MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 16


__ADS_3

"Yaya,,,, sayang. Yaya." panggil Bu Murni dengan suara lembut, saat kedua mata Yaya terbuka.


Zoya menatap sayu ke arah Bu Murni. "Yaya, pasti dia ibu dari Yaya. Elo lihat, kenapa elo sangat bodoh. Ibu elo sayang banget sama elo. Tapi kenapa elo nggak mau kembali." batin Zoya, mengumpat Yaya.


Zoya tersenyum kecut. "Dan sialnya, gue yang harus berada di tubuh ini." ucap Zoya dalam hati.


"Yah....!!" teriak bu Murni memanggil sang suami. Dengan berlari, pak Endri masuk ke kamar Yaya. "Ada apa bu?" tanya pak Endri.


Bu Murni tersenyum menatap sang suami, lalu mengalihkan pandangannya kepada sang putri yang kembali membuka kedua matanya.


Pak Endri paham dan mengerti, kenapa sang istri memanggilnya. "Yaya sayang, apa kepala kamu masih sakit?" tanya pak Endri penuh kasih sayang.


Zoya menatap ke arah pak Endri. "Dia pasti ayah dari si gendut, Yaya." tebak Zoya dalam hati.


Zoya menghela nafas perlahan. Rasanya sangat berat hanya untuk bernafas. "Mungkin karena tubuh Yaya yang melampaui porsi." keluh Zoya dalam hati.


"Astaga, kenapa Yaya betah sekali dan nggak kepengen diet. Rasanya sungguh nggak nyaman." batin Zoya.


Padahal jiwa Zoya belum genap dua hari berada di dalam tubuh Yaya. Tapi Zoya sudah merasakan ketidaknyamanannya.


"Pak, telepon dokter pak. Kita harus memberitahu pada beliau." tukas bu Murni.


Pak Endri mengangguk. Membenarkan saran dari sang istri. Namun, suara sang putri menghentikan langkahnya. "Jangan." lirih Zoya.


Pak Endri dan Bu Murni saling pandang. Keduanya duduk di tepi ranjang dan langsung memeluk tubuh sang putri. "Terimakasih Tuhan, Engkau mengembalikan putri kami." ujar Pak Endri.


"Sayangnya, gue bukan Yaya." ucap Zoya yang hanya sanggup dia ucapkan dalam hati.


Zoya sadar, meski dirinya mengatakan yang sejujurnya pada kedua orang tua Yaya, ataupun seluruh dunia. Pastinya tidak akan ada yang percaya dengan ucapannya.


Yang ada, dirinya akan dianggap sebagai pembual yang suka bicara omong kosong. Bu Murni mencium wajah Yaya berkali-kali.


"Seandainya gue kembali membuka mata di tubuh gue sendiri, pasti mama dan pa....." ucap Zoya dalam hati, tapi terhenti.

__ADS_1


Zoya teringat beberapa keping ingatan milik Yaya. Dimana sang papa dan Milly, seorang perempuan yang dia anggap sebagai teman serta saudaranya malah menjalin hubungan terlarang di belakang dirinya.


"Milly." batinnya.


Suara ketukan pintu membuyarkan momen penuh haru mereka. "Siapa ya pak?" tanya bu Murni.


Pak Endri menggelengkan kepalanya. "Apa bapak jadi menelpon dokter?" tanya bu Murni.


Pak Endri kembali menggeleng. "Biar bapak yang buka. Ibu temani Yaya."


Bu Murni mengangguk. "Sayang, kamu mau ibu buatkan bubur?" tanya Bu Murni.


Zoya menggeleng lemah. "Ya sudah. Kamu istirahat saja dulu." Bu Murni mengelus rambut Zoya dengan lembut.


"Apa yang harus gue lakukan sekarang?" batin Zoya memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Apalagi Zoya saat ini berada di dalam tubuh Yaya.


Zoya memejamkan kedua matanya sembari menyenderkan badannya ke ranjang tempat tidur yang berukuran kecil.


