MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 70


__ADS_3

Tak sengaja Zain melihat sosok mirip Zoya saat di jalan. "Bukankah itu Zoya. Mau kemana dia malam-malam begini." cicit Zain sembari menyetir mobilnya.


Zain baru saja pulang dari rumah sakit. Dirinya pulang malam karena harus melakukan operasi pada seorang pasien sore tadi. Alhasil, dirinya pulang malam. Hal tersebut memang lumrah terjadi. Dan juga sering dilakukan oleh Zain. Bahkan pulang lebih larut dari pada ini, pernah Zain alami.


Merasa penasaran, Zain mengekor di belakang motor yang dikendarai oleh Zoya. Zain yakin jika perempuan di depannya adalah Zoya. Sebab, selain hapal dengan motornya. Zain juga hapal dengan nomor kendaraan milik Zoya.


Kening Zain mengerut manakala melihat motor yang dikendarai Zoya berbelok dan berhenti di sebuah tempat. "Untuk apa dia datang ke sini?" tanya Zain pada dirinya sendiri.


Bukan Zain meremehkan ekonomi atau jumlah uang milik Zoya. Hanya saja, tempat yang dituju Zoya adalah restoran mewah yang terkenal dengan makanan yang pastinya mahal.


"Untuk apa Zoya pergi ke tempat seperti ini?" Zain mengulangi lagi kalimat tersebut.


Zain memarkirkan mobilnya tak jauh dari tempat Zoya berada. Melihat ke arah Zoya dengan sangat penasaran. "Kenapa dia nggak segera masuk. Malah nangkring di atas motor." tukas Zain melihat Zoya duduk di atas motornya, dengan tingkah serta sikap yang mencurigakan.


"Kayak mau mencuri saja." ujar Zain menilai penampilan serta tingkah Zoya sembari tersenyum gemas.


Zain melihat jika sang satpam restoran tak terlalu memperhatikan gerak-gerik Zoya. Sehingga dia tidka terlalu khawatir jika Zoya akan diusir dari sana..


Zain tetap di dalam mobil. Tanpa berniat turun untuk menghampiri Zoya. Dia memilih untuk mengamati Zoya terlebih dahulu sebelum dirinya mengambil keputusan.


Lumayan lama, dan Zoya masih berada di tempatnya. "Siapa yang sedang dia tunggu? Atau dia mencari sesuatu?"


Zain melihat Zoya duduk dengan tidak tenang di atas motor. Celingukan kesana ke sini, seakan sedang mencari sesuatu yang Zain sendiri tak tahu apa itu.


Saat sebuah mobil sport muncul, Zain melihat Zoya menatap ke arah mobil tersebut dengan lekat. "Apa dia yang ditunggu oleh Zoya?" tebak Zain.


Zain mengangkat sebelah alisnya. Saat seorang perempuan yang berada di dalam mobil turun dan masuk ke dalam, Zoya tetap di tempatnya. Tak beranjak sedikitpun. Membuat Zain semakin penasaran.


Apalagi Zain yakin, jika sosok perempuan seksi tersebut yang ditunggu kedatangannya oleh Zoya. Terbukti bagaimana Zoya menatap terus menerus ke arah sang perempuan, hingga perempuan tersebut masuk ke dalam restoran, pandangan Zoya masih terkunci padanya.


Zain tersenyum gemas melihat Zoya kembali memperlihatkan tingkahnya yang gemas. Menggaruk kepalanya dengan tangan yang bebas sedang memegang dompet.


Apalagi Zain melihat Zoya seakan menghitung jumlah uang di dalam dompetnya. "Lucu sekali dia. Apa dia ingin membelikan kedua orang tuanya makanan." tebak Zain.


Zain memutuskan turun dari mobil. Berjalan mendekat ke arah Zoya dengan perlahan. Dan berdiri tepat di belakang Zoya. "Bahkan dia sama sekali tidak menyadari keberadaan ku." batin Zain merasa jika Zoya sangatlah ceroboh.


Zain tak lantas menegur atau menyapa Zoya. Dia memilih diam. Mendengarkan Zoya bermonolog seorang diri.


"Jadi dia kepengen masuk. Tapi takut uangnya kurang." batin Zain menyimpulkan dari apa yang dia dengar.


Zain memutuskan untuk memberitahu Zoya jika ada dirinya di belakangnya. "Memang kamu ingin makan apa?" bisik Zain.


"Astaga...!!" seru Zoya terjingkat kaget saat Zain berbisik padanya.


