
Zoya berdiri di pinggir jalan. Menunggu taksi yang lewat. Sebenarnya, Nyonya Ratna menawarkan diri untuk mengantar Zoya. Akan tetapi Zoya menolaknya.
Tentu saja karena kebohongannya pada bu Murni. Dimana Zoya mengatakan jika dirinya berada di perusahaan. Tidak mengatakan yang sebenarnya, dimana dirinya bertemu dengan Nyonya Ratna.
Setelah memastikan mobil sang mama tidak terlihat Zoya memesan taksi online untuk dirinya pulang. ''Pesan taksi online saja.'' lirih Zoya mengeluarkan ponselnya.
Belum sempat Zoya memesan taksi, sebuah mobil mewah berhenti di depannya. Pintunya terbuka dari dalam. ''Masuklah, biar aku antar.'' tawar Zain.
Zoya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sungguh, entah kenapa Zoya merasa tidak suka dengan Zain. Padahal Zain memiliki wajah yang tampan, juga tubuh idaman banyak wanita.
Ditambah lagi pekerjaannya yang sudah mapan. Dan juga Zain berasal dari keluarga kaya. Pastinya tak ada perempuan yang akan menolaknya.
Namun, kemungkinan hal tersebutlah yang tidak disukai Zoya. Dan bisa jadi, Zoya trauma dengan apa yang sebelumnya pernah dia alami dan dia rasakan. Sakit hati.
Zoya menatap Zain dengan senyumnya yang dia paksa. "Terimakasih. Tapi maaf pak dokter, saya sudah memesan taksi." tolak Zoya berbohong. Padahal dirinya belum memesan taksi.
Zain turun dari mobilnya. Langsung menghampiri Zoya dam mendekat. "Eehh,,, mau apa? Kembalikan!!" sungut Zoya, saat Zain mengambil ponsel yang ada di tangannya tanpa persetujuan dirinya.
"Mana, kamu belum pesan taksi." tukas Zain mengetahui kebohongan Zoya.
Zoya menetralkan emosinya. "Pak dokter yang terhormat, saya rasa anda seseorang yang terpelajar dan berpendidikan tinggi. Pastinya tahu tata krama. Atau,,, sopan santun. Kembalikan ponsel saya." sindir Zoya, merasa Zain keterlaluan.
Bukannya mengembalikan ponsel yang dia pegang pada Zoya, Zain mengetikkan sesuatu di ponsel Zoya. "Apa yang sedang anda lakukan. Kembalikan... !!" seru Zoya dengan nada tak terlalu tinggi.
Zoya juga masih sadar, dirinya dan Zain berada di tepi jalan. Dimana banyak orang di sekitar mereka. Zoya tentu tidak ingin menimbulkan kegaduhan. Dimana nantinya perhatian semua orang akan terfokus pada dirinya dan Zain.
Zoya menghela nafas panjang, menengadahkan tangan kanannya untuk meminta Zain mengembalikan ponsel miliknya. ''Sumpah, pengen gue bantai dokter sialan ini." umpat Zoya.
"Ini." tukas Zain mengembalikan ponsel Zoya dengan senyum di bibirnya.
Zoya memasang raut wajah aneh saat memandang ke arah Zain. "Sok tampan. Pake senyum segala." batin Zoya. Padahal wajah Zain memang tampan.
Zain memegang pundak serta lengan Zoya, setengah memaksa Zoya untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Lepas, gue bisa sendiri...!" ketus Zoya kehilangan kesabaran.
Zain segera masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi pengemudi. "Kamu kenal Nyonya Ratna?" tanya Zain.
Zoya hanya melirik sekilas ke arah Zain. Dirinya tak terkejut sama sekali saat Zain mengenal sang mama serta mengetahui namanya.
Tuan Darwin adalah pengusaha sukses yang dikenal oleh semua kalangan karena kehebatannya dalam memimpin serta memajukan perusahaan.
Dan pastinya mereka mengenal Nyonya Ratna karena beliau adalah istri dari Tuan Darwin. Begitu juga dengan Zain.
__ADS_1
"Saya kerja di perusahaan Tuan Darwin." jelas Zoya yang sebenarnya sangat malas berbincang dengan Zain.
"Di bagian apa?" tanya Zain.
"Keuangan." sahut Zoya singkat.
Zain mengangguk sembari tersenyum penuh makna. "Keuangan. Pasti dia perempuan yang cerdas." batin Zain menebak otak Zoya.
Sejenak, suasana di dalam mobil hening. Tak ada percakapan di antara keduanya. Hingga Zain kembali mengeluarkan suara yang membuat suasana di dalam mobil tak lagi sepi.
"Bukankah aku sudah memberikan kartu namaku. Kenapa kamu tidak menghubungiku?" tanya Zain penasaran.
Sebab biasanya, para perempuan akan segera menghubunginya saat dirinya memberikan nomor ponselnya pada mereka. "Saya sibuk." sahut Zoya tetap menatap ke depan.
"Padahal saya seorang dokter." sindir Zain, yang sebenarnya secara tidak langsung mengatakan jika profesinya sebagai seorang dokter lebih sibuk dari Zoya.
Zoya tak menyahuti perkataan Zain. Dan kebetulan mobil Zain sudah berhenti tepat di depan rumah Pak Endri.
"Terimakasih." cicit Zoya, keluar dari mobil Zain.
"What..." ujar Zain, menatap punggung lebar Zoya yang memasuki pekarangan rumahnya. "Nggak ada basa-basi." lanjut Zain.
Yang mengira jika dirinya akan ditawari Zoya untuk mampir terlebih dahulu ke rumahnya. Karena dirinya telah mengantarnya pulang.
