MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 48


__ADS_3

Jam istirahat tiba. Semua karyawan keluar dari ruangan. Tentunya mereka ingin makam siang di kantin, atau tempat yang tak jauh dari perusahaan untuk menghemat waktu.


Berbeda dengan Zoya, yang tetap berada di dalam ruangan. Membuka kotak bekal yang dia bawa dari rumah. Zoya tersenyum melihat makanan yang ada di dalam wadah kotak makannya.


"Terimakasih bu." batin Zoya dia sampaikan pada bu Murni. Ibu dari Yaya.


Tanpa Zoya sadari, Enggar menatapnya dengan senyum miring dari belakang. Yang pastinya dia hendak melakukan sesuatu yang akan membuat Zoya kesal.


Enggar beranjak dari duduknya, berjalan menuju ke kursi Zoya. Dan,,,,, prang.......


Tangan Zoya yang hendak mengambil makanan menggantung di udara. Pasalnya, bekal makanan yang Zoya bawa jatuh ke lantai bersamaan dengan wadahnya.


Semua orang yang berada di ruangan hanya diam menatap ke arah Zoya dan Enggar. Mereka memang belum meninggalkan ruangan untuk pergi mencari makan siang.


Meta tersenyum senang, melihat apa yang terjadi. Dam dirinya yakin, jika Enggar memang sengaja melakukannya. "Rasain elo, gendut." batin Meta merasa menang.


Enggar segera memasang ekspresi kaget dan terlihat menyesal. "Astaga,,, maaf Zoya, gue nggak sengaja." tukasnya tersenyum senang dalam hati.


Miko segera berdiri. "Apa yang elo lakukan?! Kenapa elo nggak berhati-hati.!" tegur Miko merasa kesal.


"Sorry, gue nggak sengaja Miko. Zoya menaruhnya terlalu pinggir. Jadi kesenggol deh sama gue." ucap Enggar beralasan serta mencari pembelaan. Miko yakin, jika Enggar sengaja melakukannya. Mengingat jika mereka masih bersitegang.


Zoya hanya diam, menatap lekat ke arah makanan yang berserakan di lantai. "Makanan sehat. Elo mau diet?!" celetuk Meta, melihat apa yang Zoya bawa.


"Zoya, bagaimana jika elo gue traktir di kantin. Terserah elo mao makan apa." tukas Enggar menampakkan kebaikannya di depan Miko.


Enggar melirik ke arah Miko dimana Miko sama sekali tidak memandangnya. Dan malah menatap intens ke arah Zoya dengan tatapan iba.


Zoya tersenyum penuh makna. Lalu berdiri tepat di hadapan Enggar. "Elo, mai traktir gue di kantin. Apapun yang gue inginkan?" tanya Zoya memastikan.


Enggar tersenyum, dan terlihat senyum tersebut memang disengaja. "Iya, gue traktir elo. Di kantin. Apapun yang elo inginkan. Gue yang bayar." tekan Enggar.


Zoya mencebik seraya mengangguk pelan. "Elo baik banget sih. Ya sudah kalau begitu. Karena elo maksa, dan juga sebagai permintaan maaf elo karena menjatuhkan bekal gue. Dengan senang hati gue terima tawaran elo." sahut Zoya tersenyum manis.


"Dasar babi. Dengan mudah percaya hanya mendengar makanan. Mau diet, diet apaan." cibir Enggar dalam hati.

__ADS_1


Zoya melihat semua rekan kerjanya masih terdiam. Tak beranjak dari tempatnya. "Ayo kita ke kantin. Kalian nggak mau makan siang. Keburu jam istirahat selesai." ajak Zoya sekaligus mengingatkan.


"Ayo Enggar. Jadikan elo traktir gue?" tanya Zoya.


"Jadi dong. Yuk semua, kita ke kantin." ajak Enggar.


Kelimanya berjalan ke kantin. Tak pelak, keberadaan Zoya di antara mereka menjadi perhatian tersendiri.


Pasalnya, selama bekerja di perusahaan ini, Zoya sama sekali tidak pernah makan di kantin.


Dirinya selalu makan di dalam ruangan. Makan makanan yang dia nawa dari rumah.


Mereka semua duduk di dalam satu meja. Kecuali Zoya yang masih tetap berdiri. "Kenapa elo berdiri. Duduk." ujar Beni.


"Tenang saja, kursinya kuat kok." celetuk Meta menyindir Zoya.


Prokk... prok... prok.... Zoya menepuk tangannya beberapa kali. Membuat semua perhatian pegawai yang sedang mengisi perutnya di kantin tertuju padanya.


"Dengar semuanya...!! Kalian pesan makanan apapun yang kalian inginkan. Gratis...!!" teriak Zoya dengan lantang.