Zoya memegang dadanya sembari menatap kesal kepada Zain yang memamerkan deretan giginya yang bersih dan rata tanpa merasa bersalah.


"Elo ngikuti gue." sarkas Zoya menatapnya dengan kesal.


Tapi Zain tetap tersenyum. Bahkan sama sekali tidak merasa tersinggung atas apa yang Zoya tuduhkan. "Untuk apa aku mengikuti kamu. Aku memang mau makan di sini. Tak tahunya malah lihat kamu. Mana kayak maling lagi." cicit Zain melihat penampilan Zoya dari bawah hingga atas.menahan senyumnya.


"Suka-suka gue mau berpenampilan seperti apa." ujar Zoya mencebik seraya memutar kedua matanya dengan jengah. "Ya sudah, makan ya makan saja. Masuk sana..!! Ngapain malah nyamperin gue." ketus Zoya mengusir Zain.


Zain malah duduk di atas sepeda motor Zoya. Membuat Zoya reflek memundurkan langkahnya untuk memberi jarak antara dirinya dengan Zain.


"Males. Sendirian. Nggak enak. Nggak asyik." tutur Zain beralasan.


Meski Zoya selalu uring-uringan dan bersikap ketus saat berbicara dengannya, Zain merasa jika Zoya bukankah sosok perempuan jahat dan munafik.


Zain yakin, jika Zoya sebenarnya perempuan yang mempunyai hati lembut. Terbukti saat dirinya merawat Zoya saat masih terbaring koma, Pak Endri dan Bu Murni selalu menceritakan tentang keseharian Zoya pada dirinya.


"Lah... Emang gue tanya. Terus elo ngapain di mari. Sana pergi." usir Zoya merasa keberadaan Zain sangat mengganggunya.


"Temani aku makan di dalam." pinta Zain, tidak marah sedikitpun dengan sikap keras kepala Zoya.


Kemungkinan, Zoya lah satu-satunya perempuan yang berani menolak dirinya dan memperlakukan dia seperti ini. Dan mungkin itulah alasan Zain malah merasa jika dia nyaman berada di dekat Zoya.


Sebab Zoya tidak memakai topeng saat berada di sampingnya. Tetap menjadi dirinya sendiri. Dan tidak menjadi perempuan bermuka dua.


"Nggak." tolak Zoya dengan tampak juteknya.


Zain tersenyum. "Nih anak gede juga gengsinya." ujar Zain dalam hati. Mengira jika Zoya ingin sekali masuk untuk makan di dalam. Hanya saja terhalang oleh uang.


Meski sebenarnya, Zoya merasa jika ajakan Zain adalah kesempatan untuk dirinya bisa masuk. "Aku yang bayar. Kamu temani aku makan. Pesan sesuka kamu. Apapun yang kamu inginkan." pinta Zain, merayu Zoya.


Zain yang awalnya tidak ingin makan di restoran ini, gara-gara melihat Zoya dan mengira Zoya ingin makan di sini, membuat Zain berencana makan di restoran juga.

__ADS_1


Zoya berpikir. Menatap ke arah Zain serta ke arah restoran secara bergantian. "Untung juga jika gue bisa masuk. Gratis lagi. Jadi gue nggak perlu keluar uang. Uangnya bisa gue tabung. Tapi.... Apa iya gue sama dia. Dokter yang sok kegantengan." batin Zoya melirik penuh makna pada Zain.


"Ayo. Aku sudah lapar." ajak Zain, dengan tangan terukur untuk memegang lengan Zoya.


"Kita tidak sedekat itu pak dokter." Zoya segera mengubah gaya berdirinya, dan mengalihkan tangannya supaya tidak tersebut oleh Zain.


Zain kembali tersenyum gemas dengan tingkah Zoya yang menolak untuk dia sentuh. "Oke. Maaf. Aku tahu, hubungan kita hanya sekedar pasien dan dokter."


"Dulu. Sekarang gue bukan pasien elo lagi." tolak Zoya, saat Zain mengatakan jika dirinya masih menjadi pasien Zain.


"Baiklah. Jadi,,,, Bagaimana. Kita masuk sekarang. Atau sebaiknya kita pulang." tanya Zain, sekaligus menyarankan sesuatu.


Zoya memandang aneh ke arah Zain. "Iiihhh apaan. Kita. Mana ada. Orang kita nggak sengaja bertemu. Jadi, tetap saja,,,, gue sendiri. Elo sendiri." kekeh Zoya seperti sengaja menjaga jarak dengan Zain.