Ranjang yang hanya muat untuk tubuh Yaya yang memang besar. Dengan kasur yang tak seempuk milik Zoya di rumah.


"Apa mungkin karena tubuh Yaya berbaring terlalu lama." lanjut Zoya dalam hati.


"Gue harus memulihkan diri dulu. Jika gue sudah fit, dan tubuh gue sehat lagi. Gue baru akan memikirkan langkah selanjutnya." ucap Zoya dalam hati.


Air mata Yaya menetes perlahan, mengalir bebas di kedua pipinya. "Mama. Zoya kangen."


Bu Murni yang melihatnya, segera menghapusnya dan bertanya pada sang putri. "Sayang, kamu kenapa? Apa ada yang sakit?"


Zoya membuka kedua matanya. Tersenyum lalu menggeleng pelan. "Makan ya. Ibu buatkan bubur kesukaan kamu. Biar kamu cepat sehat kembali." bujuk bu Murni.


Zoya kembali meneteskan air matanya. Melihat bu Murni, merasakan bagaimana kasih sayang yang bu Murni berikan, membuat Zoya kembali mengingat sang mama.


"Kenapa Yaya, ada apa? Katakan pada ibu? Apa yang kamu rasakan." bu Murni memeluk sang putri dengan mengelus punggungnya.

__ADS_1


Zoya membalas pelukan bu Murni, tangisnya semakin menjadi. Bagaimana Zoya akan menghentikan air mata ini, jika dirinya terlalu rindu dengan sang mama.


"Zoya rindu sama mama." ucap Zoya, yang hanya berani dia katakan dalam hati.


"Loh,,, ada apa bu,,, Yaya,,,,?" tanya pak Endri.


Beliau terkejut saat masuk kamar, melihat sang istri dan sang putri berpelukan sembari menangis. "Tidak ada apa-apa pak. Mungkin Yaya lapar." jelas bu Murni, mengurai pelukannya.


Pak Endri menghapus air mata di pipi Yaya. "Jangan menangis. Nanti kamu jadi kurus." goda Pak Endri.


Zoya tersenyum pelan. Sebab, fisik Zoya masih sangat lemah. "Pak, siapa yang datang?" tanya bu Murni.


Pak Endri menepuk pelan dahinya. "Astaga, bapak sampai lupa."


"Di luar ada teman Yaya. Namanya Miko. Iya benar, Miko." jelas pak Endri.


Bu Murni dan Pak Endri memandang ke arah Yaya. "Miko. Apa Yaya dan Miko punya hubungan." batik Zoya.


Zoya segera menggeleng. "Yaya tidak ingin bertemu siapapun." tukas Zoya dengan lirih.


"Baiklah, bapak akan bilang jika kamu masih tidur." ungkap pak Endri.


Zoya mengangguk sambil tersenyum. "Ibu keluar dulu. Mau ke dapur. Membuatkan bubur buat kamu."


Zoya kembali mengangguk. Pak Endri dan Bu Murni bersamaan keluar dari kamar Yaya. Meski dengan tujuan yang berbeda.


Pak Endri meminta maaf pada lelaki yang baru saja datang dan mengaku sebagai teman Yaya. Pasalnya, sang putri menolak menemui lelaki bernama Miko tersebut.


Pak Endri mengantar Miko sampai di teras. "Apa benar, dia teman Yaya." gumam pak Endri.


Sebab selama ini Yaya sama sekali tidak pernah menceritakan satu orangpun atau mengenalkan seseorang sebagai teman kepada dirinya ataupun sang istri.


Zoya menelan ludahnya dengan kasar melihat bubur di dalam mangkok yang di bawa oleh bu Murni. "Kamu pasti tidak sabarkan? Tunggu ya sayang, biar buburnya hangat dulu." ujar Bu Murni.

__ADS_1


Padahal bukan itu yang ada dalam benak Zoya. Melainkan porsi bubur tersebut. Mangkok besar yang penuh dengan bubur. "Gila, pantas tubuh Yaya besar sekali. Porsi makannya saja sepuluh kali lipat dari pada gue." batin Zoya.


__ADS_2