Enggar merasakan firasat yang tak enak. Terlebih Zoya memandangnya dengan senyum sempurnanya. "Tentu bukan gue yang akan membayarnya. Tapi tekan gue." seru Zoya.


Kedua mata Enggar membola, dirinya seakan bisa menebak apa yang akan terjadi. Ditambah Zoya msih setia memandangnya dan tersenyum sempurna ke arahnya.


Enggar ingin menghentikan ulah yang akan Zoya lakukan. Hanya saja terlambat. Zoya terlebih dahulu mengeluarkan suaranya kembali. "Enggar. Dia yang akan membayari makanan kalian semua...!" seru Zoya.


Enggar mengeratkan rahangnya dengan keras. Menggenggam kedua telapak tangannya yang ada di bawah meja. "Zoya." geram Meta, memegang pundak Enggar.


Meta juga tak menyangka, jika Zoya berpikir sampai sejauh ini. "Sialan. Ternyata Zoya hanya ingin mengerjai Enggar." lirih Meta.


"Enggar... Memang benar?" tanya karyawan lain memandang ke arah meja mereka.


"Wihh,,, ada apa ni Enggar,,,, Elo syukuran apaan?" timpal karyawan lain.


"Tapi makasih ya Enggar, elo the best. Tahu saja kalau tanggal tua kita lagi bokek." sahut karyawan yang lain.

__ADS_1


"Beruntung gue tadi nggak jadi makan di luar." tukas yang lainnya.


"Makasih Enggar...!!" seru beberapa karyawan bersamaan.


Prokk... prok..... "Enggar itu memang karyawan yang baik hati dam tidak sombong...! Makasih Enggar..!!" seru Zoya, disambut tepukan dari para karyawan yang ada di kantin.


Beni hanya bisa melongo. Dirinya tak percaya Zoya berani melakukan hal segila ini untuk membalas Enggar yang menjatuhkan makanannya.


"Entah kenapa gue merasa dia bukan Yaya yang dulu." batin Beni merasa jika dirinya tak bisa memperlakukan Zoya seperti dulu.


Sedangkan Miko tersenyum samar. Dia dengan lamat memandang Zoya dengan bangga dan senang. "Gue senang, elo sekarang menjadi lebih kuat." batin Miko.


Enggar tersenyum kaku menatap Meta yang memegang pundaknya. Enggar berdiri dari duduknya. Menampilkan senyumnya yang manis. "Ha...ha,,, Terimakasih semuanya. Silahkan kalian pesan. Seperti kata Zoya, hari ini gue akan membayar makana serta minuman kalian." ucap Enggar dengan perasaan dongkol.


Tampak semua karyawan yang berada di kanton bersorak bahagia. "Enggar, inilah harga yang harus elo bayar. Karena membuat gue nggak bisa menikmati makanan yang diberikan bu Murni." batin Zoya memandang Enggar dengan senyum sinisnya.


Enggar menahan lengan Meta, saat Meta hendak menyerang Zoya. "Jangan. Di sini banyak pasang mata." lirih Enggar mengingatkan.


"Zoya sialan. Beraninya dia melakukan ini ke elo." geram Meta.


Zoya mencebik. Tersenyum senang. Membalikkan badan dan meninggalkan kantin tanpa memesan makanan, bahkan minuman sekalipun. "Haram bagi gue, memakan makanan yang elo belikan." batin Zoya melangkahkan kaki dengan santai.


"Maaf bu, Zoya tidak menjaga makanan yang ibu buatkan untuk Zoya." entah mengapa, Zoya merasa bersalah pada bu Murni, karena makanan yang telah di sediakan olehnya tak bisa Zoya makan.


"Tapi tenang bu, susu yang ibu buatkan masih utuh. Dan ini, Zoya mau meminumnya." batin Zoya.


Saat berjalan kembali ke ruangannya, Zoya melihat sang papa juga kembali ke ruangannya. Tampak jelas raut wajah tegang bercampur cemas serta kesal terlihat di wajah Tuan Darwin.


Zoya menatap ke area luar, yang kebetulan dapat dia lihat. Sebab hanya terhalang oleh kaca. Sang sopir menatap punggung Tuan Darwin dengan tatapan sendu.


"Pasti ada sesuatu yang terjadi. Milly." batin Zoya, menebak semuanya pasti berhubungan dengan Milly.


"Gue harus tetap membuat petugas CCTV itu mengumpulkan video papa dan Milly. Karena gue membutuhkannya." batin Zoya.


"Dan dia, gue juga harus mencari tahu kelemahannya." batin Zoya, menatap sopir pribadi sang papa yang baru saja masuk ke dalam mobil. Karena Zoya yakin, jika sang sopir mengetahui semua rahasia sang papa.

__ADS_1


__ADS_2