
Telinga Milly mendengar beberapa karyawan yang hendak pulang, dan melewati ruangan kerjanya menyebutkan nama Reiner.
Milly bersama yang lainnya memang belum meninggalkan perusahaan. Karena mereka menemani Enggar dan Meta yang harus menyelesaikan pekerjaan mereka.
Kecuali Zoya, yang masa bodo dan memilih untuk pulang terlebih dahulu. Sebab Zoya pergi ke rumah Tuan Darwin dahulu, sebelum kembali ke rumah pak Endri.
Enggar dan Meta mengerjakan pekerjaannya dengan bibir mengerucut ke depan. Karena, biasanya mereka hanya tinggal duduk santai, dan langsung pulang.
Tapi kali ini berbeda. Dan ini pertama kali bagi keduanya harus lembur. "Brengsek...!! Ini semua karena si gendut." umpat Enggar dengan jari jemari berada di atas keyboard.
"Jangan mengumpat terus, segera kerjakan...!! Gue nggak mau pulang larut malam." ketus Beni memasang wajah kesal.
"Sebaiknya elo diam. Nggak usah banyak bacot. Mengganggu saja. Jika mau pulang, pulang saja." ketus Meta dengan perasaan dongkol.
Seketika, Beni mengambil tasnya, dan pergi begitu saja meninggalkan ruangan. "Dasar sialan. Tahu gitu, gue pulang dari tadi. Nggak guna." omel Beni sembari berjalan.
Sedangkan Miko hanya diam, dengan santai memainkan ponselnya. Sebenarnya Miko juga merasa kesal.
Tapi, dirinya tidak bisa seperti Zoya dan Beni yang pergi begitu saja. Sebab sudah menjadi tanggung jawabnya untuk mengumpulkan hasil kerja rekan-rekannya, seperti sebelum-sebelumnya.
"Reiner." batin Milly, yang hanya fokus pada kekasih sahabatnya tersebut. Saat telinganya mendengar ada yang menyebutkan nama Reiner.
Milly tersenyum samar. "Apa Reiner ke sini ya." batin Milly lagi, menebak.
Otak licik Milly berputar mencari cara untuk meninggalkan ruangan. Dan pergi menemui Reiner. Milly tersenyum, setelah mendapat cara untuk meninggalkan ruangan.
Tapi senyumnya seketika menghilang, saat dirinya tersadar. Jika pastinya Reiner datang untuk menemui Tuan Darwin. "Sialan... Bisa bahaya jika bandot tua itu tahu, jika gue menyukai Reiner. Dia bisa cemburu." batin Milly bimbang.
Hatinya sungguh ingin menemui Reiner. Mencoba berbagai cara untuk mendapatkan perhatian dari Reiner. Hingga akhirnya dirinya dan Reiner menjadi sepasang kekasih. Bila perlu, sepasang suami istri.
Tapi sekarang, dirinya masih begitu membutuhkan papa dari Zoya. Milly tidak bisa hanya mengandalkan gajinya yang baginya hanya sedikit.
Sebab, Milly yang berasal dari keluarga sederhana selalu bergaya hidup mewah. Dirinya mengimbangi kehidupan Zoya yang memang berasal dari keluarga kaya.
Alhasil, meski gaji dari perusahaan bagi sebagian karyawan mempunyai nilai banyak, tidak bagi Milly. Oleh karena itu, Milly memilih jalan pintas.
__ADS_1
Dengan menggoda papa dari Zoya. Dan akhirnya, dia berhasil. Dan sampai sekarang, Milly tetap bertahan dengan statusnya sebagai penghangat ranjang dari Tuan Darwin.
Meski Milly sendiri tahu, jika apa yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan. Dan dirinya juga sadar, jika keputusannya tersebut beresiko tinggi.
Tapi semua Milly singkirkan. Hanya untuk memenuhi gaya hidup mewahnya yang sangat membutuhkan uang banyak.
"Gue tunggu di luar saja." batin Milly tak ingin ingin sampai ketahuan oleh Tuan Darwin.
"Eeemmm,,, maaf, gue ada janji dengan teman gue. Jadi, gue duluan." ujar Milly beralasan.
Tanpa menunggu kalimat yang terlontar dari rekannya yang lain yang masih berada di ruangan, Milly pergi begitu saja.
Brakk.... Enggar menggebrak meja dengan keras. Hingga membuat Meta dan Miko terjingkat kaget. "Elo apa-apaan sih...??!" seru Meta.
Enggar tidak menjawab pertanyaan Meta. Dirinya hanya sekilas memandang tajam ke arah Meta. "Zoya,,, Yaya,,, siapapun nama elo. Gue nggak peduli. Lihat saja, gue akan membuat elo menyesal." batin Enggar, merasa dendam pada Zoya.
Padahal, Zoya sama sekali tidak berbuat salah. Dan merekalah yang selama ini bersalah pada Zoya. Karena selalu menindasnya.
"Segera kerjakan. Jangan banyak drama...!!" bentak Miko merasa kesal.
"Ini semua karena Zoya. Coba jika Zoya tidak banyak tingkah. Kita semua pasti sudah berada di rumah. Duduk santai." rengek Meta, mencari dukungan dari Miko.
