
Tuan Darwin dan Nyonya Ratna langsung menuju ke negara di mana sang putri berada. "Reiner... dimana Zoya?!" tanya Nyonya Ratna segera dirinya bertemu dengan Reiner di depan ruang operasi.
Reiner dengan penampilan yang tidak serapi sebelumnya berdiri dari duduknya. "Di dalam tante. Mereka sedang melakukan operasi untuk menyelamatkan Zoya." jelasnya dengan kedua mata yang sembab.
Nyonya Ratna duduk dengan lunglai. Air matanya terus menetes di kedua pipinya. "Zoya." lirihnya.
Baru kemarin mereka tertawa bersama. Siapa yang akan menyangka, jika sekarang sang putri tercinta sedang berjuang untuk tetap hidup.
"Jika tahu begini, saya tidak akan mengizinkan Zoya pergi menemui kamu." sesal Nyonya Ratna.
"Maaf tante, Rey sendiri juga tidak tahu jika Zoya akan menemui Reiner di sini." tukas Reiner.
Memang Zoya sengaja memberikan kejutan untuk Reiner. Oleh karenanya dia tidak mengatakan jika akan menemuinya. "Jika Rey tahu, Reiner akan menjemput dia. Tak akan pernah terjadi seperti ini."
Terjadi seperti ini. Entah apa maksud perkataan Reiner mengunakan kalimat tersebut. Tentang Zoya yang mengetahui kelakuannya, atau tentang kecelakaan yang menimpa Zoya.
"Zoya sengaja, dia ingin memberikan surprise untuk kamu." timpal Nyonya Ratna.
"Zoya." Reiner menunduk, menyugar kasar rambutnya ke belakang, lalu menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi seraya mendongak ke atas.
"Bagaimana semua ini bisa terjadi?!" tanya Tuan Darwin, menatap tajam Reiner, kekasih dari putrinya.
Reiner menggeleng. "Rey sendiri juga tidak tahu pastinya om. Saat Reiner turun dari apartemen, ada suara teriakan dari orang-orang. Karena penasaran, Reiner mendekat dan melihatnya. Zoya sudah tergeletak bersimbah darah."
Reiner menutup wajahnya, terlihat frustasi di mata kedua orang tua Zoya. Kenyataannya, Reiner merasa takut bercampur cemas.
Takut jika dirinya ketahuan oleh kedua orang tua Zoya, jika dia mengarang cerita. Serta cemas dengan keadaan Zoya.
Untuk cinta dan sayang. Reiner memang benar mempunyai rasa itu terhadap Zoya. Bahkan Reiner sangat takut kehilangan Zoya. Karena rasa cinta itu.
Jika karena harta, Reiner juga bukan berasal dari keluarga yang tidak mampu. Keluarganya dan keluarga Zoya bisa dikatakan imbang dalam hal kekayaan. Mereka sama-sama berasal dari keluarga kaya raya.
__ADS_1
Entah karena apa, Reiner selalu bermain perempuan di belakang Zoya. Hanya Reiner sendiri yang tahu alasannya. Padahal dirinya begitu mencintai Zoya.
Tuan Darwin memeluk sang istri, menaruh kepala sang istri di dadanya. "Apa sudah lama?" tanya Tuan Darwin.
Reiner mengangguk. "Maaf om, Reiner tidak menjaga Zoya dengan baik." suara Reiner terdengar serak.
"Kita do'akan saja, semoga Zoya baik-baik saja." tukas Tuan Darwin.
Tuan Darwin menepuk bahu sang istri pelan-pelan. "Kamu sudah mengurus semuanya?" tanya Tuan Darwin.
Reiner mengangguk. "Sudah om. Bawahan saya yang mengurus semuanya." jelas Reiner.
Beberapa kali Nyonya Ratna melihat ke arah pintu ruang operasi yang tetap tertutup rapat. "Kenapa lama sekali." cicitnya merasa cemas dan khawatir.
"Sabar ma. Mereka sedang berusaha menolong putri kita." cicit Tuan Darwin.
Meski sebenarnya, Tuan Darwin sendiri juga merasa khawatir dengan keadaan putri tunggal kesayangannya. Tapi dirinya, tetap berusaha bersikap tenang.
Pintu ruang operasi terbuka, bersama dengan beberapa orang menggunakan pakaian khusus keluar dari dalam.
Sang dokter tak lantas segera menjawab. Beliau menatap ketiga orang didepannya secara bergantian. "Sebaiknya anda ikut ke ruangan saya. Mari." ajak sang dokter.