Di sebuah apartemen, Milly berbaring menatap ke langit-langit kamar. Memang, untuk saat ini dirinya belum hamil. Karena masih semalam Tuan Darwin menyemburkan benihnya di dalam rahim miliknya.
Siang tadi, sebelum makam siang Milly menghubungi Tuan Darwin. Memintanya untuk menemui dirinya di apartemen.
Keduanya berbincang serius. Dan Milly akan bersedia menikah dengan Tuan Darwin. Jika dia terbukti hamil.
Namun sebaliknya, jika Milly tidak terbukti hamil, Tuan Darwin harus melepaskan Milly. Yang artinya hubungan keduanya selesai saat itu juga.
"Uang serta semua yang diberikan Darwin sudah cukup banyak. Dan sudah saatnya gue terbang bebas." seringainya.
Sebelum meminta Tuan Darwin menemuinya, Milly menghitung jumlah atau total kekayaan yang dia dapatkan dari papa Zoya tersebut.
Dan tentu saja, jumlahnya tidak main-main. Sebab keduanya lebih dari satu tahun menjalin hubungan terlarang tersebut.
Apalagi, Milly tidak hanya diberikan uang cash oleh Tuan Darwin. Namun juga beberapa properti. Seperti rumah, serta villa. Dan tentunya beberapa bidang tanah yang luasnya tidak main-main.
Dan semua itu tentu saja atas nama Milly. Sehingga, jika dirinya terbebas dari pelukan Tuan Darwin, Milly tak perlu lagi pusing memikirkan dari mana uang yang akan dia dapat.
"Lagi pula, uang gue di bank juga masih banyak." tuturnya.
__ADS_1
Yang ternyata, tanpa sepengetahuan Tuan Darwin, Milly membuka rekening untuk menyimpan uang. Dan Tuan Darwin tidak mengetahuinya.
Milly menatap ke arah perutnya. "Semoga benih sialan ini tidak hadir dalam perut gue." ujarnya dengan nada kesal.
"Ehh..." Milly tersenyum penuh makna. Dapat dilihat, senyumnya tersebut sangat mempunyai makna. Dimana otaknya yang kecil sudah merencanakan sebuah tindakan yang pasti akan menguntungkannya.
"Tunggu. Tapi, jika gue tidak berhasil. Gue tetap akan menikah dengan bandot tua itu."
Milly terdiam. Tentunya dia memikirkan rencana apa yang akan dia lanjutkan. Seandainya rencana yang sudah dia susun gagal. "Jika rencana gue tidak berjalan dengan tidak lancar, gue akan menggugurkan kandungan gue." tukas Milly, padahal dirinya belum tentu mengandung benih dari Tuan Darwin.
Nyonya Ratna terus menatap kertas di mana tertulis dua alamat yang Zoya katakan tempat tinggal Milly. Nyonya Ratna memutuskan untuk pergi ke salah satu alamat yang diberitahukan oleh Zoya.
Mobil Nyonya Ratna berhenti tepat di depan alamat yang diberikan oleh Zoya. Sebuah rumah berukuran sedikit kecil, tapi terlihat begitu nyaman dan pastinya berharga fantastis. "Pak, tunggu di sini sebentar." pinta Nyonya Ratna pada sang sopir.
"Baik Nyonya." sahut sang sopir.
Nyonya Ratna sama sekali tidak peduli, jika sang sopir mengatakan pada sang suami jika dirinya mengunjugi alamat tersebut.
Nyonya Ratna hanya berada di luar pagar rumah, sembari celingukan melihat ke dalam. Mencari sang pemilik rumah.
Seorang lelaki yang melihat tindakan Nyonya Ratna segera menghampiri beliau. "Maaf Nyonya, ada gang bisa saya bantu?" tanya lelaki tersebut.
Nyonya Ratna tersenyum manis. "Sore pak. Maaf, saya mencari Tuan Darwin, atau Nyonya Milly." tukas Nyonya Ratna memanggil keduanya seolah mereka adalah sepasang suami istri.
"Emm,, tapi kelihatannya mereka tidak pulang Nyonya. Sebab biasanya sudah sedari tadi mereka kembali." sahut lelaki tersebut.
Deg.... Dada Nyonya Ratna berdetak kencang. Dari perkataan lelaki tersebut, tampaknya beliau mengenali keduanya.
"Padahal saya hanya ingin memberikan sesuatu. Bukankah mereka baru menempati rumah ini?" tukas Nyonya Ratna mencoba menggali informasi. Bersikap seolah-olah dirinya adalah kenalan keduanya.
"Benar Nyonya, mereka belum genap lima bulan tinggal di sini." jelas lelaki tersebut.
Nyonya Ratna menaham emosi serta amarahnya. Dirinya tetap tersenyum, meski hatinya terasa ditusuk.
"Tapi, yang saya tahu. Tuan Darwin dan Nyonya Milly memiliki tempat tinggal lain." jelasnya.
"Iya, saya juga tahu. Bukankah mereka tinggal di apartemen." lagi-lagi Nyonya Ratna mencoba mencari informasi dari lelaki di depannya.
"Soal itu saya tidak tahu. Tapi yang saya dengar, Nyonya Milly adalah istri kedua Tuan Darwin." jelasnya.
Segera Nyonya Ratna pamit pada lelaki tersebut. Beliau beralasan jika akan menghampiri keduanya di rumah Tuan Darwin yang lain.
Sungguh, dirinya sudah tak tahan dengan apa yang akan dia dengar lagi. "Milly,,, ternyata benar dia." gumam Nyonya Ratna, menghapus air mata di pipinya.
__ADS_1
Sang sopir yang berada di kursi depan, mencuri pandang sang Nyonya dari kaca pantau yang ada di depannya. Sungguh, sebenarnya sang sopir sangat penasaran. Kenapa sang majikan bersikap aneh.