MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 39


__ADS_3

Di rumah besar bak istana, seorang pembantu keluar dari kamar Zoya dengan berlari. Raut wajah cemasnya terlihat jelas. "Nyonya,,,,!! Nyonya,,,,!! Nona Zoya...." tuturnya dengan nafas terengah.


Tanpa mendengarkan sampai selesai apa yang akan diucapkan sang pembantu yang baru saja membersihkan kamar sang putri, Nyonya Ratna langsung meninggalkan majalah di tangannya.


Beliau berlari menaiki anak tangga, untuk pergi ke kamar sang putri. "Panggilkan dokter...!!" seru Nyonya Ratna sembari berlari menaiki anak tangga.


Beberapa pembantu menyusul Nyonya Ratna ke kamar Zoya. Dan seorang pembantu segera menghubungi dokter yang biasanya merawat serta memeriksa Nona Muda mereka.


"Zoya.....!!" teriak Nyonya Ratna, melihat keadaan sang putri yang sangat mengkhawatirkan.


Nafas Zoya tersengal, dengan badan mengalami kejang. "Kemana susternya?" tanya salah seorang pembantu pada rekannya.


Meski tidak ada dokter yang berjaga terus menerus di samping Zoya, tapi ada seorang perawat yang selalu berada di samping Zoya dua puluh empat jam. Menjaga dan selalu menemani Zoya.


"Dia pamit keluar, katanya mau membeli sesuatu di supermarket." sahut pembantu lain.


"Biar aku cari dia." timpal pembantu lainnya. Berlari keluar kamar Zoya dan hendak mencari sang perawat.


Bukan hanya Nyonya Ratna saja yang merasa cemas dan ketakutan. Namun semuanya. Mereka tentu saja cemas dan takut jika terjadi sesuatu pada putri majikan mereka.


Seorang pembantu yang sudah lama bekerja bersama keluarga Nyonya Ratna, mendekati Nyonya Ratna. "Tenang Nyonya, dokter sedang dalam perjalanan." ucapnya, mencoba menenangkan sang majikan.


Padahal, dia sendiri juga merasa ketakutan. Melihat badan Zoya yang tinggal tulang belulang mengalami kejang, dengan kedua mata tetap tertutup.


Sang pembantu juga meneteskan air mata. Tapi, segera diusapnya hingga tak terjatuh ke pipi. "Nona, bangunlah. Semua menanti anda membuka mata." batin sang pembantu.


Nyonya Ratna memegang lengan Zoya yang kecil. "Zoya.... Sayang.... Ini mama." Nyonya Ratna berjongkok di samping ranjang, dengan air mata terus menetes.


Beberapa pembantu yang berdiri di sebelah ranjang tempat tidur Zoya, menggenggam serta menyatukan kedua telapak tangan mereka dengan erat.


Dengan tulus, mereka berdo'a untuk kesembuhan Nona Muda mereka. "Turunlah. Ambilkan minuman untuk Nyonya." pinta pembantu yang paling lama bekerja di kediaman tersebut.


"Baik mbok." seorang pembantu segera turun mengambilkan air minum.

__ADS_1


"Zoya...." tubuh Nyonya Ratna terasa lemas seperti jely, melihat keadaan sang putri. Beliau menjadi tak bertenaga.


Sang pembantu, membantu Nyonya Ratna untuk duduk di sebuah kursi yang baru dia ambil. "Apa dokter sudah datang?" tanya Nyonya Ratna, menatap sang putri yang masih kejang-kejang.


Dirinya hanya bisa menangis dan berdo'a. Hanya itu yang bisa beliau lakukan. "Minumlah dulu Nyonya." pinta sang pembantu, saat rekannya telah membawa sebuah gelas berisi air mineral.


Nyonya Ratna meminumnya beberapa teguk. Sang pembantu menaruh gelas yang masih berisi air minum tersebut di atas nakas.


"Jangan buat mama khawatir. Hanya kamu yang mama punya." lirihnya.


Selama ini, Nyonya Ratna tidak merasa kesepian. Karena sang putri selalu menemaninya, saat dirinya membutuhkan. Apalagi, sang suami yang juga super sibuk. Membuat keduanya jarang bertemu.


Bahkan, saat malam pun. Biasanya Nyonya Ratna sampai tertidur karena menunggu kepulangan sang suami. Sehingga keduanya tidak ada waktu untuk berbincang.


