Zoya berpamitan dengan dirinya.


"Iya, tante. Zoya akan sering datang ke sini." sahut Zoya.


"Berhati-hatilah di jalan."


"Iya tante. Terimakasih."


Diperjalanan pulang, Zoya kembali mengingat bagaimana keadaan tubuhnya. Zoya tersenyum kecut. "Ternyata begitu parah." gumamnya, meraup wajahnya dengan kasar.


Zoya tak menyangka jika keadaan tubuhnya separah itu. "Sial, kenapa gue begitu bodoh. Bertindak ceroboh hanya karena melihat bajingan itu berciuman dengan perempuan lain." geramnya, merasa menyesal.

__ADS_1


__ADS_2