"Ya sudah. Aku pulang saja. Makan malam di rumah." ujar Zain pura-pura.


Zoya menahan Zain dengan mencekal lengan Zain. "Tunggu. Katanya mau masuk. Makan di dalam." cicit Zoya. Berpikir tak ingin membuang kesempatan sebaik ini.


"Baiklah. Kita masuk sekarang." Zain melihat ke arah lengannya.


Buru-buru Zoya melepaskan cekalan tangannya di lengan Zain. "Maaf. Tapi,,, elo yang bayarkan?" tanya Zoya dengan nada pelan. Antara malu dan gengsi. Serta merasa tidak enak hati. Sebab dia memanfaatkan kebaikan orang lain demi tujuannya tercapai.


"Iya,,,, aku yang bayar." tukas Zain membuat Zoya tersenyum senang dan bernafas lega.


Zoya dan Zain. Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam restoran. "Tapi jangan sampai kebablasan. Bukannya kamu lagi diet." ujar Zain mengingatkan.


"Iya,,,, gue tahu." sahut Zoya.


Zoya merasa jika saat dia melangkahkan kakinya ke dalam, dirinya langsung menjadi pusat perhatian. "Sialan mereka. Pasti karena gaya berpakaian gue." batin Zoya bisa menebak dengan mudah, kenapa mereka menatapnya dengan tatapan aneh. Juga karena bentuk tubuhnya yang gendut.


Ditambah lagi, lelaki yang berjalan di sampingnya, yang mempunyai perawakan proporsional dengan wajah good looking. Pasti membuat Zoya semakin dipandang sebelah mata. "Bodo. Gue nggak peduli. Yang terpenting gue bisa masuk." batin Zoya yang memang mempunyai mental kuat.


Zoya mengedarkan pandangan, mencari dimana sang mama dan sang papa duduk. "Itu mereka." batin Zoya, melihat Milly masih berdiri di samping meja.


"Kita duduk di sana. Apa bisa?" tanya Zoya, memiliki meja yang akan mereka tempati.


Zain mengangguk. "Boleh." Zain mengikuti kemana Zoya akan membawanya.


"Perempuan itu." batin Zain melihat sosok perempuan yang berdiri di sebelah sebuah meja yang sudah penuh kursinya diduduki oleh orang.


Zain hapal betul, jika perempuan yang sedang berdiri adalah perempuan yang dilihat oleh Zoya dengan tatapan pedangnya. "Pasti ada sesuatu yang Zoya ingin lakukan." batin Zain.


Sebab Zain bisa menebak, jika mereka yang ada di meja tersebut meminta pelayanan serta posisi meja mereka secara khusus. Sehingga sedikit jauh dari meja pengunjung lainnya.


"Mereka." batin Zain mengenal semua orang yang duduk di meja tersebut. Lagi pula, siapa yang tidak mengenal mereka. Para pebisnis handal dan sukses. Dan papa Zain juga merupakan dokter pribadi di keluarga Tuan Darwin.


Zain memanggil pelayan restoran dengan mengangkat sedikit tangannya ke atas. "Silahkan, pesan apa Tuan, Nona." ujar sang pelayan dengan ramah.


Zain melihat buku menu di tangannya. "Zoya, kamu pean apa?" tanya Zain.


Zoya memandang ke arah sang pelayan. Menyebut sebuah nama makanan serta sebuah minuman. Sejenak, Zain sempat terperangah. Pasalnya Zoya tidak membuka buku yang ada di depannya. Yakni menu makanan serta minuman.


Sang pelayan mencatat apa yang baru saja dipesan oleh Zoya. Menunggu Zain untuk mengucapkan pesanannya. "Samakan saja." pinta Zain tidak ingin ribet.


"Baik. Terimakasih. Sebentar lagi pesanan Tuan dan Nona akan datang." papar sang pelayan undur diri.


"Zoya. Dia sepertinya pernah datang ke sini. Atau, dia memang sering datang ke sini." batin Zain menebak.


Saking fokusnya Zoya dengan meja di sebelahnya, sampai-sampai Zoya bertindak ceroboh. Yang membuat Zain menaruh curiga pada dirinya.


Di meja sebelah, Milly masih berdiri, jantungnya seakan berhenti berdetak menatap dua sosok di depannya. "****. Bagaimana kedua orang ini bisa berada di sini." ucap Milly dalam hati.


