
"Pak,,,,!!! Yaya... Pak.... Yaya...!!" teriak Bu Murni berteriak, melihat nafas sang putri tiba-tiba tersengal. Terlihat Yaya sangat kesulitan bernafas.
Bu Murni tentu saja ketakutan melihat apa yang terjadi pada putri tercintanya. Pak Endri yang mendengar teriakan sang istri, berlari masuk ke kamar Yaya.
"Ada apa bu...?" tanya pak Endri melihat sang istri menangis sembari duduk di tepi ranjang Yaya. Sementara beliau melihat nafas sang putri terengah-engah.
"Yaya..." panggil Pak Endri.
"Pak. Kenapa Yaya pak...?!" tanya bu Murni ketakutan.
"Ibu tenang dulu. Bapak akan menelpon pak dokter." tukas pak Endri.
Pak Endri keluar, mengambil ponselnya yang berada di luar kamar Yaya. Seperti kata sang suami, bu Murni tetap berada di samping Yaya. Menjaganya serta mengucapkan do'a untuk sang putri.
"Tuhan. Jangan Engkau ambil putri hamba. Sungguh, untuk saat ini hamba belum sanggup kehilangan putri kami." gumam bu Murni sesegukan.
Nafas Yaya tiba-tiba kembali kembali normal. "Yaya,,, sayang." bu Murni memastikan jika Yaya masih bernafas, dengan mendekatkan telinganya di dada sang putri.
Bu Murni bernafas lega. Meski sedikit, rasa khawatir yang sempat dia rasakan sedikit berkurang, dengan deru nafas Yaya yang kembali normal.
Bu Murni terlonjak kaget, sampai beliau berdiri. Melihat apa yang ada di depannya. "Yaya. Yaya sayang...."
Bu Murni duduk perlahan di dekat sang putri. Memegang perlahan serta mengelus lengannya. "Yaya." panggil bu Murni.
Yaya tiba-tiba membuka kedua matanya. Berkedip pelan tanpa bergerak dan tidak mengucapkan apapun. "Yaya." kembali bu Murni memanggil sang putri untuk kesekian kalinya.
Tapi tetap saja Yaya tidak merespon. Dia tetap terdiam dan hanya mengedipkan kedua matanya.
"Bu,,,," panggil pak Endri, masuk ke kamar Yaya bersama sang dokter. Karena memang sang dokter berjalan menuju ke rumah pak Endri. Oleh karenanya, sang dokter cepat sampainya.
Bu Murni bangun dari duduknya. "Pak,,, lihat. Yaya sadar." tukas Bu Murni.
"Yaya... Sayang." pak Endri mendekat dan mencium kening Yaya.
"Yaya." gumam pak Endri melihat ada yang berbeda dengan sang putri.
Sang dokter menaikkan sebelah alisnya. "Maaf pak, bisa saya memeriksa Yaya." pinta sang dokter meminta tempat.
Pak Endri segera memberi tempat pada sang dokter. Beliau berdiri dengan merangkul sang istri. Berdiri di belakang sang dokter. "Tenang saja. Yaya pasti akan kembali seperti semula." cicit pak Endri, menenangkan sang istri.
__ADS_1
Dengan teliti, sang dokter memeriksa keadaan Yaya. "Semua seperti sebelumnya." gumam sang dokter.
Yang berbeda, Yaya yang sekarang membuka kedua matanya. Sedangkan sebelumnya, Yaya menutup kedua matanya.
"Bagaimana dok?" tanya pak Endri. Bu Murni menatap sang dokter dengan tatapan cemas. Menanti apa yang akan diucapkan oleh sang dokter.
"Masih sama." jelas sang dokter.
"Maksud anda apa dok?" tanya bu Murni.
"Bu,,, pak,,, saya sudah mengatakan sejak awal. Jika Yaya dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada yang terluka dalam tubuh atau anggota badannya yang lain. Sama sekali." jelas sang dokter tetap sama seperti sebelumnya.
"Tapi,,, bagaimana bisa. Yaya sekarang telah membuka kedua matanya dok." ujar bu Murni.
"Bu,,, sabar. Biarkan dokter melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Yaya." tukas pak Endri.
Sang dokter tahu apa yang dirasakan kedua orang tua Yaya. Pasti mereka merasa bahagia sekaligus bercampur rasa takut.
Bagaimana tidak. Yaya tiba-tiba membuka kedua matanya. Tapi tidak bergerak sama sekali. Mengeluarkan suara saja tidak.
Dan sang dokter mengatakan jika keadaan Yaya masih sama seperti sebelumnya. Padahal Yaya
Sang dokter membuka selimut di badan Yaya bagian bawah. Memperlihatkan kakinya hingga lutut. Beliau mengambil alat medis di dalam tasnya yang berbentuk seperti palu, tapi berukuran kecil.