Meta dan Enggar seperti menulikan telinganya. Keduanya yang sedari tadi mengomel serta mengumpat, saat ini terlihat fokus dengan pekerjaan mereka.
Sementara Milly bergegas pergi ke parkiran. Tujuannya menunggu kedatangan Reiner. Segera Milly masuk ke dalam mobil miliknya.
Milly mengeluarkan ponsel dari tasnya. Bermaksud memainkan ponsel sembari menunggu sosok Reiner. "Lebih baik gue jangan main ponsel." gumam Milly.
Dirinya tidak ingin fokus ke ponsel, dan malah tidak melihat sosok Reiner yang keluar dari perusahaan. Tentunya, Milly tidak mau kehilangan kesempatan untuk berduaan dengan Reiner.
Padahal, Reiner selalu menolaknya. Reiner selalu mengacuhkannya. Meski Milly menggodanya dengan berbagai cara.
Pernah Milly memamerkan tubuh seksinya di hadapan Reiner, hanya dengan memakai pakaian renang yang hanya menutupi kedua buah dadanya dan juga vaginanya. Tapi tetap saja Reiner tak tergoda oleh Milly.
Bukannya menyerah dan memilih mundur, Milly malah terus mendekati Reiner dengan tak tahu malu.
__ADS_1
Dan Reiner, dulu dia pernah mengingatkan Zoya, akan betapa berbahayanya Milly. Tapi Zoya sama sekali tidak percaya dengan ucapan Reiner.
Saat Milly sedang menunggu kehadirannya, Reiner masih berada di dalam ruangan Tuan Darwin. Keduanya tentu saja membicarakan masalah bisnis yang akan mereka jalani bersama.
Keduanya, kini berbincang santai setelah selesai membicarakan perkara proyek yang akan mereka kerjakan bersama.
"Om, apa tidak sebaiknya kita bawa Zoya ke luar negeri. Reiner mempunyai kenalan dokter di sana. Mungkin dia bisa membantu." saran Reiner.
Tuan Darwin menghela nafas panjang. "Beberapa hari yang lalu, saya juga mendatangkan seorang dokter terbaik dari luar negeri. Tapi sayangnya, apa yang dikatakan sama dengan yang dikatakan oleh dokter yang setiap hari datang untuk memeriksa keadaan Zoya." jelas Tuan Darwin panjang lebar.
Tuan Darwin menjeda kalimatnya sebentar. Memandang lurus ke depan, sebelum kembali mengucapkan sesuatu.
"Dan lagi, keadaan serta kondisi tubuh Zoya tidak memungkinkan untuk dibawa pergi jauh." lanjut Tuan Darwin.
Karena memang, keadaan Zoya sekarang sangat lemah. Dan tidak memungkinkan untuk dibawa berobat yang menempuh jarak jauh. Meski menggunakan kendaraan pribadi, seperti pesawat sekalipun.
Reiner terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan Darwin. Dirinya juga tahu kondisi Zoya saat ini. Sebab, setiap hari Reiner selalu menyempatkan diri untuk menjenguk Zoya, meski hanya sebentar.
"Baiklah om, Rey pamit dahulu. Semoga, kerja sama kita berjalan lancar. Juga dengan Zoya. Semoga lekas memperlihatkan perkembangan ke arah yang lebih baik."
"Semoga."
Reiner berdiri dan berjalan ke arah pintu, tapi suara Tuan Darwin menghentikan langkah kakinya. "Rey,,,, jangan menunggu Zoya. Carilah perempuan lain." tukas Tuan Darwin, dengan nada putus asa.
Reiner membalikkan badan. Lalu tersenyum ke arah Tuan Darwin. "Om jangan memikirkan Reiner. Yang terpenting sekarang kesehatan Zoya." tutur Reiner.
Reiner tahu, bukan maksud Tuan Darwin mengatakan hal tersebut, karena menginginkan keadaan sang putri bertambah buruk.
Hanya saja, Tuan Darwin tidak ingin Reiner menunggu dalam ketidak pastian. Apalagi, sekarang keadaan tubuh Zoya tidak seperti dahulu.
Sedangkan, Reiner sendiri masih seperti dulu. Sosok lelaki muda yang begitu tampan dan banyak di gandrungi perempuan karena ketampanan wajahnya, juga karena uang serta kesuksesan dalam bisnis yang dia raih.
Dengan santai, Reiner masuk ke dalam mobil. Dirinya melihat mobil milik Milly masih terparkir di sebelahnya. Reiner juga samar-samar melihat ada seseorang di dalam mobil tersebut, tengah bersandar di kursi.
Namun, tak ada niat Reiner untuk melihat atau memastikan sosok tersebut. Reiner lebih memilih pergi, melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan.
__ADS_1
Dan Milly, dirinya masih berada di dalam mobil. Karena terlalu lama menunggu kedatangan Reiner, Milly sampai tertidur di dalam mobil.
Entahlah, apa yang akan terjadi nanti. Jika Milly bangun, dan dirinya tak akan pernah melihat sosok Reiner keluar dari perusahaan.