Zoya melihat sang mama melakukan tugasnya dengan baik. Meminta pelayan membawakan sebuah kursi, supaya Milly bisa duduk di antara mereka. "Awal yang baik." batin Zoya melihat semuanya.


Milly seakan tidak punya pilihan lain selain menuruti apa yang diinginkan Nyonya Ratna. "Dia Milly. Sahabat putri saya. Zoya." tutur Nyonya Ratna memperkenalkan Milly pada semuanya.


"Wah... Selamat datang Milly. Kamu cantik sekali." puji Nyonya Zahwa.


"Bagaimana dengan orang tua kamu. Apakah dia juga rekan kerja Tuan Darwin?" lanjut Nyonya Zahwa bertanya.


Milly tersenyum kaku. Kedua tangannya mengepal kuat di bawah meja. Reiner yang duduk tepat di samping Milly tersenyum sinis.


"Jeng,,,, jangan bertanya mengenai orang tua Milly." sahut Nyonya Ratna dengan ekspresi sedih.


"Maaf, memangnya kenapa?" tanya Nyonya Zahwa yang memang tidak tahu apapun.

__ADS_1


Nyonya Ratna mengelus pelan rambut Milly. Beliau sekuat tenaga menahan emosinya. Jangan sampai elusan lembut tersebut menjadi sebuah jambakan kasar.


"Milly yatim piatu. Sedari kecil, dia dibesarkan di panti asuhan. Beruntung dia bertemu dengan Zoya yang baik hati. Jadi, Zoya meminta sang papa menerima Milly yang hanya tamatan SMA untuk bekerja di perusahaan mas Darwin." jelas Nyonya Ratna dengan sendu, memuji kebaikan hati sang putri.


Kenyataannya, Nyonya Ratna ingin memberitahu dimana posisi Milly yang sebenarnya. "Ternyata Zoya sangat baik." sahut Nyonya Zahwa.


"Ya,,, dan kebaikannya serta rasa tulusnya menolong orang, biasanya malah disalah gunakan oleh orang tersebut." timpal Reiner menyindir Milly.


"Ooo.... Lalu dia bekerja di bagian apa tante?" tanya Alice merasa penasaran. Dirinya juga ingin mengalihkan topik pembicaraan. Sebab dia maik mendengar Reiner memuji Zoya.


Pasalnya, orang yang bekerja di perusahaan untuk tamatan SMA hanya akan menjadi office boy atau office girl. "Bagian keuangan." sahut Nyonya Ratna.


"Waow... Emang otaknya sampai." gumam Alice masih terdengar jelas di telinga Milly, sebab antara Milly dan Alice hanya ada sekat satu kursi. Dan di kursi tersebutlah Reiner duduk.


"Bagian keuangan. Masih mending sih. Tapi maaf jeng, saya kira dia seperti Zoya atau Alice. Maaf nih,,, saya melihat dari barang yang melekat pada tubuhnya." cicit Nyonya Zahwa memandang risih pada Milly, setelah tahu siapa Milly.


Nyonya Ratna tersenyum samar. Beliau tahu bagaimana sifat tiga perempuan di meja tersebut. Otak mereka hanya penuh dengan jabatan dan kehormatan. Serta uang dan uang.


Sama halnya dengan Milly. Serigala berbulu domba. "Kamu tidak menjual dirikan?" celetuk Alice, membuat semua terdiam memandang pada Alice.


Alice langsung tersenyum canggung. "Maaf,,, bercanda. Mana mungkin sahabat Zoya seperti itu." lanjut Alice sebelum ada seseorang yang marah padanya.


Reiner menggeleng sembari tersenyum senang mendengar perkataan Alice. Memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan santai.


"Brengsek. Apa mereka menganggap gue badut, yang mereka bisa mainkan sesuka mereka." geram Milly, tapi dia sendiri tak bisa berkata atau bertindak apapun.


Milly melirik ke arah Tuan Darwin yang malah memandang ke arah lain. Seolah Tuan Darwin sama sekali tidak peduli padanya. Padahal dia tengaj dipermalukan. "Tua bangka sialan. Dia malah mengacuhkan gue." geram Milly dalam hati.


Milly tidak mungkin tiba-tiba berdiri, dan meninggalkan meja. Apalagi, ada Reiner di sana. "Siapa perempuan ini?" tanya Milly dalam hati melihat sosok Alice.