Apalagi, saat pagi keduanya hanya bertemu di meja makana untuk sarapan. Setelahnya, sang suami pergi bekerja. Dan dirinya mencari kesibukan lain. Karena sang putri juga punya aktifitas sendiri.


Tak berselang lama, seorang pembantu datang memasuki kamar bersama perawat yang biasanya menjaga Zoya.


Beberapa saat, keadaan Zoya kembali tenang seperti semula. Sang perawat merasa lega. "Syukurlah, aku tidak terlambat." batinnya.


Nyonya Ratna mendekat ke arah Zoya, dibantu oleh sang pembantu dengan merangkul pundak Nyonya Ratna. "Sayang,,,, jangan membuat mama takut. Jangan pernah meninggalkan mama." cicitnya, memeluk tubuh kurus sang putri.


"Maafkan saya Nyonya. Maaf." tutur sang perawat, merasa bersalah karena meninggalkan Zoya. Meski hanya sesaat.


Nyonya Ratna tidak menjawab apa yang diucapkan sang perawat. Dirinya hanya fokus pada sang putri. Berbaring di samping Zoya dengan memeluknya.


Saat dokter tiba, Nyonya Ratna sudah memejamkan kedua matanya dengan hembusan nafas yang teratur. Menandakan jika beliau telah masuk ke dalam dunia mimpi.


Dan beberapa pembantu yang tadinya berada di dalam kamar Zoya, telah keluar. Hanya menyisakan seorang pembantu saja, yang tetap berada di dalam kamar Zoya.


"Bagaimana? Apa yang terjadi?" tanya sang dokter pada perawat.


"Maaf dok, saya tadi keluar sebentar untuk membeli sesuatu." ucapnya dengan jujur, belum menjawab pertanyaan sang dokter.

__ADS_1


"Kamu bisa menyuruh pembantu di sini. Dan jangan ulangi lagi." pinta sang dokter mengingatkan sang perawat.


Mengingat bagaimana kondisi kesehatan Zoya. Sang dokter hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada Zoya. Juga pada sang perawat. Sebab, jika terjadi sesuatu pada Zoya di saat perawat tidak berada di sebelah Zoya, tentu saja yang akan disalahkan adalah sang perawat.


"Baik dok. Sekali lagi, maafkan saya." cicitnya.


"Bagaimana keadaan Nona Zoya?" tanyanya lagi.


"Tidak ada yang mengkhawatirkan. Mungkin tubuhnya sedang merangsang sesuatu." jelasnya.


Sang dokter mengeluarkan alat-alatnya dari dalam tas. Memeriksa kembali keadaan Zoya. Beliau terdiam sejenak melihat Nyonya Ratna yang tertidur pulas di samping Zoya.


Diambilnya selimut yang berada di bawa kaki Nyonya Ratna untuk di tutupkan ke tubuh Nyonya Ratna hingga perut.


"Kemungkinan Nyonya capek. Setiap malam beliau selalu begadang untuk menunggu Nona Zoya." jelas perawat, karena dirinya juga diharuskan untuk tidur di kamar Zoya.


"Dimana Tuan Darwin? Apa beliau mengetahui keadaan putrinya?" tanya sang dokter pada pembantu yang berdiri di belakang sang perawat.


"Maaf dok, kami belum memberitahu Tuan. Dan Nyonya juga tidak menyuruh kami memberitahu Tuan." jelas sang pembantu, yang sebenarnya merasa kurang menyukai majikan lelakinya.


"Pasti Tuan Darwin sangat sibuk." timpal sang dokter.


"Benar, hingga tak sempat melihat keadaan sang putri. Padahal berada dalam satu rumah." ucap sang pembantu yang hanya berani dikatakan di dalam hati.


"Sebentar Dok, saya buatkan minuman." ujar sang pembantu.


"Jangan. Tidak perlu. Saya harus segera kembali ke rumah sakit. Ada pasien gang juga harus saya periksa." jelasnya.


Sang dokter menatap ke arah Nyonya Ratna yang tertidur pulas di samping sang putri. "Ratna. Apa kamu begitu kesepian." batinnya, sebelum pergi meninggalkan kamar Zoya.


Sang dokter adalah teman sekolah kuliah Nyonya Ratna. Meski keduanya tidak dekat, tapi mereka saling kenal.


Apalagi, dulu Nyonya Ratna termasuk mahasiswi yang cantik dan pintar di jurusannya. Ditambah dia berasal dari keluarga kaya. Sehingga Nyonya Ratna sangat terkenal di kampus.

__ADS_1


__ADS_2