Dengan pelan, sang dokter memukulkannya ke lutut Yaya. Menunggu rekasi apa yang akan diberikan Yaya atas apa yang dia lakukan.
Tampak Yaya sama sekali tak bereaksi. Dia tetap diam dan hanya mengedipkan kedua kelopak matanya dengan pelan.
Bahkan, ekspresi wajahnya juga terlihat datar. Menatap kurus ke atas. Dimana hanya ada langit-langit kamar yang berwarna putih. Dan beberapa warna lain sebagai pemanis. "Bagaimana dok?" tanya pak Endri berharap ada kabar baik.
"Saya akan pergi ke rumah sakit terlebih dahulu. Dan meminjam alat medis untuk memeriksa kondisi Yaya, agar hasilnya lebih akurat."
"Baik dok."
"Tapi, saya minta tolong. Jangan tinggalkan Yaya sendirian. Tetap ada satu orang yang berada di sisi Yaya. Hingga saya datang lagi ke sini."
"Baik dok."
"Jika ada sesuatu lagi, segera hubungi saya." pinta sang dokter.
__ADS_1
"Baik dok."
Tanpa membuang waktu sang dokter meninggalkan kediaman pak Endri menuju ke rumah sakit untuk meminjam alat dari rumah sakit. Beliau rela repot-repot melakukannya karena rasa iba yang dia miliki untuk kelurga Yaya.
Sang dokter yakin, jika Yaya sudah sadar kembali. Tapi entah kenapa, saraf motoriknya sama sekali tidak bisa berfungsi seperti seharusnya.
Sedangkan di rumah mewah Tuan Darwin, rekan kerja Zoya yang satu ruangan dari divisi keuangan semua menjenguk ke rumahnya. Selain Miko.
Pilih kasih. Tentu saja, mereka memutuskan untuk menjenguk Zoya. Tapi sama sekali tidak kepikiran tentang Yaya. Padahal keduanya sama-sama anggota di divisi yang mereka tempati.
"Silahkan, tapi jangan terlalu berisik." ucap Nyonya Ratna mempersilahkan semuanya untuk masuk ke dalam kamar Zoya.
Milly langsung mengeluarkan air mata kebohongannya. Tentu saja untuk menipu semuanya. Supaya terlihat dirinya begitu terpukul atas apa yang terjadi pada Zoya.
"Gue berdoa. Semoga Tuhan segera mencabut rasa sakit elo. Dengan mengirim elo ke alam baka." batin Milly, dengan sangat keji mendoakan temannya.
Nyonya Ratna memeluk Milly. "Semoga, Zoya segers kembali berkumpul bersama dengan kita." tutur Nyonya Ratna dengan raut wajah sayu karena sedih.
Milly membalas pelukan Nyonya Ratna. "Iya tante. Semoga."
"Semoga, Zoya akan segera pergi selamanya." ucap Milly yang hanya berani mengatakannya dalam hati.
Semua rekan divisi yang melihat kedekatan Milly dengan mama dari Zoya, kini mereka semakin menganggap Milly sebagai orang yang penting.
Tuan Darwin masuk. Semuanya menunduk sedikit, menaruh rasa hormat. "Om." Milly melepas pelukannya dengan Nyonya Ratna. Beralih memeluk Tuan Darwin.
Tuan Darwin mengelus kepala Milly. Sama sekali tak ada rasa cemburu di hati Nyonya Ratna. Dalam benaknya sama sekali Nyonya Ratna tidak mempunyai ketakutan akan kedekatan Milly dengan sang suami.
Nyonya Ratna berpikir, jika Milly adalah Zoya. Sebab keduanya memang teman dekat. Umur keduanya juga sama. Bahkan, Nyonya Ratna menganggap Milly sama seperti Zoya. Yakni seperti putrinya sendiri.
Tentu saja beliau juga berpikir, jika sang suami sama seperti dirinya. Memperlakukan Milly seperti dia memperlakukan Zoya.
"Jangan menangis. Zoya tidak akan menyukai jika ada air mata lagi." cicit Tuan Darwin, menatap sang istri yang tersenyum menatapnya yang sedang memeluk Milly.
Segera Tuan Darwin mengurai pelukannya. Menepuk pelan kedua pundak Milly. "Terimakasih, kalian semua sudah datang menjenguk putri saya."
Semuanya tersenyum. "Sama-sama Tuan. Zoya adalah rekam kerja kami. Tentu saja, kami harus memperhatikannya." tukas Beni mewakili rekan-rekannya yang lain.
Tentu saja mereka ingin mencari muka pada Tuan Darwin. Apalagi ini adalah kesempatan yang baik dan tepat.
__ADS_1