Nyonya Ratna seakan bisa menebak apa yang ada di dalam benak Milly. Pasti dia ingin sekali meminta perlindungan dari sang suami. "Sekarang aku akan memperlihatkan. Siapa Nyonya Darwin sebenarnya." batin Nyonya Ratna.


"Mas... Apa boleh aku mencicipi makanan kamu. Kayaknya enak." pinta Nyonya Ratna.


Semua yang ada di meja memandang ke arah sepasang suami istri tersebut dengan senyum. Meski tidak tahu apa yang tersimpan di balik senyum tersebut. Berbeda dengan Milly yang menampilkan ekspresi datar.


"Suapi." pinta Nyonya Ratna dengan manja, saat Tuan Darwin menggeser piringnya ke depan tempat duduk sang istri.


Menolak. Tentu saja Tuan Darwin tidak melakukannya. Yang ada dirinya akan kehilangan harga diri jika menolak keinginan sang istri yang sangat sederhana dan mudah dilakukan.


Nyonya Ratna membuka mulutnya, saat Tuan Darwin menyodorkan sesendok makanan pada beliau. "Kalian mesra sekali." tutur Nyonya Zahwa.


"Memang seperti itulah mereka berdua jeng. Saya sering melihat kemesraan mereka." tukas Nyonya Pipit. Entah hanya sebagai pemanis bibir atau memang tulus.


"Mau bagaimana lagi. Saya ini orangnya manja. Beruntung punya suami pengertian." tutur Nyonya Ratna terus membuka mulutnya setiap Tuan Darwin menyuapkan makanan kepada dirinya. Memuji sang suami setinggi langit.


Tuan Darwin tersenyum tipis. Perkataan sang istri bagai sebuah pisau tajam yang tepat mengenai ulu hatinya.


"Wah... Jika begitu caranya, pihak ketiga tidak akan bisa masuk tante. Sekarangkan jamannya seperti itu. Lakor-lakor...." celetuk Alice tersenyum santai.


Tanpa dia tahu, jika dua orang Tengah memendam emosinya karena apa yang dia katakan. "Mas..." panggil Nyonya Ratna, saat sang suami malah menatap tajam ke arah Alice, dan tidak mendekatkan sendok ke mulut Nyonya Ratna.


"Terimakasih. Aku kenyang." tukas Nyonya Ratna menyudahi drama suap menyuapnya.


"Terimakasih Alice." batin Nyonya Ratna, merasa perkataan Alice semakin membuka jalan untuk memuluskan rencananya.


"Benar Alice. Suamiku ini lelaki setia. Mana mungkin dia tergoda perempuan lain. Benarkan Milly. Kamu kan juga tahu bagaimana kesetiaan suami saya." tutur Nyonya Ratna sembari tersenyum.


"Iya tante." sahut Milly.


Wajah Tuan Darwin dan Milly bagai ditampar oleh keadaan di depan mereka. Semua perkataan semua orang terasa bagaikan mengarah kedua orang tersebut.


"Apa mama tahu, jika perempuan itu Milly." batin Tuan Darwin merasakan kecemasan.


"Apa tante Ratna tahu, jika gue ada main dengan suaminya." batin Milly merasa khawatir, jika sampai ketahuan. Yang akhirnya rencananya akan gagal.


Tapi keduanya berpikir sama. Jika Nyonya Ratna tidak tahu akan hubungan keduanya. Terbukti saat ini, Nyonya Ratna terlihat santai dan tenang.


Dan jika memang Nyonya Ratna tahu, pasti keadaannya tidak akan setengah ini. Dia pasti akan mengamuk dan memarahi Milly tanpa ampun. Begitulah pemikiran keduanya.


Tanpa Tuan Darwin dan Milly sadari, Nyonya Ratna memang tahu hubungan terlarang keduanya. Dan saat ini, beliau tengah berpura-pura. Memainkan bagiannya dengan baik.


"Sial....!! Siapa sebenarnya pemilik nomor tadi. Tidak mungkin Zoya." batin Milly. Merasa jika dirinya sengaja di jebak dalam situasi seperti ini.


Saat menoleh, Nyonya Ratna tidak sengaja melihat sosok Zoya duduk tak jauh dari meja yang dia tempati. Hati beliau langsung terenyuh melihatnya.

__ADS_1


"Dia bahkan rela datang. Pasti dia ingin memastikan semua rencananya berjalan dengan lancar." batin Nyonya Ratna menebak.


Segera Nyonya Ratna kembali memandang ke arah lain. Dirinya tidak ingin ada yang curiga terhadap Zoya.


__ADS_2