Kedua orang tua Zoya beserta Reiner mengikuti kemana sang dokter akan membawa mereka. Dan di sinilah mereka berada. Di ruang sang dokter yang melakukan operasi pada Zoya.
Tuan Darwin dan Nyonya Ratna duduk di kursi yang berada di depan sang dokter, hanya terpisah oleh sebuah meja. Sedangkan Reiner berdiri di belakang mereka.
"Maaf Tuan, saya harus menyampaikan semuanya dengan jelas." ucap sang dokter mengawali ucapannya.
Perasaan Tuan Darwin dan Nyonya Ratna merasa tidak enak. "Apa yang terjadi?" tanya Tuan Darwin tidak sabar.
"Putri anda mengalami koma." jelas sang dokter.
__ADS_1
Bahu Nyonya Ratna melorot, beliau tidak bisa menahan air matanya yang sempat terhenti sejenak. Tuan Darwin segera merangkul sang istri.
Juga dengan Reiner. Kakinya terasa seperti jelly. Segera tangannya meraih kursi bagian atas yang di duduki kedua orang tua Zoya yang berada di depannya.
"Kenapa?" tanya Tuan Darwin meminta penjelasan pada sang dokter atas kondisi sang putri yang mengalami koma.
Sang dokter menjelaskan keadaan Zoya dengan sangat detail. Juga beberapa bagian tubuh Zoya yang terluka parah. Hingga kepalanya yang mengalami benturan hebat.
"Apa yang harus kami lakukan?" tanya Tuan Darwin merasa bingung.
"Sebaiknya, untuk sementara waktu Nona Zoya tetap dibiarkan untuk dirawat di rumah sakit ini terlebih dahulu. Jika memang beberapa hari ke depan tidak ada perubahan, anda boleh memindahkan ke rumah sakit yang menurut anda lebih baik." saran sang dokter.
"Rawat putri saya sebaik mungkin. Jangan khawatirkan soal biaya. Lakukan apapun untuk menyelamatkan dan mengembalikan putri saya seperti sedia kala." pinta Tuan Darwin.
"Maaf Tuan. Kami akan berusaha sebaik mungkin. Kemungkinan Nona Zoya bisa sadar memang ada, meski sangat kecil. Tapi, untuk kembali seperti semua, itu sangat sulit. Mengingat beberapa bagian tubuh Nona Zoya rusak parah." jelas sang dokter berkata jujur.
Sang dokter tidak ingin menutupi apapun dan bagaimana keadaan Zoya dari keluarga pasien. Sebab, keluarga pasien memang perlu mengetahui semuanya dengan detail dan jelas.
Tuan Darwin menghela nafas panjang. Dirinya sama sekali tidak menyangka, jika sang putri tercinta yang selama ini dia sayang.
Dan dia didik sedikit keras untuk dia persiapkan mengambil alih kursi kepemimpinan di hari saat dirinya sudah tua, sekarang berbaring tak berdaya.
Zoya dipindahkan dari ruang operasi ke ruang rawat yang penuh dengan alat medis. Ada banyak alat medis yang tertempel di badan Zoya.
Ruangan yang dipakai Zoya adalah ruangan yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh keluarga. Meski Tuan Darwin mengeluarkan uang yang sangat banyak, tapi tak masalah. Yang terpenting, keluarga Zoya pun bisa tinggal satu ruangan dengan pasien dengan nyaman.
"Om, tante. Reiner pamit sebentar. Reiner akan membersihkan diri. Lalu kembali ke sini lagi." pamit Reiner. Tuan Darwin mengangguk.
Sementara Nyonya Ratna tak menyahuti ucapan Reiner, fokusnya hanya pada sang putri yang berbaring dengan kedua mata tertutup rapat. Nyonya Ratna duduk di samping ranjang dimana Zoya tergeletak di atasnya. Menggenggam telapak tangan Zoya dengan penuh kasih sayang.
Tuan Darwin duduk di sofa besar dan empuk yang memang dia minta untuk disediakan khusus di dalam ruangan Zoya.
__ADS_1
Diambil ponsel miliknya dari dalam saku. Tentu saja dia ingin memberitahu kekasih tercintanya mengenai keadaan sang putri.
Tanpa Tuan Darwin sadari, dia telah memelihara ular yang sangat berbahaya untuk dirinya dan juga untuk keluarganya.