MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 19


__ADS_3

Zoya duduk di kursi, membuka beberapa map berisi ijazah Yaya sewaktu masih sekolah. "Nama kita sama. Mazoya. Bahkan tanggal lahir kita juga sama." cicit Zoya.


Suatu kebetulan yang benar-benar membuat Zoya tak habis pikir. "Kebetulan yang hebat." ucap Zoya disertai kekehan kecil.


Kebetulan juga, keduanya sama-sama mengalami kejadian yang membuat mereka mengalami tidur panjang. "Bahkan, jiwa gue memilih tubuh Yaya. Pasti karena nama kita yang sama." Zoya tersenyum kecut.


Pagi ini, Zoya mulai keluar dari kamar. Berjalan di bolak balik depan rumah untuk melemaskan otot yang ada di kakinya. "Sayang, sarapan dulu." panggil bu Murni pada sang putri.


Pak Endri berlari menghampiri Yaya. "Sini, buar bapak bantu." tutur beliau, berjalan memegang lengan sang putri.


Zoya menghembuskan nafas kasar setelah duduk di kursi yang ada di ruang tamu. "Ibu ambilkan, kamu tunggu di sini saja."


"Jangan bu. Biar Zo,,, Yaya ke sana. Makan di ruang makan." tolak Zoya.


"Baiklah." pak Endri kembali memapah tubuh sang putri, tapi ditolak oleh Zoya.


"Biar Yaya sendiri pak." tolak Zoya. Meski begitu, pak Endri tetap berada di belakang Yaya. Tentu saja beliau khawatir jika tiba-tiba tubuh sang putri terjatuh.


Bu Murni dan pak Endri tersenyum melihat sang putri duduk di kursi makan sembari menghela nafas panjang. "Minum dulu." bu Murni menyodorkan segelas air putih.


Zoya meminumnya sedikit. Lantaran dirinya harus makan untuk sarapan. "Cukup bu." Zoya menghentikan bu Murni yang hendak menambahkan lagi nasi ke piring Yaya.


"Tapi itu hanya sedikit sayang. Tambah lagi ya." bujuk bu Murni.


"Bu, segini saja." tolak Zoya.


"Bu..." panggil pak Endri mengangguk pelan. Menyuruh sang istri untuk tidak memaksa Yaya.


"Ini, ibu buatkan susu coklat untuk kamu."


Zoya memandang ke arah susu yang dimaksud bu Murni. Zoya sekarang pasti meminumnya. Tapi masalahnya, gelas yang dipakai untuk membuat susu. Sungguh di luar perkiraan Zoya.


"Jika sebanyak itu, yang minum bukan manusia. Tapi sapi." batin Zoya, melihat ukuran gelas yang dipakai membuat susu.


Pak Endri dan bu Murni saling pandang. Mereka merasa heran dengan cara makan Yaya. Tampak anggun, tak seperti biasanya.


"Mau nambah lagi?" tanya bu Murni, saat makanan di piring Zoya habis.


Zoya menggeleng. "Yaya sudah kenyang bu."


Zoya meminum susu di gelas tersebut, tapi tidak menghabiskannya. "Bu, besok buatkan Yaya susu di gelas kecil saja ya." pinta Zoya.


"Baik." sahut bu Murni.


"Maaf, boleh Yaya meminta sesuatu?" tanya Zoya.

__ADS_1


"Katakan, apa sayang?" tanya pak Endri.


Zoya memandang bu Murni dan pak Endri bergantian. "Bisakah kalian memanggil saya dengan sebutan Zoya. Bukan Yaya." pinta Zoya.


Keadaan hening sesaat. Padahal, dulu Yaya tidak suka dipanggil dengan nama tersebut. Tapi kini, dia malah memintanya.


"Apa boleh?" tanya Zoya, memintanya lagi.


Keduanya mengangguk. "Baik. Mulai sekarang kami akan memanggil kamu dengan sebutan, Zoya."


Zoya tersenyum senang. Dirinya kini tidak perlu merasa riskan jika ada yang memanggilnya.


Selesai sarapan, Zoya duduk di ruang tamu. Dia memijat sendiri kakinya dengan minyak urut. "Zoya sayang, ini ibu buatkan camilan."


Zoya menghela nafas panjang. Lagi-lagi makanan berat. "Bu, Zoya mau meminta sesuatu."


"Katakan, apa?" bu Murni duduk di samping Zoya.


"Berhenti memberi Zoya makanan yang begitu banyak." pinta Zoya dengan ekspresi datar.


Bu Murni terdiam. Mencoba mencerna perkataan sang putri. "Emmm... pasti perut kamu masih sakit ya, jika makan terlalu banyak."


"Bukan. Bukan itu."


"Bu, Zoya...." Zoya menghentikan kalimatnya. Dirinya bingung, bagaimana cara menyampaikan pada kedua orang tua Yaya. Jika selama ini, Yaya mendapatkan perundungan karena bentuk badannya.


"Ada apa bu?" tanya pak Endri yang mendengar percakapan keduanya.


"Ini low pak, Yaya... eh Zoya mengatakan jika perutnya sakit kalau makan banyak." tutur bu Murni salah paham.


"Benar sayang?" tanya pak Endri.


Zoya menghela nafas pelan. Memejamkan kedua matanya sebentar. Akhirnya, Zoya hanya bisa mengangguk.


Sungguh, Zoya bingung ingin mengucapkan jika dirinya ingin memiliki tubuh ramping layaknya perempuan di luar sana yang bisa tampil cantik.


"Gue jawab iya saja. Mungkin dengan begitu, gue bisa mengurangi berat badan Yaya. Sumpah, nafas gue tersengal hanya karena bergerak sedikit saja." keluh Zoya.


"Bu, bapak bisa minta tolong. Ibu tunggu toko sebentar saja. Bapak mau ke toilet." pinta pak Endri.


Sepeninggal Bu Murni, pak Endri tidak segera pergi ke belakang. Beliau malah duduk dengan tenang di samping Zoya.


"Sayang, katakan ada apa?" tanya pak Endri.


Zoya terdiam. Tak menyangka jika ayah dari Yaya ternyata lebih peka ketimbang sang ibu. Mungkin, karena bu Murni selalu memanjakan dan memperlakukan Yaya tanpa memperhatikan apa yang dirasakan sang putri.

__ADS_1


"Katakan. Ibumu sudah tidak ada. Jangan khawatir." ucap pak Endri kembali.


"Zoya ingin seperti perempuan lainnya." Zoya berusaha untuk mengatakan sehalus mungkin pada ayah dari Yaya.


"Maksud kamu?"


"Yah, Zoya juga ingin merasakan mempunyai teman. Mempunyai kekasih."


"Lalu kenapa? Apa ada masalah? Ayah bisa mengenalkan kamu pada anak dari teman ayah."


"Mampus, bukan itu maksud gue." batin Zoya.


Zoya memandang pak Endri dengan lamat. "Apa gue cerita saja, jika selama ini Yaya selalu mendapatkan perundungan dimanapun dia berada." batin Zoya.


Zoya menundukkan kepalanya. "Jika gue cerita, sama saja bohong. Gue juga ikut merundung Yaya." batin Zoya.


"Zoya, bagaimana? Kamu setuju?" tanya pak Endri.


"Bukan seperti itu." cicit Zoya pelan.


"Lantas seperti apa? Katakan dengan jelas, supaya ayah mengerti." pinta Pak Endri.


Zoya menghela nafas panjang. "Bisakah ayah memberitahu ibu, untuk tidak memaksa Zoya makan dalam porsi banyak?"


Pak Endri terdiam. Sekarang beliau tahu ke mana arah perkataan Zoya. Pak Endri tersenyum. "Kamu mau diet?"


Zoya mengangguk pelan. "Selama ini, Zoya kesulitan mencari teman karena berat badan Zoya."


Pak Endri mengelus rambut Zoya dengan penuh kasih sayang. "Jangan khawatir, nanti ayah akan mencoba bicara dengan ibu kamu."


"Terimakasih."


Pak Endri mengangguk. "Zoya,,,, sebenarnya ayah penasaran. Kenapa kamu bisa di temukan di gedung paling atas dalam kondisi pingsan. Apa kamu mengingat sesuatu?"


Zoya terdiam. "Tentu saja gue mengingat, apa yang terjadi dengan Yaya. Semua. Tapi percuma jika gue cerita yang sebenarnya terjadi. Milly terlalu licik." batin Zoya.


"Maaf yah, Zoya lupa."


Pak Endri tahu, jika sang anak berbohong. Tapi beliau tidak akan memaksanya. Beliau menebak jika ada sesuatu yang disembunyikan Zoya dari mereka.


Tanpa keduanya sadari, bu Murni mendengar semua pembicaraan pak Endri dan Zoya. Air mata bu Murni menetes. "Jika kamu mengatakan langsung pada ibu, pasti ibu tidak akan marah sayang." batin bu Murni.


Bu Murni menduga jika Zoya takut berterus terang jika dirinya ingin mengurangi berat badannya. Pasalnya, dulu Zoya pernah mengatakan hal tersebut, tapi bu Murni mengatakan pada Zoya untuk tidak perlu diet.


Dan sejak saat itu, Zoya tidak pernah lagi mengungkit atau mengatakan apa yang dia inginkan. Dan selalu menuruti setiap apa yang diucapkan bu Murni.

__ADS_1


__ADS_2